Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Tameng Nilam


__ADS_3

Lelaki tua itu terpental sambil memekik kesakitan. Punggungnya menubruk pohon besar, lalu tersungkur di atas akarnya. Erangan kesakitannya terdengar oleh Nilam, tapi ia tak bisa melihat kondisi orang itu.


Detik selanjutnya tubuh Nilam kembali melayang, melesat cepat menampati pada raga kaku di atas kasur. Tubuhnya sempat bergerak lemah, lalu kembali tenang dalam lelap.


Di tempat lain, seorang lelaki muda duduk di atas hamparan sajadah. Jari kanannya bergerak pelan bertasbih dengan suara kecil, hanya terdengar di telinganya sendiri. Setelah selesai ia memanjatkan doa dengan sepenuh hati.


Sepulang dari kampung Nilam, Juju rutin terbangun tengah malam, mengambil wudu dan salat sunah. Peristiwa yang dialami Nilam amat lekat dalam benak. Kekhawatiran yang menguatkan imannya. Menyadari tidak ada tempat meminta pertolongan selain pada Sang Pemilik Kehidupan itu sendiri.


Juju, pemuda Betawi yang terlahir dalam keluarga religius. Buyut dari engkongnya dulu bernama Ustaz Arifin Anwar, dijuluki pemimpin sejuta umat karena setiap ceramah berduyun-duyun jamaah mendatanginya, memenuhi lapangan atau tempat beliau berdakwah.


Sosok ramah dan menyayangi siapa pun yang meminta pertolongan. Juju tahu dari cerita itu turun temurun dalam keluarga, agar anak turunan Anwar bisa menjaga nama baik beliau. Meski bukan menjadi ustaz, paling tidak tetap pada jalur lurus aturan agama. Kewajiban pada Tuhan harus seimbang dijalankan dengan kehidupan mencari dunia.


Juju termasuk pemuda trendy, bergaul luas dari semua kalangan dan agama, tapi kewajiban tetap dilaksanakannya tepat waktu. Rasa takutnya pada Allah, masih menahannya di jalur aman. Tanpa terbawa arus hiburan malam, atau obat terlarang yang pernah menyeret beberapa orang teman seumuran yang ia kenal.


Setelah selesai dengan permohonan Juju mengusap wajah, lalu kembali berbaring melanjutkan tidur. Masih dengan hati memohon pertolongan untuk temannya itu.


Sentuhlah hati Nilam ya Allah, untuk mendapat hidayah-Mu


Sungguh, doa yang dipanjatkan seorang tanpa diketahui adalah doa yang mustajab terjawab.


***


“Owh ….” Nilam terbangun, saat mengusap muka ia merasa kedua belah pipinya nyeri.


Rahangnya bergerak-gerak berharap bisa mengurangi rasa sakit.


Seperti biasa, tak ada yang melekat dalam ingatannya. Hanya rasa lelah yang sangat di tubuh.


MusikDdu-du Ddu-du dari Blackpinkterdengar di ponsel Nilam. Segera ia duduk meraih benda itu di meja.


“Hm,” sapanya tanpa melihat si pemanggil. Ia sudah tahu itu pasti Juju.


“Lo gak pa-pa, Ni?” Suara khawatir di seberang sana.


“Emang aku kenapa? Nanya itu mulu,” sewotnya memanyunkan bibir.


“Ah, enggak. Perasaanku gak enak aja. Benaran gak papa ‘kan?”


“Gak pa-pa. Gak tanya lain?


"Ah, enggak." Juju tiba-tiba terbata.


"Dah.” Tak ada pembicaraan lain Nilam memutus sambungan, sambil kembali berbaring malas-malasan.


Ponselnya berbunyi lagi.


“Subuhan, Ni,” ucap Juju singkat tanpa menunggunya bicara, giliran pemuda itu cepat menekan merah menutup panggilan.


Dasar Juju! rutuk Nilam memandangi layar smartphone-nya.


Setelah tercengang sejenak ia melirik jam dinding. Pantas masih ngantuk, ini baru jam lima kurang .... Nilam kembali merebahkan kepala. Tak terbiasa ibadah subuh, mata kembali berat akan terlelap.

__ADS_1


Ponsel berbunyi lagi. Musik yang biasa amat disuka terasa berubah sumbang, teriak minta diangkat. Terpaksa Nilam menjawab tanpa membuka mata.


"Hemm."


“Udah subuhan belum?”


“Belum.” Malas-malasan suara Nilam.


“Cepet sana. Buruan.”


“Humm ….” Masih ngantuk, sebentar lagi Nilam hanyut.


“Itu setannya nempel di mata makanya berat bangun!” Juju sengaja sedikit berteriak. Mata Nilam langsung melebar. Juju sukses menakutinya. Gegas gadis itu bangun.


“Iya, udah. Ni mau wudu.”


“Sipp. Doain aku, ya,” pinta Juju menggoda sebelum mematikan sambungan telepon.


Di seberang sana ia tersenyum lebar.


***


Malam ini selepas pulang kerja, Juju mengajak Nilam ke Mangga Dua Town Square, sudah lama mereka tidak jalan-jalan. Juju berganti pakaian dan makan di rumah Babe, sementara Nilam bersiap. Selepas Isya mereka berangkat.


Di sana teman-teman sudah berkumpul di area Zona Korea, tempat khusus para muda-mudi KPOPERS berkreasi dan tampil di atas panggung. Ada dance, nyanyi, juga tampil beberapa Girls Band dan Boys Band lokal.


