Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Teror Lain


__ADS_3

Hai teman-teman, beberapa part lagi akan berakhir ya. Makasiih banyak masih setia menunggu akhir kisah Nilam.


Semoga kita sehat slalu. Love U All ....


\~\~\~*\,*\~\~\~


Nilam berjalan cepat menuju rumah. Ia tadi bertemu warga lainnya di halaman rumah Suci. Mereka tak


bisa membantu apa-apa, ataupun mengeluarkan barang milik Suci, karena api melahap bangunan itu sangat cepat.


Gadis ini terpukul atas cerita Suci yang sebelumnya tak pernah bercerita apa pun padanya. Pikiran Nilam terbagi


antara Suci yang pergi dan keadaan Hanif dan Juju.


Beberapa warga tadi menyampaikan kalau mereka mendapat petunjuk jejak kaki di hutan, jejak sepatu di bekas dedaunan yang terlihat. Namun, karena hari sudah sore, warga akan melanjutkan pencarian besok.


Hati gadis ini mengaminkan harapan semua orang, semoga dua temannya itu segera ditemukan selamat.


Saat kakinya melangkah ringan, sambil merasakan teduh pepohonan di sisi jalan, terdengar suara sesuatu berderak. Nilam terkejut saat mendongak, spontan ia berlari cepat begitu melihat dahan besar itu akan menimpa tubuhnya.


Hempasan keras ke tanah menyebarkan patahan ranting, daun-daunnya terlepas berserakan. Napas Nilam sejenak tertahan. Ia meremas jemari yang bergetar, pekik syukur berulang ia serukan atas perlindugan-Nya.


Pohon itu kelihatannya kuat, bagaimana bisa patah seketika? batin Nilam penuh tanya.


***


Terlalu kuat diserang dalam panjat doa tanpa henti, lelaki tua yang duduk di antara akar itu tersungkur lemah mengerang, bertepatan dengan bayangan melesat kembali datang mendekatinya. Orang itu berjongkok menyentuh rahangnya.


“Kemampuanmu ndak ada apa-apanya. Begitu saja sudah sekarat. Bagaimana mau kuasai semua? Tau begini aku ndak pakai kamu!” bentaknya melepaskan wajah itu hingga kembali menempel di tanah.


Tanpa bisa menjawab lelaki tua itu mengerjap lemah. Napasnya melambat dan sesak. Tarikan napas panjang yang ia cari terasa tanpa udara.


‘Gara-gara menginginkan perempuan itu … aku harus meregang nyawa ….’ Hatinya berkata tanpa keluar suara


dari lidah yang kelu.


Tak lama kemudian mata lamurnya menutup sempurna, setelah tarikan napas terpanjang lalu terhenti dalam sentakkan suara yang menyakitkan.


Bagaimana pun kekuatan iblis tak akan bisa mengalahkan kekuatan Tuhan. Sayangnya lelaki tua ini belum sempat menyadari hingga ajal menjemput.


Bayangan hitam yang memakai jasa perantara si lelaki tua kembali melesat. Ia sudah berencana akan bertindak sendiri.


***


Nilam bercengkrama dengan Mak dan Hwa di ruang tengah, sebelum tidur. Mereka membahas Hanif dan Juju yang

__ADS_1


belum juga ditemukan. Menurut Hwa, jejak mereka terhenti saat sudah masuk terlalu jauh di hutan, besok mereka akan kembali ke tempat yang sama.


Nilam kembali menangis, rasa bersalah terus menghantuinya. Tak lama, ia pamit beristirahat ke bilik Mak, sementara Hwa tidur di kamarnya.


Nilam mengerjakan salat Isya sebelum tidur. Ia sudah bisa mengira arah kiblat, begitu melihat letak matahari tenggelam tadi. Melihat khusyuknya gadis itu berdoa hingga terisak, Mak menunggunya selesai untuk bertanya.


Nilam berbaring di sisi wanita tercinta, ia memiringkan badan agar leluasa memandang wajah Mak. Cerita


gadis itu mengalir, bagaimana hatinya rindu mengenal pencipta. Nilam cerita tentang Hanif dan keluarga Babe.


Mak terlihat berkaca, terharu mendengar putrinya banyak yang menyayangi.


Nilam meletakkan tangan di perut Mak, merapatkan badan dan merangkul tubuh kurus itu. Gadis ini mulai


melafazkan nama-nama Allah yang semakin menambah desir cintanya pada Illahi. Mak mendengarkan sambil menutup mata hingga tertidur.


Nilam mengulangi beberapa kali sepenuh hatinya. Desir rindu merayap memanaskan kelopak matanya, butiran


hangat mengalir bersama suaranya yang tersendat. Ia rindu ingin mendengar lagi suara bening mengalun  … juga rindu pada pemuda yang suka mengacak pucuk kepalanya.


Harapannya, pencarian besok berhasil. Tak terpikirkan apa jadinya mereka bertahan di sana tanpa makan dan minum ….


Gadis itu tertidur dalam hangatnya hati, wajah ia tempelkan pada lengan Mak.


Menjelang tengah malam, sesuatu dingin bergerak menyentuh ujung kakinya. Nilam terbangun, tapi mata berat membuka. Ia menggerakkan kaki, membalik badan terlentang, lalu kembali terlelap.


