Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
85. Perhatian


__ADS_3

Beberapa bab akan terpotong untuk kisah David dan Indira ya readers semua 😘😘😘🙏🙏🙏


🌹🌹🌹


Yara duduk dengan susah payah.


"Maaf mbak Yara, karena kehadiran saya mbak dan mas David jadi berpisah"


"Bukan salahmu Dira. Memang kisah hidup kita harus seperti ini. Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri" Yara meraih tangan Dira.


"Sekarang aku dan bang David hanya sebatas kakak adik. Tidak lebih. Apa boleh mas? tanya Yara pada Rival.


"Iya dek. Boleh" jawab Rival masih datar.


Mereka pun berbincang cukup lama hingga akhirnya mereka semua pulang. Arben di minta tinggal bersama Yara, tapi Naya menolak sampai nanti Yara bisa kembali lagi ke asrama dan status Yara sah kembali sebagai istri Rival, lagipula kondisi Yara yang sedang hamil muda benar-benar membuatnya payah.


--------


"Sini mas gendong kamu" Rival mengangkat Yara Setelah pintu rumah tertutup. Tak terlukiskan betapa bahagianya Rival saat ini, bisa memiliki Yara seutuhnya kembali.


Suara manja Yara begitu ia rindukan. Rasa sakit karena Komandan telah menghajarnya tadi seakan tidak terasa.


"Mas secepatnya ingin kembali ke rumah kita di asrama. Mas ingin mengulang cerita indah kita, tapi tidak dengan semua kenangan buruk kita"


"Iya mas, asalkan bersamamu aku mau" Yara pun ikut bahagia melihat raut wajah bahagia Rival. Rival menciumi perut Yara dengan sayang.


"Anak papa, anak pintar.. sehat terus ya nak. Berkah kehadiranmu papa dan mama bisa bersatu kembali. Papa sayang dedek"


"Iya papa, dedek juga sayang papa" jawab Yara meniru suara anak kecil.


"Kalau mamanya sayang papa nggak?" tanya Rival mulai genit.


"Mama sayang papa" jawab Yara dengan pipi bersemu merah.


***


Rival pergi ke Batalyon dengan wajah cerah dan bersinar. hatinya lega seakan dunia ini miliknya sendiri. Menunggu dua penuh akhirnya terjawab. Hari ini pengesahan status Yara sudah di akui kembali menjadi istrinya.


Rival mengecek berkas untuk kegiatan stabilitas tentara dengan warga sipil dengan status 'ganda' yang akan di lakukan di sekitar Batalyon.


"Kapan mereka akan datang?" tanya Rival pada Nathan.


"Bulan depan, kau harus ikut persiapan " jawab Nathan yang baru tiba dari penugasan bedah desa.


***


Berkas pernikahan David dan Indira sudah selesai, tak lama lagi mereka akan melaksanakan akad nikah. Indira semakin memantapkan hati dengan pria pilihannya begitu juga David yang sudah bertekad akan benar-benar menjalin hubungan pernikahan yang sesuai dengan syariat.


------


"Kamu sudah siap untuk akad nikah besok?" tanya David.

__ADS_1


"Sudah mas, mas sendiri sudah mantap?" tanya Indira.


"Aku tidak akan mundur dengan niatku" senyum David melihat Indira. Pipi Indira memerah, ia terus menunduk menahan rasa malu di hadapan David.


***


Keesokan harinya David sudah siap dengan pakaian untuk akad nikahnya. Wajahnya yang tampak tenang menutup rasa gelisah di hatinya. Ini memang bukan pernikahan pertama baginya, tapi rasa yang berbeda dalam dadanya tentu menunjukan saat ini nama Yara perlahan terkikis dari dalam hatinya.


--------


"SAH" ucap para saksi mengantarkan air mata Indira dalam rasa harunya.


David merasa lega, di intipnya wajah Indira yang menjadi istrinya kini. Wajah gadis yang selalu menunduk di hadapannya. Indira mencium punggung tangan David. David pun mengecup kening Indira setelah sebelumnya membacakan doa untuk istrinya.


"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku"


"Sama-sama mas" senyum Indira masih tetap menunduk.


"Tegak kan wajahmu. Aku hanya ingin menunjukan statusmu sebagai istriku. Istri Kapten David"


-------


"Selamat bang. Semoga pernikahan Abang langgeng sampai akhir hayat" doa Rival untuk David. Yara sibuk sendiri mengobrol dengan Indira.


"Aamiin.. Terima kasih banyak Val, aku seperti mendapat berkah di balik semua masalah kita" jawab David.


Rival menyalami David namun menyelipkan sesuatu di tangan David. Rival tersenyum licik sambil menarik tangan Yara untuk turun dari pelaminan.


David melirik 'sesuatu' yang di berikan Rival padanya. Mata Rival terbelalak kaget. Matanya mengarah ke Rival dengan kesal.


Sambil duduk di meja tamu Rival terkekeh geli melihat ekspresi David.


"Ada apa mas?" tanya Indira.


