
Mentari sudah mengintip di ufuk Timur, bersiap keluar membagi hangatnya pagi.
Di kamar bernuansa pink, perempuan bermata kecil mengerjap. Matanya terbuka menerima terang yang
masuk dari celah ventilasi. Beberapa saat ia mencoba mengembalikan kesadaran, mengingat apa yang terjadi semalam.
Lalu tersentak seakan menyadari sesuatu, ia terduduk. Rambutnya kusut masai disibak ke belakang telinga. Seingatnya tadi malam ia di lantai, tapi sekarang sudah di tempat tidur Nilam.
Lalu ....
“Nilam?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Mata disapu ke sekitar, tak menemukan gadis itu.
Apa aku berhasil? Nilam … hilang tanpa jejak …?
Suci membulatkan mata, berdiri sambil memekik di hati, tangan terkepal, merasa usahanya tak sia-sia. Meski masih lemah, ia seakan mendapat energi baru, akan segera pulang sebelum penghuni lain mengetahui semua.
Perempuan itu menguncir cepat rambutnya, meraih tas. Mengintip di luar masih terdengar sepi, ia harus bergegas
sekarang.
Langkah cepat Suci keluar kamar. Sebelum kunci pintu depan diputar, terdengar suara tak asing menghentikan gerakannya.
“Suci? Kamu mau ke mana?”
Nilam muncul dengan gulungan handuk di kepala. Aroma segar sampo dan sabun menguar dari tubuhnya.
Mata Suci membelalak, seakan bola mata akan meloncat ke luar.
“Ni-Nilam …?” Suaranya tersendat bernada penuh tanya.
“Ci, kamu kenapa?” Nilam mendekat, memegang tangan Suci.
Wajah Suci makin pasi, tangan Nilam terasa nyata dan … gadis itu rupanya masih ada.
“Eh, eng-nggak pa-pa, Ni. Ma-mau pulang.” Suaranya gemetar, sama seperti tubuh dan kakinya kini. Tali tas digenggamnya kuat.
“Jangan pulang dulu, kamu kayaknya sakit. Istirahat aja dulu, ya.”
Suci menuruti Nilam kembali ke kamar. Duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tasnya.
Tentu tak akan pulang, apa jadinya kalau tugas belum selesai dan akan mendapat akibatnya oleh si lelaki tua.
Nilam terlihat tenang membuka tirai jendela, sambil cerita kalau ia tadi kaget bangun kesiangan. Ternyata masih ngaji Subuh dan Nilam bisa salat tepat waktu.
Gadis itu juga mengatakan kalau kendi yang pecah di luar sudah dibersihkan. Membuat Suci terdiam tak tahu
harus menjawab apa.
“Aku keluar dulu mau belikan sarapan buat kita,” kata Nilam setelah kembali meminta Suci beristirahat.
Nilam mengenakan sweater warna kulit, menutupi kaus kuning pisang berpadu dengan celana aladin hitam bersiap keluar. Kendati tanpa make-up wajahnya terlihat menarik. Rambut basahnya dibiarkan tergerai.
Pagi ini Nilam merasa lebih segar.
Suci mengangguk kecil dan memperhatikan punggung Nilam sampai keluar kamar.
“Aneh,” gumam Suci resah.
Sepeninggal Nilam, ia berpikir keras, penuh tanya kenapa Nilam tampak baik-baik saja. Apa itu yang dikatakan lelaki tua kalau temannya itu sulit didapatkan.
Waktu tersisa di sini akan habis. Kemarahan si lelaki tua sudah memuncak akan ketidakbecusannya. Suci
tahu, kesempatan mendapatkan tumbal kesembilan semakin sempit. Tubuh Nilam sepertinya amat kebal. Dan, Suci tak ingin menjadi korban kemarahan oleh si lelaki tua tanpa membawa hasil.
Akan tetapi, ia juga tak punya cara selain yang diperintah lelaki itu. Semua sudah dilakukan.
