Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
106. Cinta tak bertepi


__ADS_3

Rival menangkis bola itu dengan mudah. Yara masih kaget melihat dengan datangnya bola itu.


"Kita mundur saja. Bahaya!!" ajak Rival menggandeng tangan Yara.


"Setelah ini Danki maju. Masa Danki nggak bisa olahraga" ejek Oka.


"Ayo!!! Siapa takut" balas Rival.


"Kamu nanti disini. Mas mau main sebentar!" Yara mengacungkan dua jempolnya. Senyum indah itu menambah semangat Rival.


Rival mengganti sepatunya dengan sepatu olahraga, lalu ikut bermain bersama melawan team Oka. Yara menggandeng tangan Arben dan bermain dengannya.


Sorakan ibu-ibu muda memberi semangat untuk Danki mereka yang manis dan tampan itu. Di tengah pertandingan yang seru banyak block yang Rival lakukan. Saat sedang melayangkan smash kuat, Arben berlari menuruni tribun menuju ke tengah Arena, terlepas dari pantauan Yara. Yara melihat itu langsung berlari.


Kaki Yara tak sengaja menginjak pembatas lapangan dan tergelincir.


"Deekk!!!!!"


Pertandingan berakhir seketika, semua panik melihat ibu Danki mereka.


Oka yang paling dekat dengan Yara masih sigap menangkap istri Danki sebelum perutnya mengenai lapangan, namun lututnya membentur lapangan. Rival langsung menangkap Arben yang sedang berlari lalu menyerahkan pada anak buahnya. Rival segera mengambil alih Yara yang masih berlutut.


"Sayang... perutnya sakit nggak" panik Rival yang melihat Yara menggigit bibirnya kuat. Rival mengusap punggung Yara, menyandarkan pada bahunya.


"Jawab sayang..!!" Yara mengangguk. Rival mengusap wajahnya melihat ada darah di pakaian Yara


"Kita kerumah sakit!!!" tak butuh waktu lama untuk Rival memutuskan.


"Bapak dan ibu Willy.. bisa tolong dampingi saya ke rumah sakit" ajak Rival.


"Siap Danki" Pak Willy membawa serta Arben.


"Saya ikut bang!" kata Oka.


Rival menyerahkan ponselnya pada Oka.


"Tolong telepon mertua saya!!"


"Siap bang!!"


Dalam perjalanan keringat dingin Yara bercucuran. Rival menidurkan Yara di pangkuannya. Oka duduk di kursi belakang sibuk menelepon mertua Rival.


Rival mengelus perut Yara yang memang terasa kencang ia rasakan.


"Kalau sudah mau keluar, keluarlah nak..tapi jangan buat mama susah. Kasihan mama nak!!"


---------


Rival membawa Yara ke ruang UGD. Perawat memanggil Dokter untuk segera menangani Yara. Mayor Muklas keluar dari ruangan dan melihat kepanikan Rival.


"Danki BS.. Ada apa?"


"Ijin Abang... istri saya" Rival mengatur nafas dalam kekalutan hatinya.


"Pendarahan?? Jatuh?? Panggil Dokter Ira!!!"


"Siap, tidak kena perut bang. Jatuh bertumpu pada lutut" jelas Rival.


Dokter Ira berlari dan melihat kondisi Yara"


"Jatuh bertumpu pada lutut" Kata dokter Muklas menyerahkan pada dokter Ira, dokter kandungan.


"Kita lihat di ruang bersalin untuk observasi ya pak. Tali plasenta kemungkinan terlepas" tanya dokter Ira pada Rival.


"Lakukan yang terbaik dok!"


--------


Randy dan Naya sudah tiba di rumah sakit. Memang jarak rumah Randy dan Rival tidak jauh.


Naya sudah cemas, Randy pun begitu tapi ia tidak menunjukkan seberapa besar rasa cemasnya. Randy segera meraih Arben dalam gendongan nya.


"Pak Rival.. putra bapak harus lahir hari ini" jelas dokter Ira.


"Jadi benar harus prematur dok???"


"Tidak ada jalan lain pak" sesal dokter Ira.


"Pak Rival tau khan kalau ibu mengalami plasenta Previa sebagian?" tanya dokter Ira membuat Rival bingung dan kaget sebab ia tidak mengetahui apapun.

__ADS_1


"Apakah memungkinkan untuk lahir normal dok?" tanya Rival hati-hati.


"Sebaiknya operasi saja kalau ibu tidak kuat" dokter Ira menyodorkan surat pernyataan tindakan.


"Dokter!!!!! pasien sudah mengejan.. sekarang lemah di bukaan tujuh" seorang perawat tergesa mengabarkan kondisi Yara.


