
Namun sialnya, bukan Resto yang menyediakan makanan enak yang aku lihat. Aku malah melihat Arumi yang sedang berjalan beriringan di pinggir jalan bersama dengan Reihan.
Hatiku terasa panas dan mendidih, aku bertanya-tanya dalam hatiku sedang apa mereka berduaan seperti itu?
"Awas saja kalau kamu berusaha untuk merebut Arumi dariku!" gerutuku seraya memukul setir mobil.
Aku terus saja memperhatikan Arumi dan juga Reihan yang berjalan secara beriringan, tidak lama kemudian Reihan terlihat membukakan pintu mobilnya untuk Arumi.
Arumi terlihat tersenyum kikuk, lalu dia masuk ke dalam mobil Reihan. Reihan nampak menyusul dan duduk di balik kemudi, lalu mereka terlihat pergi.
Tanpa sepengetahuan mereka, aku mengikuti ke mana mereka pergi. Saat ku perhatikan arahnya, ternyata Reihan mengantarkan Arumi menuju Rumah Sakit.
Dalam hatiku aku merasa sedikit lega, karena ternyata mereka bukan akan pergi jalan-jalan atau kemana pun tempat yang bisa mereka pakai untuk berduaan.
"Kalau sampai kamu pergi ke tempat lain, aku pastikan akan membunuh Reihan." Aku berkaya sambil memukul kemudi.
Tiba di depan Rumah Sakit, Arumi terlihat turun dari mobil Reihan. Dia membungkukkan badannya beberapa kali, mungkin saja tujuannya untuk berterima kasih.
Namun, hal itu membuat aku merasa kesal. Aku terdiam sesaat, menunggu waktu yang tepat agar bisa berbicara dengan Arumi.
Tidak lama kemudian, mobil yang Reihan kendarai nampak pergi. Aku pun segera turun dari mobilku dan menghampiri Arumi.
"Mas!" kata Arumi.
Dia terlihat sedikit kaget saat aku menghampirinya, mungkin saja dia merasa takut karena baru saja pergi bersama Reihan.
"Mas tumben ke sini?" tanya Arumi lagi.
"Aku sengaja mengikutimu," kataku.
Mendengar apa yang aku katakan, wajah Arumi terlihat pucat. Sepertinya dia ketakutan, namun aku mencoba seterang mungkin.
Karena aku tidak mungkin meluapkan emosiku ini di tempat umum, nanti apa kata orang. Dia seorang dokter, aku harus bisa menjaga privasinya.
"Ma--maksud, Mas, bagaimana?" tanya Arumi gugup.
Aku tersenyum sinis, kemudian aku mendekati Arumi. Lalu aku bertanya, karena memang masih penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu itu mau nikah sama aku atau enggak? Sebenarnya kamu itu mau rumah tangga sama aku apa nggak? Kenapa kamu malah jalan bersama Reihan? Bahkan di saar jam kerja pun, kamu malah pergi bersama dengannya."
Aku sengaja memberondongnya dengan banyak pertanyaan, karena aku sudah sangat kesal. Aku bahkan merasa malas saat melihat wajahnya yang terlihat memelas.
Arumi terlihat menatapku dengan tatapan penuh permohonan, seolah dia ingin menjelaskan sesuatu, namun susah untuk diungkapkan.
"Katakan saja! Aku siap untuk mendengarnya," kataku.
Arumi terlihat mendessah pasrah, kemudian dia berkata.
"Tentu saja aku ingin berumah tangga dengan kamu, Mas. Kalau tidak mau, mana mungkin aku menentang perkataan bapak. Kamu hanya salah paham saja," kata Arumi.
Dia terlihat mencoba menenangkan dirinya, dia juga terlihat mencoba untuk menenangkan aku yang memang sedang ada dalam keadaan emosi.
Tidak lama kemudian, dia mengelus lembut lenganku, lalu kembali berkata.
