Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kepanasan


__ADS_3

Aldo melajukan mobilnya menuju kediaman pak Didi dengan keadaan melamun, dalam hati dia merasa sangat takut jika Nyai Ratu akan marah kepada dirinya.


Dia sangat takut jika Arumi akan terkena imbasnya juga, tapi Aldo sadar pasti akan ada resiko yang ditempuh jika dia ingin terlepas dari Nyai Ratu.


"Heh!"


Aldo menghela napas panjang, dia benar-benar merasa lelah. Aldo terlihat melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


Waktu sudah menujukkan pukul tiga dini hari, Aldo terlihat memarkirkan mobilnya. Lalu, Aldo masuk ke dalam kamar Arumi dengan tergesa.


Kaget!


Tentu saja Aldo sangat kaget saat membuka pintu kamarnya, dia melihat Nyai Ratu yang sedang mengendusi paha Arumi yang tersingkap.


Aldo benar-benar merasa tidak tahan lagi, dia langsung menyalakan semua lampu kamar. Dia langsung mengambil ponselnya dan menyalakan aplikasi YT dan memutar lantunan ayat suci Al Qur'an.


Aldo merasa tubuhnya mulai memanas, tapi dia merasa tidak peduli. Satu hal yang Aldo inginkan saat ini, Arumi selamat dari ancaman Nyai Ratu.


"Sialan kamu Aldo!" Nyai Ratu berucap tanpa suara.


Nyai Ratu terlihat marah, lalu dia langsung menghilang karena kepanasan. Aldo langsung pergi menghampiri Arumi, dia memeriksakan kondisi tubuh Arumi.


Ternyata Aldo tidak menemukan sedikit pun luka, mungkin Nyai Ratu hanya betah saja saat berdekatan dengan Arumi. Karena bau amis yang menyengat dari area intinya.


Arumi masih dalam masa nifasnya, tentu saja hal itu mengundang kedatangan Nyai Ratu, pikirnya.


"Aku tidak peduli jika tubuhku terluka, yang penting kamu tidak apa-apa." Aldo menitikan air matanya.


Aldo terlihat sangat menyesal sekali, karena dia sudah mengambil jalan sesat untuk mendapatkan harta yang melimpah.


"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku tidak menjadi pemuja Nyai Ratu, seharusnya aku membiarkan kamu menikah dengan Reihan. Aku seakan lupa, jika mencintai itu tidak harus memiliki. Namun, aku harusnya membiarkan seseorang yang aku cintai meraih kebahagiaannya."


Aldo terlihat menghela napas panjang, kemudian dia menghembuskannya dengan perlahan.


"Maaf, Sayang. Maaf, Mas janji akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi." Aldo mengecup kening istrinya dengan lembut.


Aldo menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya sampai sebatas dada, Aldo tersenyum getir. Lalu dia kembali mengecup kening istrinya.


Aldo merebahkan tubuhnya, dia terlihat meringis menahan sakit karena kulitnya mulai melepuh.


"Aku rela sakit demi kamu, Sayang. Maaf karena aku sudah berbuat hal yang sangat fatal," kata Aldo.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Aldo terlihat mengelusi punggung Arumi dengan lembut. Air matanya terus mengalir, antara menahan sakit dan merasa bersalah di dalam hatinya.


Aldo sudah bertekad untuk bisa lepas dari Nyai Ratu, dia sudah tidak peduli lagi jika dia harus merasa sakit seumur hidupnya.


Dia bahkan tidak keberatan jika harus kehilangan nyawanya, yang terpenting Arumi terbebas dari gangguan Nyai Ratu, pikirnya.


"Semoga semua cepat berakhir," lirih Aldo di sela sakitnya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Arumi terbangun dari tidurnya. Dia begitu kaget saat matanya menatap wajah Aldo yang terlihat pias.


Aldo yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya sampai tidak sadarkan diri, Arumi langsung bangun.


Dia meraba pipi suaminya, terasa sangat dingin. Dia tatap tubuh Aldo yang terlihat memerah dan bahkan ada beberapa bagian kulitnya yang melepuh.


"Astagfirullah, Mas Aldo kenapa?"