"Yaraaaa" Rival berlari ke ruang bersalin.


Rival menggenggam jemari Yara, wajahnya sudah sangat pucat. Bahkan nafas pun hampir tak terdengar.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau ada masalah dalam kandungan mu??"


"Jalan kita harus begini mas"


Aku ingin marah pada semua tindakanmu ini sayang, tapi kemarahan tidak akan merubah segalanya. Aku hanya menyesal pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga mu dengan baik.


"Bertahanlah sayang, demi jagoan kecil kita"


"Mas.... rasanya di sekeliling ku berbayang putih" lirih Yara.


"Nggak ada bayang putih. Hanya ada mas di hadapanmu" perasaan Rival begitu tidak enak, terasa sakit menusuk tiap bilik relung hati.


Eegghhh...


Tubuh Yara menggigil bergetar hebat. Rival memeluk Yara erat.


"Ini terlalu sakit mas. Aku tidak bisa menahan sakitnya"


"Iya sayang.. iya.. Maafkan mas ya!!! Setelah ini terserah bagaimana caramu menghukum suamimu ini" pasrah Rival, air matanya semakin kuat mengalir.


Yara mengejan sekuatnya. Keringat tak berhenti menetes. Dokter segera memasang oksigen.


"Dok, macet"


Dokter mempersiapkan alat untuk tindakan selanjutnya. Rival menggigit bibirnya. Yara seakan tidak bisa menunggu lagi, nafas yang panjang ia tarik, lalu mengejan dengan seluruh sisa tenaganya.


"Tahan sayang!!" cegah Rival melihat Yara seolah akan menghabiskan semua sisa tenaganya.


Rival mengintip ke bawah, sesaat kemudian sosok mungil muncul dari sana. Bunyi kilat menyambar menggelegar. Tumpahan darah menganak sungai. Rival menguatkan batin agar tetap kuat menyangga dirinya.


"Allahu Akbar.." tangan Rival mengambil bayi laki-laki itu sebelum perawat sempat menerima nya. Perawat pun membantu Rival karena tangannya mulai gemetar.


Ya Allah.. tolong cabut rasa sakit ini dari tubuh istriku yang rela bertaruh nyawa demi memberi nyawa baru untuk berkah yang Engkau beri.


"Yang kuat dek, bertahanlah sebentar lagi.. mas mohon, anak kita butuh mamanya" pinta Rival memegang tangan Yara yang mulai dingin.


Dokter mengupayakan perawatan untuk Yara, namun memang pendarahan Yara cukup parah. Rival duduk menelungkup memeluk Yara sangat..dan sangat erat.


"Mas.."


"Iya sayang" suara Rival tercekat.


"Maaf tidak bisa menjadi istrimu yang baik, tidak bisa juga menjadi ibu yang baik untuk kedua putra kita"


"Kamu terbaik sayang, bidadari hatiku" Rival hampir tidak bisa berkata-kata mendengar Yara apalagi melihat Yara semakin melemah. Rival menciumi seluruh wajah Yara.


Dokter meluruskan kaki Yara perlahan. Tatapan mata dokter Ira sangat sulit untuk Rival artikan.


Tak lupa ayat suci Rival perdengarkan di telinga Yara, sayup terdengar dua kalimat syahadat mengalir dari bibirnya yang pucat membiru.


"Kami masih berjaga disini pak" ucap dokter Ira.


Rival memeluk Yara seolah sangat takut kehilangan.


"Apa mas mencintaiku??"


"Sangat.. mas sangat mencintaimu" tangis Rival mulai berderai.


"Pak, mau di adzani sekarang si adek?" tanya ibu bidan.


"Iya Bu" Rival menerima putra keduanya. Randy dan Naya menangis masuk ke dalam ruangan. Naya sampai memeluk Randy tak tahan melihat kondisi Yara dan anak kedua Rival yang terlahir prematur itu. Randy hanya bisa diam menghadapkan diri ke arah dinding. Tak sanggup melihat putri kesayangannya kesakitan.


Adzan mengalun merdu di telinga anak kedua Rival meski kadang tersendat nafas Rival.


"Namanya Abrian Chandra Barra" Yara tersenyum mendengarnya. Rival mendekatkan bayinya ke samping pipi Yara. Tetesan air mata Yara membuat bayinya mencebik sedih.


"Maafkan mama sayang. Mama akan selalu sayang Abrian" belai lembut Yara


Rival menyerahkan kembali bayinya pada bidan.

__ADS_1


Dokter Ira memeriksa sekali lagi kondisi Yara. Rival terus memperhatikan dokter Ira menunggu jawaban. Dokter Ira menggeleng.


