Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Penghianatan Seorang Sahabat


__ADS_3

 Nilam mencoba melawan, ia mendorong tangan Suci yang terus memaksanya hingga gelas jatuh dan pecah di lantai.


“Nilam?!” Suci berdiri, berkacak pinggang. Wajahnya merah tanda murka melihat perlawanan gadis itu.


Lalu ia berjongkok mendekati Nilam yang terlihat melemah.


“Aku juga mau bahagia, Ni. Bukan cuma kamu.” Suci menarik sudut bibir. “Kamu terlalu sempurna, di kota


besar gini juga banyak suka, banyak yang sayang! Huh, rasanya aneh, bisa jadi kamu punya ilmu pengasih, kan?”


“Ci ….”


“Alasan kamu pasti cuma kasian masih mau berteman sama aku. Pasti di hatimu mengejek, kan? Aku hanya gadis nggak berguna yang menjadi penghuni kampung?!”


Perempuan muda itu meluapkan amarahnya. Mengeluarkan semua isi hati yang selama ini tersembunyi.


Mendengar semua itu, batin Nilam menjerit. Betapa Suci dulu yang selalu berbagi dengannya telah seberubah ini. Isak gadis itu bertambah, makin menyesakkan dadanya yang terasa terbakar.


Nilam masih mengingat kenangan saat sekolah dasar, mereka berdua pernah dihukum berdiri, sebab di dalam kelas mengikuti pelajaran sambil makan diam-diam.


Sebungkus mie instan kering yang dibumbui ditaruh di laci meja. Tangan kecil mereka bergantian merogohnya, lalu disuap cepat ke mulut, kembali berpura mendengarkan guru.


Tak mereka sadari bau bumbu dan kriuk yang berbunyi di mulut itu membuat sang guru mudah mengetahuinya. Kekompakan Nilam dan Suci saat itu membuat hukuman mereka jalani dengan senyum geli.


Nilam tak pernah lupa manisnya masa kecil bersama sahabat di depannya ini.


“Kamu salah, Ci. Aku nggak pernah lupa semua, walau kita berjauhan ….”


“Bohong?! Aku nggak merasa di mana pedulimu, Ni!”


Gadis yang pernah dimandikan kembang oleh si lelaki tua makin tak mampu menahan omongannya. Ia memuntahkan semua rasa tertahan tentang perbandingan dirinya dan Nilam.


Seandainya kondisi sedang normal dan sehat, ingin sekali Nilam teriakan pada temannya ini. Ia amat menyayangi Suci, masih seperti dulu. Seperti saudara sendiri.


Bisikan lelaki dari kejauhan makin marah, mendesak Suci segera berbuat sesuatu. Lelaki tua itu merasakan saat tepat menyerang.


Emosi Nilam yang tengah kacau menjadi celah kelemahannya mudah diserang. Gadis itu merasakan sakit raga dan hati mendera. Isaknya keluar dengan suara tertahan,


Lelaki di kejauhan kembali membisikan perintah. Suci membelalakan mata sembari menangkup mulut dengan telapak tangan. Ia terhuyung, hilang keseimbangan.


Di pembaringan itu ia melihat Nilam tampak parah, tak berbuat apa pun selain menjelaskan rasa sayang padanya. Sementara apa yang lelaki tua perintahkan membuat Suci cemas. Apa ia sanggup melakukannya …?


 “Ingat, Mak, Ci. Nasi yang disangrainya, karena gak punya minyak goreng, kita makan berdua waktu itu. Kita suka nasi gurih, hanya dengan bumbu garam dan bawang ….” Nilam terus meracau, memejamkan mata seolah-olah ia tengah kembali ke masa kecilnya.


Semua kenangan manis mereka tergambar jelas, menghilangkan sebagian rasa sakit yang menerpanya sekarang.


“Maaf, Ni. Aku nggak peduli semuanya! “Suci mencengkram lengan Nilam. “aku nggak bisa apa-apa sekarang. Mereka sudah menandaimu, nggak ada jalan keluarnya sampai kamu dapat, paham?!” pungkasnya penuh emosi.


Napas perempuan itu tersengal, tatapan matanya seperti kesetanan.


 “Lakukan saja … kalau kamu puas, Ci.” Nilam membuka mata, memandang nanar teman kecilnya ini. Air bening masih mengalir dari sudut matanya.


Suci tertegun sejenak, ia mengembuskan napas kasar, lantas bangkit ke dapur.


