Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Berkunjung


__ADS_3

Setelah makan siang bersama dengan Aldo, Arumi terlihat langsung kembali bekerja di Rumah Sakit tempat dia bekerja.


Selama bekerja pikirannya merasa tidak tenang, entah kenapa dia merasa curiga dengan tingkah Aldo yang terlihat gugup saat dia menanyakan benda yang dia temukan.


Bahkan Aldo terlihat begitu ingin menyembunyikan benda tersebut dari dirinya, dia seolah tidak ingin Arumi mengetahui benda apa itu.


Arumi jadi bertanya-tanya dalam hatinya, mungkinkah Aldo menyembunyikan sesuatu dari dirinya? Mungkinkah ada sesuatu hal yang Arumi tidak tahu dengan apa yang dikerjakan oleh Aldo selama ini?


Banyak pertanyaan yang berputar-putar di dalam otaknya, namun dia berusaha untuk tenang dan juga menyikapinya dengan biasa-biasa saja.


Karena kalau Arumi terlalu tergesa, dia justru malah takut jika Aldo akan marah dan tersinggung dengan sikap keingintahuannya.


"Sebaiknya aku fokus saja dalam bekerja, tidak usah memikirkan hal itu lagi. Aku yakin mas Aldo tidak akan berbuat macam-macam," kata Arumi walaupun hatinya menyangkal.


Setelah mengatakan hal itu, Arumi benar-benar fokus dalam menjalani pekerjaannya. Dia tidak ingin mencampur adukkan antara masalah pribadinya dengan pekerjaan yang sangat dia cintai itu.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:18 sore, Arumi sudah bersiap untuk pulang. Saat dia sedang berjalan di lobi Rumah Sakit, ternyata Aldo sudah menunggunya di sana.


Aldo terlihat tersenyum dengan sangat manis sekali saat menyambut kedatangan istrinya tersebut, Arumi membalas senyuman Aldo kemudian dia menghampiri Aldo dan meraih tangan kanannya serta mencium punggung tangannya tersebut.


"Mas sudah lama datengnya?" tanya Arumi


"Tidak, Mas baru sebentar kok," kata Aldo.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, Arumi bisa bernapas dengan lega. Dia sangat takut jika Aldo sudah menunggunya sedari tadi, karena dia datang terlambat saat ini.


"Syukurlah kalau begitu, Mas. Soalnya tadi aku ada urusan sebentar, jadi pulangnya sedikit telat," kata Arumi.


Aldo langsung mengelus lembut lengan Arumi, kemudian dia berkata.


"Tidak apa-apa, Yang. Menunggu lama pun aku bersedia," jawab Aldo seraya tersenyum.


Arumi membalas senyuman Aldo, kemudian dia memeluk lengan kiri Aldo dan berjalan beriringan menuju parkiran Rumah Sakit.


Tiba di parkiran Rumah Sakit, Aldo melepaskan tangan Arumi. Lalu, dia membukakan pintu mobil untuk Arumi.


"Silakan masuk, Tuan Putri," kata Aldo seraya membungkukkan badannya.


"Terima kasih," jawa Arumi dengan senyum manisnya.


Setelah Arumi masuk ke dalam mobilnya, Aldo ikut menyusul. Setelah itu Aldo nampak melajukan mobilnya menuju kediaman rumah pak Didi, mereka ingin segera bertemu dengan lelaki paruh baya itu.


Karena seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, mereka akan langsung membicarakan acara pernikahan mereka kepada pak Didi agar semuanya cepat selesai dan tinggal menunggu hari-H saja.

__ADS_1


"Kamu sudah siap, kan, untuk ngomong sama bapak?" tanya Arumi sebelum mereka masuk ke dalam kediaman pak Didi.


"Siap, Yang. Udah ngga usah takut, Bapak pasti luluh sama aku," kata Aldo percaya diri.


"Semoga saja," jawab Arumi tidak yakin.


Setelah mengatakan hal itu, Aldo dan juga Arumi terlihat memasuki kediaman pak Didi. Tiba di dalam ruangan keluarga, terlihat pak Didi sedang duduk ditemani oleh seorang perawat yang Arumi ditugaskan untuk menemani bapaknya.


Perawat wanita tersebut terlihat sedang menyuapi potongan buah segar ke dalam mulut pak Didi, saat melihat kedatangan Arumi, perawat tersebut langsung bangun dan nampak membungkukkan badannya.


Berbeda dengan pak Didi, dia terlihat memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia terlihat belum siap untuk bertatap muka dengan Aldo.


"Assalamualaikum, Pak."


Arumi dan juga Aldo terdengar mengucapkan salam, setelah itu pasangan suami istri itu langsung menghampiri pak Didi.


Mereka meraih punggung tangan pak Didi, lalu mencium punggung tangan kanan pak Didi tersebut secara bergantian.


"Waalaikum salam," jawabnya tanpa menoleh.


"Kita harus bicara, Pak. Maaf kalau kami menganggu waktu senggang Bapak," kata Aldo memulai pembicaraan.


