Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
74. Harus kuat


__ADS_3

Kenapa kamu seperti ini? Apa bang David tidak menyayangimu? Tidak memperlakukanmu dengan baik? Apakah kamu merasa kurang dengan nafkah batinmu sayang? Aku jelas merasakan kamu begitu haus kasih sayang.


***


Hari ini ada pemotongan sapi dan kambing di kantor. Hari raya yang ikut di meriahkan seluruh anggota. Rival pun ikut sibuk dengan kegiatannya. Tangannya begitu cekatan mengerjakan pekerjaannya. Terbersit ide nakal dalam hatinya.


"Dio.. sisakan satu empedu kambing untuk saya!" perintah Rival.


"Waahh..mau kejar setoran Dan" ledek Dio.


"Husstt.. pelankan suaramu!!!!" kesal Rival. Rival menyimpan parangnya lalu membawa empedu kambing itu ke dapur barak bujangan.


"Kamu akan bertekuk lutut sayang" seringai licik Rival penuh aura mesum.


***


"Aku tidak ingin pulang" rengek Yara.


"Terus kamu mau bagaimana? Arben hanya bersama mama. Apa kamu tidak kasihan?" tanya Rival saat mereka selesai bertemu lagi.


"Aku ingin bersamamu lagi mas, jangan suruh aku pulang" rengek Yara semakin menjadi.


"Tumben sekali kamu. Biasanya sudah kepikiran Arben"


Yara tetap memeluk dan malah menarik selimutnya semakin tinggi. Rival menarik napas panjang membelai rambut panjang Yara.


"Ada apa kamu dek? Apa bang David tidak pernah memelukmu seperti ini?" tanya Rival berhati-hati.


"Aku tidak ingin membicarakan dia" ketus Yara.


"Iya..ya sudah mas tidak akan tanya lagi"


Yara berbalik bangun dan duduk di atas tubuh Rival dan memainkan tangannya disana dengan nakal.


"Kenapa mas pintar sekali membuatku tak ingin pulang seperti ini"


"Pintar itu wajib. Karena sainganku adalah bang David?" jawab Rival.


"Apa mas tidak percaya dengan kemampuan mas sendiri?" tanya Yara.


"Kamu menantangmu dek??? Baiklah.. sekarang mas akan membuatmu kapok karena sudah meremehkanku"


Rival mencumbui Yara hingga terdengar jeritan manja dari bibir Yara. Waktu yang ada selalu mereka habiskan untuk berdua melepas rindu.


***


David keluar dari ruangan kantor dengan wajah tak secerah biasanya. Banyak beban dalam pikirannya. Langkahnya berat tak pasti. David mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Di Batalyon nya Rival baru keluar dari masjid. Rambutnya masih basah. Ia melamun sambil memakai sepatunya.


Salahkah aku yang terlalu memaksamu dek? Aku bukannya tidak memikirkan resiko dari perbuatan ku ini. Pikiranku juga bergelut dengan hatiku menyeimbangkan logika dan perasaan. Disisi lain mungkin aku bisa memenangkan hatimu, tapi disisi lain aku kalah dengan perasanku sendiri.


***


"Kamu sudah bertemu Rival?" tanya David sambil berbaring bersama Yara.


"Eehhm.. sudah mas" jawab Yara takut.


"Jaga nama baik saat menemui Rival. Saat ini yang tercatat di Batalyon Rival adalah kamu sebagai mantan istri Rival walaupun dalam agama Rival tidak pernah sekalipun menceraikan mu. Ingat dek.. banyak nama baik yang harus kamu jaga" pesan David.


"Ii..iya mas" jawab Yara terbata. David membelai rambut Yara, senyumnya begitu penuh tanda tanya. David memeluk Yara dan mengusap paha Yara. Yara bingung harus menerima atau menolaknya karena David memang suaminya. Yara bisa merasakan bagian tubuh David sudah sebegitu tegangnya. Yara merasa ada perasaan takut.


"Aku menikahimu dengan sah dek. Aku akan melakukannya dengan caraku. Jangan takut dan jangan menangis lagi"


--------


Ponsel Yara bergetar, David bisa melihat sekilas ada pesan dari Rival. Meskipun ada rasa sakit di hati David, tapi melihat senyum mengembang dari bibir Yara membuatnya kuat untuk mengalah.


