
Bola mata Nilam yang berkaca-kaca dalam sekejap basah. Ia mendekat perlahan sampai melihat jelas pada seorang yang tengah berbaring dengan punggung dan kepala disandarkan pada tas kain milik warga.
“Bang Hanif …” tangisnya pecah, terduduk di sisi lelaki berwajah pasi. Nilam menyentuh lengan Hanif sembari terus bertanya keadaannya.
Membuka sedikit mata, terbit garis senyum Hanif berikan sebagai jawaban.
“Alhamdulillah ...,"
Rasa kuat Hanif terasa muncul berlipat, melihat gadis memakai mukena itu menangisinya. Ia bersyukur, kejadian
ini terlihat membuat iman Nilam lebih kuat.
Tiba-tiba Nilam teringat Juju, lalu segera mengedar pandang pada sosok yang juga terbaring tak jauh di sana, Hwa dan tiga orang warga tampak mengajak Juju bicara.
“Sebentar Bang Hanif, aku lihat Juju dulu.” Nilam langsung menghampiri Juju dan Hwa yang sedang tertawa.
“Ju … kamu nggak apa-apa, kan?” Air mata Nilam kembali luruh saat jempol Juju terangkat dua dengan senyum lebar untuknya.
“Nggak pa-pa …. Alhamdulillah, Ni bisa ketemu lagi sama, loe …” ucap Juju bergurau. Isak Nilam bercampur tawa dibuatnya.
“Supri sudah panggilkan mantri dari kecamatan, sekarang kita tandu mereka segera ke rumah Mak Lumpit,” kata seorang bapak memberi aba-aba.
Semua bersiap menyetujui. Hanif dan Juju yang lemas diusung dengan tandu darurat, kayu beralas sarung milik warga, semua mereka persiapkan selama melakukan pencarian.
Di rumah, Mak Lumpit diberitahu seorang warga kalau teman Nilam telah ditemukan. Wanita paruh baya yang tengah cemas pada Nilam itu segera meminta bantuan ibu-ibu sekitar.
Selain menyiapkan tempat untuk rawat dua orang di rumah, mereka juga sibuk memasak.
Para wanita tetangga suka cita menolong Mak. Lima ayam kampung peliharaan Mak dipotong dan dijadikan sup dengan tanaman rempah sebagai bumbu alaminya. Secara turun temurun mereka percaya kaldu rebusan ayam kampung itu ampuh sebagai pemulih stamina. Teman Nilam sangat membutuhkannya agar cepat sehat.
Setibanya rombongan warga di rumah, dua pemuda itu dibaringkan di ruang tengah. Pada dua dipan kayu yang mereka pindahkan tadi dari bilik Nilam dan Mak. Ruang itu cukup lebar dibanding kamar, akan memudahkan perawatan kedua Hanif dan Juju.
Sup ayam kampung kaya rempah, dan nasi pulen hangat segera diberikan pada Hanif dan Juju, juga dimakan bersama-sama warga. Efeknya membuat mereka merasa kembali bertenaga dan ramai berbagi cerita perjuangan dua hari pencarian dua anak muda itu.
Juju bersemangat cerita di awalnya tersesat. Terasa ada orang memaksa menyeretnya dalam gerakan cepat. Juju sempat tak sadarkan diri dan lemah dengan mata sulit dibuka mendengar kerumunan suara-suara aneh, seperti mantra atau pujian pada makhluk lain. Setelahnya ia kembali tidak sadar.
__ADS_1
Bangun lagi saat orang-orang itu terdengar jadi ribut, mengatakan merasa panas terbakar dan lari menjauh. Juju yang merasa tak berdaya hanya bisa memasang telinga sampai keadaan benar-benar sepi.
Hanif membenarkan, ia juga merasakan hal sama. Sampai di tengah hutan mencari Juju tiba-tiba merasa lunglai tak bertulang, lalu jatuh dan merasa ditarik.
“Astagfirullah … mau melawan tapi nggak bisa, membuka mata saja sulit,” tambah Hanif.
Sampai entah berapa lama sepi dan tubuh lemas layu, kemudian tenaga mereka terasa pulih perlahan. Bisa membuka mata dan kaget mereka berdua bisa ada di dalam hutan, tanpa tahu jalan kembali ke mobil.
Hanif dan Juju berjalan mengikuti bekas rumput terinjak, tapi berulangkali kembali ke tempat yang sama sampai hampir kelelahan.
Namun, kata Hanif mereka berdua pantang menyerah. Setelah terus memaksakan diri bergerak dengan sisa tenaga, penuh syukur mereka bisa menemukan sungai. Melewatkan dua hari bertahan hanya dengan minum air sungai saat lapar.
Semua warga yang ada di rumah Mak Lumpit terdiam dan tersentuh mendengar penuturan keduanya. Terlebih Nilam yang sambil menangis sambil meminta maaf, merasa bersalah atas kejadian itu.
“Kita sayang loe, Ni. Tersesat dikit demi loe, sih, nggak pa-pa. Ini, kan, kita ketemu lagi,” kata Juju membual mengundang tawa warga.
