
Sebenarnya, Arumi masih merasa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Aldo di kamar belakang tersebut.
Karena saat Arumi memperhatikannya, kamar tersebut terlihat sangat rapi dan terlihat seperti ada penghuninya. Seperti ada orang yang tinggal di sana dan merawat kamar tersebut.
Namun, dia tidak menemukan bukti apa pun yang menguatkan pendapatnya. Jadinya Arumi tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya pasrah.
Saat Arumi datang, tentu saja Aldo dan juga Nyai Ratu sedang melakukan pergumulan panas. Mereka sedang menikmati indahnya memadu kasih, mereka sedang mereguk manisnya madu hasrat dalam gairah.
Aldo bahkan kini merasakan jika kepalanya sangat sakit, karena dia tidak bisa menuntaskan hasratnya.
Tiba di dalam kamarnya, Aldo langsung saja merebahkan tubuh istrinya dengan sangat perlahan. Dia melucuti baju Arumi dan langsung mencumbuinya.
Aldo benar-benar sudah tidak tahan untuk segera memasuki tubuh istrinya itu, dia ingin segera mendapatkan pelepasannya.
Dia bahkan langsung menyesap puncak dada istrinya dengan cukup kencang, hal itu membuat Arumi bergairah.
Namun, dia masih ingin bertanya. Dia masih merasa penasaran dengan misteri kamar belakang di rumah Aldo.
"Mas! Aku masih ingin bertanya," kata Arumi.
Dia berusaha melepaskan diri dari kungkungan suaminya, sayangnya Aldo sangat kuat karena dia sudah diliputi oleh kabut gairah.
"Nanti saja, Yang. Aku mau kamu, Sayang. Aku sudah tidak tahan," kata Aldo seraya membuka kimono mandinya dan melemparnya secara serampangan.
Arumi sempat terlihat kaget saat melihat milik Aldo yang sudah berdiri dengan sangat tegak, bahkan dia sempat kagak saat melihat milik Aldo yang terlihat basah.
"Tapi, Mas!"
Aldo sudah tidak ingin mendengar apa pun lagi dari bibir istrinya, dia langsung menutup bibir Arumi dengan ciuman yang penuh dengan hasrat.
"Mmph! Mas!" kata Arumi saat tautan bibir Aldo terlepas.
"Sssuut! Mas udah ngga tahan, Mas pengen." Aldo langsung menyatukan tubuh mereka, Arumi yang tidak mendapatkan pemanasan terlihat memekik karena kaget.
Aldo seolah tidak perduli, dia langsung menghujam istrinya dengan miliknya yang sudah berada dalam tegangan tinggi.
Pada akhirnya yang awalnya Arumi merasa tidak ingin pun terlihat menikmati apa yang disuguhkan oleh suaminya itu.
Arumi terlihat menggeliat dan menggelinjang kala mendapatkan sentuhan yang begitu memabukkan dari Aldo, suaminya.
Arumi menghabiskan malam dengan penuh gairah bersama dengan Aldo, dia benar-benar melupakan bapaknya yang tidur sendirian di Rumah Sakit.
***
__ADS_1
Pagi telah menjelang, pak Didi terlihat bangun dari tidurnya. Dia yang merasa sudah lebih baik mencoba untuk turun dari ranjang pasien.
Dia berjalan menuju kamar mandi dengan sangat perlahan, bahkan dia terlihat mencari sesuatu yang bisa dia gapai agar dia tidak terjatuh.
Seorang suster yang bertugas menjaga pak Didi baru saja masuk, karena dia baru saja kembali dari Mushola untuk melaksanakan shalat subuh.
Dia terlihat kaget saat melihat pak Didi yang terlihat bersusah payah dalam berjalan, dia langsung berlari dan menghampiri pak Didi.
"Pak, maaf tadi saya habis shalat dulu,'' ucap Suster.
"Tidak apa-apa," jawab Pak Didi.
"Saya bantu ya, Pak." Suster terlihat menuntun pak Didi untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Terima kasih," ucap Pak Didi.
Dalam hatinya pak Didi merasa sangat sedih sekali, karena di saat sakit seperti ini Arumi malah pergi.