Sebenarnya Suci sudah ingin segera pulang, rumah ini sering berubah sangat panas untuknya. Suci bergidik bila mengingat panas seperti ada bara yang dekat dengan tubuhnya.
Perempuan berwajah manis itu memeluk tubuh di sisi kasur, memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang.
***
Nilam kembali masuk pagar membawa seplastik barang belanja. Nasi campur dan kerupuk dari warung makan
di ujung jalan.
“Alhamdulillah, sudah sehat, nih, Nilam?” Babe menyapa sambil menyemprot burung piaraan.
“Alhamdulillah, sehat, Be. Hari ini masuk kerja lagi.” Nilam menghentikan langkah.
“Gimana temen lu yang dari kampung itu, ada?”
“Ada, Be. Tadi mau balik, tapi Nilam suruh tinggal dulu sementara, wajahnya pucat, mungkin masih capek.”
“Ohh, iya kagak ape-ape, lu baik-baik ye.”
“Iya, Be. Ni-“ Baru akan pamit ke belakang mulut Nilam terkunci, melihat seseorang bertubuh tinggi, berkulit wajah bersih menenteng sepatu ke luar.
__ADS_1
“Hanif mau ke Pondok Guru Hamid dulu, Be,” kata pemuda tegap itu tanpa perhatikan sekitar, duduk akan memakai
sepatu hitam bahan kulit itu.
“Iye, bawa tuh mobil jan naik motor terus entar gosong,” gelak Babe sambil melirik Nilam yang menganga melihat kehadiran Hanif.
“Kenalin tuh, Nif, Nilam.” Babe mencolek bahu Hanif yang tengah menggosok debu di ujung sepatu.
“Eh, man-a …?” huruf ‘a’ terakhirnya terdengar samar, karena Hanif juga terlihat kaget melihat Nilam berdiri memandanginya lekat.
Gadis itu ...?
Hanif segera menguasai keadaan.
“Eh, Hai, Assalamuallaikum.” Telapak tangan lebar itu menangkup di dada, membuat Nilam salah tingkah.
Wajah gadis itu memerah seperti udang rebus, bingung mau lihat Babe apa Hanif. Lalu ikut menangkup tangan juga sambil membalas salam Hanif.
“Ehmm!” deham Babe sengaja kencang. “Ini anak bungsu Babe yang baru pulang.”
“Ohh, i-iya, Be.” Nilam masih terlihat gugup, menghilangkannya dengan memegang kepala.
Gantian lelaki berperut buncit itu menoleh kedua orang yang mencurigakan hatinya.
Hanif seperti susah bicara.
“Nilam, entar si Juki jemput elu 'kan… udah sono, temannya pasti udah nungguin,” ujar Babe.
“I-iya, Be. Mari ….”
Nilam mengangguk kecil pada Babe dan Hanif.
“Iyee,” kata Babe kembali menowel bahu Hanif yang memutar badan perhatikan punggung Nilam.
“Dosa mata,” peringat Babe sambil tertawa.
“Bukan, Be. Itu kayak ada hitam ngikutin di atas punggungnya …,” jelas Hanif sambil berdiri membuat Babe terdiam, ikut melihat punggung Nilam yang akan belok terhalang pandang oleh tembok.
Sementara itu, Nilam sambil berjalan berusaha mengingat-ingat wajah Hanif. Sama persis dengan Pangeran yang hadir dalam mimpi dan menyelamatkannya dari penyihir berjubah hitam tadi malam.
Bahkan lelaki berpakaian putih di mimpi itu sempat mengangkat tubuh Nilam, yang awalnya tergeletak di rerumputan. Ia masih bisa mengingat jelas wajah itu. Orang yang dikira Pangeran olehnya.
Kenapa itu anak Babe? Pikirnya belum mengerti.
Di halaman, Nilam bertemu Dian baru keluar kamar akan berangkat kerja. Spontan ia mendekat, seperti biasa
Begitu pun Tri dan Dara, keluar, melengos melewatinya begitu saja.