***


Pagi hari Yara terbangun dari tidurnya karena perutnya seakan di aduk kuat. Yara melangkahi David, tanpa sengaja menekan perut David yang seketika ikut bangun karena terkejut Yara bangun seperti itu.


"Ya Allah dek.. ada apa sepagi ini kamu berlari seperti itu" tanya David berjingkat kaget.


Yara terus berlari sambil menutup mulutnya ke kamar mandi. Yara memuntahkan isi perutnya. Untuk napas pun sangat sulit. David menyusul Yara ke kamar mandi dan memijat tengkuk Yara.


"Iya mas, sekarang aku kapok" jawab Yara. Yara bersandar pada dinding. Kakinya terasa gemetar. David menjadi tidak tega, lalu mengangkat Yara masuk ke dalam kamar.


"Tunggu disini. Aku ambilkan minum dan obatmu" Yara mengangguk.


Naya bangun dari tidurnya mendengar keributan itu.


"Ada apa?" tanya Naya.


"Yara muntah, sesak ma. Semalam khan dia makan banyak sekali" jawab David.


"Hhmm..anak itu" gerutu Naya.


***


Beberapa pagi ini Yara terasa sangat pusing hingga makan pun terasa tidak enak.


"Wajahmu pucat sekali. Kenapa kamu dek? Semalam bang David mengajakmu kemana?" tanya Rival cemas.


"Semalam mas David mengajakku makan mie ayam. Aku habis tiga porsi dan itu pedas sekali?" jelas Yara.

__ADS_1


"Sebenarnya itu lambung atau karung? Kenapa bisa perutmu tidak begah memakannya?" Rival heran mendengar pengakuan Yara.


"Mas turun belikan obat dulu"


"Tidak perlu mas, semua obat sudah aku minum tapi belum reda" jawab Yara. Rival pun mengambilkan Yara minuman agar sakitnya bisa mereda. Rival hanya bisa mengusap pipi Yara.


***


Yara masih sangat pusing saat pulang dari kantor wo. Ia berjalan sedikit ke arah samping gedung dan membeli obat sakit lambung. Pandangan Yara tertuju pada sebuah kalender yang tergantung di dinding apotek.


---------


Yara masuk kamar mandi dan membuka satu bungkus testpack. Tak lama tampak hasil 'positif' disana.


"Ya ampun pasti testpack ini salah" Yara mengulang testpack dengan merk lain.


--------


Yara mondar mandir di dalam kamar dengan bingung. Dalam pernikahannya yang rumit ini ia harus mengatakan pada siapa perihal kehamilannya ini.


Tak lama rasa mual menderanya lagi. Yara berlari keluar kamar menuju kamar mandi. Pandangannya kabur dan ia merasa tubuhnya sangat lemas.


"Yara.. mama tidak bodoh nak. Jujur pada mama. Kamu hamil khan?" selidik Naya.


Yara masih bungkam dan tidak mau bicara.


"Benar khan nak, kamu sedang hamil" tanya Naya sekali lagi.


"Benar atau tidak????" kesal Randy yang baru saja pulang kerja sambil mendekati Yara. Randy merebut dua testpack di tangan Yara. Sungguh Randy begitu bingung dan tak sanggup berkomentar. Bukan karena anak yang di kandung Yara tidak ada ayahnya. Tapi lebih ke siapa ayah dari anak yang di kandung Yara.


Randy duduk memijat kepalanya yang terasa berat di rasakan. Naya mengusap dada Randy agar suaminya itu tenang.


Randy mengangkat ponselnya lalu menghubungi Rival dan David.


---------


Sore hari selepas dinas. Rival dan David datang ke rumah Randy. Mereka datang bersamaan dan masih menggunakan seragam loreng lengkap.


Rival dan David masuk ke dalam rumah setelah memberi salam. Mereka bisa merasakan aura panas yang tidak seperti biasanya.


"Duduk!!!" Perintah Randy tegas. Rival dan David duduk mengikuti perintah mertuanya. Yara sudah duduk di hadapan kedua pria itu.


Randy melempar testpack ke arah Rival dan David satu persatu. David dan Rival melihat testpack kemudian saling menatap lalu melihat kembali ke arah testpack 'positif' itu. Tak terbayangkan bagaimana kagetnya wajah kedua pria tersebut.


"Papa sudah bilang untuk menahan perasaan kalian sampai semua jelas" tegas Randy.


Randy melepas sabuknya dengan geram dan mengayunkannya ke arah Yara untuk mencambuknya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2