Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kekesalan Aldo


__ADS_3

Arumi terlihat duduk di samping pak Didi, kemudian dia mengelus lembut lengan pak Didi dengan lembut.


Dia berharap dengan seperti itu bapaknya akan mau bicara terhadap dirinya, sayangnya pak Didi tetap saja diam seribu bahasa.


Dia masih sangat enggan untuk menatap putrinya, apalagi berbicara dengan putrinya tersebut.


Rasa kecewanya benar-benar sangat besar, dia tidak habis pikir jika Arumi bisa melakukan hal tersebut, menikah Siri tanpa restu darinya.


Bahkan dengan sengajanya mereka bermesraan di depan pak Didi, sungguh pak Didi tidak bisa berkata-kata lagi.


Rasanya dia sudah tidak mengenal putrinya lagi, entah setan apa yang merasuki Arumi, pak Didi tidak tahu.


"Pak, maafkan Arumi. Tapi Arumi benar-benar mencintai Mas Aldo, maaf karena sudah mengecewakan Bapak." Arumi tertunduk.


Air matanya terlihat mengalir, sedih sudah pasti. Merasa sangat bersalah apalagi, dia merasa sangat berdosa. Dia merasa sangat bersalah karena sudah membangkang.


Di satu sisi dia benar-benar merasa menjadi anak yang sangat durhaka, namun di sisi lain dia merasa jika dirinya juga berhak mendapatkan kebahagiaannya.


Dia ingin berbahagia dengan lelaki yang dia cintai, bukan dengan lelaki yang baru dia kenal. Bahkan, dengan lelaki yang tidak dia inginkan sama sekali.


"Arumi tahu jika Arumi salah, Arumi tahu Bapak sangat kecewa sama Arumi. Tapi, Arumi mohon maafkan Arumi." Arumi berkata dengan isak tangis di bibirnya.


Sayangnya pak Didi tetap saja diam, dia seolah tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi.


"Baiklah kalau Bapak tetap bersikukuh untuk diam, Arumi tahu jika Bapak butuh waktu untuk sendiri. Bapak butuh waktu untuk merenungkan semuanya, Arumi tinggal dulu,'' kata Arumi.


Setelah mengatakan hal itu Arumi benar-benar meninggalkan bapaknya, namun walaupun seperti itu dia meminta seorang perawat untuk menemani bapaknya tersebut.


Takut-takut bapaknya membutuhkan sesuatu atau perlu bantuan, karena bapaknya pasti menolak kalau dirinya yang membantu.


Arumi sebenarnya sangat ingin menemani bapaknya, namun jika dia lebih lama lagi bersama dengan bapaknya, dia takut bapaknya hanya akan merasa sakit hati dan juga kekecewaan yang mendalam terhadap dirinya.


"Maafkan, Arumi."


Hanya kata itu yang terus keluar dari bibirnya, hanya kata permintaan maaf yang ingin dia ucapan kepada bapaknya dan hanya kata pemberian maaf yang dia ingin dengarkan dari bibir bapaknya tersebut.


Arumi tahu jika bapaknya hanya mengalami stroke ringan, dia masih bisa normal dalam berbicara.


Dia masih bisa normal dalam beraktivitas, hanya saja dia tidak mau bicara dengan dirinya karena masih merasa sangat kesal.

__ADS_1


Di lain tempat.


Aldo kini sudah sampai di dalam rumah mewahnya, dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, dia benar-benar tidak habis pikir jika pak Didi masih saja bersikap cuek seperti itu terhadap dirinya


Menurutnya pak Didi itu merupakan orang tua tidak tahu diri, sudah sakit masih saja belagu. Padahal pak Didi saat ini membutuhkan bantuan orang lain, untuk bangun saja terlihat susah.


"Dasar tua bangka tidak tahu diri, sudah jatuh sakit saja masih tetap belagu! Lihat saja nanti, akan aku buat sekalian bangkrut. Biar blangsak sekalian, biar mampuss sekalian."


Aldo terlihat terus saja mengumpat kasar, dia merasa tidak terima dengan perlakuan dari pak Didi.


Sungguh dia saat ini ingin mendapatkan restu untuk menikahi Arumi secara resmi, rasanya menikahi Arumi secara Siri hanya menunjukkan jika dirinya adalah lelaki pengecut.


Lelaki yang tidak bisa mendapatkan Arumi secara langsung, lelaki yang tidak bisa mengakui Arumi sebagai istri sahnya yang diakui oleh agama dan juga negara.


"Sial!"


