
Zein melihat Rival hanya menangisi Yara. Kakak iparnya itu begitu kehilangan..rapuh dan kacau. Setiap melihat Abrian pasti akan langsung menangis dan menyesal menyalahkan dirinya sendiri.
"Hati ini juga sakit seperti Abang, tapi kita harus lanjutkan hidup. Kasihan kak Yara harus tertahan karena kita tangisi" ucapnya menenangkan padahal hatinya sendiri remuk redam karena kehilangan.
Tak sanggup membayangkan bila ini terjadi padanya. Zein juga sangat menyayangi Mutia.
"Bunuh Abang saja Zein..!! Yara sudah pergi. Untuk apa Abang hidup. Dunia Abang sudah hancur" pinta Rival.
Abangnya terus menangis. Ia baru melihat rapuhnya seorang Rival. Badan Rival sangat kurus, tak ada gairah hidup. Bahkan mengerjakan tugas nya pun seakan tak mampu ia kerjakan.
"Yaraaaa... pulang sayang!!!" teriaknya meraung tak bisa mengembalikan diri. Itulah yang terjadi pada Abangnya jika kembali mengingat Yara.
"Nyebut bang..!! Sadar.. kasihan anak-anak"
Sering kali Rival tak sadar dan harus 'merepotkan' dirinya seperti ini.
#
"Kak.. harusnya kamu bangga disana. Suamimu ini sangat mencintaimu melebihi apapun. Aku sangat kehilanganmu.. tapi sepertinya suamimu ini sangat terpukul dengan kepergian mu" gumam Zein dalam hati.
"Bang, minum dulu. Abang lelah sekali ya?" tanya Mutia.
"Iya sayang" jawabnya dengan suara tercekat.
__ADS_1
Mutia memeluk Zein dalam dekapannya. Air mata Zein langsung meluncur tanpa diminta.
"Dia kakak ku satu-satunya. Kakak kesayangaku. Apa aku juga bisa memintanya kembali?" tanya Zein dalam kerapuhan nya.
"Biarkan yang sudah pergi.. Abang masih punya masa depan yang harus di jalani. Anak mbak Yara anak Abang juga. Bahagiakan mereka bang" kata Mutia.
Kini tangis Zein tumpah ruah dalam pelukan Mutia.
"Hanya dia teman masa kecilku. Aku kehilangan dia" tangis Zein melemah di pelukan Mutia.
***
Rival menggendong Abrian, sendirian di tengah malam menyusui Abrian. Mata Rival terpejam bersandar pada dinding.
Abrian menangis, mungkin ikut merasakan kesedihan papanya.
"Kamu mau bilang apa nak?" tanya Rival dengan suara paraunya.
"Doakan papa kuat membesarkan mu. Walaupun kita laki-laki.. kita harus bisa. Bukankah bahu ini selalu kuat menanggung beban?"
Suara detak jam menemani Rival malam ini. Abrian sudah tidur di box bayinya. Sedangkan Arben sudah pulas memeluk gulingnya. Rival menarik gulingnya juga.
"Satu bulan Mas kesepian. Datanglah ke mimpi Mas sebentar saja. Mas sungguh merindukanmu"
__ADS_1
Rival bergulat memeluk gulingnya. Resah dan gelisah ia rasakan, memaksa untuk tidur tapi matanya tidak ingin tidur. Rival membuka galeri ponsel Yara. Banyak pesan suara yang tersimpan di galeri rekaman suara, dan itu sangat membuat nya begitu rindu.
"Yaraaaa... kenapa takdir kita begitu pahit" tangisnya frustasi memukuli kasur di bawah bantalnya.
"Mas ingin menyusul mu mati saja Yaraaaaa" Rival menelungkup di atas bantal berteriak sekencang-kencangnya melepas beban dalam hatinya.
Akhirnya di jam setengah empat pagi Rival tertidur dengan membawa wajah sembab penuh luka dalam hati.
***
Zein menabur bunga di makam Yara. kacamatanya telah basah.
"Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi kak. Kami yang masih ada di dunia akan baik-baik saja. Yang tenang ya kak. Tenanglah di surganya Allah" kata Zein.
Rival kali ini tidak ikut turun dari mobil. Ia hanya memandangi makam istrinya. Hatinya sudah berusaha ikhlas tapi masih terasa berat jika melihat makam Yara. Tangannya hanya mampu meremas dadanya sendiri menahan sakit yang luar biasa.
"SELAMAT TINGGAL SAYANG, SELAMAT JALAN, BIDADARI SURGANYA MAS RIVAL"
.
.
.
__ADS_1