Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Dalam Kendali


__ADS_3

Hari hampir siang, setengan sebelas Juju sudah berangkat dari rumah. Sebelum bekerja ia akan ke kos Nilam dulu, gadis itu memang sudah mendapat izin tak masuk hari ini, oleh Hwa. Juju hanya ingin memastikan kondisinya saja.


Ponsel Nilam dihubungi tidak aktif sedari pagi, itu membuatnya khawatir.


Tanpa mampir ke rumah Babe, pemuda itu gegas mengayunkan langkah ke kos belakang. Nilam pasti sendiri, teman kos lain sudah berangkat kerja, Juju hanya merasa atas kejadian mengerikan tadi malam tak seharusnya Nilam ditinggal sendiri.


Melihat pintu tertutup rapat degup jantung Juju berdetak cepat, ada perasaan tak enak menghinggapi melihat ruang yang ditempati Nilam itu. Terasa suram.


“Nilam!” panggilnya sambil mengetuk pintu.


Tak ada jawaban.


Diulang lagi. Tetap hening.


Jangan-jangan … gadis itu kambuh lagi? pikirnya segera ke samping, menggedor jendela kaca bagian kamar,


Juju terpaksa menginjak tanaman di bawah jendela, demi merapatkan wajah pada kaca, mengintip ke celah gorden yang tak tertutup rapat. Matanya menangkap seseorang berambut panjang duduk di kasur, tempat Nilam berbaring lemah.


Gedoran keras diulangnya, terlihat kaget perempuan di dalam sontak menoleh ke kaca, tepat bertemu pandang dengan mata Juju di luar.


Sorot mata itu hitam dan tajam.


“Hei, siapa lo?! Buka pintunya!!” perintah Juju geram.


Kalau tak menahan diri mau dipukulkan kaca jendela di depannya untuk melihat lebih jelas keadaan di dalam.


Anehnya wanita itu tak jua bergerak, sampai Juju mengulangi gedoran lebih keras, baru segera berdiri, keluar kamar.


“Siapa loe?!” tanya Juju datar pada Suci begitu membuka pintu.


“Teman Nilam,” jawab Suci sedikit menunduk.


"Teman ...?!"


“Ju, Juju ….”


Suara Nilam dari dalam menahan kata yang hampir keluar lagi dari rongga mulutnya. Juju melihat sinis Suci sambil masuk ke kamar Nilam.


“Hei, Ni, gimana keadaan loe?” Juju duduk di lantai menghadap Nilam yang menggeliat, seperti bangun tidur.


Jam segini tidur? Apa gak salah? Juju menaruh curiga.


“Lapar, nih … kamu bawa makanan apa, Ju?” tanya gadis itu dengan mata mengerjap berat. Rasa kantuk tadi membuatnya tidur lagi. Mungkin masih efek lemas banyak keluar darah tadi malam, pikirnya.


“Gue bawain roti sama susu kedelai, nih.” Juju keluarkan isi plastik putih yang tadi dipegangnya.


Nilam mencoba akan duduk, tapi tertahan kepalanya yang terasa berat. Sigap Juju bantu dengan hati-hati.


Berdekatan begini membuat perasaan Juju tak menentu. Di otaknya sejak ikut ke kampung Nilam hari itu makin dipenuhi wajah gadis di depannya ini. Selalu hadir desir hangat menyesakkan rongga napas, seakan sulit meraup udara setiap ia melihat wajah Nilam

__ADS_1


Saat mengatur posisi bantal untuk menyangga kepala Nilam tanpa sadar kalau wajah mereka hanya menyisakan jarak beberapa senti. Juju tak bisa menahan diri untuk melihat setiap bagian dari wajah tu yang tampak sempurna di matanya. Wangi bunga dari rambut Nilam menggetarkan hati.


Nilam yang tadi sesekali mengerjap menahan beratnya kantuk, kini tersadar dengan mata membulat, bertemu wajah Juju tepat di depan mata.


Pandangan mereka bertemu. Saling menatap dalam beberapa detik.


Wajah Juju makin maju perlahan. Terhipnotis embusan napas segar Juju di dekat hidungnya refleks Nilam pejamkan mata. Menahan degup jantung sendiri juga mendengar suara jantung Juju seperti beduk bertalu.


“Ehm, ehm,” dehaman Suci sontak membuat Juju menarik badan mundur. Wajahnya merah dan salah tingkah.


Nilam perbaiki posisi duduk, meredam gugup.


“Eh, ya, Ju itu Suci, kawanku yang di kampung itu. Waktu di sana 'kan belum sempat dikenalin.” Nilam bicara sambil mengambil kue pemberian Juju. Segera melahapnya.


Bagaimana pun ia gugup juga melihat pemuda ini menatapnya begitu tadi. Tak biasanya Juju yang jail mendadak berwajah serius. Ini juga pertama Nilam dekat dengan lawan jenis. Sampai usia menginjak 24 tahun, belum pernah sekali pun pacaran, karena tujuannya adalah bekerja untuk bahagiakan Mak.


“Suci, ini Juju,” lanjutnya dengan mulut penuh. Beberapa serbuk isi roti keluar dari mulutnya.


Juju tak menoleh pada Suci yang akan mengulurkan tangan. Pemuda ini mengambil tisu basah membersihkan sekitar bibir Nilam.


Suci? Orang ini yang kasih kalung itu ‘kan? Mau apa dia di sini?


