
Juju mengantarkan Nilam ke belakang. Tak lama pemuda itu cepat kembali mendekati Babe.
“Babe?” Dua kali sudah ia memanggil, lelaki yang sedang berjongkok, tengah mengisi tempat makan burung dengan biji milet itu bergeming.
Juju menyentuh pundak Babe.
“Astagfirullah!” Babe terloncat berdiri. “Ngagetin orang tua aje, lu!” Lelaki itu sontak berdiri memperbaiki sarungnya yang melonggar lalu jongkok lagi.
“Maaf, Be. Babe melamun ape, sih? Juki panggil-panggil kagak jawab.” Juju ikut berjongkok menghadap sangkar berukir itu. “Boleh ngomong sebentar nggak, Be?” lanjutnya.
Gerakan tangan Babe terhenti sejenak, melirik wajah Juju yang serius. Lelaki paruh baya ini menarik napas berat, menyimpan tempat pakan burung, lalu menggantung kembali sangkarnya.
Tanpa menjawab Babe meminta Juju menunggu, karena ia akan mencuci tangan dulu.
“Kenape, Be?” Maemunah menutup keran air di atas tangan suaminya itu. Ia perhatikan Babe melamun, tatapan kosong tanpa suara sambil menyabuni tangan.
“Eh, kagak ape-ape. Bikinkan kopi pahit, nyoh. Skalian teh buat Juki.” Maemunah memandangnya heran, biasanya kalau minta kopi pahit artinya lelaki yang sudah 37 tahun ini menjadi suaminya itu sedang berpikir berat.
Juju sudah menunggu Babe di teras, ia terlihat gelisah, beberapa kali mengusap keringat yang mengalir di dahinya.
“Ngomong aje,” ucap Babe saat sudah duduk di bangku samping Juju.
“Gini, Be … boleh Juju minta tolong, Babe mewakili almarhum, emm … mau ngelamar-” kata Juju terputus saat Maemunah muncul membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan segelas teh.
“Lu beneran pingin kawin, nih?"
“Hee, iya, Cing. Udeh mau.”
“Bagus, tuh, biar Emak lu cepet lamarin si Laila, cepet nimang cucu,” canda Maemunah sembari ikutan duduk di kursi sebelah Babe.
“Ini urusan lelaki, sono dulu. Gue mau ngomong dulu si Juki.”
Maemunah memajukan bibir ke arah Babe. Melihat suaminya sedang tak ingin bercanda wanita itu kembali masuk.
"Mau lamar siape?" tanya Babe sambil menyeruput kopi panas. Aroma khas dan rasa kopi yang pahit cukup membuat Babe merasa tenang.
"Nilam, Be," jawab Juju mantap.
Gawat! bener nih dugaan gue ....
Babe bersikap setenang mungkin menguasai keadaan. Lelaki yang Juju anggap sebagai bapak ini memberikan beberapa pesan, sebagai syarat sebelum mengiyakan permintaannya. Trmasuk memastikan perasaan dirinya dan Nilam, juga selesaikan baik-baik rencana perjodohan dengan Laila kalau memang Juju tidak setuju. Pemuda ini mengangguk mantap. Wajahnya tampak bersinar saat meninggalkan rumah Babe menuju tempat kerja.
__ADS_1
Sepeninggal Juju, Babe menarik napas panjang berkali-kali. Ia akan bersikap netral pada masalah dua anak muda yang disayangi itu. Sisa kopi di cangkir sekejap habis dalam tiga kali teguk, hanya menyisakan ampas hitam di dasarnya.
Di usia setua ini, baru sekarang ia merasa urusan perasaan itu ternyata rumit. Dulu, ia dan Maemunah hanya
dijodohkan, rasa sayang tumbuh saat sudah menikah. Menurutnya, pemuda sekarang terbalik, sudah merasa cinta dulu baru berniat melamar. Babe menggeleng kepala.
Maemunah di dalam memperhatikan suaminya itu diam-diam.
