
Arumi benar-benar bingung, Arumi gelisah, Arumi kalut. Dia benar-benar merasa takut, apalagi kini Aldo semakin merintih kesakitan.
Seluruh bagian tubuhnya terlihat melepuh, semakin lama Aldo semakin kesakitan. Kini bahkan Aldo bukan hanya merintih, namun kini Aldo sudah mulai berteriak kesakitan.
"Arrgh! Sial, ini sakit. Arrgh!" kesal Aldo seraya memukul air.
Arumi terlihat serba salah, dia bingung harus berkata apa. Dia bingung harus berbuat apa saat ini. Dia hanya bisa berusaha untuk menenangkan Aldo.
"Sabar, Sayang. Mas harus sabar, tunggu sebentar lagi. Nanti akan ada suster yang mengantarkan obat untuk Mas," bujuk Arumi.
Aldo terlihat menatap Arumi dengan wajah penuh kekesalan, sedang dalam kesakitan seperti ini Arumi malah menyuruhnya untuk sabar.
Tentu saja dia tidak bisa sabar, karena rasanya begitu sakit dan panas yang begitu menyengat kulitnya.
"Bagaimana bisa sabar kalau sekarang tubuh Mas makin melepuh kaya gini," kesal Aldo.
Mendapatkan tatapan tajam dari suaminya dan juga mendapatkan ucapan yang tidak mengenakkan untuk dirinya, Arumi terlihat menghalang napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Arumi paham, sekarang Mas sudah dulu aja berendamnya. Aku takut malahan Mas akan masuk angin," kata Arumi yang tidak tega melihat kondisi Aldo.
Kini seluruh tubuh Aldo terlihat memerah, melepuh dan berair. Arumi sebenarnya sangat geli dan mual saat melihat luka-luka di sekujur tubuh Aldo, namun rasa cintanya yang begitu besar membuat Arumi bertahan dan ingin merawat Aldo.
"Tapi, Yang. Ini sakit banget, ini benar-benar sakit. Panas, rasanya panas sekali. Kulitku serasa terbakar, bahkan kini jantungku serasa susah untuk berdetak. Dadaku terasa sesak dan susah untuk bernapas, kepalaku juga sudah mulai pusing. Kayaknya aku mulai kekurangan oksigen," kata Aldo.
Aldo terus saja mengeluh, hal itu membuat Arumi merasakan perasaan antara kesal dan kasihan. Arumi secara diam-diam meminta suster untuk membawakan obat penenang untuk Aldo.
Hal itu dia lakukan agar Aldo bisa tidur selepas meminum obat itu, dia tidak mungkin menghadapi Aldo yang terus saja mengeluh.
"Sabar, ya, Mas. Sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang setelah Mas minum obat," bujuk Arumi.
"Ya, terserah apa pun katamu Arumi. Yang pasti aku sudah kesakitan, aku sudah tidak tahan," kata Aldo dengan nadanya yang sudah naik satu oktaf.
Semakin lama rasa sakitnya semakin parah, Aldo bahkan terlihat mencengkeram erat sisi dari buthup tersebut.
"Ayo, Mas. Kita ke kamar saja, kamu rebahan dulu aja. Nanti aku pakein salep sama minum obatnya biar cepat sembuh," kata Arumi.
"Memangnya temen kamu udah dateng?" tanya Aldo.
"Sudah, dia sudah di depan. Ayo, Mas. Kasihan dia nunggu lama," kata Arumi.
__ADS_1
Aldo menurut, dia terlihat bangun dan keluar dari buthup. Arumi dengan setia menuntun Aldo untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Mas, tunggu sebentar. Aku keluar dulu, mau ngambil obatnya dulu," pamit Arumi.
"Iya," jawab Aldo seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan kepada suaminya tersebut, Arumi langsung keluar dari kamar milik Aldo. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Saat pintu utama terbuka, nampaklah seorang suster wanita yang mengantarkan obat dan peralatan medis milik Arumi.
"Terima kasih ya, Sus. Sekarang kamu boleh kembali," kata Arumi.
"Iya, Dokter. Tapi, apakah anda akan lama di sini?" tanya Suster tersebut.
