
Sudah sekitar tujuh belas jam pak Didi tidak sadarkan diri, Arumi benar-benar merasa cemas dibuatnya. Dia takut terjadi sesuatu terhadap bapaknya, dia takut ditinggalkan oleh bapaknya.
Semalam saja Arumi tidak bisa tidur dengan pulas, karena dia benar-benar merasa takut jika bapaknya tidak akan bangun lagi.
Walaupun dokter Siska berkata jika pak Didi mungkin saja tidak bangun karena pengaruh obat, tetap saja Arumi merasa sangat khawatir.
Justru karena dia seorang dokter, dia tahu bahaya apa yang kini mengintai pak Didi. Sehingga dirinya menjadi tidak tenang, dia takut.
Semalaman suntuk Aldo menemani Arumi, dia tidak pernah beranjak sedikitpun. Dia begitu mengkhawatirkan kondisi Arumi, dia takut Arumi ikut sakit.
"Sarapan dulu, Sayang. Biar kamu ada tenaga, biar kamu ngga sakit," kata Aldo.
"Males, Mas." Arumi memeluk Aldo dan mengusakkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Jangan seperti itu, Sayang. Kalau kamu sakit, pasti bapak akan sedih. Begitupun dengan aku," kata Aldo.
Arumi melepaskan pelukannya, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Betul juga, pikirnya.
Dia harus sarapan, karena dia membutuhkan banyak tenaga untuk merawat bapaknya. Dia membutuhkan banyak tenaga untuk menjelaskan kepada bapaknya tentang semua yang terjadi antara dirinya dan juga Aldo.
Dia berharap semoga setelah siuman nanti, bapaknya akan bisa menerima status pernikahan yang sudah Arumi jalankan bersama dengan Aldo. Walaupun statusnya hanya menikah Siri.
"Suapin," pinta Arumi manja.
Aldo terkekeh mendengar permintaan dari istrinya tersebut, dia mengambil makanan yang sudah dia siapkan di atas meja, lalu dia menyuapi Arumi dengan telaten.
Arumi tersenyum, walau bapaknya menentang pernikahannya dengan Aldo, tapi dia merasa bahagia karena Aldo begitu perhatian terhadap dirinya.
"Makan yang banyak, biar kamu kuat kalau aku ajak main kuda-kuadaan nanti." Aldo mencuil dagu istrinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, wajah Arumi terlihat memerah. Dia merasa malu mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, terlalu sweet untuknya.
"Eungh!"
Terdengar suara lenguhan dari bibir pak Didi, Arumi dan juga Aldo langsung menoleh ke arah pak Didi. Ternyata pria paruh baya itu terlihat sedang berusaha untuk membuka matanya.
Arumi tersenyum, dia yang begitu bahagia langsung bangun dan menghampiri bapaknya. Dia duduk di bangku tunggu, lalu dia genggam tangan bapaknya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Bapak sudah bangun?" tanya Arumi.
Pak Didi terlihat menatap wajah putrinya dengan lekat, namun wajah itu terlihat datar tanpa ekspresi. Hal itu membuat Arumi sangat resah, tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum.
"Kalau Bapak menginginkan sesuatu, bilang saja sama Arumi. Arumi pasti akan memberikannya, yang penting jangan yang aneh-aneh," kata Arumi dengan senyum canggungnya.
Pak Didi tetap diam, dia hanya terus saja menatap wajah putrinya dengan tatapan datarnya. Arumi menjadi serba salah, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi fokter Siska saja.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, sepuluh menit kemudian dokter Siska terlihat datang dengan dua orang suster bersama dengannya.
Ternyata, setelah dokter Siska datang Pak Didi mau berbicara. Bahkan dia meminta disuapi sarapan oleh suster, dia tidak mau disuapi oleh Arumi.
Arumi merasa sangat sedih sekali, namun dia tidak bisa melayangkan protesnya. Dia tahu semua ini terjadi karena ulah dirinya sendiri, sehingga pak Didi terlihat begitu marah kepadanya.
Aldo Hanya duduk seraya memperhatikan wajah Arumi yang terlihat bersedih, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah pak Didi menghabiskan sarapannya dan juga meminum obatnya, dokter Siska dan dua perawat tersebut terlihat berpamitan.
"Saya pamit dulu, jangan membebani pikirannya," kata Dokter Siska.
"Ya, aku tahu." Arumi tersenyum kecut.
