Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
84. Hasil satu jam bersama


__ADS_3

David meraih tangan Yara.


"Ikut denganku!!" ajak David masuk ke dalam kamar. David menggandeng tangan Yara masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.


Indira duduk bersandar dengan lemas. Rival duduk dengan tegang mengusap wajahnya. Otaknya berkelana memikirkan sedang apa Yara dan David di dalam sana.


-------


David melepas pengait jilbab Yara walaupun Yara nampak takut.


"Kamu adalah wanita pertama yang membuat hatiku bergetar, kamu adalah wanita pertama yang aku cintai, kamu adalah wanita pertama yang aku tunggu bertahun-tahun, kamu adalah wanita pertama yang akhirnya aku nikahi dan kamu juga wanita pertama yang tidak ingin mencintaiku lagi"


"Maaf mas, sebenarnya aku tidak ingin seperti ini" Yara duduk di kasur dengan tidak enak. David meletakkan telunjuknya di bibir Yara.


"Panggil Abang!! itu lebih baik karena aku akan menganggap mu adikku" Yara mengangguk. David tersenyum melihatnya.


"Abang tau perasaanmu. Abang tau kamu tidak cinta Abang lagi. Abang sudah ikhlaskan semua. Abang akan kembalikan kamu pada Rival"


"Sungguh kah bang? Abang siap?" tanya Yara.


"Abang siap sayang" David duduk di samping Yara.


"Bolehkah kita saling mencintai satu jam saja?" Yara mengangguk lagi. David mencium bibir Yara.


"Lakukan sesuatu sebelum Abang mengembalikanmu pada Rival" David mencubit lembut pipi Yara pelan.


-------


Randy dan Reno memutuskan menjemput Naya dan Velly. Indira menutup telinganya. Rival merosot lemas di samping dinding kamar. Suara Yara yang sangat kecil keluar dari bibir Yara hampir tak terdengar namun bagi Rival suara itu mampu memecahkan gendang telinga dan meledakan hatinya.


Indira hampir pingsan berada di sana. Rasanya ia ingin berlari kencang. Sedangkan Rival mengepalkan tangan dengan rasa kesal yang memuncak tapi tidak ada yang bisa di lakukan.


-------


Randy dan Reno sudah datang. Naya dan Velly bermain bersama cucu mereka setelah melihat aura panas di dalam rumah. Randy mendekati Rival yang begitu acak-acakan dengan situasi ini. Di tepuknya bahu Rival yang mungkin tenaganya sudah drop. Mata Rival memerah, napasnya tersengal kesal.


"Pa.. mengapa rasa cemburuku tidak bisa di tunda. Pikiranku kemana mana. Hatiku sakit sekali pa" Rival meremas dadanya semakin frustasi.


"Berdoalah semoga kejadian ini membawa hikmah bagi keluarga kalian" ucap Randy penuh sesal.


Naya mendekati Indira, tersenyum ke arahnya lalu memeluknya.


"Apa kamu wanita yang di bawa David?"


Indira mengangguk. Naya mengusap punggung Indira.

__ADS_1


"Kamu wanita yang baik, mau masuk dalam keluarga kami. Kamu penyelamat keluarga kami. Terima kasih kamu mau tetap berada disini nak"


"Bagaimana mbak Yara Bu?" cemas Indira.


"Semua akan baik-baik saja"


"Panggil aku mama juga" pinta Naya.


Indira memeluk Naya erat dalam perasaannya. Suara air mengalir terdengar dari kamar Yara. Rival semakin gusar menyembunyikan wajah di balik lengannya.


-------


Pintu kamar terbuka, David keluar dari dalam kamar, wajahnya segar usai mandi, rambutnya pun basah mengkilat tersisir rapi. Rival menatap tajam ke arah wajah David seolah ingin menghajarnya hingga puas. Rival masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kencang. David menggeleng dan tertawa melihat kecemburuan Rival.


"Apa yang kamu tertawakan? Kali ini kamu benar-benar usil. Rival hampir mati kesal" tegur Randy.


"Aku sudah punya calon istri pa. Memang papa pikir aku akan lakukan apa?" Tawa David kembali pecah.


"Sudahlah Vid, Jangan cari gara-gara dengan Rival. Dia bisa saja membuatmu masuk rumah sakit saat ini juga" cemas Randy.


David mendekati Indira dan berjongkok di hadapannya.


