Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Pertengkaran


__ADS_3

“Kalau kita nikah gue akan jaga loe.” Baru kali ini Nilam melihat Juju sangat serius, ia sampai menahan diri untuk tak tertawa.


“Besok aja kita omongin. Ini jam berapa?” Nilam menarik pergelangan Juju melihat jam tangan. “Ya ampun jam sebelas, Ju, Babe—“


“Ni, serius. Kita harus nikah secepatnya.”


Hening tercipta, Juju menahan dua bahu Nilam untuk saling bertatapan dalam jarak dekat, terhenti saat gadis itu membuang pandang ke sekitar, dua orang dewasa sampai berhenti melihat arah mereka. Cepat Nilam melepaskan tangan Juju.


“Diliatin orang, tuh,” katanya kikuk.


Merasa tak nyaman jadi tontonan Juju mengajaknya pulang, naik taksi tanpa argo yang mangkal depan gedung rumah sakit. Selama perjalanan keduanya hening, hanyut dalam pikiran masing-masing. Juju yang berusaha meredam perasaannya bercampur kesal dengan sikap Nilam yang tak mau paham maksudnya.


Sementara Nilam, memikirkan kalimat Juju. Mendapat lamaran dari seorang yang dianggap teman membuat hatinya gelisah. Takut pemuda di sampingnya itu kecewa, juga ragu akan perasaan sendiri.


Apa aku harus nikah karena dianggap aneh? Ugh! Mak … Nilam harus gimana?


Sesampai di kos Juju menjelaskan pada Mang Didin alasan mereka terlambat pulang, dengan mudah pintu pagar dibuka tanpa harus ribut dengan Babe_lelaki paruh baya itu akan marah kalau tahu ini.


Sebelum kembali mengambil motornya Juju memandangi Nilam yang akan masuk, tanpa berkata apa-apa. Sinar mata pemuda itu jelas tersirat kecewa, di lain pihak Nilam pun menahan diri berkata.


Dalam diam keduanya merasakan nyeri yang berbeda. Nilam merasa bersalah jika harus membuat pemuda baik itu terluka, tapi juga sulit merubah rasa sayangnya sebagai seorang teman.


Ia putuskan memberi waktu diri memikirkan jawaban yang tepat untuk kebaikan mereka berdua.


Di tempat lain ....


Lelaki tua melihat target dari pantulan air di depannya, itu Nilam yang tengah berjalan menuju pintu kosnya.


“Nikmati dulu malam ini dengan tenang, Cantik …besok kejutan besar menunggumu,” desisnya kemudian


terkekeh panjang.


Ada sebuah rencana jahat di otaknya.


***


Seminggu ini, Nilam dan Juju bertugas pada shift siang sampai jam sepuluh malam. Seperti biasa rolling shift berganti per tujuh hari kerja.


Selepas Dzuhur Juju sudah datang menjemput. Setelah melepas helm terlihat rambut pemuda itu basah,


seperti habis mandi keramas. Matanya sedikit sembab dan merah.


“Kenape, lu?” tanya Babe curiga melihat Juju kurang bersemangat.


“Enggak kenapa-kenapa, Be.”


“Enggak kenapa gimane? Mata lu lebam gitu, nangisin sape?”


Juju mengusap wajah. Di saat sama Nilam muncul. Keduanya saling pandang sebentar mengundang curiga Babe


yang sedang menimang burung, tapi mencuri pandang dari celah sangkar.


“Gue denger lu bedua tadi malam kemaleman ye pulang. Tuh si Didin yang laporan. Emang ade ape, nih?” Naluri seorang bapak dalam diri Babe keluar, meminta penjelasan Juju.


Keponakan Babe itu anak yatim, Babe merasa bertanggung jawab sebagai pengganti almarhum bapaknya. Jika ada apa-apa ia akan merasa ikut menanggung dosa.


“Nanti aja pulang kerja Juki cerita, Be. Kami berangkat dulu.” Juju cepat bangun, meraih tangan Babe tempelkan ke keningnya.


“Mari, Be,” Nilam mengangguk kaku.


“Iye, hati-hati.” Mata Babe belum lepas dari dua anak muda yang gerak-geriknya mengundang curiga itu, sampai motor Juju keluar pagar dan hilang dari pandangan.


***


“Ponselnya gak aktif, ya, Ni?” Juju bertanya saat mereka sudah tiba di basement, tempat parkir. Nilam melepas helm, baru turun dari boncengan.


 “Aktif. Kenapa?”


