Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
57. Abang kopi hitam


__ADS_3

"Kopi hitam" jawab Rival singkat.


"Saya kopi susu" sambar Nathan.


"Val, dulu bagaimana ya tanda-tanda Yara hamil?" tanya Nathan sambil tangannya mengetuk pelan meja warung. Rival mengeryit.


"Aku tidak begitu paham. Dua kali Yara hamil selalu membuatku kaget. Yang kutahu dia mual, pusing, tidak napsu makan dan lemas" jelas Rival.


"Apa Nesya begitu?" imbuh Rival.


"Sepertinya begitu Val" jawab Nathan mengingat perubahan Nesya.


"Ini bang kopinya" Gadis itu tersenyum malu melihat Rival. Tapi Rival tidak menggubris tingkah gadis yang sudah meletakkan kopi hitam di hadapannya.


"Terima kasih" jawab singkat Rival. Hanya Nathan yang tersenyum melihat gadis ayu itu.


Rival menginjak sepatu Nathan dengan kencang.


"Jaga matamu atau kamu belum tau rasanya saat istri minta cerai darimu!!" tegur Rival.


"Aku hanya memandangnya saja. Sayang ada barang nganggur" kilah Nathan.


Rival tertawa mendengar ocehan Nathan.


"Ba****t.. Nggak di lihat sayang, di lihat dosa. Nasiiiiibb jauh dari istri" Riuh tawa Rival menunjukkan sifat natural seorang pria.


Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat kedua pria yang sedang asyik bercanda menghilangkan penat.


***


Pagi ini Rival dan anggotanya sedang menguji kemampuan tank dan alat tempur mereka.


"Saya melihat ada batas 'merah' disana ( tunjuk Rival ). Jangan melintas karena medannya berat!" Rival memperingatkan anggotanya.


"Siap!!"


--------


Rival dan Nathan memantau persiapan jalannya latihan nanti siang. Rival mondar-mandir sejak tadi. Badannya sudah mulai lelah walaupun hari masih pagi.


"Apa Abang mau minum?" gadis anak pemilik warung itu mendekati Rival.


"Kamu tidak boleh memasuki area pelatihan, disini bahaya!!!" teguran Rival sangat tegas.


duuuaaaarrr


Bunyi meriam dan granat meledak dimana mana. Sebuah granat melintas hampir melewati Rival dan gadis itu. Rival setengah memeluk gadis itu dan menyeretnya ke dalam lubang.


Gadis itu gugup ketakutan. Rival segera berdiri dari posisinya.


"Maaf" ucapnya.


"Apa kamu tidak tau peraturan??? Warga sipil di larang melintas atau memasuki daerah pelatihan. Ada tujuan apa kamu sampai kesini??" tegas Rival.

__ADS_1


"Hanya ingin menyapa Abang, apa Abang mau kopi" ucap gadis itu polos.


"Astagfirullah...demi secangkir kopi hitam kamu menjual nyawamu???" Rival mengusap wajahnya dengan kesal.


Beberapa orang berlarian membantu Rival untuk naik ke atas kemudian yang lain lagi membantu gadis itu naik.


"Siapa namamu? kenapa kamu ada disini??" Pertanyaan Dio tak kalah menakutkan dari Rival.


"Ka.. Kamila" jawabnya takut.


***


"Hey jomblo akut. Saya tugaskan kamu mendekati gadis itu. Kalau bisa sekalian kamu jadikan istri" perintah Rival pada Dio.


Dio melongo mendengar perintah komandannya yang di luar jalur.


"Ijin Dan. Tapi ini tidak sesuai tugas" Suara Dio berubah dari tegas menjadi semakin lirih.


"Seorang prajurit harus setia pada pemimpin. Benar atau tidak?" tanya Rival.


"Siap"


"Saling melindungi antar sesama" tanya Rival lagi.


"Siap"


"Berhubung saya tidak mau berurusan dengan betina. Tolong kamu 'selamatkan' saya" perintah Rival.


"Siap laksanakan" Dio tau Rival pasti tidak pernah main-main soal instingnya.


***


"Tidak ada, Mila hanya sangat senang melihat pria berseragam loreng. Apalagi Komandanmu itu tampan dan gagah bang" jawab Kamila


"Berhubung dia sudah menikah, jangan memaksakan diri lagi. Kalau hanya tampan dan gagah..aku juga" cibir Dio dengan santai.


