
Semakin malam Rival dan Yara berada dalam taman. Ada sesosok ibu tua sedang berjualan makanan ringan berkeliling taman. Ibu tua itu mendekati Rival.
"Apa bapak mau membeli makanan yang saya bawa, tidak satupun dagangan saya terbeli hari ini" Ibu tua itu berucap memelas
Rival terlihat tidak tega melihatnya lalu mengambil dompet pada saku belakang celananya. Yara melirik pada dompet Rival yang hanya berisi uang tiga ratus ribu rupiah. Bukan nominal uang yang menjadi pusat perhatian Yara, tapi sebuah foto wanita cantik berjilbab padahal sesaat tadi Rival mengatakan hal yang romantis menurutnya
"Dasar gombal" batin Yara.
Rival memberi seluruh isi dompet yang hanya tiga lembar ratusan ribu pada ibu tua tersebut.
"Ini buat ibu dan ibu harus segera pulang. Ini sudah malam"
Ibu tua itu menolak uang yang di berikan Rival
"Saya tidak mengemis pak, saya berjualan" jawab ibu tua.
"Baiklah, anggap saya sudah membelinya. Ibu bisa memberikan dagangan ibu pada orang yang membutuhkan" Senyum Rival membuat ibu tua juga ikut tersenyum bahagia lalu pergi meninggalkan Yara dan Rival. Beberapa langkah ibu tua itu berjalan lalu ia menoleh lagi.
"Semoga pernikahan kalian bahagia dan segera mendapatkan keturunan"
"Aamiin Ya Allah" suara itu meluncur dari bibir Rival sedangkan Yara hanya bengong melihat ibu tua itu berjalan pergi dari hadapannya.
Rival menutup dompetnya dan Yara menatap Rival dengan perasaan jengkel.
"Siapa yang mau menikah denganmu, dasar pembual" gumam Yara.
__ADS_1
"Wanita butuh bukti bukan janji.. Benar khan? Tunggu saja, akan kubuktikan" Ucap Rival.
"Masih ada yang lain, lalu mau membuktikan apa?" Yara kesal melihat Rival
"Siapa yang lain? tidak ada" Tegas Rival
Yara menguap karena sudah lelah dan mengantuk. Tak lama Yara yang setengah sadar tertidur di bahu Rival. Rival mengusap kening Yara dengan sayang
"Apa yang kamu maksud adalah Larasati? Dia tidak ada lagi dek. Kamu tenang saja" Rival memberanikan diri mengecup puncak kepala Yara yang tertutup jilbab.
Yara merasa dirinya sedang bermimpi, tapi rasa kantuknya menghalangi matanya untuk terbuka, hanya ada nama 'Larasati' yang tertanam dalam hati dan pikirannya.
------
"Ada apa ini? Dia sangat anti dengan pria karena takut papa akan marah, tapi kenapa padamu dia bisa seperti ini bang?" Zein heran melihat Yara yang bisa tidur pada bahu Rival.
Zein berusaha membangunkan Yara, tapi gadis itu tidak mau bangun juga, terpaksa Rival mengangkat Yara karena tangan Zein sedang terkilir saat pull up tadi pagi. Rival menggendong Yara hingga sampai ke dalam mobil. Mereka pun melaju pulang ke Asrama Batalyon.
"Kalau kamu menjemput Mutia biar aku yang menjaga Yara" Zein menoleh sekilas tapi ia langsung mengerti arah pembicaraan Rival, seniornya itu pasti sudah jatuh hati pada kakak perempuannya.
"Apa itu tidak merepotkan?" tanya Zein
"Aku rasa kakakmu ini sedikit kuper, aku jadi tidak tega" Zein tersenyum penuh arti
"Baiklah"
__ADS_1
Yara menggeliat dalam mobil dan menyadari dirinya tidak mungkin berjalan sendiri.
"Enak sekali tidurmu, tubuhmu yang berat itu rasanya ingin kulempar ke laut" Rival menegur Yara yang masih terpaku pada kebingungannya.
"Aku khan tidak menyuruhmu menggendongku, Kau saja yang sok pamer" jawab Yara. Zein melihat sekilas kelakuan mereka, tak mau turut campur pada perdebatan dan hanya fokus pada jalanan.
Tak lama mereka tiba di gerbang ksatrian. Rival membuka kaca mobilnya dan para anggota jaga menpersilahkan Rival dan Zein masuk. Rival memilih untuk turun lebih dahulu di baraknya agar Zein lebih leluasa mengantarkan Yara pulang.
-----
"Malam sekali?" Tegur Randy
"Tadi aku ikut Zein mengantar Mutia" Yara berbohong pada Randy. Randy yang hapal dengan gelagat putrinya tak mau memperpanjang masalah karena tau Yara bersama dengan Zein
***
Senin pagi para anggota yang masih bujangan berlari mengelilingi asrama. Yara bersiap berangkat kerja, tapi ia kembali masuk karena memang Yara sangat pemalu. Naya menggeleng menahan senyum melihat putrinya.
Rival yang berlari bersama para anggotanya sempat melihat Yara masuk ke dalam rumah. begitu melihat papan nama pada sisi tembok rumah, Rival sangat terkejut membacanya
"Astaga.. Zein dan Yara putri dari Lettu Randy Prawira" batin Rival.
.
.
__ADS_1