
Rumah yang Aldo beli dari hasil menjual diri kepada Nyai Ratu sudah habis dilahap si jago merah, rumah yang tadinya berdiri kokoh kini telah rata dengan tanah.
Bahkan mobil mewah milik Aldo pun sudah habis dilahap si jago merah, Arumi dan pak Didi hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Mereka menjadi berpikir, mungkin semua yang didapatkan dengan cara yang salah, tidak akan berkah dan tidak akan bermanfaat.
"Ya Allah, aku harus berkata seperti apa kepada Mas Aldo?" tanya Arumi.
"Kita bicarakan saja yang sebenarnya, karena memang kenyataannya rumah Aldo sudah habis dilahap api," jawab Pak Didi.
"Iya, Pak," jawab Arumi.
Arumi terlihat menghela napas panjang, kemudian dia mengeluarkannya secara perlahan.
Sebelum dia pulang, Arumi memutuskan untuk melihat puing-puing rumah Aldo yang sudah rata dengan tanah itu. Siapa tahu masih ada yang bisa dia pungut, pikirnya.
Pak Didi terlihat menemani Arumi yang kini sedang melihat-lihat reruntuhan rumah Aldo, tidak ada yang terisa sama sekali.
Semuanya hancur lebur menjadi abu, pak Didi merasa miris melihat akan hal itu. Ternyata harta yang didapatkan dengan cara yang tidak halal itu akan habis dalam sekejap mata.
"Bu Arumi, saya turut perihatin. Saya minta maaf tidak bisa membantu apa pun, karena pak Aldo tidak mengasuransikan rumahnya," kata Pak Burhan sang pemilik perumahan elite tersebut.
"Tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Arumi.
"Tunggu dulu, Bu. Kalau untuk urusan penjualan tanah, saya bisa bantu. Dari pihak kami bisa mengganti tanah milik pak Aldo sesuai dengan harga tanahnya," kata Pak Burhan.
Arumi tersenyum mendengar tawaran dari pak Burhan, saat ini Arumi tidak terlalu memikirkan tanah yang Aldo beli dari hasil pesugihan.
Arumi hanya memikirkan bagaimana nasib Aldo saat ini, Arumi langsung terasadar jika dia sudah meninggalkan Aldo cukup lama.
__ADS_1
Dia terlihat panik dan langsung berpamitan untuk pulang kepada pak Burhan.
"Kita bicarakan lain kali saja, Pak. Saya pulang dulu, kasihan mas Aldo di rumah saya tinggal sendirian," kata Arumi.
"Iya, Bu. Nanti kalau ibu sudah setuju, ibu bisa langsung hubungi saya," kata Pak Burhan.
"Siap, Pak," jawab Arumi.
Pada akhirnya, setelah Arumi berpamitan kepada pak Burhan dia mengajak pak Didi untuk segera pulang ke kediaman pak Didi.
Dia begitu mengkhawatirkan keadaan Aldo, apalagi kini keadaan Aldo benar-benar sangat lemah dan tidak berdaya.
"Jangan cemas, Aldo pasti baik-baik saja," kata Pak Didi.
"Iya, Pak." Arumi berkata dengan resah.
Kemudian, dia turun dengan tergesa. Arumi langsung naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamar miliknya.
Pak Didi berusaha untuk mengejar Arumi walaupun dengan langkah terseret, dia takut jika Arumi akan kenapa-kenapa.
Tiba di dalam kamarnya, mata Arumi langsung membulat dengan sempurna kala dia melihat Aldo yang sedang dililit oleh Nyai Ratu.
Ya, Nyai Ratu kini sudah berubah wujud menjadi ular dan terlihat seperti ingin mematahkan tulang-tulang Aldo.
Lidah Nyai Ratu terjulur menjilati wajah Aldo, Aldo yang memang susah berbicara hanya bisa bergumam dengan tidak jelas.
Mata Aldo terlihat memerah, bibirnya terlihat bergerak seolah ingin berteriak. Tubuh Aldo terlihat bergerak-gerak seolah berusaha untuk melepaskan diri.
"Astagfirullah," kata Arumi memekik kaget.
__ADS_1
Dengan tubuh bergetar Arumi langsung membaca ayat kursi dan juga surat-surat pendek yang ada di dalam Al Qur'an.
Bibir Arumi terlihat bergetar, bahkan tubuhnya juga terlihat gemetaran. Dia sungguh takut akan menghadapi hal ini, dia takut Aldo kenapa-kenapa.
Pak Didi yang baru saja sampai terlihat sangat kaget, dia ingin menghampiri Aldo, tapi takut. Akhirnya dia melakukan hal yang sama dengan Arumi.
Pak Didi berusaha membaca ayat-ayat suci Al Qur'an, sama seperti yang Arumi lakukan. Walaupun tubuhnya bergetar karena ketakutan.
Tidak lama kemudian, siluman ular itu nampak melemas. Lilitannyaa nampak melemah, tidak lama kemudian Nyai Ratu terlihat berubah wujud menjadi wanita tua yang mengerikan.
Arumi benar-benar ketakutan, begitupun dengan Aldo dan pak Didi. Nyai Ratu terlihat begitu marah, dia memelototi ketiga orang yang ada di hadapannya.
"Kurang ajar kalian! Kalian sudah berani melakukan hal yang membuat aku merugi, awas kalian. Aku pasti tidak akan membuat kalian tenang!" seru Nyai Ratu lantang.
Setelah mengatakan hal itu, Nyai Ratu nampak hilang dari hadapan mereka. Arumi dan pak Didi langsung menghampiri Aldo, mereka berusaha menolong Aldo yang kini tergeletak lemah.
"Mas! Aku mohon bertahanlah!" kata Arumi.
"Kita harus bawa Aldo ke Rumah Sakit, Nak!" kata Pak Didi.
"Tolong telpon ambulance, Pak," pinta Arumi.
Pak Didi menurut, dia segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi ambulance, mereka harus segera membawa Aldo ke Rumah Sakit.
Arumi dan pak Didi merasa tidak bisa lagi menangani Aldo sendirian, Aldo harus ditangani oleh pihak Rumas Sakit.
***
Masih berlanjut, kuy ramaikan kolom komentar.
__ADS_1