
Setelah kepergian Aldo, Arumi langsung menghampiri pak Didi. Dia duduk di samping pak Didi dan memeluk tubuh pria paruh baya itu.
Pak Didi membiarkan putrinya untuk memeluk dirinya, namun dia juga tidak berniat untuk membalas pelukan dari putrinya tersebut.
Bahkan, dia sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah putrinya. Arumi tidak merasa masalah dengan hal itu, yang terpenting baginya pak Didu tidak menolak untuk dia peluk, pikirnya.
"Terima kasih karena Bapak akan menikahkan aku dengan mas Aldo, aku tahu Bapak sayang sama aku. Jangan benci Arumi, ya, Pak. Jangan usir Arumi karena setiap hari Arumi akan datang untuk menjenguk Bapak," kata Arumi.
Tidak ada jawaban dari bibir pria paruh baya itu, pak Didi hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban.
Rasanya dia begitu enggan untuk berbicara dengan putrinya tersebut, rasa kecewanya masih begitu dalam dia rasakan di hatinya.
"Sekarang Bapak istirahat, ya. Aku akan mengantar Bapak ke kamar," kata Arumi.
Arumi terlihat melerai pelukannya, kemudian dia bangun dan hendak menuntun bapaknya tersebut untuk kembali ke dalam kamarnya.
Namun, pak Didi langsung mengangkat tangan kirinya. Dia seolah berkata jika dia tidak ingin berjalan bersama dengan putrinya tersebut.
Dia malah menolehkan wajahnya ke arah lain, dia memanggil suster yang ditugaskan untuk merawat dirinya.
"Neni, tolong antarkan saya ke dalam kamar," pinta Pak Didi.
Neni yang sedari tadi berdiri tak jauh dari pak Didi dan juga Arumi langsung menghampiri mereka, kemudian dia menuntun tangan kanan pak Didi agar tidak terjatuh saat berjalan.
Pak Didi memang sudah sehat, namun tetap saja saat berjalan dia masih kurang bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Arumi hanya bisa terdiam terpaku menyaksikan akan hal itu, dia ingin sekali menyelak ucapan dari bapaknya tersebut.
Namun, dia paham jika kekecewaan masih menguasai hati pak Didik. Akhirnya Arumi hanya bisa menghela napas berat, kemudian dia duduk dan menyadarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga tersebut.
"Aku tahu aku salah, bapak pantas marah dan benci kepadaku. Aku tahu aku hanyalah anak pembangkang yang pasti sangat mengecewakan hati bapak," kata Arumi.
Hati Arumi benar-benar terasa sakit, walaupun dia tahu jika dirinya bersalah, namun dia juga mempunyai perasaan.
Apalagi saat bapaknya menatap dirinya dengan penuh rasa kebencian, rasanya dia ingin menjerit.
__ADS_1
Dia ingin melakukan apa pun yang bisa membuat pak Didi mau memaafkan dirinya, sayangnya untuk berdekatan dengan dirinya saja pak Didi seolah enggan.
Arumi terlihat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tidak lama kemudian terdengar isak nangis dari bibirnya.
Air matanya terlihat mengalir begitu deras, dia menyesal karena sudah membangkang. Namun, tetap saja dia tidak menyesal karena sudah memilih cintanya.
"Maaf, pak. Maafkan Arumi, Arumi terlalu mencintai mas Aldo." Arumi bangun dan segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Tiba di dalam kamarnya dia langsung masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya menggunakan air hangat di dalam bathtub, dia ingin menenangkan dirinya.
Di rumah Aldo.
Sesampainya di rumah, Aldo langsung masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.
Tentu saja hal itu dia lakukan, karena seharian ini dia pergi ke sana kemari untuk mempersiapkan acara pernikahannya.
Badannya terasa kotor dan juga lengket, dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat langsung dari shower.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, dia terlihat berpakaian rapi dan langsung pergi menuju ruang keluarga.