"Saya akan bawa istri saya ke rumah sakit lain" ucap Rival.


"Tidak bisa pak, pendarahan nya sangat banyak"


"Terus apa upaya yang kalian lakukan? Kalian tidak memberi solusi apapun pada istri saya" bentak Rival.


"Kami berusaha keras pak. Tubuh ibu menolak semua tindakan yang kami berikan"


aaarrggghhh......


"Saya harus menyelamatkan nyawa istri saya!!!!" Rival mendesah frustasi dengan keadaan ini.


"Pak..ini sudah maksimal yang terbaik" ujar dokter Ira.


"Ma-ma..." panggil Yara.


"Iya nak..."


"Maafkan Yara ma..pa.. Yara belum bisa membahagiakan mama dan papa. Yara sangat sayang mama dan papa. Yara titip anak-anak Yara ya"


"Jangan bicara begitu nak.. kamu pasti sembuh" Naya histeris mendengar Yara.


Randy mematung memegang kaki Yara. Teringat jelas dalam ingatannya.. Yara terlahir dalam penjagaannya.. di tenda saat bencana alam terjadi. Randy menarik Naya sedikit mundur. Raut wajah Rival dingin dan datar.


Rival Pov


Hening tanpa suara hanya rasa ketakutanku saja menyelimuti seluruh isi hati ini...


"Mas.."


Aku sengaja mengabaikan Yara seolah tak mendengarnya bahkan untuk sekedar melihatnya pun tidak.


"Jika ini waktu terakhir kita, apa mas tidak ingin menghabiskan waktu ini bersamaku?"


Sungguh tak sanggup aku menerimanya, jemariku mengepal kuat tak bisa mencerna apa yang saat ini terjadi, rasa tidak rela membuatku sangat marah, tapi pada siapa amarah ini kulampiaskan.


"Maaas" Yara memanggilku semakin lirih. Aku tau ia teramat sangat kesakitan.


"Apa yang mau kamu bilang?? Mau pergi meninggalkan mas sendiri??????? Kamu mau melangkahi ketentuan Tuhan?????????"


Rasa kaku beku menghinggapi seluruh isi ruangan.


"Dingin...aku kedinginan mas" ucap istriku dengan badan bergetar.


"Mas peluk ya dek!!" ucapku ingin meringankan rasa sakitnya.


Tubuhku lemas naik ke atas ranjang Yara mendekapnya dengan erat. Yara pun menggenggam erat tanganku, hanya rasa dingin dan semerbak wangi pengantin terasa menusuk jantungku. Ya... aku tidak mau berpikiran buruk, tapi aku merasakannya.


"Aku takut mas, aku takut sendirian"


"Mas sudah hangatkan kamu disini, Mas tidak akan tinggalkan kamu sendiri, ada mas yang selalu menjagamu" ucapku sangat ketakutan melebihi apapun saat ini bahkan tangisku pun pecah, tak menghiraukan siapa saja yang ada disana.


Mama Naya menangis sesenggukan. Aku menangis di samping sela bahu istriku.


"Dalam hatiku, tertanam kuat nama Yara. Istri yang sangat aku cintai. Kamu ingin dengar kata cintaku khan? Aku sangat.. sangat dan teramat sangat mencintaimu istriku"


Detik demi detik waktu berjalan mengingatkanku saat pertama kali kamu menolongku, senyum gadis polos yang membuatku begitu jatuh hati. Paras cantik gadis yang membuatku menjadi pribadi yang berbeda, semua demi kamu.... Renjana Yara Megalia. Jari lentik ini kini melepas genggamannya dariku.


"Jangan..jangan Yara.. Jangan lepaskan tanganmu ini" aku mendekap sungguh tak rela kamu melepaskan tanganku


Dokter Ira dan Dokter Muklas mencoba memeriksa Nadi Yara. Dokter Muklas mengusap pelan bahu Rival.


"Yang kuat ya Val.. istri mu.. sudah berpulang"


"Yaraaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"


Ku peluk raga tak bernyawa ini, Raga yang ingin membahagiakan ku setiap saat, setiap waktu, Aku tak percaya Tuhan mengambilmu dariku.....


"Nggak Yara.. bangun.. lihat anakmu itu, dia butuh ibunya" teriakku tak terkendali.


Tangisku yang meraung-raung membuat Oka dan pak Willy masuk ke dalam kamar itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun... Ibu Danki sudah tiada"


"Jangan kurang ajar Oka!!!!!?" mendengar itu membuatku semakin memeluk Yara.. hingga tak ada lagi yang bisa kulihat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2