
Pak Didi terlihat kebingungan harus mengambil keputusan seperti apa, memang benar apa yang dikatakan oleh Reihan jika Arumi mungkin saja tidak sah saat menikah dengan Aldo. Karena tidak ada dirinya yang hadir sebagai wali untuk menikahkan Arumi.
Mungkin saja benar apa yang dikatakan Reihan jika pak Didi membiarkan Arumi tetap menjalani kehidupannya yang sekarang dengan Aldo, itu artinya pak Didi membiarkan anaknya terus berzina seumur hidupnya dengan Aldo.
Tentu saja pak Didi tidak ingin hal itu terjadi, dia tidak ingin anaknya melakukan dosa dalam seumur hidupnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Pak Didi kepada temannya Pak Ridwan.
"Sekarang kamu tidak bisa melakukan apa-apa lagi, nikahkanlah mereka agar Arumi tidak melakukan dosa lagi. Kesampingkanlah egomu," kata Pak Ridwan.
"Tapi, rasanya aku tidak ikhlas, Wan. Kalau mempunyai menantu seperti Aldo, entah kenapa sampai saat ini aku merasa jika Aldo bukanlah pria yang terbaik untuk putriku," kata Pak Didi
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, Didi. Aku juga seorang ayah, aku ingin yang terbaik untuk putraku. Aku pasti akan berusaha memilih calon menantu yang menurutku berkualitas, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kamu tidak bisa menolak Aldo lagi, karena mereka sudah menikah secara diam-diam. Ingat, jangan membiarkan mereka melakukan dosa terlalu banyak lagi," kata Pak Ridwan.
"Ya, sepertinya aku memang harus menikahkan mereka kembali. Walaupun berat hati ini untuk merelakan," kata Pak Didi.
Rehan tersenyum saat mendengarkan obrolan antara dua sahabat tersebut, kemudian dia mengelus lembut lengan teman dari bapaknya tersebut.
"Yang sabar ya, Om. Om cepat sembuh, biar bisa cepat menikahkan Arumi secara resmi," kata Reihan.
"Ya," jawab Pak Didi pada akhirnya.
"Oh ya, Nak. Apa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Pak Ridwan kepada Reihan.
"Sepertinya aku ingin menemani Om saja di sini, kasihan tidak ada yang menemani," jawab Reihan.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah pamit dulu. Masih ada pekerjaan yang harus Ayah lakukan soalnya," kata Pak Ridwan.
Tatapan mata pak Ridwan kini beralih kepada pak Didi, dia kemudian berpamitan kepada temannya tersebut.
"Aku pamit ya, Di. Semoga lekas sembuh, kamu jangan bersedih. Ada anakku yang menemani," kata Pak Ridwan.
"Ya, terima kasih," jawab Pak Didi.
Setelah berpamitan, Pak Ridwan nampak pergi dari ruangan pak Didi karena memang masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Berbeda dengan Reihan, dia malah berpamitan kepada pak Didi untuk melaksanakan salat Dhuha terlebih dahulu, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.
Tentu saja pak Didi mengizinkan, bahkan dia merasa sangat senang karena ternyata Reihan benar-benar anak yang sholeh. Di mana pun tempatnya, tetap saja dia menyempatkan waktu untuk beribadah.
__ADS_1
Bahkan setelah melaksanakan salat Dhuha, Reihan terlihat mengaji. Ternyata, Reihan selalu membawa Al Qur'an kecil di dalam tas kecil yang dia bawa.
Tepat di saat Reihan sedang mengaji, tiba-tiba saja Arumi datang bersama dengan Aldo. Arumi berjalan dengan langkah ragu saat menghampiri bapaknya, berbeda dengan Aldo, dia malah terdiam karena merasa kepanasan.
Dia tidak berani melanjutkan langkahnya, apalagi saat mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an yang sangat merdu.
Dia memundurkan langkahnya, dia tidak kuat dengan hawa panas yang terasa sangat membakar kulitnya. Arumi sempat keheranan saat melihat suaminya yang keluar begitu saja dari ruang perawatan bapaknya.
Padahal, dari rumah mereka sudah merencanakan untuk meminta restu kepada pak Didi. Namun, kenapa Aldo malah pergi begitu saja.
Arumi menjadi bingung dibuatnya, dia berusaha untuk memberanikan diri menghampiri bapaknya dan duduk tepat di samping bapaknya tersebut.
Dia raih tangan kanan bapaknya dan dia cium punggung tangan bapaknya, sebisa mungkin Arumi bersikap baik di hadapan bapaknya.