Satu kalimat pendek keluar dari mulutnya, pertama kalinya juga Arumi kembali berbicara setelah sekian lamanya terdiam tanpa kata.


Dia refleks berucap karena kaget melihat kondisi tubuh suaminya yang terlihat begitu menghawatirkan.


"Pak, Bapak! Mas Aldo kenapa ini, Pak?" teriak Arumi.


Pak Didi yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga, langsung berlari kala mendengar teriakan dari Arumi.


Pak Didi yang belum begitu sehat terlihat menyeret kakinya, dia takut sekali terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Karena baru kali ini, dia bisa mendengar putrinya bersuara kembali. Ada rasa bahagia di dalam rasa resahnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Pak Didi ketika membuka pintu kamar Arumi.


"Mas Aldo, Pak. Lihat ini, Mas Aldo kenapa, Pak?" tanya Arumi dengan raut wajah khawatir dan juga takut.


"Astagfirullah, Bapak panggil dokter dulu," kata Pak Didi.


Ketika pak Didi mengatakan kata dokter, barulah Arumi tersadar jika dirinya adalah seorang dokter.


Dia langsung turun dari ranjang dan menghampiri bapaknya. "Jangan memanggil dokter, biar Arumi yang periksa," kata Arumi.


Pak Didi tersenyum ketika mendengar Arumi mengatakan hal tersebut, itu artinya Arumi sudah merasa sehat dan dirinya sudah siap untuk mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter.

__ADS_1


"Baiklah, Bapak tidak akan memanggil dokter," kata Pak Didi.


Arumi terlihat mengambil tas miliknya yang berisikan alat medis, sedangkan pak Didi terlihat melangkahkan kakinya.


Dia terlihat menghampiri Aldo dan duduk tepat di samping pria yang kini sudah menjadi menantunya itu.


Pak Didi terlihat memperhatikan wajah dan tubuh Aldo yang terlihat memerah dan terlihat banyak luka di sekujur tubuhnya.


Dia merasa merinding, iba dan sekaligus bingung. Kenapa hal itu bisa terjadi kepada Aldo, pikirnya.


Padahal tadi malam saat dia bertemu dengan Aldo yang berpamitan untuk keluar sebentar, Aldo masih dalam keadaan baik-baik saja.


Arumi yang telah mengambil alat medisnya langsung memeriksakan kondisi kesehatan Aldo, suaminya.


Setelah diperiksa, kulit Aldo terlihat seperti terkena minyak panas. Namun, rasanya tidak mungkin jika Aldo terkena minyak panas. Apalagi lukanya begitu rata di sekujur tubuhnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Pak Didi.


Untuk sesaat Arumi terlihat terdiam, dia begitu bingung harus menjelaskan seperti apa kondisi kesehatan Aldo kepada bapaknya tersebut.


Namun, tidak lama kemudian Arumi mulai bersuara. "Seperti terkena cipratan minyak panas, aku akan mencoba mengompresnya dengan air es. Setelah itu aku akan mengolesi salep dan memberikan obat kalau mas Aldo sudah siuman."


Pak Didi terlihat bingung dengan jawaban dari Arumi, karena menurutnya penuturan Arumi tidak masuk akal.


Rasanya tidak mungkin Aldo terkena cipratan minyak panas jika seluruh tubuhnya terlihat rata dengan luka.


"Arumi ke dapur dulu, mau siapin es batu," kata Arumi.


Arumi terlihat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamarnya. Namun, baru saja Arumi sampai di ambang pintu, pak Didi terlihat memanggil putrinya tersebut.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Pak Didi.


Arumi terlihat membalikkan tubuhnya, kemudian dia menatap wajah bapaknya dengan lekat.


"Aku sudah lebih baik, Bapak lihat, kan? Keadaanku sudah sangat sehat," jawab Arumi.


Pak Didi tersenyum, dia merasa senang karena Arumi sudah mulai berbicara lagi.


**//


Selamat malam, maaf jika Othor telat up hari ini sibuk banget. Othor baru pulang ini, lagi sibuk di real life.

__ADS_1


Semangat!


__ADS_2