
Yara mulai membuka dan membesarkan hati walaupun tidak semua ingatan tentang kebersamaan Rival dan Nesya hilang begitu saja. Setitik air mata tetap menetes di pipinya.
"Aku pamit pulang Val. Kamu temani Yara saja" Rival menoleh pada Yara mengikuti arah mata Nathan.
---------
"Kalau saja goresan tinta merah dalam hatimu bisa aku hapus, akan aku lakukan. Tapi bagaimana caranya menghapus noda yang sudah aku buat ini" Rival menyerah, ia memahami perasaan istrinya karena apapun yang ia lakukan bersama Yara tentu adalah hal yang pertama kali.. jadi kecemburuan dan sakit hati Yara sangat wajar terlebih membayangkan suaminya bersama wanita lain memang itu sungguh berat.
"Aku menuntutmu untuk selalu setia untukku. Aku tidak peduli jika aku egois. Jika mas lakukan lagi, tidak ada ampun untuk kedua kali. Tapi jangan minta aku bisa melupakannya. Itu sulit mas" tegas Yara.
"Iya sayang. Apapun maumu, mas tidak akan menjawab lagi. Mas salah" berkali kali Rival katakan itu, ia berusaha mengalah pada apapun keadaan ini.
***
Tengah malam baby Ben menangis kencang. Sudah hari ke lima Rival bersama baby Ben. Rival bangun dari tidurnya, sebenarnya ia juga sangat lelah karena tugas di Batalyon begitu menumpuk..tapi melihat istrinya yang begitu nyenyak, ia menjadi tidak tega.
"Waahh..anak papa pup ternyata" Rival membersihkan popok Ben dengan telaten tapi karena Rival sudah terbiasa memegang segala sesuatu secara bertenaga, ia jadi lupa kalau yang sedang ia tangani saat ini adalah bayi mungilnya yang berusia belum satu minggu.
Ben menangis kencang sekali, Yara kaget dan langsung berjalan melupakan dirinya yang masih sedikit nyeri.
"Ada apa mas?" Yara membelalakan mata melihat hasil kerja suaminya. Popok yang kotor tersangkut di papan box bayi, pakaian Ben berjatuhan dari rak baju, tissue basah sobek lebar di bagian pinggir dan minyak telon sudah banyak menetes di sekitar lantai.
"Sudah beres dek, Ben hanya menangis saja. Mungkin dia haus" ucap Rival sambil menyerahkan Ben pada Yara.
"Kalau mas kesulitan kenapa tidak membangunkan ku? Kamar ini sekarang tidak ada bedanya dengan kandang ayam" kesal Yara tapi ia masih bisa menghargai usaha Rival yang bersedia membantunya.
"Oohh ini??..masalah kecil, biar mas bereskan" Begitu Rival menunduk kepalanya mengenai kotak bedak dan akhirnya tumpah juga bedak itu ke lantai.
"Sudahlah mas! Mas tidur saja daripada kamar ini jadi kandang bebek" Nyali Rival ciut melihat istrinya yang mulai cemberut melihat kondisi kamarnya.
"Besok akan mas bawakan assisten untuk membantu pekerjaanmu" Rival mengecup kening Yara, ia tidak akan membiarkan istri kesayangannya itu lelah.
"Mas mau membawa wanita lain ke rumah ini???" tanya Yara tajam. Rival hanya bisa mendesah pasrah.
"Yo wes lah dek, pokoke mas Iki salah wae"
***
__ADS_1
Rival menyapu pelataran apel bersama anggota lainnya. Pikirannya tertuju pada Yara.
"Zein..dulu berapa lama Mutia sembuh total setelah melahirkan?"
"Satu Minggu bang" jawab Zein.
"Kalau berhubungan lagi setelah melahirkan?" tanya Rival tanpa sadar.
"Apa Abang mau mengajak kak Yara berhubungan? Ini baru lima hari bang" Zein melotot mendengar pertanyaan Rival. Rival memukul Zein dengan sapu karena membuat beberapa anggota menoleh ke arahnya.