Nilam harus minum air itu lebih banyak!


Sepeninggal Suci, sesuatu menetes dari hidung Nilam. Jari gadis ini menyentuhnya. Warna merah segar ia pandangi sejenak, ujung tangannya gemetar mendekat ke mata.


Darah?!


Jantung Nilam berpacu cepat, mata dipejamkan sambil mengatur napas. Nama Mak dipanggil-panggil di benaknya. Mengharapkan pertolongan dan kekuatan.


Tak berapa lama, Suci kembali dengan gelas di tangan. Saat akan masuk kamar, langkahnya terhenti sejenak melihat Nilam terlihat membaca buku saku pemberian Hanif dengan fokus.


Ia merasa heran, gadis yang sekarat ia tinggal baru tadi, terlihat mulai membaik.


Langkah Suci meragu. Terpaku di tempatnya berdiri.


Nilam terus membaca nama-nama Allah yang baik … dan merasa ketenangan tersendiri.


Sesekali tangannya mengusap darah yang masih menetes. Gadis itu baru terhenti saat ekor matanya menangkap bayangan Suci berdiri tak jauh darinya.


Mata mereka bertemu. Nilam tak berkata apa-apa, matanya memindai perempuan itu dengan tatapan datar. Pandangannya terhenti pada gelas di tangan Suci.


“Kamu harus minum.” Suci maju cepat, menyodorkan gelas pada Nilam.


Nilam mengabaikan, lalu lanjut mengulang bacaannya. Ia berharap segera pulih, tubuhnya terasa sedikit membaik sekarang.


Suci jadi geram, merampas buku bersampul hijau itu dari tangannya. Membuangnya sembarang. Nilam tersentak saat temannya itu memaksa kembali memasukan air ke mulutnya.


Nilam meronta melawan, tapi tubuh Suci terlalu besar. Gelas terlempar, isinya habis tumpah. Wadah kaca itu menggelinding, terhenti saat menyentuh dinding.


Mereka lalu bergelut saling beradu kekuatan. Keduanya terjatuh dari tempat tidur setinggi tiga puluh senti itu.


Mata Suci melotot, berkilat. Ia melebarkan tangan akan mencekik leher Nilam,


“Nilam, Nilam?!” Panggilan dan gedoran dari pintu depan membuat Suci tersentak.

__ADS_1


Perempuan itu segera berdiri. Lagi-lagi Juju datang, kalau melihat kondisi ruangan ini ia dalam bahaya!


 Suci segera berdiri.


Tak mendapat respon dari dalam, Juju makin keras menggedor pintu. Membuat Suci makin gelagapan lalu segera berlari ke belakang.


Nilam mengatur napas yang makin menyesak, merayap ia menggapai buku hijau di lantai.


Ia terus membaca kata-kata itu, mengulangnya hingga merasa kembali bertenaga.


Setelah merasa mampu, langkah terhuyung Nilam menuju pintu. Mulutnya tak henti menyebut nama Allah, mengharap dapat kekuatan.


“Loe nggak apa-apa, Ni??” Juju langsung memberondong pertanyaa dengan wajah kalut setelah pintu terbuka.


Ia menyentuh pundak dan lengan Nilam. Memeriksa apa yang kurang dengan gadis itu.


Penampilan Nilam yang acak-acakan membuat Juju cemas. Ada bekas darah dari hidungnya.


Gadis itu terlihat ketakutan, tanpa berkata langsung menghambur ke pelukan Juju. Tangis Nilam tumpah menjadi isak kuat, bahunya berguncang dengan suara lirih tertahan.


Juju yang terkejut berusaha menenangkan detak jantung. Ia tahu suara degup itu pasti terdengar oleh telinga Nilam yang kini menempel di dadanya. Juju berusaha mengusap punggung temannya ini tanpa bertanya.


Setelah beberapa menit menumpahkan tangis Nilam melepas dekapan mundur selangkah. “Maaf,” katanya seraya mengusap basah di sudut mata yang sembab.


Juju jadi kikuk.


“I-iya, nggak apa. Eh, loe kenapa? Sudah baikan, kan? Gue telepon gak diangkat-angkat, sampe gak bisa dihubungi, makanya ke sini.”


Nilam mengangguk kecil. “Sudah mendingan,” sahut Nilam lesu. Ia menyembunyikan rasa panas yang masih menjalar di dada dan perut.