Hati Nilam merasa nyeri tak terhingga. Sakitnya rasa tak dianggap oleh orang terdekat.
“Nilam, boleh bicara sebentar?” suara Pangeran yang merdu memanggil membuat Nilam membalik badan
cepat. Ia sudah di depan pintu tadi.
Ternyata itu bukan Pangeran, tapi Hanif dan … Babe mengawasi dari jarak lima meter. Lelaki paruh baya itu berpura melihat-lihat bangunan kosnya, menghindari tatapan jenaka Nilam.
“I-iya, boleh, Bang.” Nilam meremas jemari. Kresekan suara plastik sampai terdengar di tangannya.
Hanif menyodorkan buku saku kecil. “Ini Asmaul Husna, surat-surat pendek juga, kamu baca kalau pas
santai. Jangan pernah kosongkan pikiran,” pesan Hanif dengan nada suara jelas dan tegas. Ia merasa itu cukup membantu Nilam sementara, sebelum bertukar pikiran dengan gurunya yang seorang Kyai di Pondok Pesantren besar pinggiran ibu kota.
Nilam mengangguk menerima.
“Iya, makasih, Bang.”
“Itu aja. Ibadah tepat waktu, ya.”
“Iya.”
Hanif dan Babe melangkah menuju depan, diiringi tatapan penuh arti Nilam.
Suara itu … sama dengan kalimat Pangeran di mimpinya semalam.
Ibadah tepat waktu ….
Suci yang mengintip dari jendela kamar segera berpura baring begitu Nilam masuk.
***
Malam hari sepulang bekerja Juju mampir sebentar sebelum pulang. Betapa lega hati melihat Nilam baik-baik saja seharian ini. Malah hampir seperti sebelumnya, ceria dan tampak segar. Ibadah juga tak tinggal di mushola lantai atas. Waktu kosong diisinya dengan membaca buku pemberian Hanif yang disimpan di saku seragam.
Kehadiran Hanif di rumah Babe memang berdampak pada Nilam. Juju berharap semua kembali seperti semula
lagi.
Malam dilalui dengan sangat tenang, Nilam tidur begitu lelap. Suci memang gelisah karena panas, sampai
turun baring di lantai, tapi tak ada suara mengganggu, yang memerintahkannya melakukan sesuatu.
__ADS_1
Sampai pagi ini ... ia tiba-tiba terbangun langsung duduk.
Kembali bisikan muncul di gendang telinganya. Suara berat itu memaksanya berbuat sesuatu di hari terakhir kesempatan di sini.
Tidak ada waktumu lagi! Kau tak akan mendapatkan apa-apa kalau gagal!
Mata Suci memicing menangkap dan memahami petunjuk yang dimaksud. Kemudian beralih pandang pada
Nilam yang masih tertidur di atas kasur. Suci melirik jam di dinding, menunjukan angka enam tepat.
Nilam terlewat ibadah Subuh, tidurnya begitu nyenyak. Suara ponsel beberapa kali berbunyi tak jua membangunkannya.
Suci merangkak, meraih benda layar datar yang tak pernah ia miliki itu. Pandangannya bergantian antara Nilam benda menyala di tangan.
“Kamu baik, Ni. Sayangnya, aku nggak bisa sepertimu,” gumam Suci pelan.
Ia menyentuh layar, jarinya tepat pada lambang chat masuk tiga puluh satu pesan. Tangan kasar itu bergetar mencoba menyentuh kembali. Pesan dari kontak Juju Comel mengingatkan Nilam salat subuh dan berhati-hati padanya.
Di panggilan telepon juga sudah 15 kali tak terjawab.
Tiba-tiba ponsel itu kembali bersuara memekak dan bergetar, menampakan wajah pemuda tersenyum manis.
Video call!
Perempuan dukuh ini terkejut, ponsel itu terlempar hingga berserakan di lantai, sampai beberapa bagiannya terlepas.
“Suci?” Nilam terbangun melihat Suci berdiri memandang lantai.
“Maaf, Ni. Itu tadi bunyi terus, aku cuma mau lihat …” katanya gugup.
