Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Dari Awal Lagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aldo sudah terlihat bersiap, dia ingin menemui paman Alan untuk membicarakan tentang keinginannya membuat usaha tempe kembali seperti dulu kala.


Hanya saja bedanya dia saat ini membutuhkan bantuan orang lain, Arumi dan juga pak Didi tentu saja mendukung apa yang diinginkan oleh aldo saat ini.


Karena menurut mereka berdua, menjual tempe merupakan hal yang lebih baik dan lebih mulia dari pada memuja siluman ular.


Apalagi, siluman ular itu sangat membahayakan keselamatan Aldo dan juga Arumi.


Awalnya pak Didi memang menolak Aldo karena Aldo hanyalah orang biasa, pekerjaannya saja hanya sebagai seorang penjual tempe.


Rasanya dia sangat malu jika anaknya yang berprofesi sebagai dokter harus menikah dengan penjual tempe.


Tidak sepadan, itulah hal yang dia rasakan. Namun, setelah terjadinya hal yang tidak mengenakan beberapa saat yang lalu, pak Didi menjadi sadar.


Jika sekuat apa pun dirinya memisahkan Arumi dan juga Aldo, dia tidak akan mampu. Karena mereka memang jodoh ada di tangan Tuhan.


"Mas berangkat dulu," pamit Aldo kepada Arumi.


"Iya, Mas," jawab Arumi.


Aldo terlihat mengecup kening istrinya sebelum pergi meninggalkan rumah, tidak lupa dia juga berpamitan kepada ayah mertuanya, pak Didi.


"Saya berangkat dulu, minta do'anya, ya, Pak?" pamit Aldo.


"Ya, Bapak do'akan semoga kamu bisa menjalankan usaha seperti yang kamu sudah rencanakan," kata Pak Didi.


"Terima kasih," kata Aldo.


Setelah berpamitan kepada istri dan juga mertuanya, akhirnya Aldo berangkat menuju rumah paman Alan.


Dia berangkat dengan menggunakan ojek online, awalnya pak Didi berniat untuk mengantarkan Aldo.


Namun, Aldo berkata tidak perlu. Karena dia juga akan langsung menggarap usaha yang akan dijalankannya tersebut.


Pak Didi tidak bisa berkata apa pun, dia hanya bisa memberikan restu dan do'a yang terbaik untuk menantunya tersebut.


Tiba di rumah paman Alan, Aldo diterima dengan baik di sana. Paman Alan memang pernah marah dan juga kesal karena Aldo sempat memuja siluman ular.


Paman Alan juga sempat marah karena Aldo tidak mau mengakui Liza sebagai ibunya. Namun, walau bagaimanapun juga Aldo tetaplah keponakannya, putra dari kakak kandungnya.


"Ada apa, Nak? Kok tumben sekali datang tidak mengabari?" tanya Paman Alan.


"Ehm, begini, Paman. Aku mau berjualan tempe kembali," kata Aldo.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Paman Alan tidak percaya.


Dia benar-benar merasa tidak percaya jika Aldo mau merintis usahanya dari awal kembali.


Padahal dia sempat mendengar jika Aldo memuja siluman ular, bahkan dia sempat kritis karena perbuatan yang dia lakukan sendiri.


Namun, paman Alan masih marah saat itu. Dia tidak ingin menemui Aldo sama sekali. Namun, kedatangannya saat ini sungguh membuat dirinya bahagia.


"Ya, Paman. Mohon bantuannya," kata Aldo. Ya tentu saja Paman akan dengan senang hati membantumu Kata paman


Aldo terlihat begitu bahagia sekali, karena akhirnya paman Alan mau membantu dirinya. Walaupun Aldo sempat kesal karena dia membawa Liza ibunya.


Namun, dia benar-benar bersyukur karena paman Alan tidak marah kepada dirinya. Seharian itu Aldo begitu sibuk dengan paman Alan.


mereka Langsung mempersiapkan semua bahan dan alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat tempe.


