Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Gamangnya Hati Seorang Bapak


__ADS_3

Adzan subuh telah berkumandang, pak Didi terlihat terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan dia duduk dan berusaha untuk mengumpulkan nyawanya.


Lalu, setelah itu dia menurunkan satu persatu kakinya ke atas lantai dan berjalan menuju kamar mandi.


Tentu saja tujuannya adalah ingin membersihkan tubuhnya sebelum dia melakukan ibadah shalat subuh.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja, dia sudah selesai mandi dan sudah siap dengan memakai baju koko beserta dengan sarungnya.


"Sudah siap!" ucapnya.


Dia tersenyum, lalu keluar dari kamarnya. Dia ingin kembali melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama dengan putri semata wayangnya, Arumi.


"Arumi, Nak. Bangun, ini sudah pagi. Kita shalat bareng, yu?" ajak Pak Didi.


Cukup lama dia berdiri di depan pintu kamar Arumi seraya mengetuk pintunya, namun tidak ada sahutan dari dalam.


Pak Didi yang merasa khawatir langsung memutar daun pintu kamar putrinya.


"Tumben pintu kamarnya tidak dikunci," kata Pak Didi lirih.


Pak Didi langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam kamar Arumi, sayangnya setelah dia menyisir seluruh kamar Arumi, tidak ada putrinya di sana.


"Kemana kamu, Nak?" tanya Pak Didi dengan raut wajah khawatir.


Pak Didi menjadi khawatir, dia langsung kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya.


Dia mencoba menelepon putrinya tersebut, ternyata terdengar bunyi dering ponsel di atas meja yang ada di ruang keluarga.


Melihat akan hal itu, pak Didi terlihat berdecak kesal. Karena, dengan seperti itu dia tidak bisa menghubungi putrinya.


Semalam Arumi memang sudah memikirkan matang-matang, dia ingin pergi dari rumah dan menemui Aldo.


Tentunya tanpa ada gangguan dari siapa pun juga, jika Arumi membawa ponselnya, sudah dapat dipastikan baik pak Didi ataupun Reihan akan terus menghubungi dirinya, pikir Arumi.


"Ya Tuhan, ke mana perginya putriku?" tanya Pak Didi.


Pak Didi terlihat keluar dan memperhatikan mobil milik Arumi, ternyata masih ada di sana.


Pak Didi terlihat mengecek ponsel milik Arumi, ternyata ada satu riwayat pesanan ojek online pukul 02.00 dini hari.


Saat melihat alamat yang dituju oleh Arumi, pak Didi langsung mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


Dia tidak menyangka jika putrinya akan senekat Itu, dia tidak menyangka jika putri yang sangat dia sayangi akan membantah ucapan yang dia katakan.


Pak Didi benar-benar khawatir jika putrinya salah melangkah, dia khawatir putrinya akan melakukan dosa besar.


Pak Didi merasa takut jika Arumi bahkan sudah sering melakukan hal terlarang di belakangnya bersama Aldo, bagaimana hasilnya, pikirnya.


Bagaimana kalau Arumi hamil? Mungkin perkataan orang lain yang pedas masih bisa dia telan walaupun pahit, namun... bagaimana tanggung jawabnya terhadap Sang Pencipta?


"Ya Tuhan, maafkan aku jika selama ini aku mempunyai banyak dosa. Sehingga putriku saja begitu sulit untuk aku nasehati," kata Pak Didi seraya mengelus dadanya

__ADS_1


Dia benar-benar merasa sedih, dia benar-benar merasa gagal sebagai orang tua. Karena Arumi tidak bisa mendengarkan apa yang diucapkan oleh dirinya.


Arumi tidak mau mendengarkan semua nasehatnya, bahkan Arumi benar-benar menentang keinginan bapaknya.


Bukan tanpa sebab pak Didi melarang hubungan Arumi dengan Aldo, mungkin dulu pak Didi pernah ketakutan.


Takut jika Arumi tidak bisa hidup bahagia jika menikah dengan Aldo, karena Aldo memang hanya orang yang berpenghasilan sedikit.


Akan tetapi, setelah melihat Aldo memiliki banyak harta, justru pak Didi lebih heran lagi. Dia merasa takut jika Aldo akan melakukan jalan pintas, karena gelagat Aldo sangatlah aneh.


Entah kenapa setiap kali melihat Aldo, pak Didi merasa jika Aldo selalu ada yang mengikuti. Bahkan, Aura di belakang tubuh Aldo pun terlihat begitu gelap, hitam pekat.


Pak Didi hanya ingin menjaga putri semata wangyangnya, dia takutnya nanti Arumi akan menyesal karena ulahnya sendiri.


"Kenapa kamu tega sekali, Nak?" kenapa kamu tidak mau mendengarkan apa kata Bapak, padahal Bapak melakukan semua ini demi kamu, Nak," kata Pak Didi.


Pak Didi ingin sekali menjodohkan Arumi dengan Reihan, karena menurutnya Reihan termasuk lelaki sholeh, baik, sopan dan merupakan seorang pengusaha sukses.


Namun, Reihan tidak pernah sombong. Bahkan dia terkenal dermawan, hal itulah yang membuat pak Didi menyukai Reihan.


"Sebaiknya aku shalat Subuh saja dulu. Nanti kalau matahari sudah terbit aku akan menyusul Arumi," kata Pak Didi pasrah.


Dia hanya berharap semoga Arumi tidak berbuat hal yang lebih, hal yang dilarang oleh agama karena jika seperti itu maka Arumi akan benar-benar menyeret pak Didi untuk masuk ke dalam neraka.