"Bapak sudah lebih baik?" tanya Arumi seraya melirik ke arah Reihan yang terus saja mengaji tanpa terganggu karena kehadiran dirinya.
"Sudah," jawab Pak Didi singkat.
Pak Didi sempat memperhatikan Aldo yang keluar begitu saja, tidak sopan sekali pikirnya. Bukannya menyapa terlebih dahulu, malah pergi begitu saja.
Rasa benci semakin mendalam untuk lelaki yang kini menjadi suami dari putrinya tersebut, seharusnya lelaki itu berusaha untuk merayu dirinya agar mau merestui hubungannya dengan Arumj.
"Maaf karena mas Aldo pergi tidak berpamitan terlebih dahulu kepada Bapak, mungkin dia kebelet," kata Arumi mencari Alasan.
Sebenarnya Arumi juga tidak tahu kenapa Aldo pergi begitu saja dari ruang perawatan bapaknya. Akan tetapi, sebisa mungkin dia berusaha untuk menutupi kesalahan Aldo.
"Kalau memang dia kebelet, kenapa nggak ke kamar mandi saja? Bukankah di sini juga ada kamar mandi?" tanya Pak Didi.
Arumi jadi serba salah dibuatnya, dia terdiam dan menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Sungguh dia tidak bisa mencari alasan apa pun lagi, karena saat bicara dengan bapaknya, dia selalu saja tidak bisa menimpali ucapan bapaknya tersebut
"Mungkin Aldo sedang ada keperluan lain, Om. Atau mungkin dia mau mengangkat panggilan telepon," jawab Reihan yang ternyata sudah selesai mengaji.
Reihan terlihat menyimpan Al Qur'an yang baru saja dia baca, lalu dia duduk di bangku tunggu.
"Jangan pernah suudzon, Om. Mungkin saja dia mempunyai keperluan lain," kata Reihan berusaha untuk menenangkan.
"Ya," jawab Pak Didi disingkat.
__ADS_1
Dia tidak mau memperpanjang lagi urusannya dengan Aldo, dia merasa muak kalau sudah membicarakan tentang Aldo.
Kalau saja dia tidak mengingat apa yang dikatakan oleh pak Ridwan, rasa-rasanya dia ingin memutuskan hubungan antara Arumi dan Aldo saja.
Ingin sekali dia pergi jauh membawa putrinya, agar bisa jauh dari lelaki seperti Aldo. Memulai hidup baru yang mungkin saja bisa lebih baik, tapi itu tidak mudah.
Pada awalnya Reihan ingin sekali menemani pak Didi, karena dia merasa kasihan melihat pak Didi yang sendirian saja di dalam ruang perawatannya.
Namun, setelah melihat adanya Arumi, dia memutuskan untuk pergi saja. Lagi pula ada Aldo, dia merasa tidak enak hati.
Takutnya nanti akan terjadi salah paham antara dirinya dan juga Aldo, lebih baik menjaga jarak bukan, dari pada nantinya menimbulkan masalah.
"Om, saya pamit pulang saja karena sekarang sudah ada Arumi yang menemani,'' kata Reihan.
"Loh, bukannya katanya tadi kamu mau menemani Om?" tanya Pak Didi.
"Ya, tapi sepertinya saya lebih baik pulang saja," jawab Reihan.
"Ya sudah, Om mengerti," kata Pak Didi.
Pak Didi juga paham jika Reihan mungkin tidak akan merasa nyaman jika ada Arumi di dekatnya, apalagi ada Aldo yang notabene sudah menikah dengan Arumi.
"Kakak pulang dulu," pamit Aldo kepada Arumi.
Setelah berpamitan kepada Arumi dan juga pak Didi, akhirnya Reihan terlihat keluar dari ruang perawatan pak Didi.
Saat dia keluar, dia melihat Aldo yang sedang duduk di bangku tunggu. Wajah Aldo terlihat memerah, lehernya dan tangannya juga sama. Dia terlihat seperti terkena luka bakar.
Reihan tidak ambil pusing, dia yang tidak mau berlama-lama memutuskan untuk segera pergi saja. Takutnya Aldo akan tersinggung, dia hanya membungkukkan kepalanya sedikit lalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Reihan, Aldo terlihat menghentakkan kakinya. Dia merasa kesal terhadap Reihan, apalagi saat dia datang dia melihat Reihan yang sedang mengaji.
"Dasar bedebah sialan! Ini pasti karena ulahnya, dia sengaja mengaji di ruangan si tua bangka itu, agar aku tidak bisa masuk ke sana," kata Aldo seraya memukul bangku tunggu.
***
Masih berlanjut....
Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa tinggalkan jejak yes.
__ADS_1