***
Sebelum Subuh Hanif sudah tiba di pesantren milik Kyai Hamid di daerah Jakarta Selatan. Ia berniat ikut kajian gurunya ba’da Subuh. Ilmu yang didapat diharap memberi energi baru pada imannya yang serasa menurun, hati mulai terisi dengan keinginan selain-Nya.
Suasana di lingkungan bangunan berlantai tiga itu membuat hatinya tentram. Ia bukanlah murid di sini, tapi Kyai pemimpin pondok ini adalah guru juga panutannya selama di Kairo. Mengenal beliau yang sangat tawadhu, selalu siap membagi ilmu dan memperhatikan semua yang ingin belajar itu sangat melekat di hati Hanif.
Kelak ia ingin bisa seperti beliau. Tetap rendah hati saat diri disanjung dan diminta ilmunya, itu merupakan hal terberat sebagai manusia, godaan untuk berkuasa atas orang lain pasti selalu membisiki.
Setelah selesai, Hanif berkesempatan ngobrol bersama. Lelaki ramah senyum ini menyampaikan perihal kerisauan hatinya pada guru. Soal jodoh dan bagaimana menjaga hati agar tak dipenuhi syahwat.
Sebelum menjawab, lelaki enam puluh tahun itu tersenyum. “Sudah lama aku menunggumu membahas ini, Hanif.
Aku menunda karena kamu terlihat belum berpikir ke sana. Segala sesuatu pasti ada waktunya, tho? Hehee, ayuk, dengan senang hati kita bicarakan.”
“Terima kasih, Kyai. Saya mulai merasa bersalah, seperti menduakan Allah,” jujur Hanif berkata. Ia selalu nyaman berbicara terbuka dengan lelaki tenang dan terlihat selalu santai ini.
“Iya, Kyai.” Hanif menyebutkan beberapa ayat tentang perintah cinta dan kasih sayang.
Kyai, yang juga dikenal sebagai Profesor Hamid Abdul Wahab itu menjelaskan, Hanif tak perlu risau dengan perasaannya, di usia sekarang tentu muncul rasa ingin mencinta dan dicinta, pada lawan jenis. Bahkan sebagian lain ada yang lebih dini merasakannya. Saran beliau agar menyegerakan menikah saja, sebab menunda bisa menjerumuskan diri dalam dosa.
Hanif merasa semakin mantap untuk mengambil keputusan.
Di akhir obrolan mereka, Hanif juga menceritakan masalah mistik yang menimpa Nilam. Berterima kasih pada gurunya yang sudah menyempatkan waktu ke rumah pada waktu itu.
Kyai Hamid mengatakan itu sudah kewajiban saling membantu. Dan akan datang lagi kalau senggang. Mereka hanya bisa membantu sebatas kemampuan manusia, hanya Allah yang punya jawabannya teman Hanif itu lepas atau terus terikat hal gaib semua terjadi atas izin-Nya.
Sebagai saran Kyai itu menitipkan pesan agar Nilam tak jauh kewajiban, sunah, dan Al-Quran—membaca dan mentadaburkan, dengan catatan yakin pada pertolongan Allah, insya Allah bisa. Karena Allah tidak akan pernah membiarkan doa yang hamba-Nya panjatkan terus-menerus itu tanpa dijawab. Pasti akan terjawab. Karena itu jangan putus memohon, pesan Kyai Hamid lagi.
Wajah semringah Hanif saat mulai mengisi kelas pertamanya, kata Kyai ini sebagai pengenalannya saja.
Setelah siap, ia akan membimbing kelas tahfizd Al-Quran, bagian yang sudah dikuasainya.
Antusias siswa menerima arahannya membuat Hanif begitu bersyukur, anak-anak usia tiga belas hingga lima belas tahun itu sangat cepat menyerap teknik yang diberi agar mudah menghafal. Caranya yang low profile pada murid membuat semua mengharap Hanif cepat mengajar tetap.
__ADS_1
Lelaki muda itu pulang dengan lapang hati. Setiba di rumah ia merenungkan apa saja yang gurunya sampaikan dan apa yang sudah ia lakukan.