Juju membantu Nilam ke kamar. Pemuda yang kini memakai seragam kerja perpaduan putih-hitam itu memegang bahunya agar tak jatuh.


“Ya Allah, kenapa ini?!” Melihat pecahan gelas, kepingan ponsel berserakan dan air di lantai, Juju


memberondong pertanyaan pada Nilam.


 Nilam tak mau menjawab. Gadis itu memilih duduk di kasur, bersandar pada dinding. Tangannya meraih buku kecil hijau dan membaca ulang, seolah tak mendengar lagi Juju yang terus bertanya. Sesekali air mata kembali jatuh, cepat dihapus Nilam dengan ujung jari.


Juju merasa Nilam sedang memikirkan sesuatu, tapi ia tak mau mengganggu gadis itu sekarang. Juju tak lagi mengulang tanya. Ia menaruh nasi sayur dalam wadah makan yang dibawa dari rumah tadi ke atas meja.


“Ini masakan Nyak buat loe, Ni,” katanya lalu ke belakang, mengambil alat bersih-bersih.


Sekembalinya ke kamar Nilam tetap fokus membaca surah pendek dengan suara berbisik.


Dalam hening ruang Juju membersihkan kamar Nilam. Pekerjaannya terhenti saat melayani gadis itu yang akan mulai makan. Juju cepat kembali mengambilkan minum dan sendok makan.


Pemuda itu mencoba miscall ke ponselnya sendiri.


 “Masih bagus. Lain kali jangan dibanting lagi ya, Ni,” godanya sembari mengulurkan benda tipis itu pada Nilam.


 “Makasih, Ju,” jawab Nilam pelan.


“Eh, ke mana temen loe itu? Di belakang enggak ada.” Tanya yang sejak tadi ditahan, juga kecurigaan melihat kamar Nilam akhirnya keluar sudah dari mulut Juju.


“Lagi keluar kali,” sahut Nilam sambil kembali menekuni bukunya.


“Eh, loe belum mandi, ya?” Juju memajukan muka dengan hidung bergerak-gerak, membuat Nilam tersenyum seketika.


“Belum. Bentar lagi.”


“Yah, kalah sama cowok.”


“Ih, apaan sih ganggu, ini jadi gak konsen,” kata Nilam mengerucutkan mulut.


Juju menggaruk dahi yang tak gatal.


“Ya udah, gue tinggal ya ke rumah Babe dulu. Senang liat loe baik-baik aja. Cepat segar lagi, kalau gak masuk bisa nanti aku izinkan ke Tuan Hwa.  Ingat, akan ada Korean Festival disponsori Gi Wa, kita juga libur kerja dan gabung di sana. Loe harus sehat.” Juju menepuk pundak Nilam sebelum berdiri.


"Aku kuat kok kerja."


"Iya, asal jangan maksain. Teman-teman KLC (Korean Lovers Club) titip salam, semua berharap loe bisa gabung di acara besar kita, Ni,” lanjut pemuda itu lagi menatapnya penuh harap.


Nilam mengangguk kecil. Namun, sisi hatinya sangsi akan bisa datang. Kata-kata Suci yang mengatakan ia sudah


ditandai dan akan tetap sebagai tumbal kesembilan, mengusik hati.


“Gue hanya bisa mendukung, Ni. Diri loe, lah, yang bisa menjaga hati loe sendiri. Jaga selalu pesan Bang Hanif, loe pasti bisa,” ucap Juju sebelum meninggalkan kamar.


 Juju lalu ke rumah Babe, menunggu di sana sampai mendekati jam kerja shift siang.


Di tempatnya Nilam menarik napas panjang, berharap bisa melakukan seperti Juju dan Hanif pesankan itu.


Entah kenapa ia merasa terkadang sulit melaksakan semua ibadah wajib tepat waktu.


***


Di Restaurant Gi Wa ....

__ADS_1


“Kalau kurang sehat jangan dipaksa,” kata Hwa menghampiri Nilam yang duduk bersandar mengatur napas


di ruang karyawan.


“Eng-enggak pa-pa, Tuan Hwa. Ini cuma sedikit sesak, sebentar lagi juga hilang.” Nilam menyentuh atas dada. Rasa nyeri itu kadang datang dan hilang.


Nilam masih memaksakan diri bekerja, meski sudah berkeringat dingin. Diam-diam Hwa yang sering perhatikan


gerak-geriknya. Merasa khawatir juga kagum melihat semangat karyawannya itu masih bisa tersenyum lepas.