Mereka larut berbagi tawa setelah lama tak bertemu. Sampai tiga jam kemudian Nilam dan Juju pulang lebih dulu. Kos Nilam punya aturan jam malam, keluar hanya boleh sampai jam sebelas. Selebihnya boleh keluar kalau darurat saja. Itu sebagai tanggung jawab Babe pada para perempuan penghuni kosnya.


Di perjalanan pulang Nilam merasa tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat. Seolah-olah ada beban berat di pucuk kepala sampai tengkuknya.


“Kepalaku ….”


Juju berhentikan motor di sisi trotoar, Memapah Nilam ke paving duduk bersandar pada pot tanaman.


“Sakit?” Juju merapikan rambut panjang gadis itu yang terurai ke wajahnya.


Nilam mengangguk, terlihat berusaha membuka mata, tapi kembali terpejam.


Kok tiba-tiba? Tadi kan gak papa, benak Juju resah.


Saat akan berdiri minta pertolongan mata Juju menangkat sesuatu di wajah Nilam. Bayangan gelap yang menjalar seperti coretan spidol hitam berjalan. Mengitari seluruh wajah hingga leher gadis itu. Amat jelas terlihat karena lampu jalan cukup terang.


“Astagfirullah.” Sadar ini tak biasa, Juju gegas meminta tolong pengendara yang lewat.


Sempat bingung akan keadaan Nilam harusnya dibawa ke mana, akhirnya ia meminta tolong diantarkan ke rumah sakit terdekat saja. Motor Juju titipkan di depan toko tak jauh dari tempat itu.


Sesampai di ruang UGD Nilam segera dibaringkan pada bed. Saat diperiksa, keluhan nyeri di kepala dan tengkuknya tiba-tiba lenyap. Gadis berkulit putih itu tersentak seperti baru sadar dari mimpi. Tangan suster yang memeriksa denytu jantung didorongnya.


Duduk, Nilam keheranan melihat sekeliling. Banyak orang berseragam putih dan beberapa lain wajah juga tubuh berdarah-darah di sekitarnya.


“Ni, lo?-“

__ADS_1


“Ke-kenapa aku di sini, Ju?” Nilam turun dari bed. Dua wanita berseragam putih-putih itu keheranan sebelum bertanya.


“Eh, jadi Mbak ini pura-pura sakit, ya?” Salah satu wanita berseragam putih yang memeriksanya tadi bicara dengan tatapan curiga.


“Maaf, Dokter ini beneran. Tadi kawan saya ini sampai hampir jatuh dari motor,” bela Juju melihat gelagat tak enak. Reaksi dari ucapan itu mengundang perhatian seorang dokter lelaki paruh baya mendekat.


Setelah bertanya, mendengar penjelasan dua wanita berseragam putih yang lebih muda, dan disela pembelaan Juju. Wajah lelaki berkaca mata itu memerah.


“Dengar, ya! Ini bukan tempat main-main. Kalian buang-buang waktu kami saja, keluar!” usirnya sembari memelototi Nilam dan Juju, lalu gegas mendekati pasien kecelakaan lain di bed seberang.


Semua mengira dua anak muda itu membuat frank murahan.


Mereka berdua keluar tanpa berhasil membuat orang di dalam percaya, semua itu hanya ucapan tanpa bukti.


“Memangnya aku kenapa, sih, Ju?” tanya Nilam polos. Ia benar-benar tak merasa keluhan apa pun.


Kulit dahi Juju melipat.


Ini memang aneh ….


“Ni ...” Cepat ia menyentuh tangan Nilam. “ini serius, gue minta—” Merasa salah bicara Juju terlihat berpikir keras sebelum melanjutkan. “Kita nikah secepatnya. Lo mau gak jadi istriku?” Sedikit tergagap ia bicara karena merasa tiba-tiba gugup.


“Nikah?” Nilam tertawa. “Aneh. Kamu lamar aku di depan rumah sakit gini. Mendadak. Trus tadi aku dibawa ke sini frank buat ini?”


“Bukan, Ni. Ada sesuatu di tubuh loe, ingat gak kata Mak, kalau kamu itu diganggu pencari tumbal perawan. Makhluk itu masih ganggu, tapi loe gak sadar. Kalau kita nikah semua akan selesai. Paham?” Juju menatap


mata Nilam lurus sambil memegang dua tangan gadis itu. Tak peduli orang lalu-lalang perhatikan mereka.


Mata Nilam membulat, masih dengan raut tak percaya dengan apa yang terjadi.


Juju mau nikahin aku biar gak jadi tumbal??


Apa benar aku aneh tanpa sadar, ya? Semua teman memang bilang begitu semenjak balik dari kampung ... tapi kenapa aku enggak ingat apa-apa ….


***


"Sial! Gagal lagi, gagal lagi!!" Lelaki tua berjubah hitam meninju dinding rumah papan.


Setelah tadi bersiap ritual lebih berat dari sebelumnya, kembali nyawa gadis itu tak didapat dengan mudah. Tiba-tiba tubuh yang tengah dikuasai terlepas begitu saja dari genggaman.


"Awas kau Nilam! Kalau bukan kamu, orang di sekitarmu yang kena imbasnya!!" geram lelaki itu gemerutukkan gigi. Bola matanya nyaris keluar dari rongga.


Ia manusia yang tergila-gila pada kekuatan gaib. Merasa diri akan berkuasa setelah tercapai kekuatan supranatural yang tengah dilakoninya.


Kekeh serak menggema mengisi malam itu. Menyertai keyakinan si tua mendapatkan keinginannya.


 


Bersambung ....


Jangan lupa like, ya.

__ADS_1


*Ini Visualisasi bayangan hitam yang mengikuti Nilam***\,**



__ADS_2