
Aldo hanya diam saja, padahal paman Alan sudah sangat tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Aldo.
Bukannya tidak ingin menjawab, hanya saja dia merasa bingung jika harus berkata jujur. Karena pasti paman Alan pasti akan memarahinya.
"Baiklah, sekarang aku pulang saja. Percuma datang kemari, karena kamu tidak mau berkata jujur padaku." Paman Alan terlihat bangun dari duduknya.
Aldo tetap terdiam, dia malah semakin menunduk karena takut.
"Oh iya, Aldo. Jika jalan yang kamu tempuh bukan jalan halal, segeralah bertaubat. Jangan sampai menyesal," kata Paman Alan.
Setelah mengatakan hal itu, paman Alan terlihat pergi dari rumah Aldo. Bukan tanpa alasan paman Alan mengatakan hal tersebut kepada Aldo.
Hal itu dia ucapkan karena dia merasa curiga jika keponakannya tersebut melakukan hal musyrik, karena saat paman Alan melewati kamar milik Nyai Ratu, dia melihat ada sisik ular yang tergeletak di depan pintu.
Paman Alan hanya berdoa dalam hatinya, supaya Aldo segera sadar jika memang sudah melakukan kesalahan yang besar.
Paman Alan juga berharap, semoga Aldo bisa segera bertaubat. Lebih baik miskin tapi berakhlak, dari pada kaya raya namun harta tersebut berasal dari jalan haram.
"Sial!" umpat Aldo seraya meninjukan lengannya ke udara.
Aldo langsung memgambil kunci mobilnya dan segera pergi dari sana, dia lebih memilih untuk meninjau kesiapan acara pernikahannya dari pada pusing memikirkan perkataan dari pamannya tersebut.
Tiba di sebuah gedung yang dia sewa, dia langsung menghampiri panitian acara yang bertugas mengurus acara pernikahannya.
"Bagaimana, apa sudah siap?" tanya Aldo.
"Sudah dong, santai saja." Lelaki berusia tiga puluh tujuh tahunan itu nampak tersenyum hangat.
"Baguslah, aku mau melihat daftar acaranya boleh?" tanya Aldo.
"Boleh, Tuan. Silakan!" ucapnya seraya menyodorkan secarik kertas kepada Aldo.
Aldo tersenyum hangat, kemudian dia mengambil kertas tersebut dari petugas panitia itu. Lalu, dia membaca satu persatu daftar acara yang akan berlangsung di hari pernikahannya.
POV Aldo.
Saat aku baca satu persatu acara yang akan berlangsung di hari pernikahanku, aku merasa sangat kesal karena ternyata di situ poin pertama adalah pembukaan dan poin kedua adalah pembacaan ayat suci Al Quran.
Sial!
Kenapa harus ada pembacaan ayat suci Al Quran?
__ADS_1
Bisa-bisa nanti tubuhku akan terbakar, namun... tidak mungkin bukan aku berkata tidak boleh ada acara pembacaan ayat suci Al Quran.
Bisa-bisa orang akan menggunjingku, bisa-bisa orang-orang akan curiga kenapa aku bisa meminta hal yang aneh seperti itu.
Karena pada kenyataannya, di setiap acara pernikahan pasti akan ada pembacaan ayat suci Al Quran.
Hastaga!
Apa yang harus aku lakukan?
Berpikir Aldo, berpikir! Jangan sampai ada hal yang memalukan terjadi di hari pernikahanmu, hari terpenting untukmu.
Aku terus saja menggerutu di dalam hatiku, tentu saja karena kesal dan bingung. Sampai panitia yang bertugas mengurus acara pernikahanku menegurku.
"Tuan, kenapa? Kenapa Tuan, terlihat gelisah seperti itu?" tanyanya.
Dia menatapku dengan raut wajah penasaran, aku menjadi kesal dibuatnya. Namun, aku berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
Aku juga tidak boleh memancing kecurigaan orang lain dengan sikapku, itu bisa membahayakan diriku nantinya.
"Ah, tidak apa-apa," jawabku. "Ini, terima kasih." Ku serahkan kembali secarik kertas tersebut kepadanya.
Dia tersenyum hangat walaupun terlihat ada kecanggungan di wajahnya, lalu dia berkata.
Aku langsung menganggukkan kepalaku, tentu saja dia harus segera pergi. Selain aku merasa tidak nyaman, dia juga harus mengerjakan banyak tugas yang memang sudah menjadi pekerjaannya.
