
Arumi benar-benar merasa tidak percaya jika ternyata selama ini Aldo memuja siluman ular, wanita siluman yang mempunyai ribuan tipu daya.
Aldo rela melakukan hal itu karena ingin mempunyai banyak uang dan bisa menikahi dirinya, sungguh dia merasa sangat bersalah akan hal itu.
Dia merasa Ikut andil dengan apa yang telah Aldo lakukan, dia merasa sangat kasihan akan nasib suaminya saat ini.
Begitupun dengan pak Didi, dia merasa bersalah karena dia pernah memaki dan mencaci Aldo. Entah kenapa dulu dia merasa begitu membenci Aldo.
Padahal setiap mereka bertemu, Aldo selalu bersikap sopan terhadap dirinya. Walaupun Aldo berasal dari keluarga kurang mampu, tapi Aldo selalu gigih dalam mencari rezeki.
Bahkan Aldo merupakan penjual tempe yang jujur, dia tidak pernah curang dalam memakai bahan-bahan baku membuat tempe.
"Nak Aldo!" panggil Pak Didi.
"Hem," jawab Aldo.
Aldo hanya menjawab panggilan dari pak Didi dengan gumaman saja, karena kini mulutnya pun terasa sangat sakit.
Bahkan matanya pun terasa begitu sulit untuk dibuka, kesakitan yang Aldo rasakan semakin bertambah parah. Sekujur tubuhnya semakin terasa panas dan perih.
Pak Didi terlihat memperhatikan tubuh Aldo yang begitu mengenaskan rasanya dia ingin menangis jika melihat keadaan Aldo saat ini Pak Dede lalu terlihat menghela nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan
"Maafkan Bapak, Nak. Karena dulu Bapak pernah menolak kamu dengan cara yang kasar," kata Pak Didi tulus.
Dalam hati Aldo merasa senang sekali, karena pada akhirnya pak Didi mau meminta maaf kepada dirinya. Karena terus terang saja, Aldo sempat begitu membenci mertuanya tersebut.
Walaupun rasa benci itu terkikis sedikit demi sedikit dengan rasa cintanya terhadap Arumi yang begitu besar, Aldo sudah memaafkan.
Begitupun sebaliknya, Aldo ingin sekali bersimpuh di kaki pak Didi dan meminta maaf kepada mertuanya tersebut.
Karena dia pernah bermaksud untuk menghancurkan usaha milik pak Didi, bahkan Aldo pernah menyimpan telur busuk di salah satu penginapan milik pak Didi.
"Hem," jawab Aldo seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Dia sungguh ingin sekali berbicara banyak dengan mertuanya tersebut, sayangnya mulutnya benar-benar perih.
Bahkan makanan pun sudah tidak masuk ke dalam mulutnya, Arumi dengan telaten memblender buah-buahan.
Bahkan dia membuat bubur dan menyaringnya terlebih dahulu, agar buburnya terlihat lebih cair lagi dan Aldo bisa memakannya dengan mudah.
"Cepatlah sembuh, Bapak keluar dulu. Ini sudah malam, beristirahatlah," kata Pak Didi.
"Hem," lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
Setelah berpamitan, pak Didi terlihat keluar dari dalam kamar Arumi. Dia juga butuh untuk beristirahat.
Selepas kepergian pak Didi, Arumi terlihat duduk di tepian tempat tidur. Kemudian, dia tatap wajah suaminya yang terlihat begitu mengenaskan.
Dia ingin sekali mengelusi suaminya, dia ingin sekali mengecupi wajah suaminya agar suaminya itu lebih bersemangat lagi. Namun, dia takut malah akan menyakiti kulit Aldo.
"Mas!" panggil Arumi.
"Hem," jawab Aldo.
"Hem," jawab Aldo.
Arumi menangis sesenggukkan seraya menatap wajah Aldo, dia benar-benar merasa sangat Iba terhadap suaminya tersebut.
Mendengar istrinya menangis, Aldo merasa sangat sedih. Namun, sayangnya dia tidak bisa menenangkan istrinya tersebut.
Dia ingin sekali berkata jika dirinya baik-baik saja, semuanya sudah terjadi. Kini, Aldo akan menyerahkan semuanya terhadap sang Khalik.
Jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, maka Aldo akan memperbaiki dirinya sebaik mungkin.
Namun, jika Aldo sudah mencapai batas usianya, maka Aldo akan tetap bersyukur. karena dia sempat bertaubat terlebih dahulu.
Akan tetapi, satu hal yang Aldo ingin minta dari Tuhan. Semoga Tuhan menjaga Arumi dan selalu memberikan kebahagiaan kepada wanita yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Setelah puas menangis, Arumi terlihat merebahkan tubuhnya di samping Aldo. Ingin sekali dia memeluk suaminya, sayangnya tidak bisa.
"Selamat tidur, Mas. Semoga Mas cepat sembuh," kata Arumi.
Setelah mengatakan hal itu, Arumi mencoba untuk segera tidur. Berbeda dengan Aldo, matanya memang terlihat terpejam, sayangnya dia tidak bisa tidur karena merasakan sakit yang luar biasa.
***
Pagi pun telah menjelang, adzan subuh telah berkumandang. Pak Didi terlihat melaksanakan shalat subuh berjamaah di dalam kamar putrinya.
Hal itu sengaja mereka lakukan agar Aldo bisa ikut salat berjamaah dengan dirinya, walaupun hanya dengan mengedipkan matanya saja.
Baru saja pak Didi dan Aldo menyelesaikan shalat subuh, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang berteriak di luar rumah pak Didi.
Suaranya terdengar gaduh sekali, bahkan terdengar orang berteriak dengan suara yang sangat lantang dan panik.
Karena penasaran, akhirnya pak Didi dan juga Arumi terlihat meninggalkan Aldo. Lalu, mereka melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Benar saja, saat pintu terbuka orang-orang terlihat begitu panik. Bahkan mereka terlihat berlomba-lomba untuk berbicara kepada pak Didi dan juga Arumi.
"Tolong tenang dulu, katakan ada apa sebenarnya!" kata Pak Didi.
"Anu, Pak. Anu, Rumi. Rumah Aldo kebakaran," adu salah satu warga.
Aldo dan juga Arumi terlihat sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh warga, kemudian mereka saling pandang dan akhirnya mereka pun ikut pergi dengan para warga untuk melihat rumah Aldo yang terbakar.
Tiba di perumahan elit tersebut, benar saja, kobaran api begitu besar. Api itu terlihat meliuk-liuk bagaikan orang yang sedang marah dan mengamuk di rumah Aldo.
Herannya, hanya rumah Aldo saja yang terbakar. Padahal di samping kanan dan kiri rumahnya Aldo juga masih ada rumah, tapi api tersebut sama sekali tidak menyambar.
Dalam waktu sebentar saja rumah Aldo menjadi santapan yang lezat untuk si jago merah itu, sungguh semuanya di luar nalar manusia.
"Ya Tuhan, mungkin ini caramu untuk menguji mas Aldo," kata Arumi lirih.
__ADS_1
***
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.Aku sudah dua hari up dan tidak lolos review.