Karena walau bagaimanapun juga, seorang anak perempuan akan mampu menjerat bapak kandunganya, adik ataupun kakak laki-lakinya, suami bahkan anak lelakinya ke dalam neraka dengan perbuatan kejinya.


Setelah selesai shalat, pak Didi langsung bersujud dan memohon ampun kepada Sang Pencipta. Dia juga berdo'a, semoga Arumi selalu berada di dalam lindungannya.


Pukul 07:08


Pak Didi sudah terlihat selesai dengan sarapannya, dia sudah bersiap untuk pergi ke rumah Aldo.


Dia sudah tidak sabar ingin bertanya kepada Arumi tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Arumi begitu nekat mendatangi rumah Aldo? Kenapa Arumi begitu tega menyakiti hati bapaknya dengan perbuatannya yang dia rasa tidak benar itu?


Namun, baru saja dia mengambil kunci mobil dan juga ponsel miliknya, tiba-tiba saja ponsel yang sedang dia genggam itu berdering.


Pak Didi dengan cepat mengangkat sambungan telepon tersebut, karena ternyata Damar'lah yang menelponnya.


Orang kepercayaan dari pak Didi, lelaki muda yang bertugas untuk menjaga penginapan milik pak Didi.


"Halo assalamualaikum," sapa Pak Didi.


"Waalaikum salam, Pak. Gawat, Pak. Orang-orang yang menginap di penginapan Bapak pada protes semua, katanya di dalam kamar yang mereka tempati tercium bau busuk." Damar berbicara dengan napas terengah.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Damar, pak Didi terlihat mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa di dalam kamar penginapannya tercium bau busuk, pikirnya. Karena selama ini pak Didi sangat mengutamakan kebersihan.


"Tapi Damar, bagaimana itu semua bisa terjadi? Bukankah biasanya juga selalu baik-baik saja?" tanya Pak Didi.


"Saya tidak tahu, Pak. Tapi memang semua orang mengajukan protesnya, saya kewalahan, Pak. Bisa tolong langsung ke sini, Pak?" tanya Damar.


Pak Dedi terlihat bimbang dan juga gamang, dia tidak menyangka jika pagi ini akan di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit, menurut dirinya.

__ADS_1


Di satu sisi dia ingin sekali langsung menemui Arumi, dia ingin sekali bertanya kepada putrinya tersebut. Karena kini, di dalam otaknya terlintas banyak sekali pertanyaan untuk Arumi.


Namun, di lain sisi dia juga tidak bisa mengabaikan apa yang diucapkan oleh Damar. Karena sejatinya, penginaoan itu adalah salah satu sumber penghasilannya.


"Ya, tunggulah sebentar. Aku akan ke sana," kata Pak Didi.


Pada akhirnya pak Didi mengenyampingkan egonya, padahal dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya, Arumi.


Namun, sepertinya dia harus menenangkan banyak orang terlebih dahulu di penginapannya. Dia tidak bisa mengabaikannya.


Setelah mengucapkan salam, pak Didi memutus sambungan teleponnya. Hatinya kini menjadi bimbang, jika dia pergi ke penginapan, dia takut terjadi sesuatu terhadap Arumi.


Namun, setelah dia mempertimbangkan matang-matang, akhirnya dia melajukan mobilnya menuju penginapan miliknya.


Dia ingin menyelesaikan hal ini terlebih dahulu, karena takut nanti orang-orang yang menginap di penginapan miliknya akan marah dan berbuat anarkis.


Sebenarnya hatinya juga merasa tidak tenang saat memikirkan putrinya, Arumi. Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan apa yang dikatakan oleh Damar.


Dalam hatinya, pak Didi terus saja mensugestikan dirinya jika Arumi tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak.


Arumi adalah putrinya yang baik, dia pasti bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan.


Dia tidak mungkin melakukan hal yang tidak senonoh dengan Aldo yang notabene bukan mahramnya. Padahal, tanpa sepengetahuan pak Didi Arumi memang sudah menikah dengan Aldo.


Walaupun mereka menikah secara Siri, wajar saja jika mereka melakukan hubungan di atas ranjang.


"Ya Tuhan, kenapa berat sekali ujian untukku? Di saat yang bersamaan, engkau mengujiku dengan anak dan juga pekerjaanku," kata Pak Didi lemas.


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya pak Didi tiba di tempat penginapan miliknya.


Pak Didi terlihat turun dengan tergesa dari dalam mobilnya, karena dia merasa sangat khawatir saat melihat Damar yang dikerumuni oleh orang-orang yang menginap di sana.


"Tolong tenang sebentar, kita bicarakan baik-baik. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Pak Didi.


Orang-orang yang sedang mengajukan protesnya terhadap Damar, langsung menolehkan wajahnya ke arah pak Didi.


Wajah mereka benar-benar terlihat tidak bersahabat, penuh dengan amarah dan kekesalan.


"Banyak bacot! Penginapan bau busuk saja masih disewakan, dasar tua bangka tidak tahu diri!"


Seorang lelaki muda langsung menghampiri pak Didi, dia berkata dengan kasar. Bahkan dia sampai mendorong bahu pak Didi dengan kencang, beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Tenang dulu, saya harap semuanya bisa tenang. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik, lagi pula saya pasti akan bertanggung jawab. Kalian tenang saja," kata Pak Didi.


*


*


Masih berlanjut.


Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya. Karena dukungan kalian adalah penyemangat buat Othor, kalian selalu luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2