"Ya," jawabku.
Panitia penyelenggara cara pernikahanku itu nampak pergi dan meninggalkanku begitu saja setelah berpamitan.
Setelah kepergian pria itu, aku langsung keluar dari gedung tersebut. Aku duduk termenung sendiri di taman gedung tersebut, aku benar-benar bingung harus melakukan apa.
Saat sedang pusing seperti ini, tiba-tiba sebuah ide terbersit di otakku. Mungkin saja pada saat pembacaan ayat suci Al Quran aku harus memakai headset.
Mungkin aku harus mendengarkan lagu dangdut atau apalah itu, aku tidak peduli. Yang penting jangan sampai terdengar suara bacaan ayat suci Al Quran tersebut ke dalam telingaku.
Ya, mungkin inilah salah satu resiko karena aku menjadi pemuja Nyai Ratu, setiap aku mendengarkan pembacaan ayat suci Al Quran tubuhku terasa panas.
Setiap kali aku mendengarkan sholawatan, tubuhku langsung bereaksi tidak bagus. Bahkan, sekarang aku sudah tidak bisa melakukan shalat lima waktu.
Apalagi shalat sunah, sudah tidak bisa sama sekali. Tubuhku benar-benar breaksi tidak bagus. Terkadang sampai memerah, bahkan melepuh.
__ADS_1
"Ck! Mau menikah resmi saja susah sekali," keluhku.
Kruyuk! Kruyuk!
Terdengar suara nyanyian dari dalam perutku, aku sadar kalau aku memang sangat lapar. Karena aku sudah melewatkan waktu makan siangku yang berharga itu.
"Ini gara-gara paman Alan, dia ingin sekali mengatur hidupku. Dasar paman sialan!" gerutuku.
Jika mengingat paman Alan, aku jadi mengingat tentang apa yang dia ceritakan. Aku jadi merasa kesal kepada mommy, karena ternyata dia sudah menikah lagi.
Bahkan, dia tidak berusaha untuk menemuiku. Aku kecewa, marah dan juga kesal. Semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu.
Ya, aku sadar. Mungkin dia merasa tidak enak hati kepada suaminya yang sudah menolongnya itu.
Namun, tidak bisakah dia datang hanya untuk sekedar menyapaku. Aku juga butuh kasih sayang, dari kecil sampai saat ini aku belum pernah merasakan kasih sayang dari perempuan yang bernama Lizza itu.
Ingin rasanya aku menemui perempuan itu dan bertanya, kenapa aku seolah dibuang? Namun, semua itu aku rasa percuma.
Biarkan saja dia bahagia dengan kehidupannya dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dengan caraku sendiri.
Aku duduk di taman tersebut lumayan dengan waktu yang cukup lama, aku berusaha untuk menenangkan gejolak rasa yang ada di dalam hati ini.
Setelah merasa cukup tenang, akhirnya aku putuskan untuk beranjak dari sana. Aku ingin mencari sebuah Resto yang menyediakan makanan-makanan yang enak.
Jujur saja setelah semalam suntuk bertempur dengan Nyai Ratu, badanku terasa remuk redam.
Bahkan, kini rasanya badanku mulai terasa sangat lemas. Mungkin, dengan memesan makanan enak dan juga banyak, aku akan merasa kenyang dan tidak lemas lagi.
Satu hal lagi yang sepertinya harus aku lakukan, aku harus meminum jamu. Ya, setidaknya untuk penambah stamina.
Aku berjalan melangkahkan kakiku menuju tempat parkiran, tiba di sana aku langsung masuk ke dalam mobilku dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Sesekali aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, aku berharap menemukan sebuah Resto yang menggugah seleraku.
Namun sialnya, bukan Resto yang menyediakan makanan enak yang aku lihat. Aku malah melihat Arumi yang sedang berjalan beriringan di pinggir jalan bersama dengan Reihan.
Hatiku terasa panas dan mendidih, aku bertanya-tanya dalam hatiku sedang apa mereka berduaan seperti itu?
"Awas saja kalau kamu berusaha untuk merebut Arumi dariku!" gerutuku seraya memukul setir mobil.
***
__ADS_1
Masih berlanjut.
Maaf ya kesayangan, kemarin Othor tidak sempat up. Karena Othor sedang sibuk di dalam dunia nyata, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.