“Ju?” Tangannya yang masih menyapu mulut Nilam sambil melamun didorong, membuatnya kaget.


“Emang apa tujuannya ke sini?” sindir Juju untuk Suci tapi melihat ke wajah Nilam.


Juju berdiri, berbalik melihat perempuan yang tampak berwajah polos itu.


“Elo ‘kan yang kasih kalung batu ke Nilam? Apa coba tujuannya? Gara-gara kalung itu Nilam terganggu, elo ini teman apa musuh?!”


“Itu ....“ Suci meremas jemari tak berani melihat Juju.


“Ju, pliss jangan mulai lagi.”


Nilam coba meraba dada dan leher, lalu melihat Juju tajam. “Mana kalungnya. Pasti kamu buang, ya Ju?”


“Itu bahaya buat lo, Ni.”


“Bahaya apa itu cuma batu sungai? Kami ini sahabat dari kecil, Ju. Jadi tolong jangan bilang apa-apa lagi. Kamu tau apa tentang kami?”


Ada nyeri tersa dalam dada Juju melihat tatapan Nilam yang tajam, juga kalimat gadis itu seakan tertuju pada orang lain. Bukan teman dekatnya selama ini.


Kita juga sahabat, Ni … bahkan arti loe lebih dari sahabat di hati gue ….


Setelah terdiam beberapa detik Juju kembali bicara, “Baik, sorry. Gue ke sini … “ Nada Juju melemah, menggantung kalimat sebentar, lalu menoleh pada Suci yang masih berdiri kaku di tempatnya. “bisa elo keluar? Gue mau ngomong berdua,” ucapnya datar.


Suci gegas keluar kamar dengan bibir mengerucut.


Nilam membulatkam mata melihat gelagat Juju yang mendekat, sikap Juju terasa semakin beda di matanya.

__ADS_1


Pemuda berseragam kerja merah padu putih dan celana kain hitam itu mengambil duduk tepat di sisi Nilam.


Sebelum bicara ia terlihat berpikir keras, sambil menatap mata Nilam.


“Ni, gue serius mau lamar loe … bukan cuma sekadar karena khawatir, tapi gue sayang … gue jatuh cinta sama loe.” Meski bergetar, nada suara Juju lancar dan tegas.


Tatapannya kian lekat pada manik kecil di mata Nilam.


“Sudah lama gue rasakan ini, sebisa mungkin gue tahan, takut merusak hubungan kita. Sekarang ini penting, darurat. Loe itu dijadikan-“


“Tumbal, gitu?” Nilam menyela dengan sorot mata tajam.


Meski sisi hati Nilam merasakan desir halus melihat keseriusan Juju, ada sesuatu bergejolak di dalam sana yang membuatnya tak bisa mengendalikan ucapan sendiri.


“Aku belum mau nikah, dan … aku cuma anggap kamu teman, Ju. Enggak lebih.”


Kalimat Nilam bagai pisau belati karatan menembus dada Juju, telak. Napasnya terasa tercekat sulit menarik udara mengisi paru-paru. Dengan rahang menegang Juju menunduk, menatapi lantai beberapa saat.


Berusaha mengendalikan gejolak dalam diri, tangan Juju terkepal kuat. Kemudian ia mengangkat wajah, memaksakan senyum di bibir.


“Baiklah … gue gak apa-apa, Ni.” Juju menegadah ke langit-langit merasakan panas di pelupuk mata.


Masa ditolak nangis sih, Ju! Bodoh lu! Rutuknya pada diri sendiri.


“Gue lega sudah ungkapin semua.” Jemari Nilam kemudian diraihnya. “Semoga gue salah, dan loe baik-baik saja. Jangan lupa ibadah, ya, Ni. Sebaik-baiknya penolong itu hanya Tuhan, bukan manusia,” pesan Juju sebelum beranjak meninggalkan kamar Nilam.


Nilam terpaku di tempat, merasa telah melakukan kesalahan besar demi melihat kekecewaan di mata Juju, tapi ia juga tak bisa membuat keputusan harus apa sekarang. Seperti orang linglung, diam di tempat dengan tatapan kosong.


Bayangan gelap mengitari, berputar di sekitar tubuh Nilam.


Melihat Juju keluar Suci masuk ke kamar Nilam, menatap lama temannya itu dari garis pintu.


Kenapa kamu selalu beruntung, Ni? Di mana-mana semua orang tampak mudah menyukaimu ….


Suci pererat genggaman pada sesuuatu di tangan kanan, sembari melangkah perlahan. Pisau stainless kecil yang didapatnya dari dapur tadi.


Lakukan ... ini kesempatanmu ....


Suara menggema di gendang telinga Suci. Bersiap tangannya menangkup di dada, mengarahkan benda tajam itu ke bawah. Dua meter lagi ia akan membuat ancang-ancang menikam. Matanya lekat menatap tengah dada Nilam yang sedikit bersandar pada bantal.


Tubuh Nilam terdiam di tempatnya, dengan sorot mata gelap pekat, menatap kosong ke arah jendela tanpa kedip. Tidak ada yang ia rasakan selain mengambang di udara, terasa jiwa tak menyatu dengan raga.


Suci sudah berdiri tepat di sisinya, memandangi sejenak Nilam dalam naungan gelap reaksi makanan pemberiannya tadi. Senyum iblis dan kilat tajam mata mengiringi gerakan tangannya ke atas.


Brukk!!


Suara hempasan pintu mengagetkan Suci.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2