“Ah, enggak. Gue telpon semalam gak diangkat, chat gak dibalas. Apa loe baik-baik aja?” tanya juju lagi, bernada datar. Ia melirik Nilam yang tampak memikirkan sesuatu.


“Maaf semalam ketiduran. Aku baik, kok. Cuman agak kurang tidur aja.”


Pemuda itu menatapnya lurus. “Sudah punya jawabannya?”


Nilam mengalihkan rasa dengan berpura sibuk rapikan ujung rambut yang kusut, terterpa angin sepanjang jalantadi.


“Jawabannya, Ni?” Juju menahan tangannya, menghentikan gerakan Nilam.


“Aku butuh waktu mikir, Ju.”


“Ini darurat, Ni. Loe dalam bahaya.” Setengah mendesis Juju bicara, tak enak kalau terdengar orang lain.


“Darurat apa? Aku baik-baik aja.” Nilam merentangkan tangan sembari melihat dirinya sendiri. “Kalau aku sakit, gak mungkin bisa kerja, ‘kan?” Tampak kesal ia melangkah lebih dulu keluar area basement.


Juju menjajari langkahnya.


“Itu karena loe gak ngerasa. Gak sadar.”


“Terserahlah, Ju. Aku pusing.”


 Gadis berkulit putih bersih itu terlihat tak pedulikan lagi Juju menjelaskan detail keanehan dirinya.


“Nah, kalung ini 'kan gue bilang jangan dipakai lagi!” Saat juju mau menarik kalung di lehernya Nilam mendorong dada pemuda itu, kesal.


“Ju, plis, yang aneh itu kamu bukan aku!” bentaknya sedikit berlari percepat langkah.

__ADS_1


“Nilam!”


Mereka sudah masuk ke lorong pintu samping, tempat karyawan. Nilam seolah-olah tak mendengar namanya dipanggil.


Ruang panjang selebar dua setengah meter itu masih sepi, karena karyawan shift siang belum datang, biasanya mereka ada di tempat saat berganti shift tepat jam satu. Dan, yang bagian pagi masih bertugas di ruang depan.


“Lepasin kalung itu.” Juju tak tahu lagi cara menjelaskan agar Nilam mengerti maksudnya. Keras sedikit mungkin membuat Nilam segera paham. Cepat Juju mencekal lengan Nilam hingga terkunci di depannya.


 Tatapan tajam Nilam menembus bola matanya tanpa kedip.


“Kalung ini energinya gak bagus.” Sebelah tangan Juju sudah memegang batu dingin itu, dan hendak menariknya.


 “Energi apaan?” Nilam memukul tangannya keras. “Ini pemberian Suci. Dan, gak ada yang aneh, ngerti?”


Gadis itu berhasil lepas dari Juju, ia berjalan ke arah loker dengan bibir mengerucut. Sikap Juju membuatnya bertambah jengkel seratus persen sekarang.


Pemuda itu terlihat pasrah, berdiri terpaku beberapa saat, memandangi Nilam yang mulai merapikan diri di depan kaca lebar jarak tiga meter darinya. Pikiran pemuda sedang tak menentu.


Apa gue salah kalau khawatirin loe, Ni?


Juju mulai bisa mengontrol diri, sekarang akan mulai bersiap fokus bekerja dulu.


Saat melewati Nilam, gadis beraroma segar buah itu tengah menggulung rambut panjangnya ke atas. Sekejap langkah Juju terhenti, netranya menangkap sesuatu di tengkuk Nilam.


 “Sebentar!”


Tangannya cepat menahan gerakan tangan gadis itu. Tata rambut berbentuk keong, melapangkan pandang pada


tengkuk putih si gadis.


Ada angka Sembilan hitam, muncul seperti gumpalan daging hidup di sana. Juju berusaha mengusap kasar, berusaha menghapusnya.


“Apa-apaan, Ju?!” Nilam berbalik menghadapnya karena terganggu.


“Itu.” Kalimat Juju tak berlanjut. Gadis berhidung mungil itu kembali memelototinya.


“Juju, please. Jangan mulai lagi,” tukas Nilam sedikit mendorongnya, tapi terhuyung karena Juju memaksa ingin menunjukkan apa yang dilihatnya barusan. Nilam yang hampir terjatuh menubruk dadanya.


 “Ada apa ini?” Suara seseorang berlogat khas membuat keduanya menoleh. Tampak lelaki berkulit putih bersih, mengenakan kemeja merah hati sudah berdiri tegap memperhatikan mereka dalam posisi berpelukan.


