Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Siapa Yang Sudah Tega?


__ADS_3

"Ini sama persis seperti yang pernah terjadi di Resto milik aku, Om," kata Reihan.


"Benarkah?" tanya Pak Didi.


"Iya, Om. Dulu ada yang nyimpen telor busuk di belakang Resto aku, Om," jawab Reihan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Reihan, pak Didi jadi berinisiatif untuk segera pergi menuju belakang penginapan.


Mungkin saja ada orang yang menyimpan telur busuk juga di sana, ternyata Damar pun satu pikiran dengan pak Didi. Dia langsung bangun dan berkata.


"Bagaimana kalau kita mencari sesuatu hal yang mencurigakan di belakang penginapan?" usul Damar.


"Nah, sebaiknya seperti itu!" kata Reihan.


"Baiklah, ayo kita ke sana," kata Pak Didi.


Akhirnya mereka berempat pun berjalan menuju belakang penginapan, mereka langsung mencari-cari benda yang disebutkan oleh Reihan.


Sayangnya, setelah sekian lama mereka mencari-cari benda tersebut, mereka tidak kunjung menemukannya.


Namun, Reihan merasa jika di sana benar-benar tercium bau busuk yang lebih menyengat dari pada saat dia berada di dalam penginapan.


Reihan menjadi yakin jika benda tersebut benar-benar disimpan di sana, dia yakin ada benda yang sama seperti yang disimpan di belakang Resto miliknya.


Hampir satu jam mereka mencari benda yang diperkirakan telur busuk tersebut, sayangnya mereka tidak menemukan apa pun.


"Bagaimana ini, Tuan?" tanya Damar.


"Kita beristirahat saja dulu, kita duduk di bangku taman saja dulu. Nanti kita cari lagi," kata Pak Didi.


"Baiklah," jawab Damar.


Akhirnya mereka pun duduk di bangku taman, mereka hendak melepas penat. Namun, baru saja mereka duduk, mereka merasa jika di dekat bangku taman itu benar-benar tercium bau yang sangat busuk.


Reihan menjadi curiga jika benda tersebut ada di sana, dia benar-benar merasa sangat yakin.


"Om, sepertinya benda tersebut disimpan di sekitaran sini," kata Reihan.


"Benarkah?" tanya Pak Didi.


"Ya," jawab Reihan.


Pak Didi terlihat berjongkok, dia berusaha mencari-cari sesuatu di sana. Begitupun dengan Damar, dia ikut mencari.


Namun, dia tidak menemukan apa pun. Tapi, semakin lama bau busuk itu semakin tercium lebih menyengat lagi.


"Apa mungkin dikubur ya?" celetuk Damar.

__ADS_1


"Ah, bisa jadi!" kata Pak Ridwan.


Karena merasa penasaran, akhirnya Damar berlari untuk mengambil pacul di gudang. Lalu, dia menggali di sekitaran bangku taman tersebut.


Alangkah kagetnya saat dia melihat kain kafan yang terkubur di sana, saat dia berusaha menarik kain kafan tersebut dengan cangkul yang dia pegang, ternyata di kain kafan tersebut terdapat banyak belatung dan tercium bau busuk yang sangat menyengat.


Pak Didi hampir saja pingsan melihat hal tersebut, dia benar-benar merasa syok saat mendapati hal menjijikan seperti itu.


Pak Didi benar-benar tidak menyangka, jika benar adanya ada orang yang sengaja ingin menghancurkan usahanya.


"Kira-kira, siapa yang melakukannya? Kenapa dia itu tega sekali?" tanya Pak Didi.


"Entahlah, selama ini Tuan punya musuh tidak?" tanya Damar.


"Mungkin aja hanya orang yang iri," ucap Reihan.


"Bisa jadi kita merasa tidak punya musuh, namun orang tersebut menganggap kita sebagai ancaman," kata Pak Ridwan.


"Lalu, harus diapakan benda ini?" tanya Damar.


"Kemarin Yoga mengambilnya dan membuangnya ke dalam got," kata Reihan.