Kembali Aldo mengumpat, dia benar-benar merasa jika harga dirinya diinjak-injak. Aldo langsung bangun, dia masuk ke dalam kamar mandi san mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Dia masih memakai baju lengkap saat berdiri di bawah guyuran air shower, dia seolah benar-benar frustasi menghadapi sikap pak Didi. Dia terus saja mengguyur tubuhnya, dia berharap dengan seperti itu akan merasa lebih tenang.


Aldo lalu keluar dari dalam kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benang pun, dia hempaskan kembali tubuhnya ke atas ranjang.


Lalu, dia tutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal yang ada di atas kasur. Yang ingin Aldo lakukan saat ini hanyalah tidur, dia ingin melupakan beban yang ada di hati dan pikirannya. Mungkin saja dengan tidur dia akan merasa lebih tenang, pikirnya.


Aldo terlihat memejamkan matanya, dia berusaha untuk segera masuk ke alam mimpinya.


Tidak lama kemudian Aldo terlihat terlelap dalam tidurnya, karena memang tadi malam dia kekurangan waktu untuk tidur.


Dia terlihat lebih sering menenangkan Arumi yang terlihat begitu gelisah saat menatap wajah pak Didi yang tidak berdaya.


***


Aldo terlihat begitu lelap dalam tidurnya, bahkan dia sudah tidak ingat berapa jam lamanya dia terlelap dalam tidurnya itu. Hingga bisikan-bisikan lembut terdengar di telinga kirinya dan mulai mengganggu tidurnya.


"Aldo, Sayang. Datanglah ke kamar aku, Sayang."


"Aldo, Sayang. Ayo kita habiskan malam dengan penuh gairah, nanti aku akan memberikan apa yang kamu mau."

__ADS_1


"Aldo, datanglah!"


Telinga Aldo terasa gatal karena terus-menerus mendapatkan bisikan-bisikan halus di kupingnya itu.


Aldo terbangun dari tidurnya, dia langsung duduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah kesadarannya kembali dengan sempurna, Aldo menyadari jika bisikan-bisikan lembut tersebut datang dari arah kamar Nyai Ratu.


Dia terlihat turun dari tempat tidur, lalu dia mengambil kimono mandinya dan menutup tubuh polosnya.


Kemudian, dia berjalan menuju kamar Nyai Ratu. Saat tiba di dalam kamar Nyai Ratu, benar saja, wanita siluman ular itu tengah terbaring di atas ranjang kesayangannya.


Dia terlihat polos tanpa sehelai benang pun, dia terlihat sedang berfose dengan sangat menantang.


"Ada apa? Kenapa memanggilku?" tanya Aldo.


"Kemarilah, mari bercinta denganku. Puaskan aku, nanti aku akan membantu kamu untuk menghancurkan beberapa usaha dari si tua bangka itu." Nyai Ratu terlihat mengayunkan jari telunjuknya.


"Ck! Tidak perlu, dia sedang tidak berdaya. Lagi pula aku sedang tidak bergairah," kata Aldo seraya duduk di atas sofa.


Nyai Ratu langsung mendelik sebal kala mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, berani sekali pikirnya pria itu menolak keinginan dari Nyai Ratu.


"Kamu menolakku Aldo?!" tanya Nyai Ratu dengan mata memerah seperti menahan amarah.


Menyadari kemarahan dari Nyai Ratu, Aldo langsung tersadar jika dia bukan sedang menghadapi seorang manusia biasa.


Namun, saat ini dia sedang menghadapi siluman ular. Wanita yang mempunyai kuasa dan juga ilmu yang bisa membuat Aldo jatuh sejatuh-jatuhnya dalam satu jentikan jari saja.


Aldo berusaha untuk tersenyum, kemudian dia bangun dan segera menghampiri Nyai Ratu, dia langsung mengecupi telapak tangan Nyai Ratu.


"Maaf, tadi aku sedang terbawa suasana saja. Jangan marah, Nyai." Aldo langsung membuka kimono mandi yang dia pakai, lalu dia lemparkan secara serampangan.


Nyai Ratu langsung tersenyum penuh kemenangan kala melihat tingkah Aldo yang seperti itu, dia senang melihat Aldo yang terlihat agresif dan tidak sabar untuk menyentuh dirinya.


Aldo terlihat naik ke atas ranjang, lalu ia mengungkung tubuh Nyau Ratu. Dia langsung menunduk dan menautkan bibirnya, dengan senang hati Nyai Ratu langsung membalas tautan bibir Aldo.


Dia selalu menikmati permainan dari Aldo, selalu kasar dan membuatnya terbuai. Tangan Aldo terlihat tidak bisa diam, tangan itu terus saja merambat mencari sesuatu yang bisa dia remat.


***


Masih berlanjut.

__ADS_1


Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Satu bab untuk menemani waktu santai kalian, jangan lupa tinggalkan jejak yes.


__ADS_2