"Hem," jawab Pak Didi.


Aldo dan juga Arumi terlihat duduk tepat di depan pak Didi, kemudian Aldo terlihat memandang Arumi dan memulai pembicaraannya.


Untuk sesaat di ruangan tersebut terlihat hening, baik pak Didi, Arumi atau Aldo tidak ada yang berbicara.


Mereka hanya diam satu sama lain, namun tidak lama kemudian Aldo memulai pembicaraannya. Karena dia sudah tidak betah berlama-lama duduk tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Jadi begini, Pak. Maksud kedatangan saya ingin memberitahukan jika tiga hari lagi saya dan Arumi akan menikah ulang di gedung B,


gedung termegah yang ada di kota ini. Saya sengaja melakukan hal itu agar pernikahan kami bisa berkesan dalam hidupkan kami nanti," kata Aldo.


Tidak ada respon dari pak Didi, dia terlihat diam saja seolah tidak mau mendengarkan apa pun dari mulut Aldo.


Aldo terlihat geram dibuatnya, namun dia terlihat berusaha untuk bersabar agar tidak terjadi adu mulut antara dirinya dan juga pak Didi.


Cukup lama Aldo dan Arumi menunggu apa yang akan diucapkan pak Didi, sehingga tidak lama kemudian pria paruh baya itu pun berkata.


"Ya, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Nanti aku akan menikahkan Arumi denganmu, tapi setelah itu kalian bangunlah rumah tangga kalian sendiri. Aku tidak ingin kalian tinggal bersamaku," kata Pak Didi.


Mulutnya memang berkata seperti itu, namun hatinya terasa sakit sekali dengan apa yang dia ucapkan sendiri.

__ADS_1


Karena walau bagaimanapun juga selama ini pak Didi selalu tinggal berdua dengan Arumi, bahkan dia rela tidak menikah lagi hanya karena ingin mencurahkan kasih sayangnya terhadap putrinya.


Dia takut jika dia menikah lagi, istrinya tidak akan bisa menyayangi Arumi sepenuh hatinya. Namun, putri yang selama ini dia banggakan kini lebih memilih menikah dengan seorang lelaki yang bahkan tidak dia inginkan.


Sebenarnya Aldo sangat kesal saat mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, karena dia merasa terhina sebagai lelaki.


Namun yang terpenting untuknya saat ini adalah pak Didi mau menikahkan Arumi dengan dirinya, yang terpenting saat ini adalah dia bisa berumah tangga dengan wanita yang sangat ia cintai selama ini.


Karena dengan seperti itu, pengorbananannya akan terasa tidak sia-sia. Tak masalah menjadi pengabdi setan hutan terlarang, yang terpenting semuanya kini dalam gengaman.


"Iya, Pak. Kami mengerti, tapi kalau Arumi kangen sama Bapak, bolehkah kami datang sesekali?" tanya Aldo berbasa-basi.


"Datang saja, aku tidak melarang akan hal itu. Yang terpenting kalian jangan sampai tinggal di rumahku," kata Pak Didi.


Arumi bisa bernapas dengan lega, karena walaupun seperti itu yang terpenting baginya dia masih bisa menemui bapaknya tersebut.


Sebenarnya dalam hati diam merasa keberatan jika harus tinggal terpisah dari bapaknya tersebut.


Orang lain yang tidak tahu apa-apa pasti akan menyangka jika Arumi yang tidak ingin mengurus bapaknya lagi.


Namun pada kenyataannya, pak Didi' lah yang tidak mau melihat bagaimana rumah tangga Arumi dan juga Aldo.


"Sepertinya pembicaraan kita sudah cukup, aku permisi." Aldo terlihat menghampiri Pak Didi, kemudian dia meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangannya dengan khidmat.


Walau bagaimanapun juga Aldo perlu bersikap manis di depan mertua menyebalkannya itu, tidak mungkin bukan jika dia hanya bersikap acuh.


"Ya, pergilah!" jawab Pak Didi.


Setelah berpamitan kepada pak Didi, Aldo terlihat pergi dari sana. Tentu saja Arumi mengantarkan Aldo sampai ke halaman rumahnya.


"Jangan terlalu banyak pikiran, aku tahu bapak menyayangi kita. Hanya saja dia gengsi," kata Aldo menyemangati istrinya tersebut.


"Ya, Arumi tahu. Sekarang Arumi mau tidur di sini dulu, Mas ngga apa-apa, kan kalau Mas tidur dulu sendiri di rumah?" tanya Arumi.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Aldo. "Temani bapak saja sebelum kita meninggalkan rumah ini," kata Aldo.


"Iya, Mas," jawab Arumi dengan wajah sendunya.


Aldo tahu jika istrinya tersebut sedang sedih, namun dia tidak ingin terlalu menderamatisir keadaan. Lebih baik dia memilih pulang ke rumahnya saja, itu akan lebih baik.


***


Masih Berlanjut....

__ADS_1


Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak yes, koment sama hadiahnya juga boleh.


__ADS_2