Nilam tak bisa menahan senyum sambil memukul ringan lengan Juju.
Semua warga kini bisa tersenyum lega, merasa sukacita bertemunya Hanif dan Juju dan juga kematian Ki Arya telah menghapus banyak ketakutan selama ini. Kecuali Mak, wanita ini masih menahan rasa khawatirnya teringat perkataan Suci tadi pagi. Ia merencanakan akan meminta anak-anak muda itu segera ke kota, setelah pulih.
Mendengar itu rasa bersalah Nilam sedikit berkurang.
Saat hari mulai gelap, Supri dan dua temannya kembali ke rumah Mak, membawa Hardtop kuning Juju yang sudah diperbaiki. Ia dan teman-teman telah meminta bantuan seorang pekerja bengkel memperbaikinya. Kata pria kurus itu hanya ada bagian kabel mesin yang terlepas.
Tak habis terima kasih terucap dari mereka pada Supri, yang telah begitu banyak direpotkan. Senyum terkembang di wajah pemuda kampung itu. Gemetar dan salah tingkah ia saat Nilam mengatakan bantuan Supri sangat berarti, sampai gadis itu membungkuskan makanan untuk dibawanya pulang.
Ah, Nilam itu … sudah cantik, baik lagi! pekik Supri dalam hati.
Rasa girangnya tak terbayarkan dengan apa pun. Senyum dan siulan mengiringi kepulangan Supri sampai ke rumah.
***
Selepas salat Magrib, Nilam membantu Mak mencuci piring bekas makan malam. Letak tempat pencucian piring di bawah, duduk pada bangku kayu pendek, menghadap baskom besar hitam.
Mak mendekat, terdorong rasa ingin bicara berdua dengan Nilam tak tertahan sudah sejak tadi. Mak khawatir terjadi apa-apa lagi, karena Ki Arya masih hidup.
__ADS_1
Namun, dari belakang ia melihat punggung Nilam kaku tak bergerak. Perlahan langkah Mak mendekat. Matanya membeliak melihat sebuah bayang gelap menahan dan membekap mulut Nilam.
Mata gadis itu hanya bisa melotot.
“WUAAAA!! TOLOOONGG,” teriak Mak sekuat tenaga.
Bayangan itu melesat cepat, empat piring kaca terlempar karena angin kencang dari sosok itu saat melesat. Napas Nilam tersengal-sengal, Mak cepat mengusap-usap punggungnya.
Suara pecahan piring dan teriakan Mak membuat tiga pemuda lekas ke dapur.
“... tolongin anak Mak ini … Nilam masih dalam bahaya ….” Wanita tua itu terisak.
Nilam masih syok, ia tak bisa berkata. Cahaya temaram dari lampu teplok menampakkan jelas wajahnya yang ketakutan.
Mereka berkumpul di ruang tengah, Mak masih memeluk Nilam, sambil meminta tolong ketiga pemuda itu segera membawa Nilam kembali ke kota. Meminta dicarikan pengobatan, agar putrinya terlepas dari gangguan gaib yang hendak mencelakakannya ini.
Ketiga anak muda itu sepakat mengiyakan permintaan Mak Lumpit, bersiap pulang besok pagi. Hanif dan Juju berharap setelah istirahat malam ini keadaan mereka segera segar kembali.
Malam baru menunjuk angka Sembilan, Mak dan Nilam berbaring di kasur kapuk beralas lantai kamar. Sebelum tidur Nilam meminta wanita yang melahirkannya ini ikut ke kota besok, agar Nilam tenang ada ibu di sampingnya. Namun, Mak belum mau ikut, alasan memikirkan kebun dan ternak yang tak bisa ditinggal.
“Mak akan menyusul, setelah panen. Mak percaya teman-temanmu bisa membantu. Mereka semua Mak nilai baik, sangat baik,” alasan Mak sambil mengusap kepala anak gadisnya itu.
Sampai tertidur Nilam mendengarkan Mak bicara, menceritakan Suci yang datang dengan keadaan memprihatinkan tadi pagi. Mak bilang kasihan, tapi juga kecewa atas apa yang dilakukan Suci. Ia sudah dianggap saudara, tapi tega bermain dengan nyawa orang lain. Mak berhenti cerita saat kelopak mata mulai berat.
Seisi rumah sudah tertidur. Suasana kampung yang sepi dan dingin seakan menambah nyenyak mereka yang lelah seharian.
Setengah jam lagi dini hari, saat muncul bayangan hitam masuk dari ventilasi, mengitari bilik Mak. Ia berhenti, memandang gadis yang terlelap dengan mulut menganga.
Saat ada di ujung kaki gadis itu, wujudnya kembali tampak. Lelaki tua itu menyentuh kumisnya dengan tatapan berkilat.
Bersambung ….
Makasiih masih setia hadir mendukung cerita ini ya.
Semoga tetap setia sampai tamat💖. Love U All
__ADS_1
Salam sehat 😍💖