Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Diterima


__ADS_3

Reihan terlihat begitu bersemangat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suster Camelia.


Dia terlihat begitu bahagia karena pada akhirnya suster Camelia mau menerima dirinya, setidaknya itulah yang Reihan tanggap dari ucapan wanita berstatus sebagai perawat tersebut.


Dua hari setelahnya, Reihan nampak datang ke kediaman suster Camelia. Dia datang bersama dengan bapaknya, pak Ridwan.


Dia juga mengajak pak Didi, Arumi dan juga Aldo sebagai pihak dari keluarga pria. Reihan membawa hantaran yang banyak dan juga membawa cincin emas berlapiskan berlian.


Cincin itu dia jadikan sebagai pengikat untuk cintanya terhadap suster Camelia, wanita yang mampu dengan cepat menggetarkan hatinya.


"Ehm, jadi... apa maksud dari kedatangan Nak Reihan ke sini?" tanya Ayah Suster Camelia.


"Ehm, saya mau meminta Camelia kepada Bapak. Saya ingin menjadikan Camelia sebagai istri saya," kata Reihan mantap.


"Tapi, selama ini putri saya selalu memakai cadar. Apa kamu tidak akan kaget dan kecewa jika saat melihat wajah anak saya nanti?" tanya Ibunda Suster Camelia.


"Tidak akan, saya mencintainya karena Allah. Saya mencintainya karena kebaikan akhlaknya, saya merasa sangat cocok dengan kepribadiannya. Saya yakin tidak akan menyesal," kata Reihan lagi.


Ayahanda dari suster Camelia merasa senang dengan jawaban dari Reihan, dia merasa yakin jika melepaskan putrinya untuk lelaki yang bernama Reihan itu.


"Saya hanya orang tuanya, saya tidak berhak untuk menjawab. Jadi, untuk keputusannya saya serahkan kepada putri saya," kata ibunda suster Camelia.


Ayah dari suster Camelia terlihat menatap Camelia dengan lekat, kemudian dia bertanya putrinya tersebut.


"Sayang, apakah kamu akan menerima lamaran dari Nak Rehan?" tanya Ayahanda suster Camelia.


"Kami tidak akan memaksa jika kamu belum siap untuk menikah, tapi jika kamu merasa cocok dengan Nak Reihan, kami merestui," kata Ayahanda suster Camelia.

__ADS_1


Suster Camelia terlihat menatap ayah dan ibunya secara bergantian, mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Suster Camelia membalas senyuman dari kedua orang tuanya, kemudian dia ikut menganggukkan kepalanya dan berkata.


"Ya, saya bersedia," kata Suster Camelia.


Reihan langsung bersorak karena dia begitu senang, dia terlihat melompat kegirangan. Reihan bak anak kecil yang mendapatkan persetujuan dari ibunya untuk pergi jalan-jalan.


"Oh, ya ampun. Aku sangat senang," kata Reihan.


Reihan nampak menghampiri suster Camelia, lalu dia berjongkok tepat di hadapan wanita yang sudah menggetarkan hatinya itu.


"Camelia, aku hanya lelaki biasa yang punya cinta dan kasih sayang. Aku tidak punya harta yang melimpah, aku juga tidak punya sesuatu yang bisa aku pamerkan. Namun, percayalah padaku. Aku akan berusaha untuk melakukan dan memberikan yang terbaik untuk kamu," kata Reihan.


Semua yang ada di ruangan tersebut nampak ikut berbahagia, pak Ridwan bahkan tidak menyangka jika putranya bisa mengatakan hal seromantis itu kepada calon menantunya.


Jika saja suster Camelia tidak memakai cadar, sudah dapat dipastikan jika wajahnya kini akan terlihat memerah.


Mereka merasa bahagia karena bisa bertemu dengan sosok laki-laki seperti Reihan, mereka merasa sangat bahagia karena Reihan dengan tegasnya meminta suster Camelia untuk menjadi istrinya.


"Ya, aku percaya," kata Suster Camelia.


Reihan tersenyum senang, dia bahkan sudah merentangkan kedua tangannya. Dia ingin sekali memeluk wanita yang kini ada di hadapannya itu.


Sayangnya mereka belum resmi menjadi pasangan, Reihan masih harus menunggu lagi.


"Sabar, jangan berpelukan dulu. Takutnya besok minta cium, besoknya lagi minta dp. Saya ngga mau," kata Ayah dari suster Camelia.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut, Reihan nampak tersenyum malu-malu seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Iya, Yah. Kalau begitu, minggu depan saya mau acara nikhannya dilaksanakan," kata Reihan.


"Ya, terserah kamu saja," kata Ayahanda suster Camelia.


"Ngebet banget kek'nya," kata Aldo.


"Ish, kaya sendirinya ngga lebih parah saja," cibir Reihan.


"Iya, iya. Yang lagi jatuh cinta memang selalu menang," kata Aldo.


"Sudah jangan berdebat, sekarang pakaikan cincin pengikatnya," kata Pak Ridwan.


"Eh, iya, Yah," jawab Reihan.


Reihan lalu terlihat mengeluarkan cincin lemas berlapis berlian, suster Camelia mengerti, dia langsung mengulurkan tangan kirinya.


Dengan senang hati Reihan memasangkan cincin tersebut di Jari manis milik suster Camelia.


Tanpa suster Camelia duga, Reihan langsung mengecup punggung tangan kiri suster Camelia.


Suster Camelia terlihat malu dan juga kesal, dia bahkan langsung memelototkan matanya ke arah Reihan.


Bukannya takut, Reihan malah terkesan mengejek calon istrinya tersebut. Bahkan dia terlihat tertawa saat melihat reaksi dari calon istrinya.


"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari bibir Reihan, sedangkan suster Camelia hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


Masih berlanjut, jangan lupa dukungannya.


__ADS_2