Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
50. Sakit hati


__ADS_3

Yara tertidur di pinggir meja makan, Yara sangat pulas sekali tidur tertelungkup. Rival memperhatikan Yara, ia begitu menyayangi Yara hingga senyum mengembang di wajahnya.


"Dek..pindah ke kamar yuk!" ajak Rival membangunkan Yara perlahan.


"Mas sudah selesai?" tanya Yara setelah menguap masih mengantuk. Rival mengangguk dan mengajak Yara ke dalam kamar.


Yara naik ke atas tempat tidur dan Rival mendekap Yara.


"Lain kali jangan ceroboh lagi. Mas sangat cemas melihatmu seperti tadi. Bagaimana kalau hal yang buruk terjadi padamu dan anakku?"


"Iya mas, maaf" Yara mengusap lembut punggung tangan suaminya yang sedari tadi mengusap perutnya.


***


Beberapa Minggu setelahnya.


Rival baru saja baru selesai kegiatan menembak, ia melihat sosok Nesya di area kantor menuju ruang Danyon. Rival juga melihat Yara memakai seragam kebesaran istri anggota untuk menyelesaikan acara di markas dua bulan lagi.


Ada apa Nesya kesini? Apa ada hubungannya dengan pekerjaanku kemarin?


Danyon berunding dengan Nesya tapi wanita itu tidak mau mendengar alasan apapun.


"Sabar ya nona Nesya, kita harus memberi tau hal ini pelan-pelan karena istri Lettu Rivaldi sedang hamil delapan bulan lebih"


"Saya juga hamil anak Lettu Rival, jadi saya harus bagaimana?" tanya Nesya dengan bersikeras.


Danyon berfikir sesaat lalu mengangkat gagang telepon.


"Tolong panggilkan Lettu Rivaldi beserta istri ke ruangan saya sekarang juga"


---------


Yara melihat Rival dan Nesya dengan bergantian. Yara merasa tidak paham dengan situasi ini. Sedangkan Rival duduk tidak menampakkan ekspresi apapun. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam Rival sangat mencemaskan keadaan Yara, tidak tega istrinya harus menerima kenyataan dari sebuah kesalahpahaman

__ADS_1


"Hmm..Bu Rival. Mohon maaf saya harus menyampaikan berita yang tidak enak untuk di dengar. Ini adalah nona Nesya" Komandan bersikap netral dan profesional meskipun ia tidak tega pada Yara yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Nesya berdiri mengulurkan tangan pada Yara dan Yara pun berdiri menyambutnya dengan ragu, perasaannya bergemuruh.


"Saya Nesya, saya teman bermalam Lettu Rival saat penugasan kemarin"


Rival memejamkan mata merasakan dunianya akan hancur sesaat lagi. Tangannya terkepal melihat cerita yang tidak sesuai dengan keadaannya.


Tangan Yara berubah dingin, Yara belum menanggapi apapun sampai Yara bertanya pada Nesya.


"Ada urusan apa kamu menemui suami saya, bukankah acara bermalam kalian sudah selesai seiring berakhirnya tugas suami saya?" Yara berusaha setenang mungkin walaupun saat itu rasanya ia ingin menangis kencang.


"Saya hamil, saya harus menemui bapak dari anak ini"


Yara sangat terkejut mendengar hal ini. Perutnya mengencang kuat dan terasa sangat sakit. Yara memegang sisi meja sebagai penopang dirinya. Yara mengatur napas dan menghembuskannya berulang kali karena terasa sesak.


Rival sangat geram mendengar pengakuan Nesya. Rival mencemaskan Yara yang kini sudah memucat.


"Kamu yakin itu anakku?" tegas Rival mengarah pada Nesya..


Yara yang sedari tadi menahan air matanya agar tidak jatuh akhirnya harus menangis juga.


"Aku akan bertanggung jawab kalau benar aku yang melakukannya. Ingat...itu kalau benar" kaki Yara gemetar serasa tidak kuat menahan tubuhnya. Rival melingkarkan tangannya menahan tubuh Yara


Begitu pahit dirasakannya, Yara yang menangis membuat hatinya terasa sangat sakit. Apa yang ditakutkan ternyata benar terjadi.


