Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kembali ke Dukuh Gelap


__ADS_3

Pagi keesokan hari Nilam memaksa ingin keluar rumah sakit.


Nilam mengatakan dirinya mulai membaik, mengabaikan rasa berat di kepala dan panas dalam dada. Selama kuat berjalan, Nilam ingin di akhir waktu ini berada di sisi wanita yang melahirkannya itu.


“Itu berbahaya, Nilam, kamu akan aku bawa ke pondok guru Hamid. Biar Mak kami jemput ke sini,” saran Hanif masih membujuknya, sebelum mengikuti perawat yang memintanya ke meja admin di luar.


“Nggak bisa, Bang. Aku mimpi Mak sakit keras, terkurung di rumah, nggak ada orang yang tau. Aku mau ketemu, Mak ….” Nilam masih memaksa.


Hanif dan Juju saling pandang, mereka akhirnya mengalah. Hanif harus menandatangani pernyataan, karena pasien meminta keluar sebelum keputusan dari dokter.


Setelah sampai di rumah, Juju dan keluarga Babe berembuk cepat, mencari jalan yang terbaik untuk gadis itu. Diputuskan Hanif akan menemani Nilam pulang dan Juju memaksa ikut. Ia menelepon Hwa mengabarkan kondisi Nilam dan izin lagi tidak masuk kerja.


Sementara di kamar kos, Nilam memasukan pakaian sembarang ke dalam ransel. Pikirannya masih tertuju pada Mak.


Setelah selesai, gadis pasi itu menyangga badan berdiri. Ia merasa ada seseorang berdiri di belakangnya.


Nilam berbalik perlahan. Menatap datar pada seseorang di belakangnya.


“Kita pulang sama-sama, Ni. Aku janji nggak akan ganggu kamu.” Suci masih dengan pakaian sama seperti kemarin, tampak lusuh dan wajahnya kotor. Nilam tak mau memikirkan bagaimana temannya itu bisa tiba-tiba datang lagi.


Nilam abai, seakan-akan tak mendengar. Langkah gadis yang mengenakan baju lengan panjang itu terhenti


di garis pintu, tanpa berbalik ia berkata, “Kamu puas, dapatkan apa yang kamu mau, kan? Sekarang … anggap saja kita nggak saling kenal. Aku nggak terima kamu sudah sakiti Mak.” Getar suara Nilam menandakan emosinya mendalam.


“Aku nggak-“


Kalimat Suci terputus, karena gadis itu cepat keluar tanpa melihat kembali padanya.


Bagi Nilam, sebab ulah perempuan itu Mak yang ia cintai ikut tersakiti. Dan, hatinya tidak bisa menerima.


Dian, Tri dan Dara yang tengah ke luar akan berangkat ke kantor kembali masuk saat melihat Nilam di halaman.


Sesaat Nilam refleks ingin menegur, tapi ia urungkan. Mengingat kejadian tadi malam, ia tak ingin merasa sakit hati lagi.


Hanif selalu mengingatkan, agar ia bisa mengatur napas sambil berucap istighfar saat merasakan emosi negatif muncul.


Nilam menarik napas panjang, mengembuskan perlahan, langkahnya kembali dilanjutkan.


Ia harus bisa mengurai sesak di dadanya, sakit tak terkata melihat ketiga teman tersayang menganggapnya makhluk asing. Nilam berharap terbiasa kuat sendiri.


“Ni, tunggu!” Juju berlari dari teras Babe menahan langkahnya.


“Ju, aku-“


“Tunggu dulu, kami nggak akan biarin loe berangkat sendiri. Kita akan sama-sama,” putus Juju menarik tangan Nilam untuk menunggu sebentar.


“Tapi-“


Juju melarang gadis bersweater merah hati itu berkata lagi. Ia masih menunggu orang rumah mengantarkan pakaian yang akan dibawanya.


Gadis itu diajak sarapan bersama oleh Maemunah. Makan satu meja bersama keluarga Babe dan duduk berhadapan dengan Hanif, membuat Nilam merasa dihargai oleh keluarga ini. Ia terharu dan semakin merindukan Mak.


Selepas sarapan mereka ke teras, bertepatan dengan berhentinya sebuah Jeep Hardtop kuning di depan pagar. Seorang saudara Juju menyapa Babe, lalu memberikan kunci mobil ransel pada Juju. Mobil ini yang akan dipakai mereka ke kampung Nilam. Mobil lawas peninggalan bapaknya Juju.



Mereka bersiap pergi. Nilam masuk di kursi tengah bersama Hanif.


