
Maaf pembaca semua. kisah Yara yang ini adalah benar. Terjadi pada tahun 2001. Terima kasih atas ijin dari pemilik kisah untuk bisa di unggah. Nara mengubah kepangkatan menyesuaikan cerita. Nara sangat berterima kasih😍😊🙏🙏.
🌹🌹🌹
Yara mengenakan kembali pakaian seragam yang masih muat ia kenakan, hanya sedikit nyaris sempit di bagian perut. Sambutan hangat mengarah pada Yara. Istri dari Lettu Rival akan selalu mereka rindukan.
"Ibu sedang hamil?" tanya Bu Beni melihat perut Yara terlihat sedikit membesar.
"Iya bu" jawab Yara malu.
"Tidak apa Bu, itu rejeki"
Batalyon ramai sekali hari ini. Acara saat ini adalah acara santai seusai pertandingan sepakbola bersama. Ada music pengiring usai acara yang begitu melelahkan. Nathan mencari Rival karena sejak tadi pagi pria itu sibuk dengan tugasnya sendiri.
"Di perintahkan kepada Danki C agar merapat ke lapangan utama Batalyon untuk mendampingi anggota!!!" perintah Nathan mengerjai Rival pada pengeras suara.
Apalagi Nathan itu, pasti dia akan menyuruhku 'bermain gila' dengan 'wanita cantik' di lapangan.
Dengan langkah kesal Rival meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menuju lapangan. Pantang bagi seorang prajurit menolak perintah dan tantangan.
Sorak riuh para 'wanita' di lapangan itu membuat Rival jengah menggelengkan kepala. Banyak siulan menyambut Rival yang dengan gagahnya berdiri di antara para 'wanita'.
"Sebagai tanda terima kasih kami pada para tamu undangan semua, Lettu Rivaldi akan menyanyikan lagu indah pada ketua team... Bianca " ucap Nathan membuat Rival kaget dan melotot tajam ke arahnya.
"Yang benar saja. Aku sedang damai merasakan madu rumah tangga bersama Yara dan kau seenaknya mau membuat rumah tangga ku hancur kembali. Yara tidak tau masalah ini. Aku tidak cerita masalah kantor" protes Rival.
Belum sempat Rival menjawab, tangan Rival sudah ditarik oleh para wanita barbar itu. Dengan berat hati Rival tidak bisa menolak meskipun hatinya pun merasa jengkel.
Bianca sangat senang Rival mengambil mic dan akan bernyanyi untuknya. Rival berdiri di hadapan Bianca dengan senyum memaksa.
"Abang ganteng.. Bian cantik nggak?" manjanya pada Rival sambil melingkarkan tangan ke pinggang pria tampan itu, Rival yang merasa risih menolak tangan Bianca tapi dia memaksa.
"Bian cantik. Sangat cantik" kedip Rival dengan genit. Bianca berjingkrak kegirangan diiringi sorak sorai teman seperjuangan nya. Bianca berjingkat sambil memeluk Rival.
Astagfirullah hal adzim.. pulang disini aku wajib mandi kembang tujuh rupa.
---------
"Suami saya dimana ya Bu?" tanya Yara yang tidak melihat suaminya sama sekali.
"Oohh.. bapak sedang melayani 'mbak-mbak' cantik tamu undangan stabilitas Bu" jawab Bu Beni.
"Apa Bu?" wajah Yara langsung nampak kesal.
----------
__ADS_1
Yara berjalan mendekati keramaian tempat yang di tunjukkan Bu Beni. Dari jauh, mata tajam Yara bisa melihat suaminya begitu mesra dengan seorang wanita. Lebih jengkel lagi saat melihat Zein ikut berjoget dan bukannya mengingatkan abangnya yang khilaf.
Yara ingin tetap kuat dan tidak menangis, tapi hatinya begitu sakit melihat kelakuan Rival yang keterlaluan. Anak buah Rival yang melihat ibu Danki mereka yang datang dengan murka langsung diam dan tidak berkutik. Nathan diam menelan ludah dengan kasar melihat Yara yang sudah bertanduk mendatangi Rival yang masih melingkarkan tangan di pinggang wanita itu.
"Bian mau jadi istri kedua abang!" genit Bianca pada Rival.
"Boleh.. Asalkan siap berhadapan dengan istri Abang" jawab Rival asal.
Yara menarik rambut wanita itu sekuatnya, lalu marah memukul Rival. Rival mencoba menjelaskan pada Yara. Yara kalap dan memukuli Rival dengan tas di tangannya.
"Dek.. sayang.. dengar mas dulu dek!"
"Mas keterlaluan" teriak Yara.
Rival membenamkan wajah Yara di dadanya, tangan Rival mengelus perut Yara agar amarah bumilnya mereda.
