Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
80. Sakit


__ADS_3

Perawat keluar masuk membawa perlengkapan medis dan kantong darah. Zein cemas menunggu Rival bersama dua orang anak buahnya hingga pukul dua belas malam. Tak lama dokter keluar dengan masih menunjukkan wajah cemas.


"Bagaimana pasiennya dok??" tanya Zein.


"Pasien masih di tangani. Mudah mudahan Hb tidak turun" jelas dokter.


***


"Terus bagaimana Zein???" tanya David pelan sambil bersembunyi di kamar mandi agar Yara tidak mendengar suaranya saat menghubungi Zein.


"Ini masih cari darah bang!"


"Aku tidak bisa karena baru donor darah bulan lalu" jelas David bingung.


"Apalagi aku bang. Golongan darahku A"


"Aku nanti kesana setelah apel pagi" ucap David.


------


"Kamu istirahat di rumah ya! Aku berangkat dulu. Nanti sore kita lihat keadaan Rival" bujuk David mencium kening Yara. Yara mengulum senyum membalas perlakuan David.


***


Yara berlari ke ruang rawat Rival, di bukanya pintu kamar itu, tidak ada siapapun dan semua tampak rapi. Yara melihat lorong sebelah ada beberapa orang berlarian mendorong brankar, Yara mengabaikannya. Tak lama pandangan Yara kembali pada perawat itu karena Yara melihat Randy, Reno, Zein dan David.


Yara kembali berlari dan menghampiri mereka.


"Ya Allah mas.... Kenapa jadi seperti ini" pekik Yara yang melihat Rival tidak sadar ingin memeluk pria yang di cintainya itu. David dengan sigap langsung mendekap Yara dan menenangkannya.


"Jangan dulu dek. Kondisi mas mu masih belum stabil, masih kritis"


"Kenapa sich mas.. Kenapa semua harus merahasiakan dariku? Apa aku tidak berhak tau apapun tentang mas Rival. Aku tidak ingin kehilangan mas Rival lagi" tangis Yara membuat perasaan David sangat nyeri tapi ia tidak merasakan sesakit dulu karena ia tau, Yara memang sangat mencintai Rival.


"Iya..iya dek.. Sabar ya! Do'akan saja. Rival tidak ingin kamu mencemaskannya karena dia juga memikirkan kandunganmu, makanya dia meminta agar kami merahasiakannya"


"Bagaimana pak Zein apa sudah ada golongan darah AB negatif?" tanya dokter pada Zein. Dengan sangat menyesal Zein menggeleng pasrah.


"Darah saya 0 dok, apa bisa di pakai?" Yara menyela ke hadapan Zein.


"Nggak bisa dek. Kamu sedang hamil" cegah David menarik tangan Yara.


"Biar ayah saja. Darah ayah AB negatif"


Yara lemas, punggungnya menabrak dada David. David pun mengajak Yara duduk sambil menunggu penanganan Rival.


-------

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa sampai disini?" tanya Randy tegas.


"Aku mendengar pembicaraan mas David di telepon"


"Wanita yang tidak bisa di bohongi, sama seperti mamanya" keluh Randy menggeleng kepala.


Beberapa saat kemudian Reno sudah keluar dari ruang penanganan. Golongan darah Reno lolos uji, sama seperti Rival. Yara berlari memeluk Reno.


"Terima kasih banyak ayah. Ayah sudah bersedia menyelamatkan mas Rival"


"Sama-sama sayang. Sudah jangan menangis lagi. Ingat untuk menjaga kesehatan mu" pesan Reno.


***


Sore hari Rival membuka matanya. Badannya terasa sedikit lebih sehat. Yara menggenggam tangan Rival sambil menangis sesenggukan, dengan tidak tega Rival balik menggenggam tangan Yara.


"Apa sulit untuk menuruti perkataanku untuk tetap di rumah?" tanya Rival. Yara menoleh dengan wajah yang sembab.


"Begini lagi dan selalu begini. Apa sampai aku tua renta dan keriput memenuhi kulitku baru mas akan mengakui keberadaan ku??" kesal Yara meletakkan tangan Rival dengan kasar.