Malam, sepulang bekerja Nilam sengaja menghampiri pintu kamar teman-temannya. Sampai sekarang ia masih penasaran teman-temannya itu tak menganggapnya ada. Sementara Suci yang menghilang coba Nilam tak ambil pusing karenanya.


 “Dian,” panggilnya mengetuk pintu ujung. Tak ada sahutan. Begitu pun kamar Tri dan Dara.


Apa mereka sudah tidur?


Nilam melangkah gontai kembali ke kamar. Sampai suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Dian berjalan ke


arah kamar Dara, melewatinya tanpa menyapa.


“Di, Dian!” panggil Nilam setengah berlari mendekat. Lengan Dian dipegang.


Namun, temannya itu seperti tak mengenali. Melepas tangannya lalu percepat langkah. Dian membuka pintu kamar Dara yang tak terkunci, lalu terburu-buru masuk sebelum sempat Nilam mendekat.


“Dian, Dara ….” Tak tertahan tangis Nilam pecah di depan teras temannya itu. Gadis ini sampai menutup mulut menahan agar isaknya tak keras. Hatinya teriris menerima perlakuan mereka.


“Di … aku salah apa, Di?” isak Nilam masih berdiri di tempatnya.


Tak disadari Nilam, bayangan hitam kembali mendekat. Saat hati Nilam dalam kondisi beginilah menjadi waktu yang ditunggu-tunggunya melancarkan serangan.


Langkah Nilam langsung terseok menuju kamarnya sendiri. Semakin terlihat lemah lalu terjatuh di tempat.


Darah segar kembali ke luar dari hidungnya.


Sementara, di kamar Dara … tiga gadis teman dekat Nilam itu mengurung diri di sana. Jantung mereka


bergemuruh penuh rasa takut. Takut melihat gadis yang ada di kamar nomor dua dari Barat itu sangat menakutkan wujudnya.


Wajah Nilam di mata mereka tampak hitam, rambut panjang menggimbal dan … darah yang keluar dari mulut dan hidungnya itu menjadi momok saat mereka melihat. Mereka terlupa pada sosok Nilam yang selama ini menjadi


teman dekat. Semacam ada pengaruh lain menguasai pikiran mereka.


Nilam masih berusaha menuju pintu kosnya. Tetesan darah dari hidung menetes ke tanah, sepanjang jejak langkahnya.


Saat akan sampai di teras Nilam terjerembab. Hati Nilam bergidik ngeri melihat darahnya meluber di ubin teras. Nilam merasa waktunya akan selesai sekarang.


Tanda sembilan di lehernya bergerak, terasa hidup melilit dan akan mencekiknya.


Gadis itu berusaha mengangkat badan. Tampak kaki seseorang tertangkap mata, berdiri tepat di depannya.


“Suci?"


"Ci … tolong aku …” pinta Nilam melihat Suci kembali.


Suci terpekur sejenak. Ada rasa tak tega melihat Nilam sekarat. Perempuan itu menelentangkan tubuh Nilam. Tangannya bergetar memegang darah yang membuat gadis itu susah bernapas.


Nilam berusaha meraup udara dengan mulut. Membuat suara seperti napasnya akan putus.


“Ada apa ini?!” tegur seorang lelaki bernada tegas menegurnya, membuat Suci terperanjat. Lelaki muda itu lekas melihat apa yang terjadi.


“I-ini Nilam berdarah …,” jawab Suci tersendat.


“Jangan dibaringkan! Itu bahaya.” Hanif mendekat meminta Suci mendudukkan Nilam setengah membungkuk, lalu gegas ia menggotong gadis yang tampak tak sadar itu menuju depan.


Sampai di teras Babe suasana panik terjadi. Semua bergerak cepat akan membawa Nilam ke rumah sakit terdekat


dengan mobil Babe.


Suci tadi ikut berlari ke depan, hanya bisa terpaku di tempat. Melihat Nilam sekarat hatinya terasa nyeri.


Benarkah aku bahagia kalau Nilam tiada? Pertanyaan itu berulang-ulang di batinnya, menuntut jawaban dari hati terdalam Suci.


 


Bersambung ….


Makasiih ya teman-teman semua yang masih mau mendukung cerita ini. Love U All *\,*


Visualisasi Suci *.*



 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2