
Kini Rehan dan juga suster Camelia sudah berada di dalam Cafe yang berada tepat di depan Rumah Sakit, mereka kini sedang duduk saling berhadapan
Rehan terus saja menatap wajah suster Camelia yang tertutup hijab lengkap dengan cadarnya, suster Camelia terlihat merasa tidak nyaman.
Bahkan, seringkali dia memalingkan wajahnya hanya untuk menghindari tatapan dari Reihan. Reihan tersenyum menyadari akan hal itu, tapi Reihan suka.
Dia terus aja memperhatikan wajah suster Camelia, bahkan dia juga memperhatikan tingkah dari suster Camelia yang terlihat melebihi gugup dari sebelumnya.
"Tolong katakan apa maksud anda mengajak saya bertemu?" tanya Suster Camelia.
"Jangan terburu-buru, kita baru saja sampai. Bagaimana kalau kita memesan minum dan juga camilan?" tanya Reihan.
"Saya tidak punya banyak waktu, saya harus segera pulang. Ini sudah sore," jawab Suster Camelia.
"Oh, ayolah Nona cantik. Kita sudah masuk ke dalam Cafe, masa iya tidak memesan makanan dan minuman. Nanti kita akan diusir," ucap Reihan mencoba menahan suster Camelia agar tidak segera pulang.
Suster Camelia terlihat berdecak sebal, dia merasa jika Reihan sedang mempermainkan dirinya. Lagi pula suster Camelia memakai kerudung dan bercadar, mana mungkin Reihan bisa melihat wajahnya.
Suster Camelia merasa jika Reihan terlalu mengada-ngada, bagaimana bisa dia memanggil nona cantik kepada dirinya.
"Ya, Sudah. Cepetan pesan minum, setelah itu kamu ngomong," kata Suster Camelia.
Reihan tersenyum karena pada akhirnya dia bisa menahan suster Camelia agar bisa lebih lama lgi berduaan bersama dengan dirinya.
Walaupun pada kenyataannya memang di Cafe tersebut banyak orang yang sedang berkunjung dan menikmati waktu santai di saat sore tiba.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memesan minuman, kamu mau pesan juga tidak?" tanya Reihan.
"Tidak usah," jawab Suster Camelia.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi memesan. Aku mau lihatin wajah kamu aja, nanti juga bakalan kenyang," kata Suster Camelia.
"Ih! Kamu nyebelin!" kata Suster Camelia.
Reihan tertawa renyah,kemudian dia bertanya kembali.
"Ayo cepat mau minum apa? Kalau misalkan tidak ngomong lagi, berarti itu artinya kamu ingin berlama-lama berdua denganku,"kata Reihan.
"Ya ampun, baiklah. Aku mau minum teh hangat saja," kata suster Camelia pada akhirnya.
Reihan tersenyum, kemudian dia memesan dua gelas teh hangat dan juga cake coklat untuk mereka berdua.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan yang sudah Reihan peaan.
Reihan dengan cepat mengambil teh hangat gatau dan menyesapnya. Camelia hanya bisa menatap Reihan yang sedang memakan cake tersebut dengan sangat lahap.
Sesekali dia terlihat menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Sungguh dia merasa dipermainkan oleh Reihan, katanya mau bicara, tapi Reihan seolah mengulur waktu.
Bahkan, boleh dikatakan jika Reihan memang langsung suka kepada suster Camelia pada saat pandangan pertama.
Setelah menikmati secangkir teh hangat dan juga cake yang dia pesan, akhirnya Reihan mulai berbicara.
"Jadi begini, Nona Cantik. Kalau boleh, aku ingin melamarmu," kata Reihan.
Mendengar apa dikatakan oleh Reihan, mata suster Camelia langsung membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka ada seorang pria yang berkata Ingin melamar dirinya, bahkan mereka belum saling mengenal.
"Jangan bercanda, kita itu belum saling mengenal. Kenapa tiba-tiba anda mau melamar saya?" tanya Suster Camelia
"Aku memang belum mengenal kamu, Nona. Namun, sungguh aku serius dengan ucapanku. Aku ingin melamarmu, aku ingin menikahimu," jawab Reihan pasti.
__ADS_1
Suster Camelia tersenyum di dalam hatinya, karena baru kali ini ada seorang pria yang nekat ingin melamarnya bahkan belum saling mengenal.
"Aku mau bertanya sesuatu kepadamu, boleh?" tanya Suster Camelia.
Reihan terlihat menegakkan tubuhnya dan siap untuk mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh suster Camelia terhadap dirinya.
"Tentu saja boleh," jawab Reihan.
"Baiklah, sekarang aku bertanya kepadamu. Bagaimana kalau wajahku ini buruk rupa? Bagaimana jika tubuhku ini penuh dengan kurap dan kutu air? Bagaimana jika aku setiap harinya memakai cadar dan gamis panjang hanya untuk menutupi lukaku?" tanya suster Camelia.
Reihan terdiam, tapi walaupun suster Camelia mengatakan hal seperti itu. Namun, Reihan merasa jika suster Camelia merupakan sosok wanita yang begitu cantik.
Justru dia sengaja memakai baju syar'i dan juga cadar untuk menyembunyikan wajah cantiknya.
"Terserah apa pun yang akan kamu katakan, Nona. Akan tetapi, aku akan tetap melamarmu. Aku ingin menikahimu, maukah kamu menjadi istriku?" tanya Reihan menggebu.
Suster Camelia nampak tertawa, Reihan berkata ingin melamarnya. Reihan berkata ingin menikah dengan dirinya.
Namun, Reihan sama sekali tidak membawa tanda mata sebagai bukti dia ingin melamar dirinya. Entah itu berupa cincin atau apa pun itu, yang penting bisa dijadikan sebagai pengikat.
Suster Camelia menatap Reihan, kemudian dia berkata.
"Kalau memang kamu ingin menikahiku, datanglah ke rumah secara baik-baik. Mintalah aku langsung kepada kedua orang tuaku, permisi!" kata Suster Camelia.
Setelah mengatakan hal itu, suster Camelia nampak pergi dari Cafe. Sedangkan Reihan hanya bisa melongo sambil menatap kepergian suster Camelia.
"Haish! Dia semakin membuat aku jatuh cinta," kata Reihan.
***
__ADS_1
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.