"Siapa yang tidak mengakui keberadaan mu? Mas hanya ingin kamu menjaga diri dan anak kita di rumah. Untuk apa mas jauh-jauh pulang dan bersakit-sakit kalau tidak untuk bertemu dengan mu? Kenapa bumilku ini selalu sensi..hmm" Rival mencubit dagu Yara dengan gemas. Yara memalingkan wajah tapi pipinya pun ikut memerah.


"Kalian ini keterlaluan sekali harus memperlihatkan kemesraan itu di depanku" tegur David yang sedari tadi duduk santai menemani Yara yang terus saja menangis.


"Astaga bang. Maaf!!" Rival melepaskan tangannya terkejut melihat ada David di ruang kamarnya. David tertawa geli melihat ekspresi Rival.


"Mau makan apa? Si dedek lapar tuh" tanya David.


"Nasi kuning gimana mas?" tanya Yara ragu.


"Malam begini??"


Yara mengangguk, ia sangat menginginkan nasi kuning malam ini. David membuat napasnya kasar lalu tersenyum lebar.


"Ok lah dedek. Baik-baik disini ya sama mama dan papa, jangan nakal!! Papi Carikan dulu pesanan mama" David berjongkok di depan Yara lalu mencium perut Yara.


***


Sudah setengah perjalanan David tidak kunjung menemukan penjual nasi kuning. Ia pun mencari informasi pada anak buahnya dan akhirnya David bisa membawa nasi kuning untuk Yara.


-------


David menenteng bungkusan nasi kuning di tangannya. Saat melewati tempat administrasi, mata David tertuju pada keributan yang terjadi disana. Tak di sangka sosok Indira ada di sana.


"Kenapa nasibmu apes sekali setiap bertemu denganku" gumam David.


David menghampiri sumber keributan itu.

__ADS_1


"Kalau mau mendapat perawatan disini harus bayar uang muka satu juta rupiah" tegas petugas administrasi.


"Tapi ibu saya sudah sakit parah. Saya mohon" Indira berlutut disana.


David menarik tangan Indira agar berdiri.


"Beginikah sistem kerja rumah sakit yang tidak punya hati? Kalau cara kalian seperti ini. Pasien parah juga bisa mati detik itu juga" kesal David.


"Cepat kalian rawat pasien itu dengan baik. Saya yang akan tanggung. Setelah ini saya akan temui kepala rumah sakit!!" bentak David.


Indira menatap wajah David. Ia mengenali wajah orang yang sudah menolongnya.


"Terima kasih pak David. Dengan apa saya harus membalas kebaikan bapak?" tanya Indira.


"Doakan saja saya berjodoh dengan orang yang baik budi" senyum David lalu meninggalkan Indira. Beberapa langkah berjalan, David menoleh ke arah Indira.


"Oya.. panggil saya David. Saya akan menemui mu lagi nanti"


"Baik.. mas David" jawab Indira lirih. Wajahnya di tunduk kan tidak berani melihat David.


David tersenyum dan menggeleng kepala. Jantungnya berdesir sesaat.


"Astagfirullah..jauhkan aku dari pandangan buruk ku" gumamnya.


-------


David membuka pintu kamar rawat Rival. Yara tidur tertelungkup, tangannya tidak mau melepaskan tangan Rival.


"Kau pake pelet apa sampai Yara tidak bisa jauh darimu?" ledek David pada Rival yang sedang mengecek informasi group kantornya.


"Pelet cinta bang" jawab Rival terkekeh.


David mengangkat tubuh Yara dan memindahkannya di sofa.


"Kasihan kamu dek!! Kamu pasti lapar dan capek" gumam David lalu mengusap perut datar Yara.


"Iya bang. Abang bawa pulang saja"


"Kalau Yara mau sudah kubawa sejak tadi. Dia memikirkanmu sampai tidur saja tidak nyenyak" keluh David.


"Bagaimana kondisi mu. Apa sudah lebih baik?" tanya David.


"Alhamdulillah.. sudah jauh lebih baik bang"


"Cepatlah sehat. Aku tidak tega melihat Yara menangisi mu. Yara sangat membutuhkanmu" dukungan David malah membuat Rival merasa bersalah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2