
Pukul 6 pagi Yara tidak keluar dari kamar seperti biasanya. Rival sudah membeli nasi pecel untuk mereka sarapan.
"Yara belum bangun??" tanya Rival.
Zein menyadari kakaknya belum keluar kamar segera masuk dan melihatnya ke dalam kamar
"Bang, Yara demam tinggi" teriak Zein
"Kok bisa Zein, tadi tidak apa apa kok" jawab Rival
"Kapan abang tau dia tidak apa apa?" Zein pura pura bodoh
"Aahh.. ehmm.. sudahlah, cepat ambilkan kain dan tempat untuk mengompres" titah Rival.
-----
"Kamu kenapa sich sayang?" tanya Rival yang sudah bisa membuka matanya.
Yara hanya memperhatikan wajah tampan Rival. Zein masuk ke dalam kamar membawa bubur dan obat untuk Yara
"Mungkin efek alkoholnya bang, dia tidak pernah 'minum' sama sekali" jelas Zein. Rival hanya mengangguk.
"Buka mulutnya.. mas suapi" Yara membuka mulutnya menerima setiap suapan dari Rival.
***
Hampir sebulan setelah kejadian itu Rival mendapat surat perintah bahwa dirinya harus berangkat ke Kongo melaksanakan tugas PBB. Rival mondar mandir di sekitar meja kerjanya, hatinya tidak tenang
-----
Malam di rumah Randy
__ADS_1
"Pa, saya ingin minggu depan melaksanakan akad nikah" Rival mengutarakan keinginannya.
"Itu terlalu terburu buru, bukankah seharusnya 2 bulan lagi" Randy menolak
"Iya.. tapi minggu depan saya berangkat test dan akan berangkat ke Kongo selama satu tahun"
"Apa tidak sebaiknya sekembalinya dari Kongo saja, papa akan menjaga Yara dengan baik selama kamu pergi" Tanya Randy sambil memberi jalan tengah.
"Minggu depan aja gapapa ya ma!" Yara membuka suara. Naya mengeryitkan kening melihat ekspresi putrinya yang tidak biasa.
"Ada apa sayang, coba cerita sama mama" tanya Naya.
"Aku hamil ma" Yara terisak
Semua yang berada di ruangan itu terbelalak kaget tak terkecuali dengan Rival. Randy tersandar lemas dengan ekspresi penuh emosi. Rival mematung dengan degup jantung yang ingin meledak pula.
"Itu anakku??" Rival memperjelas
"Ya jelas anak mas Rival, siapa lagi" Yara nampak emosi
Randy berdiri dan menampar Rival sekencang mungkin.
"Saya titipkan anak saya padamu bukan untuk kamu rusak. Kalau itu anakmu kamu harus tanggung jawab" bentak Randy. Naya hampir pingsan dan di sangga oleh Zein.
"Kenapa abang bisa sampai lepas kontrol. Abang khan selalu bersamaku. Kapan abang melakukannya??" Geram Zein.
"Hentikan semuanyaa.. cukup!!" Yara menutup telinganya dan menunduk sedih.
Rival sekuat mungkin menahan emosinya yang nyaris meledak. Rival merasa sangat kecewa untuk kesekian kali.
"Kenapa mas nggak mengakui kalau kita berciuman malam itu. Setelah berciuman aku pasti hamil" ucapan Yara yang sesenggukan membuat seisi ruangan saling pandang.
__ADS_1
"Cckk.. kenapa kamu bilang sich" Rival melotot menahan malu.
"Karena mas nggak mengakui sudah menghamili aku!! Memangnya mas nggak pernah lihat sinetron???" Yara masih tetap pada pendiriannya.
"Maksudmu apa?? Apa kamu kira hubungan kita ini semacam sinetron???" Rival mulai mengepalkan tangan, pusing dengan ocehan Yara.
Zein menepuk dahinya sendiri sambil menahan tawa.
"Semua duduk dulu, tenang ya! kita harus luruskan masalah ini. Abang.. malam itu saat antar Yara ikut tidur disini khan? Malam hari abang membantu Yara, lalu... aku melihat apa yang abang lakukan" jelas Zein, wajah Rival merah padam karena tindakannya di ketahui oleh Zein, terlebih sekarang calon mertuanya tau karena kepolosan calon istrinya.
"Apa benar begitu?" geram Randy
"Benar pa, tapi sungguh saya hanya menciumnya saja, tidak lebih. Maaf pa" Rival menunduk dan menyesal.
"Sudah pa, benar hanya itu saja. aku saksinya" ucap Zein
"Kamu juga bodoh tidak mengingatkan" tegas Randy melotot tajam, Zein hanya nyengir saja melihat papanya.
Naya sudah berada di pelukan Randy karena terlalu syok.
"Mau bagaimana lagi, mungkin cara papa mendidik Yara terlalu berlebihan hingga mengisolasinya dari dunia luar, mengantar jemput dan sangat membatasi pergaulannya. Hanya karena Tony papa begitu waswas, untung papa segera mengetahuinya"
Rival baru jelas dan mengerti bagaimana calon istrinya itu. Rival bernapas lega karena pikiran buruknya tidak benar.
"Ya sudahlah, sebenarnya papa sangat kecewa tapi dengan adanya kejadian seperti ini sebaiknya kalian menikah saja biar cucu papa aman" Randy menyetujui permintaan Rival karena khawatir kejadian seperti ini terjadi lagi.
"Terima kasih pa" Yara memeluk dan mencium pipi papanya.
"Maafkan papa ya Val! Sakit tidak?" Rival tersenyum melihat Yara di pelukan Randy.
"Akhirnya tidak sakit pa" Jawab Rival penuh arti.
__ADS_1
.
.