"Mas hanya kerja dek, sungguh" Rival serius dengan ucapannya untuk meyakinkan Yara.


Yara merasakan perutnya semakin mengeras menyiksa dirinya. Napasnya sangat berat. Ia tidak menyangka suami yang sangat disayanginya begitu tega mengkhianatinya. Yara menatap Rival yang masih melingkarkan tangannya.


Tak lama Zein, Nathan dan Randy masuk ke dalam ruangan karena tidak ingin terjadi sesuatu pada rumah Yara dan Rival.


"Kerja apa? bersenang senang dengan Nesya? Kenapa mas? Kenapa mas tega mengkhianatiku? Apa aku begitu mengecewakanmu selama ini?" Yara sangat marah pada Rival, pukulan membabi buta mengarah pada Rival tanpa balasan hingga tubuh Yara lemas tak bertenaga.

__ADS_1


"Nggak dek, demi Allah aku bekerja" Rival tidak kuat melihat tangisan Yara yang begitu pilu. Sekuatnya ia mendekap Yara.


"Kamu Nesya...kapan aku melakukannya denganmu??? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu" geram Rival. Nesya diam menunduk di kursinya tidak berani menjawab pertanyaan Rival.


"Nesya hamil mas, dia hamil anakmu" Yara begitu tertekan dengan keadaan ini, Asmanya kambuh. Isak tangis Yara membuat Zein ingin maju menghajar Rival. Ia tidak terima kakaknya menjadi seperti ini.


Randy paham dengan situasi seperti ini karena Randy pernah mengalami hal seperti ini saat kehamilan Naya dulu. Randy menahan Zein agar tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga Yara dan Rival.


Rival panik melihat Yara hampir hilang kesadaran, jiwanya meronta merasakan sakit yang luar biasa melihat istrinya begitu rapuh seperti ini "Aku bersumpah demi kamu Dan anak anakku, aku hanya bertugas dan dengan terpaksa harus mendekati Nesya. Nathan akan menjadi saksinya"


Yara tak mengingat apapun lagi dalam dekapan Rival dan hilang kesadaran sebelum Nathan menjelaskan pada Yara.


Situasi memanas, komandan menunda perkara Rival dan Nesya beberapa hari lagi.


Rival mengangkat tubuh Yara yang sedang hamil besar seorang diri. Pikirannya saat ini sangat kacau terlebih Yara yang tiba-tiba saja merintih kesakitan. Rival tau saat ini Yara sangat kecewa dan marah padanya karena Yara selalu menolak saat ia menyentuhnya tapi Yara tidak punya pilihan lain.


"Pa, tolong jemput mama untuk menemani Yara dirumah. Aku tidak tega melihat Yara seperti ini" pinta Rival pada Randy.


Randy dan Zein sudah mengerti bagaimana keadaan yang sebenarnya setelah Nathan menceritakan semua. Randy tidak menyalahkan kejadian ini karena memang hal ini adalah tuntutan pekerjaan, tapi Randy juga memahami perasaan Yara sebab Randy pernah merasakan bagaimana sakit hati Naya dulu menghadai masalahnya karena Alana.


Masalahnya saat ini adalah menenangkan hati Yara yang mendengar Nesya telah hamil anak dari Rival.


***


Yara sudah di tidurkan pada kasur lipat ruang tengah, Naya menunggui Yara yang masih menangis dalam tidurnya. Naya mengusap kening Yara.


Rival hanya bisa melihat Yara dari balik pintu ruang tamu, ia menyandarkan bahunya mengusap dadanya yang begitu sesak dan sakit. Ia mengusap setetes air mata yang terlanjur membasahi pipi.


"Ayo temui istrimu. Yara pasti sangat membutuhkanmu. Kamu harus menyadari, istri mana yang tidak akan sakit hati mengetahui suaminya menyentuh wanita lain walaupun alasan benar untuk pekerjaan" ucap Randy.


Rival melangkah duduk di samping Yara yang baru saja bisa tidur. Di sentuhnya tangan Yara yang sedikit hangat karena Yara demam sejak pulang dari Batalyon tadi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2