Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Malam Pengantin 2


__ADS_3

Aldo terlihat mulai mengecup kening Arumi, turun ke hidungnya, lalu mengecup pipi kiri dan kanannya. Kemudian dia langsung menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


Tangan Aldo tidak tinggal diam, tangan itu meraba ke seluruh permukaan kulit Arumi yang sensitif.


"Emph!" terdengar lenguhan dari bibir Arumi.


Aldo semakin bersemangat untuk menjamah istrinya, dia yang sudah meminum obat kuat terlihat diliputi kabut gairah.


Bibirnya kian turun menyusuri garis lehernya, turun melalui dua gunung kembar yang kini terlihat mengeras dan terlihat sangat menantang.


Apalagi ukurannya yang terlihat besar dan juga bentuknya yang bulat dan padat membuat Aldo ingin bermain di sana, dia juga ingin menyembunyikan wajahnya di sela kedua buah gundukan padat milik istrinya.


"Kamu seksi," celetuk Aldo. Hal itu membuat Arumi merona malu, dia menampilkan wajah imut namun begitu merah.


Untuk sesaat Aldo terdiam, dia memperhatikan dada istrinya yang begitu menggoda di matanya.


Tidak lama kemudian, dia mulai menyesap ujung dada istrinya dengan sedikit kasar. Arumi tidak kesakitan, justru hal itu malah memancing gairah Arumi.


Dia bahkan menjambak rambut Aldo, berharap Aldo mau berlama-lama bermain di sana. Arumi benar-benar bisa merasakan hangatnya malam pernikahan, lebih tepatnya panasnya malam pernikahan mereka.


"Mas, akunya udah pengen." Arumi berkata dengan malu-malu.


Aldo terkekeh, di juga sama. Dia begitu menginginkan Arumi, apalagi kini obat kuat yang Aldo minum seakan menuntut untuk bermain dengan pusakanya.


Aldo mengusap perut rata Arumi, lalu tangannya mulai turun ke area inti istrinya.


"Baiklah, Sayang. Aku akan memasukimu, bersiaplah menerima serangan dariku. Milikmu sudah sangat basah, Sayang," kata Aldo.


Aldo terlihat bangun, dia berdiri di atas kedua lututnya. Lalu, dia mulai mengarahkan miliknya agar bisa masuk ke dalam liang kelembutan milik istrinya.


"Ouwh, Sayang." Aldo melenguh kala merasakan miliknya dicengkram kuat oleh milik istrinya.


Arumi tersenyum, dia suka kala melihat Aldo yang seakan memuja miliknya, Aldo terlihat sangat tampan dan seksi.


"Iya, Sayang. Ayo gerak, aku sudah tidak sabar," kata Arumi dengan nada menggoda.


Aldo tersenyum, lalu dia mulai memompa tubuh istrinya. Arumi seakan ingin menjerit setiap Aldo menghujamnya, namun hal itu tidak dia lakukan karena takut Aldo akan semakin terpancing gairah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, terdengarlah suara khas percintaan. Suara rintihan penuh nikmat dan suara tepuk tangan karena bertemunya permukaan kulit Aldo dan juga Arumi.


Mereka bercinta dengan penuh gairah, mereka bahkan melupakan acara makan malam dan juga ritual mandi. Mereka terus saja bercinta hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi.


"Tidurlah, Sayang. Aku mencintaimu, kamu sangat nikmat. Maaf karena aku terlalu bersemangat," kata Aldo seraya mengecup kening istrinya yang sudah terlelap.


Aldo langsung merebahkan tubuhnya tepat di samping istrinya, dia tarik dengan lembut Arumi ke dalam pelukannya. Lalu, dia berusaha untuk tidur.


Tidak lama kemudian, rasa kantuk dan juga rasa lelah datang menghampiri. Aldo langsung tertidur, menyusul istrinya.


****


Pukul sembilan pagi Arumi terlihat menggeliatkan tubuhnya, pergulatan panasnya semalam dengan Aldo membuat tubuhnya terasa remuk redam.


Matanya terasa sangat berat, namun sinar mentari yang menyorot lewat celah jendela membuat Arumi merasa silau.


Dia berusaha untuk membuka matanya, setelah matanya terbuka dengan sempurna, Arumi terlihat natap jam dinding yang bertengkar cantik di dalam kamar hotel tersebut.