"Memangnya kenapa harus dibuang ke dalam got?" tanya Damar.


"Katanya itu adalah benda kotor dan harus dikembalikan lagi ke tempat yang kotor," kata Reihan.


"Memangnya benar seperti itu?" tanya Damar lagi.


"Kalau begitu, cepat buang benda itu!" kata Pak Ridwan.


"Baiklah kalau begitu," kata Damar.


Damar langsung mengambil kain kafan yang dipenuhi belatung tersebut dia dengan pacul yang dia pegang, kemudian dia memasukkannya ke dalam plastik.


Setelah itu, dia berlari dan membuangnya ke dekat got yang ada di sana.


Hoek! Hoek!


Beberapa kali Damar terlihat seperti akan muntah, dia merasa mual melihat belatung yang terlihat menggeliat.


"Sudah, Tuan," lapor Damar seraya mengelap mulutnya.


"Terima kasih," kata Pak Didi.


Benar saja, setelah membuang benda yang bau dan sangat mengerikan itu. Tidak ada lagi bau busuk yang menyengat di penginapan tersebut.


Pak Didi bisa bernapas dengan lega, namun dalam hatinya dia tetap bertanya-tanya, siapa yang tega sekali melakukan hal tersebut kepada dirinya?

__ADS_1


"Sekarang, kamu kumpulkan semua karyawan. Terus suruh mereka untuk mengaji bersama," kata Pak Didi.


"Siap, saya akan menelpon para karyawan," jawab Damar.


"Bagus, saya menyerahkan semuanha sama kamu. Saya harus segera ke Rumah Sakit, karena harus menemani anak saya untuk melakukan kuretase," kata Pak Didi.


"Tidak apa-apa, lagian ini sudah sore. Tuan pergi saja," kata Damar.


Reihan dan pak Ridwan yang mendengarkan obrolan antara pak Didi dan juga Damar merasa kaget, karena ternyata Arumi mengalami hal yang tidak diinginkan.


"Arumi keguguran, Om?" tanya Reihan.


"Kurang lebih seperti itu," jawab Pak Didi.


Dia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi terhadap putrinya, rasanya semuanya tidak logis.


"Kalau begitu kita ke rumah saya saja dulu, kita shalat maghrib berjamaah. Setelah itu kita ke Rumah Sakit," usul Pak Ridwan.


"Rumah kamu terlalu jauh dari Rumah Sakit, bagaimana kalau shalatnya di masjid dekat Rumah Sakit saja. Terus kita makan malam dulu, saya lapar," kata Pak Didi.


"Baiklah," kata Pak Ridwan.


Pukul 19:32.


Pak Didi, pak Ridwan dan Reihan terlihat sedang berjalan menuju ruangan Arumi. Pak Didi bahkan membelikan aneka buah-buahan untuk putrinya tersebut.


Tiba di depan ruangan Arumi, pak Didi sempat mencoba membuka pintu ruang perawatan Arumi. Namun terkunci.


Pak Didi berpikir, mungkin saja proses kuretasenya sudah berjalan, sehingga pintu ruangan tersebut nampak terkunci.


Akhirnya pak Didi, pak Ridwan dan juga Reihan memutuskan untuk duduk di bangku tunggu.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya pintu ruangan Arumi nampak terbuka. Dokter Lena terlihat membuka pintu ruangan Arumi dengan raut wajah kebingungan.


Baju yang dikenakan terlihat berlumuran darah, pak Didi, Reihan dan juga pak Ridwan terlihat begitu kebingungan melihat keadaan dari dokter Lena.


"Ada apa ini?" tanya Pak Didi.


"Saya--saya---"


Dokter Lena terlihat kebingungan harus berkata apa, karena dia juga tidak mengingat apa pun saat berada di ruangan Arumi.


Dia hanya mengingat saat dia datang saja, namun setelah itu dia tidak mengingat apa pun juga.


Kedua suster yang baru saja keluar dari ruangan Arumi pun nampak terlihat sama, mereka terlihat kebingungan.


****

__ADS_1


Masih Berlanjut....


Disambung besok lagi, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2