"Nggak ada apa-apa dek" David segera menyimpan obat itu pada saku bajunya.


***


David melepas baju pengantin karena ingin mandi, ia mengambil handuk di gantungan baju. Di kamar rumah dinasnya hanya ada David dan Indira. David keluar dari kamar dengan bertelanjang dada sambil celingukan mencari Indira.


Tak lama David menemukan Indira sedang berada di kamar sebelah sedang kesulitan membuka kancing belakang gaun pengantin nya.


"Kenapa tidak bilang?" David memeluk istrinya dari belakang. Indira tampak salah tingkah dengan perlakuan David.


David membalikkan badan Indira sambil membuka jilbabnya, Rambut panjang tergulung masih menebarkan bau wangi yang menenangkan. David menarik gulungan rambut itu hingga tergerai indah. Jantungnya seakan mau melompat melihat kecantikan istrinya yang membuatnya terpana.


"Ayah ingin segera memiliki momongan bersama bunda. Apa bunda siap sekarang?" tanya David meminta keikhlasan Indira.


"Iya ayah, bunda siap"


"Pandang ayah!!" David menaikan dagu Indira agar melihat ke arahnya. Di arahkan bibirnya agar bisa lebih menyatu dengan Indira.

__ADS_1


Ada kekakuan yang di rasakan David dari setiap balasan Indira, bahkan Indira sempat gemetar dan tangannya begitu dingin. senyum David mengembang.


"Apa ada yang bunda inginkan sebelum kita melakukannya?" tanya David.


"Apakah bunda berlebihan jika bunda menginginkan menjadi satu-satunya di hati ayah?" tanya Indira.


"Maaf bunda, Ayah tidak janji" jawab David. Indira begitu sedih, rangkulan tangannya terlepas dari bahu David. David mengembalikan posisi tangan Indira agar kembali ke bahunya.


"Jika bunda memberi ayah seorang putri, tentu hati ayah akan terbagi karena ayah akan jatuh cinta lagi" David menyentil hidung Indira.


"Apa ada yang ingin bunda tanyakan lagi?" Indira menggeleng takut.


"Bunda, jika suatu saat bunda marah tentang masa lalu ayah, tolong satu saja..jangan cemburu pada mantan istri ayah. Itu jika bunda sanggup"


"Bunda akan usahakan ya ayah. Tapi maaf bunda tidak bisa janji" tunduk Indira.


"Ayah tau permintaan ayah sangat sulit. Ya sudah lupakan itu semua. Kita fokus pada ibadah dan rumah tangga kita sayang. Sini ayah bantu buka gaun bunda!!"


"Tunggu ayah ( Indira menghentikan tangan David ). Boleh tau apa yang ayah lakukan di dalam kamar sebelum berpisah dengan mbak Yara?" tanya Indira penasaran.


"Ya melakukan kewajiban terakhir sebagai suami istri" goda David ingin melihat reaksi Indira.


"Oohh.." David ingin tertawa melihat Indira yang penasaran.


"Yara hanya memijat punggung ku saja, karena rasanya tulangku patah setelah di hajar Komandan" jelas David lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Gemuruh dalam hatinya membuatnya tidak sabar, walaupun sebenarnya ia tidak ingin memaksa.


David membuka jilbab lalu membantu membuka gaun Indira. Detak jantung David rasanya tidak terkontrol lagi. Indira mengambil handuk yang masih bertengger di bahu David untuk menutupi tubuhnya.


David tersenyum geli melihat tingkah Indira, karena meskipun dengan susahnya Indira menutup tubuh depannya, tubuh bagian belakang Indira masih terpampang nyata di cermin lemari yang berukuran full body tepat di belakang Indira.


"So sexy sayang, ayah sudah nggak kuat lagi" bisiknya sambil menunjukan pada Indira bagian belakang tubuhnya di belakang cermin dengan begitu menggairahkan.


Indira terkejut saat menoleh ke arah lemari. Ia langsung menutup mata David dengan kedua telapak tangannya.


"Ayah jangan nakal" jeritnya manja. Tak ayal David di buat gemas dengan tingkah Indira yang ternyata sangat manja.


_____


_____


_____


Indira melamun duduk di sandaran ranjang dengan menutup tubuh sebatas dada dengan selimut. David mengerjap mencari keberadaan istrinya lalu mendekap erat Indira masuk dalam pelukannya.


"Bunda menyesal melakukannya dengan ayah?" tanya David lembut.


"Nggak ayah. Bunda ikhlas melakukan kewajiban bunda sebagai istri ayah" senyum tulus Indira.


Satu jam yang lalu mungkin cinta dalam diri David belum lah terasa, tapi kini setelah mereka menghabiskan waktu, rasa sayang dan cinta David semakin besar dan dalam.


"Malam ini ayah menyerah kalah. Sungguh saat ini ayah sangat mencintai bunda. Seluruh jiwa dan raga ayah hanya milik bunda seorang. Terima kasih bunda sudah ikhlas dan rela hidup bersama ayah"

__ADS_1


.


.


__ADS_2