"Sepertinya makan tongseng kambing akan terasa lebih enak," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal itu Aldo terlihat memesan makanan yang dia inginkan, dia juga terlihat memesan beberapa camilan dan kebutuhan dapur melalui aplikasi online.
Kini jaman sudah semakin canggih, tidak perlu repot pergi ke mana-mana. Tinggal duduk manis, pesan semuanya, maka tidak lama kemudian semua pesanan akan diantarkan.
Setelah setengah jam menunggu, ternyata Semua pesanan Aldo sudah tiba. Aldo tersenyum, kemudian dia merapikan semua pesanan yang dia pesan di dapur.
Setelah itu dia melakukan ritual makan malamnya sendirian di ruang makan, Aldo terlihat menyantap tongseng kambing yang dia pesan dengan sangat lahap.
"Ini sangat enak sekali, aku suka. Lain kali aku akan memesannya saat sedang berduaan dengan Arumi," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal itu, Aldo kembali melahap makanannya dengan cepat. Setelah selesai makan, Aldo terlihat duduk sebentar sambil mengelus perutnya yang terasa penuh.
Tidak lama kemudian, dia teringat akan Nyai Ratu. Satu minggu lebih dia tidak menemui Nyai Ratu, karena selama itu pula dia tidur bersama dengan Arumi.
__ADS_1
Aldo pun segera bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar Nyai Ratu, tentu saja dia ingin menyapa Nyai Ratu dan juga membicarakan pernikahannya dengan Arumi kepada Nyai Ratu.
"Semoga saja Nyai Ratu tidak marah, karena selama satu minggu lebih ini aku mengabaikan dirinya," kata Aldo sebelum membuka pintu kamar Nyai Ratu.
Saat tiba di dalam kamar Nyai Ratu, Aldo tersenyum. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang selalu mereka gunakan untuk kegiatan panas mereka.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi desisan. Aldo langsung mencari arah suara tersebut, ternyata Nyai Ratu telah muncul dari balik jendela.
Senyum Aldo langsung mengembang, dia langsung bangun dan menghampiri Nyai Ratu.
"Selamat malam, Nyai. Maaf, karena selama satu minggu ini aku tidak menemuimu. Nyai pasti paham karena di sini ada Arumi," ucapnya terhadap Nyai Ratu.
"Tidak apa, aku mengerti. Untuk saat ini aku memaafkanmu, tapi tidak untuk lain kali. Nanti setelah kamu menikah dengan Arumi, aku mau kamu tetap bisa membagi waktu untuk aku dan juga istrimu," kata Nyai Ratu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Nyai Ratu, Aldo sampai bertanya-tanya dalam hatinya.
Bukankah perjanjiannya mereka akan tidur dalam waktu satu bulan sekali? Kenapa Nyai Ratu seolah menuntut ingin keadilan dari Aldo?
Aldo jadi merasa jika kini dia mempunyai istri dua, harus bisa adil dalam membagi waktu dan membagi hatinya.
"Akan tetapi--"
Aldo tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena Nyai Ratu langsung membungkam bibir Aldo dengan bibirnya.
Nyai Ratu terlihat memagut bibir Aldo dengan penuh hasrat dan gairah, Nyai Ratu bahkan terlihat mendorong dada Aldo dengan cukup kasar hingga tubuh Aldo terhempas ke atas tempat tidur.
"Aku tidak ingin mendengarkan kata apa pun lagi Aldo, aku sudah banyak membantu dirimu. Aku sudah banyak memberikan harta untuk menunjang kehidupanmu, apakah permintaanku terlalu berat jika aku ingin diperhatikan sama seperti istrimu?" tanya Nyai Ratu.
Aldo bingung harus menjawab apa, karena pertanyaan Nyai Ratu tidak seperti siluman ular. Namun, persis seperti pertanyaan yang keluar dari bibir seorang madu.
****
Masih berlanjut....
Makin rumit ya, guyz. Semoga kalian masih mau mampir dan meninggalkan jejak, selamat malam.
__ADS_1