"Tidak lama, aku hanya akan memeriksa kondisi pasien saja. Sebentar lagi juga aku akan kembali, mungkin hanya telat sebentar," jawab Arumi.
"Ya, baiklah. Kalau begitu saya permisi," pamit Suster tersebut.
"Ya," jawabannya.
Setelah suster tersebut pergi, Arumi nampak menutup pintunya kembali. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Aldo, Aldo terlihat berbaring tanpa sehelai benang pun.
Kondisi tubuhnya benar-benar terlihat memprihatinkan, sebenarnya Arumi masih bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa ini semua bisa menimpa Aldo?
Arumi terlihat duduk di samping Aldo, dia mengusap puncak kepala suaminya tersebut dengan penuh kasih.
"Maaf ya, Mas. Diperiksa dulu," kata Arumi.
"Ya," jawab Aldo seraya meringis menahan sakit.
Arumi memulai memeriksa dari tensi darahnya, ternyata tensi darah Aldo naik. Mungkin dia merasa kesal dan marah-marah terus dengan kondisi yang dia alami saat ini.
Selesai memeriksa keadaan Aldo, Arumi langsung meminta Aldo untuk meminum obat antibiotik, anti nyeri dan juga obat penenang yang sudah dia siapkan.
"Minum dulu, Mas." Aldo berusaha untuk duduk, lalu dia meminum obatnya.
Setelah itu, Aldo nampak merebahkan tubuhnya kembali. Sedangkan Arumi langsung mengolesi salep ke sekujur tubuh Aldo.
Sesekali Aldo terlihat meringis, karena setiap kali tangan Arumi menyentuh tubuhnya terasa sakit dan juga panas.
__ADS_1
"Apakah obatnya manjur, Yang?" tanya Aldo.
"Tentu saja, Mas. Obatnya sangat manjur, semoga saja kamu akan cepat sembuh," kata Arumi.
"Ya," jawab Aldo.
Setelah selesai memeriksa dan mengobati Aldo, Arumi nampak perpamitan kepada suaminya tersebut.
Karena dia tidak bisa berlama-lama di sana, masih ada tugas yang harus dia kerjakan.
"Aku pergi ya, Mas," pamit Arumi.
Arumi terlihat menunduk, lalu dia mengecup bibir Aldo beberapa kali. Aldo tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Pergilah, Yang. Kamu memang masih punya tugas mulia di Rumah Sakit, walaupun sebenarnya aku masih ingin kamu rawat. Tapi, aku tahu jika kamu tidak bisa meninggalkan tugas kamu begitu saja," kata Aldo.
Sebenarnya Aldo masih ingin dirawat oleh Arumi, dia ingin ditemani oleh istrinya tersebut.
Namun, dia tidak bisa egois. Karena memang Arumi mempunyai tugas yang harus dilaksanakan sebagai dokter.
"Terima kasih, Mas. Atas pengertiannya," ucap Arumi.
Setelah berpamitan, Arumi terlihat pergi dari kediaman Aldo menuju Rumah Sakit. Selepas kepergian Arumi, Aldo langsung bangun.
Dia segera mengunci pintu rumahnya, lalu dia masuk ke dalam kamar khusus milik Nyai Ratu. Dia berusaha meminta bantuan dari siluman itu.
"Nyai, kamu di mana, Nyai? Datanglah!" pinta Aldo.
Berkali-kali Aldo memanggil-manggil nama Nyai Ratu, sayangnya dia tidak kunjung datang. Aldo yang memang diberikan obat penenang oleh Arumi, merasa sangat mengantuk.
Akhirnya Aldo memutuskan untuk tidur di atas ranjang milik Nyai Ratu, ranjang di mana tempat dia selalu bercinta dengan Nyai Ratu dengan penuh gairah.
Ranjang yang dikhususkan untuk menumbalkan wanita yang masih perawan untuk Nyai Ratu, wanita yang masih belia untuk mempercantik dirinya.
*
*
Masih berlanjut.
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung karya Othor ini, terima kasih juga untuk kalian yang selalu memberikan like, comment dan juga hadiahnya.
Karena hal itu merupakan hal yang paling berharga untuk Othor, kalian luar biasa. Semoga sehat selalu dan murah rezeki.