“Ni, aku ikut!” Suci berteriak sambil lari ke arah mereka.

__ADS_1


Juju yang terakhir masuk ke belakang kemudi berpura-pura tak melihat. Ia mulai menyalakan mesin. Kakinya


bersiap menginjak gas, tapi terhenti saat klakson berkali-kali dari arah jalan, memaksanya melihat keluar.


Pengemudi Corolla putih mengeluarkan kepala dari jendela. “Juju, tunggu, aku ikut,” kata lelaki tampan berkulit putih.


Juki melongo dengan mulut menganga. “Apa maksud si bule ikutan? Dikira kita mau liburan apa?!” decaknya kesal. Hanif yang mendengar tersenyum kecil.


“Loe, ngapain masuk?!” Makin kesal pemuda itu melihat Suci tanpa rasa bersalah duduk di sebelah Nilam.


Gadis itu rupanya sudah berganti pakaian dan mengenakan jaket, Nilam yang tengah menyandarkan kepala


 pada jok mobil ikut memandang Suci.


“Ni, aku juga mau cepat lihat Mak,” kata Suci datar setelah duduk di sisinya.


Nilam tak menjawab.


“Biarkan saja, belakang ini masih cukup kok bertiga,” tukas Hanif menengahi. Baginya yang penting mereka segera berangkat dan Nilam bisa melihat kondisi ibunya.


Lelaki ini tak nyaman duduk berdempetan di belakang dengan perempuan. Hanif meminta berpindah ke depan. Sementara Hwa dan Suci yang mengapit Nilam.


Sebelum mobil melaju, Hanif memberikan ponsel miliknya ke tangan Nilam. “Dengarkan murottalnya, hayati dan tetap tenang, ya,” katanya lembut.


Nilam memasang earphone ke telinga. Suara merdu Syaikh Salman Al Utaybi, memenuhi semua isi kepalanya. Ia kembali menyandarkan kepala, menikmati bunyi yang menghangatkan hati.


Dalam perjalanan panjang ini mereka tiga kali istirahat di rest area, untuk makan dan saat waktu sholat.


Keadaan nilam juga terlihat cukup baik. Meski jalannya lambat, karena lemah. Paling tidak wajahnya terlihat sedikit segar.


“Ini.” Bon Hwa menyuapi camilan khas Korea yang baru ia buka ke mulut Nilam. Sedikit kikuk Nilam membuka mulut.


tak ingin.


Dua mata lelaki di kursi depan bersamaan melirik sekilas spion belakang, saat Bon Hwa terus menyuapi Nilam sambil mengajaknya bercanda. Hati Juju terasa panas hanya bisa memalingkan wajah fokus pada jalan.


Sementara Suci mendengkus, hatinya menyesak. Betapa Nilam diperlakukan seperti putri yang diperebutkan tiga pangeran. Hatinya menciut, ia juga wanita di situ dan dianggap seolah tak terlihat. Tak ingin larut dalam dengki, perempuan ini berpura-pura tidur menutupi wajah dengan jaket.


Sesampai di perbatasan antar kampung, mereka mulai masuk area sepi. Hanya sesekali melewati pedesaan


kecil di sekitar. Kata Nilam, itu kampung yang masih ramai dibanding dukuhnya. Sekitar satu jam setengah lagi mereka akan sampai.


Tiga lelaki di mobil itu bergantian mengemudi. Sekarang giliran Hwa, ia tampak mahir mengemudi di jalan yang becek dan tak rata. Kata Hwa jalan ke kampung Nilam sangat mudah dibanding ia pernah mencoba offroad di Sukabumi tahun lalu.


Juju tertidur duduk di sebelah Nilam, kepala dan badannya berayun saat melewati jalan yang membuat mobil berguncang, Nilam terlihat memperbaiki posisi temannya itu.


Ia iba melihat Juju begitu lelah karena urusannya. Nilam berharap semua segera selesai.


***


Di tempat lain, seorang lelaki tua yang bersila di antara akar beringin itu, memejamkan mata berkonsentrasi. Pakaian yang menempel di tubuhnya basah oleh keringat. Hatinya geram, merasa kembali dihalangi, ia tak mampu menembus ruang rawat Nilam semalam.


Sekarang pun ia merasa kelelahan. Belum ada celah menganggu pikiran gadis itu. Namun, tak ada kata putus asa sudah diniatkan tak beranjak sebelum tujuannya tercapai. Rasa lapar dan haus tak hiraukannya.