"Tadi aku pulang seminar, mobilku mogok. Tanpa sengaja aku bertemu dengan kak Reihan, dia menawarkan untuk mengantarkan aku pulang."
Dia menautkan tangannya, kemudian mengecup punggung tanganku beberapa kali. Aku merasa muak, namun aku tidak bisa marah.
"Maaf, jangan marah. Lain kali aku akan memilih untuk naik taksi saja," ucapnya mengiba.
Aku langsung mengusap punggungnya dengan sangat lembut, aku memang merasa sangat marah terhadap Arumi. Namun, rasa sayangku lebih besar untuknya.
"Ya sudah, Mas percaya. Lain kali Mas ngga mau lagi lihat kamu jalan barenag sama dia, kamu paham?" tanyaku.
"Ya, Mas. Aku paham," jawabnya.
Aku langsung mengucap keningnya dengan lembut dan penuh cinta, aku bukan hanya mencintai Arumi.
Namun, aku sudah tergila-gila padanya. Aku bahkan rela menjadi pemuja Nyai Ratu hanya untuk dirinya.
"Sekarang pergikah bekerja, jangan nakal. Mas mau pergi dulu," ucapku.
"Iya, Mas." Dia melerai pelukanku, lalu berjinjit dan mengecup bibirku.
Seketika rasa marah yang bersarang di hatiku langsung menguap entah ke mana, berganti dengan rasa bahagia yang tiada terkira. Karena Arumi berani melakukan hal itu di depan banyak orang.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Aku kecup keningnya dengan lembut.
Setelah itu, Arumi terlihat masuk ke dalam Rumah Sakit. Sedangkan aku kembali masuk ke dalam mobilku dan pergi dari sana.
Rasanya aku lebih baik pulang saja, beristirahat dan mempersiapkan diri. Karena pernikahanku akan berlangsung sebentar lagi.
***
Hari yang dinantikan kini telah tiba, pagi ini aku sudah berada di gedung tempat di mana akan dilaksanakan pernikahanku dengan Arumi.
Aku sudah bersiap dengan memakai tuxedo mahal yang melekat di tubuhku. Sebenarnya aku merasa penasaran dengan Arumi, bagaimana wajahnya setelah berhias dan menggunakan gaun mahal yang sudah aku belikan.
Padahal saat menikah secara Siri saja Arumi sudah berdandan dan memakai gaun mahal. Namun, tetap saja hari ini aku merasa begitu penasaran.
Ingin sekali aku menghampiri dirinya di ruang yang khusus digunakan untuk Arumi berias, namun aku takut akan dimarahi oleh bapaknya.
"Aku sudah sangat tampan, Arumi pasti akan bangga terhadapku," ucapku percaya diri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08:02, seorang panitia yang mengurus acara pernikahanku nampak masuk ke dalam ruanganku.
"Acaranya akan segera di mulai," ucapnya.
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian aku mengikuti dia yang melangkah kakinya terlebih dahulu di depanku.
Saat tiba di ruang akad pernikahan, aku melihat pak Didi sudah duduk di samping penghulu.
Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi, dia memang bersedia untuk menikahkanku dengan Arumi. Namun, entah kenapa tidak ada keikhlasan yang aku lihat di wajahnya.
Aku juga mengedarkan pandanganku, ternyata ada paman Alan yang bertugas menjadi saksi dari pihakku dan ada seorang pria yang tidak aku kenal duduk di sampingnya.
Tidak jauh dari sana, ada seorang perempuan cantik yang sedang duduk manis sambil menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.
Aku jadi bertanya-tanya dalam hatiku, mungkinkah itu adalah ibu kandungku? Karena seingatku wajahnya terlihat seperti mommy Lizza saat sedang menggendongku.
Hanya saja wajahnya terlihat sudah menua, di bawah matanya terlihat kerutan. Walaupun kecantikannya tetap terlihat.
"Silakan duduk Nak Aldo," kata pak Penghulu.
__ADS_1
"Iya," jawabku seraya duduk tepat di hadapan bapak mertuaku.