Tak lupa paman Alan juga mencari orang yang bisa membantu Aldo dalam membuat tempe.


"Terima kasih, Paman," kata Aldo.


"Sama-sama," jawab Paman Alan.


Hari sudah semakin sore, Aldo memutuskan untuk berpamitan kepada paman Alan untuk pulang.


Bahkan, tanpa Aldo duga paman Alan membantu dirinya. Paman Alan menambahkan modal usaha untuk Aldo.


Di lain tempat.


Selepas salat ashar, Reihan memutuskan untuk menjemput suster Camelia. Karena suster Camelia mendapatkan tugas pagi dan akan pulang pukul empat sore.


Satu bulan yang lalu Reihan sempat datang ke rumah kedua orang tua dari suster Camelia, dia datang untuk melamar.


Kedua orang tua suster Camelia memang melihat kesungguhan di mata Reihan. Namun, mereka meminta waktu beberapa bulan untuk mereka berkenalan.


Karena setidaknya sebelum mereka menikah harus saling mengenal terlebih dahulu, jangan sampai mereka menikah tanpa saling mengenal.


Takutnya, baru memulai rumah tangga mereka malah memutuskan untuk bercerai karena merasa tidak cocok.


Reihan menyanggupinya, setiap hari dia akan mengantar jemput suster Camelia untuk bekerja.


Bahkan, kini mereka sudah terlihat akrab. Namun, tetap saja suster Camelia tidak mau menunjukkan Wajah aslinya kepada Reihan.


Reihan sempat berpikir untuk meminta suster Camelia menunjukkan wajahnya. Namun, Reihan kambali berpikir jika dirinya mencintai suster Camelia dengan tulus.

__ADS_1


Dia tidak peduli nanti wajahnya akan seperti apa, walaupun dalam hati Reihan sangat yakin jika suster Camelia adalah wanita yang cantik wajahnya kelakuannya dan juga hatinya.


"Sudah lama menunggu?" tanya Suster Camelia.


"Hem, sepuluh menit," kata Reihan.


"Maaf," kata Suster Camelia.


"Tidak apa-apa," jawab Reihan seraya membuka pintu mobil untuk suster Camelia.


"Terima kasih," kata Suster Camelia setelah dia duduk dengan nyaman.


"Sama-sama, Cantik." Reihan tersenyum lalu menutup pintu mobilnya.


Tidak lama kemudian Reihan nampak masuk ke dalam mobil, dia langsung duduk di balik kemudi.


"Mau pergi dulu atau mau langsung pulang seperti biasanya?" tanya Reihan.


Untuk sesaat suster Camelia terdiam, tentu saja dia harus langsung pulang. Kalau dia meminta pergi untuk ngopi di Cafe, itu artinya dia harus melepaskan cadarnya.


Dia tidak mau, dia ingin melihat kesungguhan dari Reihan. Dia tidak mau jika Reihan menikahinya hanya karena kecantikan yang dia miliki.


"Langsung pulang aja, Mas," kata suster Camelia.


"Ya, baiklah kalau begitu Aku akan langsung mengantarkan kamu pulang," kata Reihan.


Suster Camelia nampak tersenyum senang, karena Reihan selalu jadi sosok lelaki yang baik dan pengertian untuk dirinya.


Selama perjalanan pulang, baik Reihan ataupun suster Camelia nampak terdiam. Mereka nampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Namun, saat tiba di depan kediaman suster Camelia. suster Camelia nampak menahan kepergian Reihan.


"Jangan pergi dulu, aku mau bicara," kata Suster Camelia.


"Bicara apa?" tanya Reihan.


"Kita bicara di dalam saja," ajak Suster Camelia.


Antara senang dan juga was-was, itulah yang Reihan rasakan saat ini. Dia takut jika suster Camelia akan mengatakan hal yang tidak mengenakkan untuk dirinya.


"Baiklah," jawab Reihan pada akhirnya.


***/

__ADS_1


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.


__ADS_2