Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
44. Jalan jalan


__ADS_3

Rival mengambil cangkir kopi dari tangan Yara.


"Nggak ada kopi lagi. Itu nggak baik untuk anak kita" tegas Rival. Meskipun kesal Yara masih punya rasa takut jika harus melawan suaminya. Seperti sifat Naya, Yara adalah sosok wanita yang patuh pada suami.


Sifat Yara yang seperti ini membuat hati Rival luluh seketika.


"Kita jalan-jalan sekarang yuk! Adek mau makan apa?" lembut Rival tidak tega.


"Apa aja, yang penting pedas" Rival memutar bola matanya menahan kesalnya lagi, sejak Yara hamil memang keinginannya makan pedas semakin meningkat, padahal Yara tidak bisa makan pedas. Belum lagi asmanya bisa saja kambuh tiba-tiba.


"Iya sayangku" senyum Rival mengecup kening Yara.


***


Yara memilih restoran di pinggir pantai seperti kesukaannya di Kalimantan. Rival memakai kacamata hitam dan menyeruput minuman di hadapannya.


Tak lama makanan pun datang, Yara makan dengan lahap. Yara yang makan dengan senang tapi Rival yang begitu khawatir.


Ada beberapa bule cantik yang sejak tadi melirik Rival dan itu membuat Yara hilang selera makan.


"Mas tau tidak tiga gadis berbikini itu sejak tadi melihatmu" tanya Yara dengan kesal sambil menghabiskan suapan terakhir.


"Tau.. mereka sangat cantik.. sexy" jawab Rival sengaja menggoda Yara dengan gaya pria super br*****k.


Yara mencubit pinggang Rival sekencangnya karena kesal dengan Rival. Rival hanya tersenyum menahan ngilu. Salah seorang di antara gadis itu mendekati Rival.


"Kamu bisa bahasa Perancis" tanya gadis itu dalam bahasa Perancis. Rival yang memang menguasai beberapa bahasa menjawabnya dengan bahasa Perancis juga.


"Iya, saya bisa. Ada apa?" jawab Rival datar.


"Bisakah kamu ke meja saya? Saya minta tolong kamu ambil gambar saya dan teman saya, sekalian teman saya minta berkenalan denganmu" pinta gadis bule yang berbikini biru di hadapan Rival.


Yara melongo karena tidak tau apa yang Rival dan gadis itu bicarakan.


"Dia minta apa mas?" bisik Yara.


"Minta mas cium dek. Boleh nggak?" tanya Rival. Yara melotot tajam dengan ekspresi marahnya. Rival tersenyum sesaat lalu kembali dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


"Hmm..maaf.. saya tidak bisa. Saya harus menjaga perasaan Istri saya. Istri saya juga sedang hamil. Saya tidak ingin dia berpikir macam-macam" tolak Rival tegas. Gadis itu pun malu dan kembali ke tempatnya.


"Dia bilang apa lagi mas??" cecar Yara semakin kesal.


"Dia menungguku disana" bisik Rival sambil menenteng tas warna magenta milik Yara. Rival berjalan ke kasir tapi Yara mengira Rival akan pergi ke meja para bule itu.


"Nggak mas, jangan pergi!!!!" cegah Yara setengah berteriak membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.


"Kalau mas pergi................aku ikut" lirih Yara menunduk takut. Rival menyembunyikan tawa melihat ekspresi Yara.


"Mas nggak akan kesana, gadis-gadis itu bukan selera suamimu" Rival menarik lembut hidung Yara sambil berbisik gemas.


***


Panas terik, ombak kecil menyapu pinggir pantai. Angin berhembus sejuk menerpa wajah Yara. Tak lama pandangan Yara sedikit berbayang juga mual tak bisa di tahannya. Makanan pedas yang ia makan tadi bereaksi. Tubuh Yara oleng ke arah Rival. Yara merasakan dadanya sangat sesak seakan tertekan sesuatu. Perutnya panas dan melilit.


"Ya Allah dek, inilah kalau tidak mau menurut apa kata suami" Bentak Rival tanpa sadar, tapi bukan Rival jika tidak langsung luluh melihat Yara yang mulai kambuh lagi.