Sesosok hitam berkelebat cepat, tampak lalu menghilang hingga terhenti di depannya.


‘Waktumu akan habis, kerahkan kekuatan atau kau yang akan mati!’ Kalimat itu terucap dari hati si lelaki juga berpenampilan serba hitam mirip dengannya.


Menggema hingga ke telinga lelaki tua yang duduk bersila.

__ADS_1


‘Baiklah, aku siap.’ Jawaban terkirim dari hati lelaki tua yang tetap diam di tempatnya.


Bisikan itu dari orang yang sama saat ia bersemedi meminta kekuatan lebih di waktu itu. Saat ilmu spiritual yang dimilikinya mulai ditinggalkan. Dan, keberadaannya yang terasing membuatnya gelisah.


Ia ingin mendapat ilmu penghilang raga seperti yang dijanjikan orang itu padanya. Sembilan tumbal yang diculik jiwanya sebagai penyempurna. Lelaki yang telah lama hidup sendiri ini tergoda menguasainya.


Saat mendapat korban ke delapan, itu ia sudah mulai bisa menghilang dan tampak—persis seperti yang dijanjikan. Setelah tunai tumbal kesembilan, ia akan mudah mendapatkan semua yang diinginkan.


Angan yang tinggi itu memunculkan kekuatannya untuk segera mencengkram mangsa. Tak boleh seorang pun menghalangi.


Hidungnya bergerak-gerak, menangkap bau yang sangat dikenali semakin dekat. Tak ada senyum, tapi napas yang diaturnya seakan mengatakan ia siap bertarung.


***


Hawa dingin merayapi tengkuk Nilam. Langit gelap menyambut mereka sejak memasuki gerbang dusun. Gerimis kecil terlihat mulai membasahi kaca depan.


“Shit!” Hwa menyumpah karena mobil terhenti tak mau hidup.


“Ada apa?” Juju yang baru terbangun sambil mengucek mata.


“Coba lagi,” saran Hanif berusaha tenang, meski ia merasa sedikit gugup.


“Sebentar,” Juju keluar bertukar tempat duduk dengan bosnya itu. Ia mencoba menyalakan starter. Berkali-kali tak juga bisa, sedang hari makin gelap.


Hujan mulai deras, seakan-akan suaranya berlomba memukul atap mobil dari atas. Nilam ketakutan dan


menggigil.



Hanif menyarankan Nilam untuk tetap mendengar murottal dari ponselnya.


“Mati …,” kata gadis itu sambil memegang tengkuk. Hanya gerak bibirnya yang terbaca.


“Iya handphonenya mati,” ujar Hwa setengah berteriak, sambil memegang ponsel Hanif dan mengembalikannya.


“Astagfirullah.” Hanif terus beristighfar, berharap petunjuk.


Juju mengambi ponselnya dari saku celana, ternyata baterainya lemah dan sebentar lagi akan mati.


Tiga lelaki itu terdiam, memikirkan cara apa yang terbaik sekarang. Guntur bersahutan dengan kilatan cahaya. Nilam menutup mata dan telinganya, kaki ia naikan ke kursi dan dipeluk. Gadis itu kedinginan dan ngilu. Semua rasa nyeri berkumpul jadi satu, ia merasa tak tahan lagi.


Hanif memberi kode mereka akan sholat di mobil, perkiraan waktu ini sudah masuk waktu Maghrib. Setelah wudhu dengan air hujan, dua lelaki itu bersiap khusyuk dalam permohonan.


Tak ada kompas atau apa pun petunjuk untuk mengetahui arah kiblat. Hanif mulai mengimami, beriringan niat kuat dan keyakinan kalau Allah mengetahui kondisi mereka.


Nilam tak bisa mengikuti karena menggigil kuat. Hwa melepas jaket, menutupi tubuh Nilam dan merangkul bahunya.


Sedangkan Suci mulai gelisah. Dalam kondisi dingin sebab hujan lebat, gadis ini justru kepanasan. Masuk rakaat kedua, perempuan itu tak tahan lagi. Tangannya mencengkram pintu mobil, gerakannya begitu cepat membuka pintu dan berlari ke jalan.


Hwa terkejut ingin meneriaki Suci, tapi ia urungkan, takut mengganggu Hanif dan Juju.


Perempuan berambut panjang itu berlari ke arah depan, hingga tak terlihat tertelan gelap malam.


 


Bersambung ....


Makasih atas dukungannya all\, semoga semua yang baca selalu sehat wal'afiat\, aamiin.*\,*

__ADS_1


__ADS_2