Dia seolah tidak ingin merawat dirinya, dia bahkan hanya menyuruh seorang suster untuk menjaga dirinya.
Rasanya dia ingin sekali hanya Arumi saja yang mengurusi dirinya, tidak usah orang lain yang kini berusaha untuk memapah dirinya menuju kamar mandi.
"Sudah cukup, Sus. Kamu boleh keluar, kalau butuh bantuan saya nanti akan panggil," kata Pak Didi.
"Baik, Pak." Suster tersebut nampak keluar dari dalam kamar mandi.
Buliran air mata langsung turun di kedua pipinya, dia menangis sesenggukan. Dia merasa hidupnya tidaklah berguna.
Dia merasa gagal sebagai seorang bapak, dia merasa tidak becus dalam mendidik putri semata wayangnya.
Cukup lama dia berdiri di depan cermin seraya meluapkan rasa sakit di hatinya, setelah merasa cukup tenang, dia mengusap wajahnya kemudian dia mengambil wudhu agar bisa segera melaksanakan shalat subuh.
Tidak lama kemudian, pak Didi terlihat keluar dari kamar mandi. Suster yang menunggui pak Didi langsung menghampirinya.
"Biar saya bantu, Pak," kata Suster.
"Tidak usah, saya bisa berjalan sendiri. Lagi pula saya sudah mempunyai wudhu," kata Pak Didi.
Suster tersebut nampak tersenyum, dia lupa kalau mereka memang tidak mempunyai ikatan darah.
"Baiklah, jika itu yang Bapak inginkan. Namun, kalau Bapak masih merasa lemah Bapak bisa melakukan shalat dengan hanya duduk saja," usul Suster tersebut.
Pak Didi tersenyum, dia begitu senang karena masih ada yang perhatian terhadap dirinya. Walaupun itu hanya bentuk tanggung jawab saja.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu tolong bantu saya untuk menggelar sejadahnya," pinta Pak Didi.
"Ya, Pak," jawab Suster.
Suster tersebut nampak menggelarkan sejadah di dekat ranjang pasien, kemudian pak Didi terlihat berjalan dengan perlahan menghampiri suster tersebut.
Pak Didi yang memang merasakan tubuhnya masih terasa sangat lemah melaksanakan shalat subuh sambil duduk.
***
Pukul 07.00 pagi Reihan dan juga pak Ridwan terlihat datang untuk menjenguk pak Didi, Reihan bahkan membawakan bubur sehat untuk pak Didi.
"Assalamualaikum!" Reihan dan juga Pak Ridwan nampak masuk seraya mengucapkan salam.
Pak Didi yang sedang asyik dalam lamunannya terlihat tertarik ke alam nyata, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah pak Ridwan dan juga Reihan.
Seulas senyum terbit dari bibir tuanya, dia merasa bahagia karena sahabatnya bersama dengan putranya datang untuk menjenguk dirinya.
"Waalaikum salam," jawab Pak Didi.
Reihan dan juga pak Ridwan terlihat menghampiri pak Didi, lalu Reihan duduk tepat di bangku tunggu dan bertanya kepada pak Didi.
"Bagaimana keadaan, Om?" tanya Reihan.
"Sudah mulai membaik," jawab Pak Didi.
"Kalau begitu, Om sarapan terlebih dahulu. Setelah itu minum obatnya agar cepat sembuh, terus bisa cepat pulang juga," kata Reihan.
"Ya, baiklah," jawab Pak Didi.
Dalam hatinya yang terdalam pak Didi merasa sangat sedih sekali, karena justru dia mendapatkan banyak perhatian dari orang lain, bukan dari putrinya sendiri.
Putrinya sendiri malah belum kembali lagi semenjak semalaman meninggalkan dirinya, sungguh miris, pikirnya.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut pak Didi, Reihan benar-benar menyuapi pak Didi dengan telaten.
Sesekali pak Didi terlibat obrolan ringan dengan pak Ridwan, pak Ridwan merasa sangat kasihan terhadap sahabatnya tersebut.
Selang beberapa saat bubur sehat yang Reihan bawa sudah habis tak tersisa.
"Terima kasih," ucap Pak Didi.
"Sama-sama," jawab Reihan.
__ADS_1
***
Masih Berlanjut....