
"Soal Vena, akan aku akan menceritakan padamu nanti, tapi sekarang kita harus fokus pada masalah kita" Tidak ada pikiran lain di hati Rival selain anaknya juga Yara.
***
Karena kemarin hari sudah lewat maghrib, pemakaman anak dari Rival dan Yara di makamkan pagi ini.
"Kamu jangan ikut dek, kondisimu tidak memungkinkan"
"Aku ingin mengantarkan anakku terakhir kalinya mas" Yara memohon mencoba tidak menangis di hadapan Rival dan Rival tau seberapa keras usaha Yara.
--------
Yara kembali histeris menatap bayi mungil yang tertutup kain putih. Segalanya belum seratus persen sempurna, tapi wajah itu perpaduan jelas wajah Yara juga Rival. Derai tangis Yara akhirnya tak hentinya hingga tangannya menjadi dingin. Rival pun menahan tangis hingga dadanya sendiri terasa sesak, ia tidak ingin Yara melemah melihatnya bersedih juga.
"Kamu nggak akan kuat disana dek. Jangan ikut ya!" pinta Rival sekali lagi.
"Apa mas sanggup memakamkan anak kita??" pertanyaan Yara menusuk kuat perasaan Rival. Rival memeluk erat istrinya.
"Iya dek, sebenarnya mas nggak sanggup menghadapi semua ini. Tapi mas percaya Allah memberi kita ini semua karena akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik nantinya. Saat ini kamu lah sumber kekuatan mas" Kecupan Rival mendarat hangat di pipi Yara.
--------
Rival berjalan menggendong bayi kecilnya. Ingin sekali rasanya ia tidak menangis tapi akhirnya seorang King Cobra meneteskan air matanya. Tangan Rival gemetar memasukan putrinya ke dalam liang makam, sesaat kemudian tertutuplah makan putrinya.
__ADS_1
Yara sedari tadi tidak kuasa lagi memandang bayi mungilnya terkubur di dalam sana, ia bersimpuh memeluk makam tersebut. Rival pun luluh ikut bersimpuh memeluk Yara dari arah belakang. Tangis Yara semakin kencang terdengar.
"Dia tenang dan bahagia disana. Doakan saja agar kita bisa bertemu dengannya nanti" Tangis pilu Yara membuat siapapun yang mendengar merasa tidak tega. Yara melemah di pelukan Rival.
***
Yara sudah bisa tidur di tengah malam yang gelap gulita tanpa bulan dan bintang ada di atas sana. Rival berjalan keluar kamar dengan langkah gontai. Seharian ini ia merasa sangat lelah juga banyak beban pikiran yang ia pikul.
Rival memilih duduk di belakang rumahnya. Rival duduk dengan memejamkan matanya. Tak ada yang tau apa yang dirasakannya saat ini. Mungkin hanya dia dan Tuhan saja yang tau. Air matanya menetes dan terisak, dibiarkan dirinya menumpahkan semua sedih dalam hatinya.
Ya Allah jika dalam hidup ini aku bisa memilih, aku ingin langsung bertemu dengan Yaraku saja dan tak ingin mengenal Larasati. Memory tentang Larasati hampir saja membuatku kehilangan Yara.
Tangan Rival mengepal kuat, ia terus menangis hingga hatinya merasa lega. Setelah hampir satu jam Rival menyendiri, ia masuk ke dalam kamar merebahkan diri masuk ke dalam satu selimut bersama Yara.
Dirasakan oleh Yara, Rival yang sudah tidak ada pergerakan dengan napas normal menandakan Rival sudah tertidur. Yara membalikkan badan memperhatikan wajah Rival dengan lekat. Ada sebulir bening air mata menetes dalam tidur Rival.
Aku tidak tau seberapa berat beban yang mas alami. Tidak bisa mengukur seberapa kesedihanmu dan tidak bisa mengira sedalam apa sakit di hatimu, tapi aku percaya kalau aku tidak salah memilihmu menjadi suamiku.
Yara mendekat mengecup sisi bibir Rival, sudah lebih tenang suaminya dalam tidurnya saat ini.
***
Zein tidur di kamar messnya masih mengingat pertemuannya dengan Mutia kemarin dan Zein memilih pulang pagi hari ini karena akan mengikuti pemakaman anak Yara.
__ADS_1
Flashback on
"Sudah jangan menangis lagi dek, anak itu Khan ada bapaknya" bujuk Zein pada Mutia yang menangis tertelungkup di kamar kostnya.
Memang semenjak Zein menetap di satuan tugasnya saat ini, Zein meminta Mutia tinggal di kost daripada di panti asuhan. Tak disangka keputusan Zein membawa cerita baru bagi mereka berdua. Zein gelap mata hingga melakukan hal itu pada Mutia.
"Aku nggak mau mas..aku malu" Mutia menangis dalam kecemasannya.
"Aku akan menikahi kamu. Mau kapan? Sekarang?" kata Zein serius.
"Aku ingin anak yang sah mas, aku mau gugurkan anak ini"
"Apa kamu bilang??? Setelah kita buat kesalahan..kamu mau lari dari tanggung jawab sebagai orang tua???" Nada Zein meninggi tak percaya dengan ucapan Mutia.
"Mas yang paksa aku dan tidak mau tau" pikiran Mutia sangat kacau saat ini.
"Iyaa..sudah ya..aku yang salah, tapi anak kita tidak salah dek. Apa kamu benar tega membuangnya" suara Zein melemah mengalah karena memang Zein yang sudah memaksa Mutia.
"Papa dan mama sudah tau kehamilanmu tapi kita harus menunggu sebentar karena kondisi kak Yara masih belum baikan" Mutia sangat cemas dengan keadaan yang begitu rumit saat ini.
.
.
__ADS_1