"Mas..aku sulit bernapas" Yara meremas kuat kemeja Rival. Rival panik bukan main, ia mendudukkan Yara pada bangku panjang di bawah sebatang pohon lalu mencari inhaler dan obat-obatan Yara lalu memberikan pada Yara.


Beberapa saat kemudian Yara sudah terlihat lebih baik. Napasnya sudah teratur dan wajahnya tidak pucat lagi. Rival menatap Yara tajam dengan tangan berkacak pinggang.


"Kita khan belum jalan kemanapun mas, baru di sekitar sini saja"


"Pulang saja kalau mas mengajakmu liburan tapi hanya akan mencelakaimu. Kamu tidak mau menurut. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anakku, awas kamu ya!" ancam Rival dengan wajah tegas khas seorang tentara.


"Maass.." Yara menggoyangkan lengan Rival tanda penolakan.


"Nggak ada nangis begitu.. pulang ya pulang" tegas Rival sekali lagi.


"Maaaaass" nada manja Yara di iringi isak tangis yang kian kencang membuat wisatawan sekitar melihat ke arah Rival yang masih berkacak pinggang seolah sedang memarahi Yara dan terlihat Rival seperti suami jahat yang tengah memarahi istrinya.


Lama kelamaan bisik-bisik wisatawan membuat Rival kesal juga.


"Dek, sudah donk nangisnya! Nggak enak di lihat orang" Rival bicara pelan sambil melirik orang di sekitar.


"Mas jangan marah lagi. Aku takut kalau mas marah" polos Yara. Rival menarik napas panjang mengusap punggung Yara.

__ADS_1


"Menurutlah sedikit, mas marah itu memikirkan kamu, memikirkan anak kita. Kalau kambuh seperti ini bagaimana? Kamu sendiri khan yang sakit? Mas hanya dapat cemas saja, takut kamu dan anak kita ada apa-apa. Sekarang kamu butuh istirahat dek. Kita lanjut jalan malam saja ya! tapi tetap dengan syarat dan ketentuan yang berlaku!"


Rival tidak tega melihat kondisi Yara yang seperti ini. Mau bagaimana lagi, semua juga demi menghadirkan buah hatinya.


"Kamu harus ingat dek. Kamu punya asma, punya asam lambung. Kalau kambuh bersamaan saat kondisi hamil seperti ini, kamu tau sendiri khan apa yang akan terjadi. Mas tidak menyalahkan itu semua, karena keinginanmu itu bawaan hamil. Tapi kontrol lah sedikit. Mas khawatir melihatmu seperti ini"


"Iya mas" Yara menunduk pasrah


***


Sesampainya di penginapan. Yara membersihkan tubuh kemudian langsung bersiap tidur seperti kata Rival. Seperti tadi malam Rival pun memijat tubuh Yara dan benar saja. Yara tidur dengan sangat pulas. Wajah polos Yara menyiratkan kelembutan dan kasih sayang.


Demi anakku kamu rela seperti ini. Cepat sehat sayang. Apapun akan kulakukan demi kebahagiaan kalian.


Rival menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur memandang lekat wajah Yara yang teduh dalam tidurnya.


"Aku bahagia memiliki kamu, apalagi sekarang kamu akan memberiku seorang anak. Hidupku lengkap bersamamu dek. Apapun yang mereka katakan tentangmu. Aku sangat mencintaimu" gumam Rival.


***


Malam hari Rival mengajak Yara jalan-jalan lagi. Mereka pergi menikmati pantai di malam hari.


"Mas, aku ingin naik banana boat!" Mata Rival membulat sempurna mendengar permintaan istrinya. Tak habis pikir dengan permintaan Yara yang selalu menantang bahaya.


"Boleh mas??" tanya Yara memastikan lagi.


"Nggak"


"Kalau itu bahaya, bagaimana kalau arung jeram saja. Aku pengen main air"


"Ya Allah, Ya Gusti.. Astagfirullah... lebih baik mas loncat aja ke jurang ya daripada anakku di apa-apain" Rival berkacak pinggang dengan satu tangan dengan satu tangan lagi mengusap wajahnya dengan gusar.


"Hmm..mas ada ide kalau kamu mau main air. Besok kita pergi kesana"


"Bener mas???" wajah Yara nampak berbinar-binar. Rival mengulum senyum membuang napas yang tadi membuatnya cemas.


.

__ADS_1


.


__ADS_2