"Pikiranmu jangan seburuk itu. Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan. Aku bukan murid SD yang masih ceroboh saat mengambil keputusan sayang. Aku jaga diri demi kamu"


Tangan David menghapus air mata Indira.


------


Mata Rival memerah membelai rambut panjang Yara yang sudah tidak terikat lagi.


"Hari ini begitu panas. Mandi bersamaku yuk!! Biar badanmu segar" senyum Rival sengaja di kembangkan.


"Iya mas!!" Yara tau sebenarnya itu hanya alasan Rival, yang panas bukanlah cuaca hari ini, tapi hati Rival.


-------


Rival keluar dari dalam kamar menggandeng Yara. Pemandangan indah melihat Yara tersenyum bahagia saat Rival menggandeng tangan Yara yang memakai mukena. Mereka semua akan melaksanakan sholat Maghrib.


"Bisakah kali ini aku berdua saja dengan istriku?" tanya David meminta ijin.


Akhirnya semua melaksanakan ibadah tanpa David dan Yara Lengkap bersama Ay dan Arben yang duduk tenang disana.


Malam ini David mengimami Yara dengan khusyuk. Setelah Sholat, Randy menegur David belum paham maksud menantunya itu.


"Saya akan mengembalikan Yara pada Rival pa" Sungguh kaget Randy. Ucapan David membuat seisi rumah terdiam bahkan Rival pun tidak jadi minum dan menuju mushola rumah.

__ADS_1


"Abang benar sudah siap?" pelan pertanyaan Rival membuat Randy menarik tangan Rival untuk duduk bersama.


David tersenyum geli melihat Rival yang selalu cemas jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Yara. David menoleh ke arah Yara, memegang erat jemari Yara.


"Bisakah Abang memanggilmu sayang untuk terakhir kali?"


Yara mengulum senyum pahit di bibirnya. David memeluk Yara dengan sayang.


"Sayang..Terima kasih karena adek sudah setia selama menjadi istri Abang, sabar mendampingi Abang, menjaga kehormatan dan nama baik serta sudah melayani kebutuhan lahir dan batin Abang dengan baik. Abang senang pernah sempat berada di hatimu. Maafkan kekurangan Abang jika selama menjadi suamimu belum melaksanakan sebaik-baiknya kewajiban Abang. Abang manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa"


Yara menangis saat David mengusap punggungnya.


"Kini Abang akan kembalikan kamu pada Rival. Baik-baik kamu dengan Rival. Menurut dan berbaktilah pada suami. Abang menghalalkanmu baik-baik dan Abang ingin menyudahinya baik-baik pula"


Rival menunduk menghapus air mata di sudut mata sebelum sempat menetes. Rasa tidak nyaman di dada ia rasakan.


David tidak mampu menahan air matanya sambil mengecup kening Yara, kecupan hangat turun ke kelopak mata, kedua pipi lalu bibir Yara. David melepas tangan nya perlahan. Suara berat dari napasnya ia tariknya dalam melegakan paru-paru yang terasa sesak.


"Bismillah. Secara sadar.. Saya talak kamu"


"Saya talak kamu"


"Mulai detik ini! Kamu.. Renjana Yara Megalia bukanlah istriku lagi. Lahir dan batinmu, haram aku sentuh"


"Abang maaf.. apakah ini sesuai?" Rival sangat iba melihat kondisi saat ini


"Insya Allah.. saya yang akan menanggung setiap ucapan saya!"


Seketika Yara lemas, tubuhnya gemetar. Rival mendekap Yara yang masih nampak syok. Menggerakkan kaki saja Yara tidak mampu.


"Cukup sekali aku mendengar kata-kata ini mas. Jangan katakan ini padaku" ucap Yara menggenggam pakaian Rival dengan kuat.


"Lihatlah kamu sekarang dek. Makanya jangan meminta aneh-aneh kalau sedang marah. Mas sangat menyayangimu, tidak akan sanggup mengucapkan nya"


Reno menepuk bahu David memberinya kekuatan. David menoleh ke arah Indira yang ternyata sudah menangis di sudut mushola.


"Kamu sudah melihatnya sendiri, aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku memperjuangkan hubungan kita. Aku memperjuangkannya demi menghalalkanmu"


"Terima kasih banyak mas" Indira merasa lega bisa menemukan pria seperti David.


Mata Indira dan Yara saling bertemu pandang. Indira berjalan dengan lutut ke arah Yara.


"Mbak Yara..." sapanya masih dengan perasaan takut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2