Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kata Yang Mengejutkan


__ADS_3

Kini Reihan dan juga suster Camelia sudah berada di Cafe yang berada tepat di depan Rumah Sakit.


Mereka kini sedang duduk saling berhadapan, tatapan Reihan tidak pernah beralih dari wajah suster Camelia.


Hal itu tentu saja membuat wanita berusia dua puluh dua tahun itu merasa risih, dia tidak menyangka jika Reihan begitu gigih untuk mendapatkan cintanya.


Suster Camelia mengakui jika Reihan lelaki yang baik, perhatian dan juga pengertian. Dia selalu datang hanya sekedar untuk menanyakan kabar.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakn?" tanya Reihan.


"Aku--aku menyetujui permintaan kamu," jawab Suster Camelia.


Dahi Reihan nampak mangernyit dalam, suster Camelia berkata akan menyetujui permintaannya.


Permintaan apa dan permintaan yang mana, Reihan bahkan sudah merasa lupa pernah mengajukan permintaan apa dan seperti apa kepada suster Camelia.


"Permintaanku yang mana?" tanya Reihan.


"Ish! Ya sudah kalau tidak ingat, ngga jadi dikabulin permintaannya." Suster Camelia nampak mencebik, Reihan memang tidak bisa melihat bibir dari suster Camelia.


Namun, dia biaa melihat dari garis mata yang terbentuk. Reihan tertawa, karena kini dia sudah mengingat apa yangia minta.


Dia meminta suster Camelia untuk menjadi istrinya, hanya saja ayahnya meminta Reihan untuk saling mengenal terlebih dahulu.


"Katakanlah ada apa? Jangan langsung marah, aku akan mendengarkan," kata Reihan.


Suster Camelia nampak tersenyum, kemudian dia kembali bersuara.

__ADS_1


"Janji ngga bakal meledek aku lagi?" tanya Suster Camelia.


"Engga, engga bakalan. Aku nggak bakal menggoda kamu, bahkan meledek kamu aku tidak akan sanggup," kata Reihan.


"Baiklah, sebenarnya Sudah beberapa hari ini aku melakukan shalat istikharah dan di setiap malamku, selalu saja kamu yang datang. Kamu datang di dalam mimpiku, awalnya aku merasa ragu jika kamu adalah jodohku."


Suster Camelia nampak menghela napas panjang, kemudian dia mengeluarkannya secara perlahan.


"Namun, setelah aku kembali melakukan shalat istikharah, kembali kamu yang hadir di dalam mimpiku. Mungkin, ini adalah cara Allah mempertemukan kita dan mempersatukan kita di dalam sebuah ikatan yang begitu sakral. Yaitu ikatan pernikahan," kata suster Camelia.


Panjang lebar dia menjelaskan apa yang dia rasakan, Reihan terlihat manggut-manggut setuju dengan apa yang dikatakan oleh calon istrinya tersebut.


"Jadi? Aku boleh menikahi kamu dengan segera?" tanya Reihan.


"Ya," jawab Suster Camelia pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Reihan.


"Apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya Suster Camelia.


Sebenarnya suster Camelia merasa gugup, merasa canggung dan juga merasa takut saat membayangkan jika dia benar-benar menikah dengan Reihan secepatnya.


Rasanya dia masih malu untuk berada dalam satu kamar bersama dengan lelaki yang belum lama dia kenal itu.


"Lebih cepat lebih baik, apa kamu mau membuat aku penuh dengan dosa?" tanya Reihan.


Suster Camelia nampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Reihan. Dia terlihat menggendikkan kedua bahunya seraya mencebikkan bibirnya.


"Ngga dong, aku ngga seperti itu," kata Suster Camelia.

__ADS_1


Reihan tersenyum, kemudian dia kembali berkata.


"Kalau kita menikah, mau ngapain aja sudah halal. Apa yang kita pikirkan pun akan menjadi ibadah," kata Reihan.


Suster Camelia nampak terkekeh mendengar apa yang diucapkan oleh calon suaminya tersebut.


Setelah puas bertawa, akhirnya suster Camelia kembali berkata.


"Ya sudah, aku, kan, sudah selesai bicaranya. Sekarang kamu antar aku pulang," kata suster Camelia dengan rona wajah yang sudah berubah di wajahnya.


Jujur saja dengan apa yang Reihan katakan membuat dia merasa malu, senang dan juga bangga karena Reihan tidak pantang menyerah.


Dia juga selalu bersikap baik dan juga sabar, Reihan tidak pernah meminta atau menuntut apa pun.


"Dengan senang hati, calon istriku," ucap Reihan.


Wajah suster Camelia kembali memerah, beruntung dia menggunakan cadar. Jika tidak, sudah pasti banyak orang yang melihat dirinya.


"Iya," jawab Suster Camelia.


Setelah mengatakan hal itu, suster Camelia nampak bangun dan berjalan dengan terburu-buru.


Rasanya dia begitu malu kala harus berjalan beriringan dengan Reihan, takutnya Reihan akan menyadari rona merah di wajahnya.


Karena, walaupun dia menggunakan cadar, tetap saja rasanya dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia bercampur malu itu.


***

__ADS_1


Dilanjut besok, aku lagi sibuk real life. Maaf ya, Bestie.


__ADS_2