"Komandanku itu sangat mencintai istrinya. Kamu di ujung matanya saja tidak terlihat olehnya" Kamila menunduk mendengar ucapan Dio.


"Hilangkan persepsimu pada pria berseragam. Yang kami kenakan ini hanyalah seragam.. ini bentuk profesi kami, tapi kami juga manusia biasa yang punya hati. Ingin benar di sayang dan tulus di cintai"


Kamila tersenyum mendengar penuturan Dio.


"Abang benar.. andai saja ada pria yang mau denganku yang miskin ini"


"Andai ada yang mau bersanding dengan pria yang bukan komandan seperti impianmu tadi. Apa kamu mau"


Kamila tersipu malu. Pipinya memerah bagaikan tomat.


"Asalkan itu Abang, Mila mau" Dio senang sekali hingga ia melupakan jam apel malam ini.


--------


"Kemana saja kamu?" tegur Rival.

__ADS_1


"Ijin Dan, ke tempat betina. Eehh.. maksudnya Kamila"


"Ya sudah, terima kasih kamu sudah membantu saya. Dia bahaya untuk saya tapi tidak bahaya untuk kamu" Rival menepuk bahu Dio lalu meninggalkannya.


***


Rival duduk di tepi pantai seorang diri. Malam ini ia sangat merindukan Yara, ia baru saja melihat wajah putranya. Semakin hari semakin menggemaskan, apalagi sudah hampir sebulan yang terasa lama ia rasakan.


Rival hanya memainkan ranting kayu dengan kepala yang penuh dengan pikiran. Tak ada pelampiasan rasa rindu. Hanya gelap dan dingin yang menemaninya malam ini.


Aku rindu kamu sayang, tapi maaf..kepulangan ku harus sedikit tertunda. Apa disana kamu juga rindu padaku?


-------------


Kapan mas akan pulang? Rasanya lama sekali mas berangkat tugas. Aku kangen banget sama kamu mas.


Yara tidur dengan menahan rasa rindu. Baru kali ini ia merasakan rindu yang sangat berbeda. Rindu pelukan seorang suami yang sudah biasa ia rasakan.


***


Hari berganti tanpa terasa waktu mengukir kedekatan antara Dio dan Kamila, Rival sangat tenang melihatnya. Bahkan keakraban Dio dan Kamila sudah sampai pada orang tua Kamila. Cukup waktu menjelang dua bulan dan setiap hari bertemu pastilah membuat hubungan Dio dan Kamila semakin dekat.


-------


Di asrama


Yara baru pulang dari posyandu lalu ia baru saja pulang dari rumah sakit untuk memasang kontrasepsi. Walaupun awalnya sakit dan takut tapi ia harus melakukannya karena Yara mendengar para anggota akan kembali dalam waktu dekat. Dua bulan sudah Rival dalam misi latihan karena sedikit terlambat pulang.


Arben sudah berusia empat bulan lebih dan sudah pandai merespon suara mamanya bahkan ia sudah tengkurap dengan baik.


"Ben sudah kangen papa? sabar ya sayang! sebentar lagi papa pasti pulang" padahal saat ini yang begitu merindukan Rival adalah dirinya.


***


Rival packing barang bawaannya. Ia bersemangat hingga rasanya sore ini berjalan sangat lama. Malam ini Rival pergi ke seorang pengrajin mutiara laut, ia ingin menghadiahkan satu set perhiasan untuk Yara di rumah.


Sesampainya di tenda, Rival sangat sulit memejamkan mata karena rindu yang begitu mengusik pikirannya, hingga pukul tiga pagi Rival baru bisa tidur.


***


Pagi yang cerah menemani pagi Yara. Ia tak tau Rival akan pulang hari ini sebab Rival tidak memberi kabar pasti kapan ia akan pulang. Selesai berbelanja Yara menatap kantong belanjaannya yang baru ia beli.


"Aku mau masak kare hari ini, Aku rindu kamu mas. Kalau saja mas ada disini, kita akan makan bersama lagi" gumam Yara.


Ia pun memasak sambil di temani Ben disampingnya sesekali bercanda dan berbicara dengan putra tampannya itu.


ddrrttt...ddddrrrrrttttt


"Kak, nanti main ke rumah ya! Nanti sore kita bikin seblak!" ajak Mutia.


"Ayo.. daripada di rumah aku suntuk" jawab Yara senang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2