"Adoooowww.. sakit abaaanngg.. rambut Eike.. tadi nyalon nih cyiiiiinnn. Mehoong" Bianca membenahi rambutnya yang sempat di tarik Yara, kakinya meronta ronta.
Begitu kaget Yara hingga tidak bisa berucap apapun. Ia menoleh melihat Bianca, matanya hanya berkedip kedip melihat Bianca lalu melihat tamu undangan di sekelilingnya. Yara menutup mulutnya.
"Bantuin abaaanngg" Bianca mengulurkan tangan agar Rival membantunya.
"Maaf.. maaf atas perlakuan istri saya pada mbak Bianca. Sebelum ini memang saya tidak koordinasi dengan istri" Rival membantu Bianca untuk berdiri dengan tangan sebelah masih melingkar di pinggang Yara.
"Ya sudah..Bian maafin. Bian baik hati dan tidak sombong" ketus Bianca dengan gaya khas waria.
"Eehhmm.. Bian.. masih berani lawan istri Abang nggak?" goda Rival.
"Nggak, Bianca wanita baik-baik. Nggak suka suami orang" bibir Bianca yang kesana kemari membuat tawa Nathan semakin terbahak.
"Ya Allah mas, amit amit jabang bayi. Aku masih hamil anakmu lho mas" Yara kembali membenamkan wajahnya di dada Rival.
-------
Rival mengajak Yara duduk pada kursi yang baru saja di ambilkan Rafael.
"Mas, perutku rasanya kencang" keluh Yara.
"Kamu sich dek. Makanya jangan marah seperti tadi" Rival mengusap sisi perut Yara yang terasa kencang.
"Itu khan karena mas nggak cerita tentang kegiatan kantor" kesal Yara.
"Tadinya memang mas nggak ikut, karena acara ini Nathan ketua pelaksananya dan mas punya banyak pekerjaan di ruangan. Nathan memang sengaja mengerjai mas saja" ucap Rival meluruskan kehebohan tadi. Yara tersenyum melihat Rival yang panik melihatnya marah.
"Iya mas"
__ADS_1
Napas lega melepas bebas dari rongga dada Rival. Istrinya sudah tidak marah lagi.
***
David bersama Indira berada di kantor mengikut olahraga pagi bersama. David menggandeng tangan Indira masuk ke dalam ruangan kantor Batalyon.
"Bunda mau gabung dengan ibu yang lain atau menemani ayah disini?" tanya David sambil menandatangani beberapa laporan.
"Bunda takut berkenalan dengan istri anggota yang lain yah" lirih Indira.
"Kenapa harus takut. Bunda itu istri ayah. Istri Kapten David. Harus bisa menjadi contoh dan teladan pada istri anggota semua"
"Tapi yah, tidak ada yang bisa ayah banggakan dari bunda" nampak saat ini Indira sangat bingung harus bersikap karena ia memang merasa rendah diri berdampingan dengan David.
flashback on
"Yah maaf bunda ingin menanyakan hal yang bunda tidak tau" tanya Indira sambil menuang sayur lodeh kesukaan David.
"Apa Bun?" tanya David yang matanya membulat senang karena Indira pandai menyenangkan hatinya.
"Mengapa banyak anggota yang hormat dengan ayah. Apakah pangkat ayah yang Kapten itu cukup membuat mereka takut?" polos Indira.
David tidak bisa menyembunyikan tawanya mendengar istrinya yang berceloteh di pagi hari.
"Siapa yang takut? Bunda tidak boleh bicara begitu. Saat pendidikan, memang rejeki ayah dapat pangkat ini. Pangkat ini amanah yang berat karena harus bisa memimpin dengan sebaik mungkin. Jadi.. sebagai istri ayah, bunda harus bisa menyandang nama ayah di bahu bunda. Tidak untuk menakuti, berbuat tidak baik pada orang lain. Ayah percayakan kehormatan ayah dalam diri bunda. Sekarang panggilan Nyonya David melekat erat dalam jiwa bunda"
"Iya ayah. Bunda akan mencoba memahami"
"Istri cantik ayah" David mencubit gemas pipi istrinya.
flashback off
"Apa yang tidak bisa dibanggakan? Ayah bangga bisa memiliki bunda. Itu sudah lebih dari cukup untuk ayah"
"Sekarang temui istri anggota di sana. Dan katakan dengan bangga, Bunda adalah istri ayah"
--------
David melipat tangannya memperhatikan Indira dari balik jendela.
"Selamat pagi ibu-ibu semua. Perkenalkan.. saya istri dari Kapten David" sapa Indira dengan senyum cantik mengembang.
"Terima kasih bunda.. Bunda sudah bersedia hadir menemani kesepian ayah" gumam David dengan perasaan hati yang begitu nyaman dan tentram.
.
__ADS_1
.