“Jangan ada hubungan pribadi selama di tempat kerja,” katanya memandang mereka bergantian.


Bon-Hwa perhatikan Nilam yang tergagap berusaha berdiri tegak.


“Nilam ke ruanganku sekarang,” perintahnya membuat Nilam mengangguk cepat mengiyakan.


Sebelum berlalu, gadis itu sempat mencubit lengan Juju keras, lidah ia julurkan mengejek. Meninggalkan si pemuda memandangnya ambigu.


“Ckk, cewek itu!” decak Juju, gemas.


***


Hwa jenis pimpinan yang suka berpatroli, lelaki berbodi gagah itu sempat menegur Nilam agar wajahnya tak dibuat menekuk.


“Pengunjung akan lari kalau semua karyawan memasang wajah begitu,” ucap lelaki berlesung pipit itu saat sengaja berpapasan dengannya, di ruang operasional tadi.


Gadis itu tampak susah payah kendalikan diri, beberapa kali mengatur napas panjang-pendek. Berusaha memasang senyum terbaiknya saat di depan pengunjung. Walaupun tetap terlihat terpaksa, lengkung di bibir penuh itu tetap kelu. Nilam terganggu dengan rasa berat yang mulai menjalari kepala dan tengkuknya.


Setengah jam lagi waktu pulang, sekarang pukul 21.30 Nilam seperti biasa ke ruang Mia dulu, lalu ke


ruang Hwa untuk evaluasi hari ini. Namun Nilam tak bisa berkonsentrasi, tekanan yang menyumbat kepala merasuk ke dadanya hingga sesak bernapas.


‘Nilam … Nilam ….’ Suara bisikan muncul menggema di gendang telinga, sesekali terdengar.


Mia yang tengah mengajarinya bagian penting admin restoran, mengamati kegelisahan Nilam.


“Kamu sakit, Ni?” tanya wanita tiga puluhan tahun itu.


Mereka duduk bersisian menghadap monitor komputer.


Nilam menggeleng, tapi kemudian berkata, “Nilam ke belakang sebentar, ya, Mbak ...."


Mia mengernyit dahi memandang Nilam yang terburu-buru keluar.


Mungkin ia sakit perut.


Gadis yang biasanya tanggap saat dijelaskan itu, diharap cepat bisa menggantikan posisinya. Resign Mia


telah disetujui. Dan, ia ingin fokus di rumah, mengurus calon bayi di perut yang sudah menunggu hari untuk dilahirkan.


Sementara itu, Nilam masuk ke ruang pantry, gejolak rasa bercampur di benaknya. Nyeri dan … lapar membawanya ke sini.


Tanpa melihat sekeliling, ia langsung mendekati Kimchi membumbung di dalam mangkuk putih bercorak, nafsu makan Nilam jadi tak terbendung.


Permentasi sawi pedas itu diraupnya segera memenuhi mulut. Isi mangkuk lenyap dalam sekejap. Saus yang


melekat di tangan disesap hingga berbunyi nikmat. Tak ia sadari dua orang karyawan dan koki di belakang menatapnya dengan mata melebar dan mulut terbuka.


“Nilam!” Hwa muncul setengah berlari mendekat.


Ia ke situ setelah mendapat laporan karyawan lain tadi. Tangan Nilam ditarik Hwa menuju ruangannya.


Gadis yang masih belepotan saus di sekitar mulut itu terlihat puas, meski mendapat tatapan berbagai reaksi


dari karyawan yang berada di situ.

__ADS_1


Setelah masuk di ruangan, Hwa menarik kursi di depan mejanya, menyuruh Nilam duduk. Lelaki bermata coklat itu


duduk di depannya, terhalang meja kerja. Alis tebal Hwa sedikit terangkat melihat Nilam mengusap bekas saos di mulutnya dengan tisu yang tadi ia sodorkan.


Dalam pandangannya gadis itu tampak bingung. Sinar mata bulat Nilam tampak kosong dan gelisah. Belum semenit di sini beberapa kali Nilam menyentuh tengkuk.


“Apa kamu punya masalah? Sakit mungkin?” Bosnya itu membuka percakapan. Nilam mendongak, terlihat bingung.


“….” Gadis itu tak menjawab, menatapnya polos, seperti tak mendengar.


Bon Hwa memajukan badan.


“Apa-kamu-punya-masalah, sampai begini?” Ulang lelaki itu menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Logat khas negeri ginseng terdengar unik di telinga, seperti suara orang bicara sambil mengulum sesuatu di mulut.


