
Keesokan harinya Aldo pagi-pagi sekali sudah menemui paman Alan, dia menitipkan pabrik tempe miliknya agar diurus oleh dirinya selama dua hari ini.
Karena dia ingin menemui ibunya Liza di kota B, paman Alan bukannya keberatan justru dia malah tersenyum senang.
Karena pada akhirnya Aldo mau menerima Ibunda tercintanya, walaupun memang dulu ibunya pernah meninggalkan dirinya. Namun, itu bukan karena keinginannya sendiri.
Pukul tuju pagi, dengan berbekal alamat dari paman Alan dia pergi ke kota B dengan menggunakan mobil milik bapak mertuanya.
Awalnya dia memang ingin menaiki bis saja, tapi dia merasa kasian kepada Arumi. Dari kecil Arumi tidak pernah hidup susah walaupun tanpa ibu
Karena pak Didi selalu memenuhi apa pun yang diinginkan oleh Arumi, pak Didi selalu mencurahkan kasih sayangnya untuk putrinya.
"Mas! Aku mau itu," kata Arumi seraya menunjuk pedagang yang ada di pinggir jalan.
Aldo memelankan laju mobilnya, lalu melihat-lihat banyaknya pedagang yang menjajakan dagangannya.
"Mau berhenti dulu?" tanya Aldo.
"Iya, Mas. Aku mau itu," kata Arumi.
Aldo menurut, dia langsung menepikan mobilnya. Belum sempat Aldo turun, Arumi sudah terlihat turun dengan tergesa.
Arumi terlihat berlari ke arah tukang asinan yang berada tidak jauh dari Aldo memarkirkan mobilnya.
Aldo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari istrinya.
"Sayang, pelan-pelan jalannya," kata Aldo seraya menyusul istrinya, Arumi.
"Iya, Mas," jawab Arumi seraya nyengir kuda.
Aldo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah dari istrinya tersebut.
"Kamu mau beli apa, Yang?" tanya Aldo.
"Mau beli asinan," kata Arumi.
__ADS_1
"Baiklah, belilah asinan yang kamu mau. Mas tunggu di bangku," kata Aldo.
"Heem," jawab Arumi.
Aldo menunggui istrinya, sedangkan Arumi terlihat begitu asyik memperhatikan abang tukang asinan menyiapkan pesanannya.
"Mau ngga, Mas?" tanya Arumi.
"Buat kamu aja, Mas suka sakit perut kalau makan asinan," kata Aldo.
"Hem, baiklah. Jangan nyesel kalau aku habiskan asinan buahnya," kata Arumi.
"Tidak akan," kata Aldo seraya mengusap puncak kepala istrinya.
Arumi terlihat mengucap basmallah, kemudian setelah itu dia memakan asinan yang sudah dia pesan.
Arumi terlihat begitu lahap saat memakan asinan buah yang sangat dia inginkan itu, Aldo hanya tersenyum seraya memperhatikan tingkah istrinya tersebut.
Setelah Arumi menghabiskan asinan yang dia pesan, akhirnya Aldo dan juga Arumi melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Kemudian, mereka melangkahkan kaki dengan perlahan menuju alamat rumah yang ingin mereka datangi.
Tok! Tok! Tok!
Aldo terlihat mengetuk pintu rumah tersebut, rumah yang nampak sederhana tapi terlihat sangat asri karena masih banyak pepohonan yang tumbuh di samping kanan dan kirinya.
Bahkan, di halaman depan rumahnya terdapat banyak bunga yang begitu terawat. Sepertinya ibunya Aldo begitu rajin dalam merawat tanaman-tanaman hias tersebut.
Cukup lama Aldo mengetuk pintu tersebut, bahkan dia juga mengucapkan beberapa kali salam.
Namun, tidak ada juga yang membukakan pintu. Tidak lama kemudian, ada sebuah motor yang berhenti tepat di rumah tersebut.
Aldo dan juga Arumi langsung memalingkan wajahnya ke arah pengendara motor tersebut. Ternyata tidak lain dan tidak bukan pengendara motor tersebut adalah Liza, ibu kandung dari Aldo.
Dia terlihat begitu rapi, di belakang motornya terdapat keranjang kosong. Seperti keranjang yang biasa Aldo pakai jika mengantar tempe ke pasar.
__ADS_1
Aldo menjadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah mungkin ibunya selama menikah dengan suami barunya itu kekurangan ekonomi, sehingga Liza harus bekerja keras membantu perekonomian keluarga barunya?
Liza yang melihat putranya datang terlihat menatap Aldo dengan binar penuh bahagia di matanya.
Bahan matanya itu kini terlihat berkaca-kaca, dia terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan ke arah Aldo.
"Aldo," kata Liza lirih.
Aldo mengembangkan senyumnya dari bibirnya. Namun, mata Aldo sama seperti Liza, nampak berkaca-kaca.
Dalam hatinya yang paling dalam, Aldo mencintai dan menyayangi ibunya tersebut. Hanya saja Aldo merasa jika tidak adil untuk dirinya ketika ibunya lebih memilih menikah dengan orang lain, dari pada mencari dirinya dan juga almarhum ayahnya.
"Mom!" panggil Aldo lirih.
Aldo langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tanah, kemudian dia memeluk kedua kaki ibunya dengan sangat erat.
"Maafkan Aldo, Mom. Maaf," kata Aldo disertai isak tangis.
Awalnya Aldo memang sangat membenci ibunya tersebut, kecewa dan juga marah. Namun, setelah sering mendengarkan ceramah dari ustadz melalui televisi, dia menjadi sadar jika ridho orang tua adalah ridho dari Tuhan.
Maka dari itu, dia ingin memperbaiki semuanya dari awal. Dia tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang fatal.
Sudah cukup baginya pernah menjadi pemuja siluman ular hutan terlarang, dia sudah bertekad dalam hatinya.
Walaupun hidupnya sangat susah, tapi dia ingin melalui harinya dengan lebih baik. Walaupun harta yang mengalir dari pekerjaannya sangatlah sedikit Aldo akan mencoba untuk mensyukurinya.
"Mom sudah memaafkan kamu, bangunlah! Peluk Mom, Sayang," kata Liza.
Aldo terlihat melepaskan pelukannya, kemudian dia bangun dan langsung mendekap erat tubuh momnya tersebut.
Tubuh wanita yang selalu dia rindukan sejak kecil, bahkan dia selalu merasa iri kala melihat teman-temannya yang bermain bersama dengan ibunya sedangkan dirinya tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu sama sekali.
"Maaf, Mom," kata Aldo.
****
__ADS_1
Masih berlanjut.