Nilam mencoba duduk, kebanyakan tidur membuat kepalanya terasa berat.
Suci terpaku sejenak, kemudian bisikan itu kembali menderu memerintahkannya cepat bertindak. Ia segera
ke dapur. Mengambil sisa abu yang tersisa di sudut belakang kemarin, dicampurnya di gelas minum Nilam. Sesuai petunjuk lelaki tua.
“Ni … minum dulu,” kata Suci saat sudah di sisi Nilam.
Gadis berambut coklat itu memegang kepala, juga memijat-mijat keningnya. Nilam menatap Suci yang tengah menyodorkan gelas dengan tangan gemetar.
“Ci ….”
Suci tak menjawab. Tubuh dan lidahnya kelu. Pikiran perempuan ini bercampur aduk. Perang di dalam batinnya tengah hebat, memudarkan akal sehat yang ia miliki.
“Suci?” Tak mendapat respon, Nilam menyentuh tangan temannya itu. Terasa sekali kalau Suci makin gemetar.
“Kita sahabat, kan?” tanya Nilam setengah bergumam.
Suci tercekat, tenggorokannya serasa mengering. Ia menarik kembali gelas yang tak kunjung Nilam ambil ke pangkuan.
Saat telapak lembut Nilam terlepas darinya, perasaan tak enak muncul di hati Suci.
“Aku tau alasan kamu berendam di bak,” Nilam menarik napas. “Juju benar, kan, Ci?” Suaranya bergetar, dari sudut mata Nilam keluar air bening. Jelas ia merasakan firasat tak baik dalam gelas Suci.
“Kenapa, Ci … aku salah apa?” tanya Nilam berkata sambil terisak.
Dua sisi kepala ditekan Nilam dengan telapak tangan, ia merasakan ada nyeri di sana.
Suci masih terdiam seribu basa, lalu memutar badan membelakangi Nilam. Hatinya tahu Nilam pasti sakit, tapi
semua ini terlanjur terjadi.
Awalnya, sungguh bukan kesengajaan. Saat Nilam hari itu datang ke rumahnya, ia tengah menyesali kesepakatan dengan lelaki tua itu. Perjanjian membantu mencari tumbal kesembilan.
Semua warga telahmmenyadari kejadian aneh dari hilangnya dua gadis terakhir. Banyak yang segera
berpindah ke luar kampung, membawa gadis-gadis mereka sebelum dijadikan korban selanjutnya. Itu membuat ia kesusahan mendapatkan sasaran.
Sementara, kehadiran Nilam yang tampak bersinar hari itu, kembali memunculkan dengkinya yang terpendam.
Nama Ki Arya refleks Suci sebut saat itu, sebagai penanda kehadiran Nilam. Tak disangka, gadis itu sangat disukai, hingga diberi tanda sebagai tumbal kesembilan.
Tak bisa mundur lagi, semua sudah terjadi. Suci terlanjur menerima risiko, seperti yang disepakati di awal dengan lelaki tua itu. Ia meremas gelas sambil mengatur napas.
Perempuan yang masih memakai piyama milik Nilam ini membalik badan. Mengarahkan mata tajam pada wajah temannya itu.
“Minum, Ni. Jangan berpikir macam-macam,” ucapnya setenang mungkin.
Benaknya selalu berkata, tak ada pilihan untuk tak melanjutkan semuanya.
Nilam duduk tegak. Tenggorokan yang kering membuatnya tak tahan untuk tidak mengambil gelas itu.
“Aku melihat isi tasmu … kendi itu ...“ Nilam menatap isi gelas. “aku hanya mau tau, Ci. Kenapa?” tanyanya ulang menanti penjelasan Suci.
Memegang lemah gelas di tangan, hati Nilam kecewa. Rasa sayang darinya tak mampu membuat Suci sadar.
“Minum, Ni. Minum!” Suci menyambar gelas, mengarahkan ke mulut Nilam hingga sebagian tertelan.
Bersambung ….
__ADS_1