Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Sudah Lebih Baik


__ADS_3

Kini Aldo sudah dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya benar-benar sangat lemah.


Arumi dengan setia duduk di samping Aldo seraya melantunkan shalawat, dia juga berusaha untuk mengajak Aldo berbicara agar Aldo bisa semangat.


Pak Didi yang merasa khawatir dengan keadaan Aldo, langsung menelpon Reihan. Dia meminta Reihan untuk menemui pak ustadz.


Pak Didi juga meminta Reihan untuk mengirimkan beberapa santri untuk datang ke Rumah Sakit.


Pak Didi ingin agar para santri tersebut mengaji di samping Aldo, dia berharap dengan seperti itu keadaan Aldo bisa lebih baik.


Pak Didi ingin agar pak ustadz membimbing Aldo agar selalu mengingat Sang Khalik dan agar Aldo bisa segera terlepas dari gangguan Nyai Ratu.


"Sabar, ya, Nak. Serahkan semuanya kepada Sang Khalik," kata Pak Didi seraya duduk di samping Arumi.


"Ya, Pak," kata Arumi.


Arumi dan pak Didi begitu setia duduk di samping Aldo, mereka terus saja berdzikir dan bershalawat.


Keadaan terasa sangat mencekam, mungkin karena Nyai Ratu masih berusaha untuk masuk ke dalam ruangan Aldo.


Ya, Nyai Ratu terlihat begitu marah. Karena salah satu pemujanya bersikeras untuk bertaubat.


Padahal sebelumnya Aldo begitu pandai memuaskan dirinya, bahkan dia sangat puas karena belum satu tahun memuja dirinya, Aldo sudah memberikan tumbal untuk dirinya.


Nyai Ratu juga merasa sangat senang, kala dia bisa mendapatkan janin milik Aldo dan juga Arumi yang terasa sangat manis.


Dia sungguh tidak mau kehilangan pemuja seperti Aldo, dia sangat mencintai Aldo dan ingin menjadikan dirinya budak di istana Nyai Ratu.


Tentu saja caranya adalah dengan membunuh Aldo, karena dengan seperti itu, Nyai Ratu bisa mendapatkan roh Aldo untuk dia penjarakan di istana miliknya.


Berbeda dengan tubuhnya, tubuh Aldo akan terkubur tanpa kembali ke rahmatullah.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab Pak Didi dan Arumi.


Ternyata Reihan, pak Ridwan dan juga pak ustadz terlihat sedang berdiri di ambang pintu. Mereka terlihat baru saja datang.


Pak Didi terlihat tersenyum, lalu dengan cepat berdiri dan menghampiri mereka bertiga.


"Terima kasih sudah datang," kata Pak Didi.


"Ya, tentu saja kami akan datang. Karena kami ingin membantu Nak Aldo," kata Pak ustadz.


"Terima kasih, pak ustadz," kata Pak Didi. "Mari masuk," ajak Pak Didi seraya menuntun mereka bertiga untuk masuk.


Pak ustadz terlihat duduk di samping Aldo, dia terlihat membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an. Sesekali dia berbisik tepat di telinga Aldo, agar Aldo mau mengikuti apa yang dia ucapkan.


Berbeda dengan Reihan dan juga pak Ridwan, mereka langsung duduk di sofa tunggu. Pak Didi terlihat menghampiri Reihan, lalu bertanya kepadanya.


"Mana para santrinya?" tanya Pak Didi.


"Sebentar lagi mereka akan datang, mereka akan mengaji di sini agar ruangan ini terasa lebih hangat dan lebih tenang," kata Reihan.


"Sama-sama," jawab Reihan.


Walaupun Aldo tidak bisa berucap, karena mulutnya terasa sakit dan juga perih. Namun, dalam hati Aldo mengikuti lantunan ayat suci Al Qur'an yang dibacakan oleh pak ustadz.


Tidak lama kemudian, pintu ruang perawatan milik Aldo terdengar ada yang mengetuk. Pak Didi sudah bangun dan bersiap untuk membuka pintu kamar tersebut. Namun, Reihan dengan sigap menahannya.


"Biar saya saja," kata Reihan.


Akhirnya pak Didi mengalah, dia tersenyum dan duduk kembali di atas sofa. Sedangkan Reihan terlihat berjalan menuju pintu dan membukanya.


Dia mengira jika yang datang adalah para santri yang akan mengaji untuk Aldo. Namun, ternyata yang datang adalah dua orang perawat.


Satu orang perawat terlihat tidak berhijab, tapi satu perawat lainnya terlihat menggunakan hijab.

__ADS_1


Bahkan dia menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya, Reihan baru kali ini melihat ada seorang suster yang memakai cadar seperti itu.


Namun, jika melihat dari sorot matanya Reihan bisa melihat jika perawat itu terlihat begitu cantik. Matanya juga terlihat begitu bersinar.


"Ehm, maaf, Kak. Saya mau memeriksa kondisi Tuan Aldo," kata Suster bercadar tersebut.


"Ah, iya. Silakan," kata Reihan seraya membuka pintu dengan lebar.


Kedua suster tersebut nampak berjalan dan menghampiri Aldo, suster yang berhijab nampak mengecek tensi darah Aldo dan kondisi Aldo.


Berbeda dengan suster yang tidak berhijab, dia nampak mengecek cairan infus yang mengalir ke tubuh Aldo.


Reihan nampak berjalan dan duduk tepat di samping Aldo, tapi tatapan matanya terus saja tertuju kepada wajah suster berhijab tersebut.


"Ehm, namanya suster Camelia. Dia putri dari pemilik Rumah Sakit ini," kata Arumi pelan.


"Oh," jawab Reihan.


Dalam hati Reihan merasa penasaran, kok bisa putri dari pemilik Rumah Sakit malah menjadi seorang suster?


"Jangan diem aja, kalau Kakak suka, langsung lamar," bisik Arumi.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, Reihan nampak melototkan matanya. Bisa-bisanya Arumi berkata seperti itu, bahkan di saat Aldo sedang berada di dalam keadaan kritis.


"Ehem, bagaimana keadaan suami saya Sus?" tanya Arumi.


"Sudah lebih baik, jangan lupa untuk terus kasih minum dan juga makanan yang sudah diblender atau dihaluskan," kata Suster Camelia.


"Iya, Suster. Saya paham," kata Arumi.


"Kalau begitu saya permisi," kata Suster Camelia.


"Iya, Sus," jawab Arumi.

__ADS_1


***


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2