Nilam sejenak terkejut, menatap Hwa lekat dalam jarak dekat begini membuatnya tiba-tiba gugup.


Gadis berbibir merah bata ini menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Meremas tisu di telapak tangannya.


 “Eng-enggak,” jawab Nilam kikuk.


 “Kalau begitu, gajimu dipotong seharga Kimchi yang kamu makan tadi.” Lelaki itu mundur, menyandari santai punggung kursinya.


Nilam kembali meregangkan kepala dan memegang tengkuk. Ia mulai menyadari nafsu makannya terkadang muncul dahsyat tanpa bisa dikendalikan. Seolah ada sesuatu di dalam sana yang menagih segera mengisi perutnya.


Apa Juju benar …? Ia teringat semua kalimat Juju.


Rasa berat di tengkuk Nilam makin menjadi.


"Bagaimana, Nilam?"


 “Terserah Tuan Bon saja,” jawabnya asal seraya meremas punggungnya yang terasa ikut memberat.


 Hwa menahan senyum melihat kelakuan Nilam.


“Selalu kubilang, panggil Hwa saja. Bisa 'kan?” Lelaki itu tak suka dipanggil Bon, menurutnya terdengar aneh. Namun, Nilam merasa kaku setiap menyebut Hwa, nama belakang warga asing itu.


 “I-iya, Tuan Huwa. Hwa,” ucap Nilam sembari memegang kepala.


Tetap ada Tuan di depannya, huft!


“Harusnya kalau sakit jangan paksa bekerja, aku lihat kamu kurang sehat.”


Nilam tak menjawab karena makin merasa gelisah. Banyak rasa aneh yang tak terkatakan bergerak dibawah kulitnya.


“Ma-maaf … permisi, seben—“ Nilam berdiri dari kursi. Keseimbangannya hilang hingga kembali terduduk.


Hwa segera bangkit, mengitari meja, menghampirinya.


“Kamu gadis keras kepala, ayo cepat sekarang aku antar pulang.” Lelaki berambut tebal itu mengira Nilam


sejak tadi memaksakan diri bekerja. Tak biasanya memang gadis itu seaneh begini.


Buru-buru Hwa meraih kunci mobil di sudut meja, kemudian menggotong Nilam yang lemas seperti tak bertulang.


Saat keluar tampak Juju dan beberapa teman lain menunggu di depan pintu, mereka penasaran dengan kondisi


Nilam.


Juju lekas menghampiri. “Nilam?”


Ia dengar temannya ini mengerang di pangkuan Hwa.


kejadian di kampung itu terulang?!


“Cepat siapkan mobilku!” Perintah Bon Hwa mengagetkannya.


Juju cepat tanggap, ia meraih kunci di ujung jari bosnya itu.


Mereka setengah berlari keluar, menuju parkiran. Suasana sedikit ricuh saat yang lain bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Nilam.


“Kita ke rumah sakit terdekat di sini,” kata Bon Hwa.


Seorang karyawan membukakan pintu sedan Corolla putih milik Hwa.


“Nilam nggak butuh rumah sakit, Tuan Hwa. Tolong antarkan pulang saja,” sela Juju cepat. Ia menjelaskan


sedikit apa yang dialami Nilam pada lelaki yang tampak panik itu.


Juju membantu Nilam masuk ke mobil\, di dalam sudah ada Leli_karyawan perempuan yang ikut_bersiap menyambut tubuh Nilam. Setelah siap berangkat Juju berlari cepat menuju motornya\, segera melaju sebagai penunjuk jalan pada Hwa ke arah kos Nilam.


Ia berencana akan meminta Babe memanggil pemuka agama untuk membantu gadis itu.


Kondisi Nilam tampak parah, semoga saja cepat bangun kembali. Segar dan lupa kejadian ini seperti sebelumnya, benak Juju penuh harap.


Seperti mendapat halangan lain. Jalan satu arah ke kos Nilam ini biasanya lengang, sekarang malah sedang padat-padatnya. Puluhan mobil bergerak perlahan sebelum benar-benar terhenti. Suara klakson bersahutan, termasuk dari mobil Hwa.


Semua terhenti.


*Ada apa di depan sana?*!


Geram Hwa memukul setir, kesal. Ia melirik spion, melihat Nilam menggigil memeluk tangan di pangkuan Leli. Ada cairan merah mengalir dari hidungnya.


Ya Tuhan, ada apa dengan gadis itu?


 Bon Hwa *\,*

__ADS_1



__ADS_2