Aldo merasa iba, dia mengelus lembut punggung istrinya dan sesekali mengecup kening dari istrinya tersebut.
Untuk beberapa saat Aldo membiarkan Arumi untuk menangis dalam pelukannya, namun tak lama kemudian dia terlihat melerai pelukannya.
"Yang sabar ya, Sayang. Kamu duduk dulu di sini, aku akan berusaha untuk berbicara dengan bapak," kata Aldo.
Arumi terlihat menggelengkan kepalanya, Dia sangat takut jika Aldo berbicara kepada pak Didi justru akan menimbulkan hal negatif lainnya.
Namun, Aldo tersenyum dan berusaha untuk meyakinkan istrinya jika semuanya akan baik-baik saja.
"Aku akan berusaha berbicara sepelan mungkin dengan bapak, kamu jangan khawatir. Aku tidak mungkin membuat keadaan bapak semakin parah," kata Aldo.
Akhirnya Arumi terlihat mengganggukan kepalanya, dia setuju. Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Aldo terlihat menghampiri pak Didi.
Dia duduk di bangku tunggu, pak Didi yang melihat kehadiran Aldo di sampingnya terlihat memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Dia seakan tidak Sudir menatap wajah Aldo, Aldo tersenyum kemudian dia mulai berbicara.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak, karena sudah menikahi Arumi tanpa meminta restu dari Bapak. Jujur saja saya sebenarnya tidak nyaman menikah Siri dengan Arumi, namun Arumi selalu meminta saya untuk segera menikahinya. Walaupun hanya dengan menikah Siri saja, karen kami takut melakukan dosa."
Alda terlihat menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Sebenarnya dia merasa sesak untuk mengatakan hal ini, namun demi Arumi, itulah alasannya.
"Maaf karena saya sudah salah, tapi saya mohon restui kami. Agar aku bisa menikahi Arumi secara resmi," kata Aldo mengiba.
Pak Didi masih setia dengan gemingnya, di merasa tidak sudi jika harus berbicara dengan Aldo. Dia masih belum ikhlas jika harus menerima Aldo sebagai menantunya.
Melihat akan hal itu Aldo kembali menghala napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia mencoba untuk kembali berbicara.
"Saya mohon bicaralah, Pak! Ini semua demi kebaikan kita semua, kalau saya tidak segera menikahi Arumi dengan resmi, saya takut akan menimbulkan fitnah nantinya. Bagaimana kalau misalkan Arumi hamil? Semakin hari perutnya pasti akan membesar, apa kata orang nanti? Mereka pasti akan menyangka jika Arumi telah hamil diluar nikah," kata Aldo.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo, dada pak Didi terlihat naik turun. Kedua tangannya bahkan terlihat mengepal dengan sempurna, namun dia tetap tidak memalingkan wajahnya ke arah Aldo.
Hal itu sontak membuat Aldo merasa kesal, namun jika dia terus berbicara dia takut pak Didi malah akan terkena stroke berat.
Aldo langsung bangun, kemudian dia menghampiri Arumi. Dia memeluk Arumi, bahkan dia menautkan bibirnya agar bisa mendapatkan ketenangan.
"Sepertinya kita harus membahasnya lain kali saja, sekarang kamu jaga Bapak dengan baik. Mas mau keluar sebentar," kata Aldo.
Dia sangat kesal, dia sangat marah terhadap perlakuan pak Didi kepada dirinya. Sudah sakit saja masih belagu pikirnya, namun kalau dia terlalu lama di sana dia takut akan kesal dan juga marah .
Lebih baik dia menghindar dulu untuk sementara waktu, mungkin di harus pulang dan istirahat terlebih dahulu.
"Iya, Mas. Aku mengerti, tapi jangan lama-lama. Aku tidak ada temennya, aku takut," kata Arumi manja.
"Iya Sayang. Mas pergi dulu," kata Aldo.
Sebelum Aldo benar-benar pergi, dia terlihat mencium bibir Arumi dengan sangat mesra. Pak Didi sempat melihat kejadian tersebut, dia benar-benar muak. Dia benar-benar kesal karena Arumi benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.
'Ya Allah, apakah dia benar-benar putriku? Kenapa dia begitu tidak memikirkan perasaanku? Kenapa dia begitu tega kepadaku?'
***
Masih berlanjut....
__ADS_1
Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.