Dia sampai terlonjak kaget karena melihat jika kini waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Arumi terlihat mengedarkan pandangannya.


Dia mencari sosok suaminya, ternyata di ruangan tersebut tidak ada Aldo. Hanya ada dia sendiri saja, Arumi sempat berpikir mungkin saja Aldo sedang di kamar mandi.


Untuk sesaat dia terdiam, lalu beberapa saat kemudian dia terlihat menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. Dia berharap rasa sakit yang dia dera tidak akan terasa lagi.


Setelah merasa lebih baik, Arumi terlihat menggeser letak tubuhnya ke tepian ranjang, dia menurunkan kedua kakinya ke lantai. Lalu, Arumi menatap ke arah pintu kamar mandi.


"Kemana, Mas Aldo? Kenapa tidak ada bunyi gemericik air?" tanya Arumi heran.


Arumi turun dengan perlahan, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi. Dia hendak membuka pintu kamar mandi teraebut, namun niatnya dia urungkan.


Karena Samar-samar dia mendengar suara suara seorang pria yang sedang mengerang dan melenguh di dalam kamar mandi.


Arumi langsung mengernyitkan dahinya, dia rasa tidak mungkin jika itu Aldo. Karena mereka bercinta cukup lama, Aldo pasti sangat puas dengan percintaan panas mereka.


Rasa-rasanya tidak mungkin jika Aldo melakukan konser solo dengan tante Lux di kamar mandi, dia pasti lelah dengan kenikmatan semalam.


Namun, jika bukan Aldo, lalu siapa? Karena tidak mungkin ada yang masuk ke kamar hotel miliknya, lalu numpang pipis, pikirnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, samar-samar Arumi mendengar suara jeritan dan rintihan perempuan.


Bukan karena kesakitan, namun sepertinya wanita itu begitu menikmati permainan panas yang sedang dia lakukan.


Tubuh Arumi panas dingin, dia benar-benar takut saat ini. Bukan takut akan hantu, dia takut jika Aldo sedang bercinta dengan perempuan lain di dalam kamar mandi.


Batinnya berperang, antara yakin dan tidak. Namun, dia harus membuktikannya sendiri. Dia tidak mungkin hanya berdiri saja, menunggu hal yang tidak pasti.


Karena merasa penasaran, akhirnya Arumi memanggil nama Aldo seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tersebut.


Tok! Tok! Tok!


"Mas Aldo, Mas. Mas sedang di dalam, kan? Mas sama siapa? Mas buka pintunya!" kesal Arumi.


Tidak lama kemudian, suara erangan dari dalam kamar mandi itu nampak berhenti. Kembali Arumi memanggil nama Aldo sembari mengetuk pintu.


Namun, pintu itu tak kunjung dibuka. Arumi was-was, Arumi merasa gelisah. Dia benar-benar jadi berpikir, jika Aldo masih Ingin bercinta karena efek obat yang dia minum semalam.


Dia juga jadi berpikir, mungkin Aldo membawa perempuan lain, karena dia juga mendengar ada suara perempuan yang sedang menjerit-jerit kenikmatan di dalam kamar mandi tersebut.


"Mas, buka!" teriak Arumi lagi.


Ceklek!


Setelah lima menit menunggu, akhirnya pintu kamar mandi nampak terbuka. Dia bisa melihat Aldo yang memakai bathrob saat


pintu kamar mandi terbuka dengan lebar.


Tubuh Aldo terlihat begitu basah, wajahnya terlihat lelah. Namun, yang Arumi pikiran bukan tentang keadaan Aldo saat ini.


Arumi langsung mendorong tubuh Aldo, lalu dia mengedarkan pandangannya. Dia mencari sosok wanita yang dia yakini ada di dalam kamar mandi tersebut.


Sayangnya, tidak ada siapa pun di sana kecuali Aldo. Arumi kembali menghampiri Aldo, kemudian dia bertanya.


"Mas, kamu sedang apa di kamar mandi? Kenapa pake teriak-teriak segala? Terus, kenapa tadi aku dengar suara perempuan di sini? Apa kamu tadi bercinta dengan perempuan lain?" tanya Arumi.


***

__ADS_1


Masih berlanjut....


Kuy ramein kolom komentar, komentar kalian adalah penyemangat buat Othor.


__ADS_2