Selepas Ashar, Hanif meminta ibunya menemani ke kost belakang. Maemunah mengiyakan, karena ia tahu anaknya ini tak ingin sendiri menemui Nilam.
Sesampainya di sana, Hanif meminta izin pada Mak dan Nilam akan membacakan surah Al-Baqarah hingga tuntas. Setelah berwudu, ia duduk di ruang tengah, menghadap kiblat. Seisi ruang dipenuhi suara bening nan syahdu, mengalun dalam tarikan napas yang panjang dan lancar dari Hanif. Membawa rasa tenang dan nyaman terhirup dari uraha yang menelusup, masuk ke dasar hati. Semua terhenyak dalam satu rasa, terharu akan nikmat alunan ayat-Nya dikumandangkan.
Mak menangis merasakan desir hangat, menjalar ke seluruh darahnya. Maemunah menyentuh jemari Mak, ikut mengalirkan haru di hatinya.
Setelah Hanif selesai Nilam mengatakan ingin juga belajar ngaji sampai lancar.
Hanif berusaha menahan pandangan, manik matanya lebih banyak tertuju pada Mak dan ibunya.
“Alhamdulillah, itu panggilan Allah di dalam hati. Ustazahnya sudah ada, Nilam tinggal mengatur waktunya saja. Untuk memperlancar, sambill belajar sendiri aku akan pinjamkan buku yang langsung ada audionya untuk berlatih pelafalan,” jelas Hanif sambil akan ke rumah, mengambilkan barang yang dimaksud.
Maemunah menunggu di kamar Nilam, ngobrol ringan dengan Mak, bertanya bagaimana perasaan wanita itu setelah sehari di kota besar ini. Mak katakan kalau ia suka sepi, di jalan terlalu ramai, makanya Mak belum mau saat diajak Nilam keluar.
Hanif segera kembali, membawa sebuah buku dan sebuah perekam suara.
Nilam diminta mempelajari caranya, dengan menyentuhkan pen pada kata untuk mendengar dan berlatih pelafalan yang tepat. Itu nantinya akan membantu Nilam saat belajar sendiri atau mengulangi apa yang disampaikan ustazah saat terlupa.
Gadis itu terharu atas perhatian Hanif, lelaki itu seakan tahu apa saja yang dibutuhkannya. Nilam berjanji akan bersemangat belajar. Ia segera berwudu dan mengenakan mukena.
“Subahanallah, semangatmu itu yang membuat cepat menangkap,” puji Hanif sebelum mereka pulang. Lelaki itu juga meninggalkan perekam berisi mp3 murottal untuk Nilam dengarkan kapan pun, katanya itu membantu untuk cepat menghafal surah dengan mendengarnya berulang-ulang.
“Ayat Allah yang tertanam di hati, bisa menjaga diri dari kekosongan pikiran, juga memudahkan mengingat, cobalah mulai dari surah pendek dulu di juz 30 dulu,” lanjut Hanif menerangkan.
Nilam mengangguk mantap, senyum lebar ia hadiahkan pada Hanif dan Maemunah. Sepulang keduanya, ia
kembali menekuni.
Daya tangkapnya termasuk cepat, keseriusannya belajar terlihat dari cara ia berusaha terus mengulangi setiap kalimat yang terdengar.
“Mak suka temanmu yang tadi, orangnya baik, tampan lagi,” kata Mak saat Nilam beristirahat.
“Alhamdulillah, Mak. Nilam senang kenal Bang hanif, orangnya sangat baik.”
“Mak harap bisa punya mantu kayak dia, Nilam.”
Gadis itu membuka mulut dan mata lebar. “Mak bilang apa, sih? Didengar orangnya malu nanti ….” Nilam menyentuh pipinya yang memerah.
“Itu doa Mak, semoga saja dikabulkan,” elak wanita kurus itu tertawa.
__ADS_1
Aamiin, kata itu terucap dari hati Nilam. Ia tak menolak jika punya suami sebaik Hanif, tapi sekarang ia hanya ingin membahagiakan Mak dulu, belum terpikir untuk segera menikah.
Bersambung ....