"Apa aku sudah gila? Melihat Yara kesakitan seperti itu saja membuatku tidak tega. Lihat ini!! kulitku masih berbekas dan rasanya masih ada. Bagaimana Yara menahannya" Rival kesal sambil menunjukan kulitnya yang masih meninggalkan bekas cambukan.
"Ooohh..." jawab Zein sambil menggaruk tengkuknya karena ia merasa malu.
"Kau ini memalukan sekali! Mau di taruh mana wajahku ini" Rival bersungut kesal sambil meninggalkan tempat.
Zein menoleh ke kanan dan kiri melihat anggotanya yang diam-diam menertawakan dirinya dan Rival.
***
Terlihat Zein pun bermain dengan Ay yang baru bisa berjalan. Jarak rumah Zein dan Rival hanya tiga rumah saja. Tak lama terlihat beberapa orang bapak-bapak muda sedang mengasuh buah hati mereka.
"Bang, ada berita dadakan nih. Markas meminta Batalyon menyiapkan latihan pertahanan gabungan" ucap Zein sambil berjalan ke arah Rival.
"Iya, aku tau tadi pagi" Rival langsung tidak semangat karena harus berpisah dengan putranya untuk beberapa waktu, belum lagi untuk persiapan tontangkas yang memusingkan.
Rival memandangi putranya yang kini mulai montok.
"Nggak apa-apa ya sayang. Papa kerja untuk Ben, untuk masa depan Ben. Kamu sama mama yang sabar ya" ucap Rival tegar karena ini tuntutan pekerjaan, tapi hatinya juga tidak bisa bohong kalau ia juga sedih jika harus jauh dari Yara dan Arben.
-------
"Mas Minggu depan berangkat latihan gabungan dek" Rival bersantai di dapur setelah menidurkan Ben. Ia memakan bakwan goreng buatan Yara.
"Berapa lama mas?"
"Yaaa..sekitar satu bulan, atau mungkin lebih" jawab Rival lalu meneguk es sirup yang di buat oleh Yara.
__ADS_1
Yara tersenyum kecil, meskipun ia tidak rela tapi inilah resiko menikah dengan abdi negara.
"Aku pasti sangat rindu" Yara mengalungkan kedua tangannya pada leher Rival.
"Apalagi mas dek" Rival mengecup bibir Yara.
Yara memeluk Rival sangat erat. Pelukan Yara cukup membuat Rival berdebar kencang. Sudah dua bulan ini Rival menjaga perasaannya sendiri agar tidak tergoda saat berdekatan dengan istrinya.
"Apa dua bulan ini terasa berat?" tanya Yara sambil jarinya bermain di dada Rival.
"Tidak mas rasakan, kegiatan yang padat cukup menyita banyak waktu dan mas sengaja membuat badan ini lelah setiap hari" Rival menyentil hidung Yara pelan.
"Tapi..kalau di tambah dua bulan lagi, jelas berat sekali donk sayang.. meskipun badan ini di buat lelah" senyum Rival.
Yara merasa kasihan dengan Rival, tapi untuk mencoba memulai lagi memang Yara masih takut.
"Apa mas mau mencoba lagi?" tanya Yara ragu.
"Nggak dek, tunggu kamu siap aja. Mas nggak tega" Rival mengecup kening Yara dan melepas pelukan Yara agar dirinya tidak semakin hanyut dalam suasana.
***
Hari ini Rival dan anggota lain berangkat untuk latihan gabungan. Selama kurang lebih satu bulan mereka harus berpisah dari orang-orang terkasih.
Tank melaju membelah jalanan, berangkat bersama rombongan Rival. Hingga menjelang malam rombongan abdi negara itu baru tiba di lokasi dan mereka segera mendirikan tenda dan menata barang di dalamnya.
-------
Rival dan Nathan berjalan ke tenda kaki lima di dekat lokasi pelatihan. Seorang gadis belia tersenyum cantik di hadapan Rival.
"Mau pesan apa bang?"
Rival menoleh ke arah suara.
.
.
__ADS_1