Nilam masih terlelap saat merasakan sesuatu dingin kembali menyentuh kulit betisnya, merayap perlahan naik, terasa panjang dan terus bergerak naik hingga ke perut. Gadis itu tersentak saat membuka mata. Membeliak ia melihat seekor ular hitam mendongak, mengarah ke wajahnya.


Tubuh Nilam kaku, tak bisa bergerak. Ia syok ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Hatinya mencoba berdoa pun terlupa apa yang akan dipanjatkan.


Tubuh Nilam tak bisa bergerak, melihat ular itu makin naik hingga ke dada. Ia pejamkan mata sekuatnya, menahan napas saat binatang itu mulai menjelajahi pipi. Hati berusaha mengingat kalimat istighfar, sayang hingga ular itu melewati kepalanya ia belum ingat satu kata pun.


Saat binatang itu menjauh, baru Nilam bisa menarik napas panjang, mengaturnya hingga tenang. Lengan Mak berusaha disentuh, sampai wanita itu terbangun.


“Kenapa gelisah?” tanya Mak pelan, matanya membuka sedikit melihat Nilam.


“A-ada ... ular ….” Nilam kembali meringkuk, menghadap Mak, berusaha ke tubuh wanita yang matanya kini membuka lebar.


“Ular? Mana?” Mak mengira Nilam bermimpi.


Nilam katakan kalau tadi ada ular merayapi tubuhnya. Mendengar itu Mak langsung terduduk. “Ya Gusti, ular apa?” gumamnya bertanya langsung memandang sekeliling.


Tatapannya bertemu tiga binatang melata keliaran di lantai, satunya melingkar dengan kepala mengarah pada mereka.


“Dari mana hewan itu masuk?” Suara Mak setengah bergumam. Wanita tua itu menggapai rotan pemukul kasur, di bawah tilam.

__ADS_1


“Hati-hati, Mak.” Nilam ikut duduk, bicara dari balik punggung ibunya.


Gerakan tangan Mak seakan-akan hendak memukul, menakuti hewan itu tapi tak jua pergi.


“Ya Allah, bantu kami ….” Doa mengalir dari bibir Nilam. Gadis ini melihat jam dinding, jarumnya menunjukan angka satu. Ia berniat salat malam jika ular itu pergi menjauh.


Al-Fatihah, satu-satunya surah yang dihafal Nilam meluncur lancar dari lidahnya.


Satu persatu binatang melata itu bergerak-gerak, lalu merayap keluar kamar.


Mak yang masih berusaha mengusir terhenti seketika. Wanita itu melongo heran, lalu cepat beralih pandang pada Nilam. Anaknya itu terpejam sampai sudut matanya mengkerut, terus mengucap kata asing di telinga Mak.


Wanita tua itu segera memeluk Nilam. Baru kali ini ada ular masuk rumah bahkan lebih dari satu. Bisa diartikan pertanda kurang baik untuknya sebagai orang desa, Mak merasa cemas akan terjadi sesuatu.


Ibu anak itu berpelukan beberapa saat.


“Mak jangan risau, Nilam sekarang pasrah saja sama rencana Allah …,” bisik Nilam.


Gadis yang biasa membawa suasana ceria ini mengusap lembut punggung Mak. Tubuh wanita tercinta yang semakin ringkih, ia harap sempat menemukan hidayah, mendapat ketenangan seperti yang dirasakannya sekarang.


Nilam menghabiskan sisa malam dengan berserah penuh, hingga perkiraan waktu mengerjakan sembahyang Subuh. Dalam tangis memohon keselamatan untuk Hanif  dan Juju.


Permintaan Nilam itu sama dengan keluarga Babe yang terjaga di sepertiga malam. Kyai Hamid di pondoknya juga tengah Tahajud berjamaah bersama ratusan santri, tak lupa mendoakan Hanif dan teman-teman yang belum bisa memberi kabar karena tak terjangkau sinyal komunikasi.


Kekuatan doa-doa itulah yang membuat Nilam kuat menjaga hati.


***


Pagi-pagi muncul suara riuh membuat Mak dan Nilam berlari keluar, meninggalkan masakan untuk sarapan.


“Ki Arya meninggal!” seru bapak-bapak menyampaikan berita itu pada Mak. Nilam memandang Hwa yang sejak tadi di luar rumah.


Empat warga itu saling timpal bercerita, bertemu mayat di bawah pohon beringin saat mencari teman Nilam. Anjing yang biasa mereka bawa mengarahkan ke sana. Menurut mereka, mulut dan mata lelaki itu terbuka. Tubuhnya juga mulai berbau, perkiraan meninggal sejak kemarin.


“Iya serem, lidahnya juga keluar,” timpal yang lain.


Rencananya warga akan segera menguburkan mayat di dekat hutan. Sebelum pamit, salah satu dari mereka memberikan jaket kulit berwarna hitam pada Nilam.


“Ini kami temukan terjatuh di tengah hutan, apa mungkin ini milik temannya?”


Nilam cepat meraihnya. Jaket milik Hanif itu robek di bagian punggung. Sekejap sesak menyumbat dada gadis ini, membayangkan sesuatu terjadi pada Hanif … lalu Juju? Sekejap ia menangis, segera dipeluk oleh Mak.


“Sabar ya, Mbak Nilam. Kami akan berusaha,” kata salah satu bapak itu mencoba


menenangkannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2