
Usai hari lamaran itu, tak pernah sekalipun Rival lupa menjemput Yara. Rival khawatir Yara akan bertemu dengan Tony lagi.
Malam lamaran yang penuh drama dengan kedatangan Tony membuat Rival lebih awas menjaga Yara
flashback on
"Kamu tidak bisa mengambil Yara, dia milikku sebelum sah kamu nikahi" teriak Tony.
"Kenapa kalian bisa kecolongan berandalan macam dia" tegas Rival
"Siap salah Danki" jawab anggota jaga.
Danyon hanya menggeleng tidak jelas dengan kelakuan Tony. Anggota jaga meringkus Tony yang semakin berontak dan lepas dari cengkeraman.
Jiwa Rival yang memang tidak jauh dari kekerasan meronta untuk meluapkan emosinya. Rival mencekal dan memelintirnya.
"Jangan kamu tampakan lagi wajahmu. Yara istri saya sekarang. Kamu akan tau akibatnya kalau berani mengganggu istri Rivaldi Alfario" tegas Rival sambil menghantam bahu Tony.
"Bawa dia pergi, pastikan dia jauh dari istriku" perintah Rival.
"Sabar, belum sah" ucap Suherman menarik bahu Rival. Rival hanya mengusap dadanya sambil menarik napas panjang lalu membuangnya kasar.
Naya begitu tertegun melihat calon menantunya yang tegas dan keras. Naya menoleh pada Randy namun Randy hanya tersenyum dengan mengusap jilbab istrinya.
"Anakmu jauh lebih aman bersama komandan kompi daripada bersama Tony" Naya pun mengangguk. Zein menatap mamanya.
"Biarkan Yara bersama bang Rival ma" Naya mengangguk dengan senyuman.
flashback off
Malam ini Rival dan Zein menjemput Yara dan Mutia karena ada event pernikahan di hotel. Rival melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Rival menelepon Yara
__ADS_1
Rival : Sudah pulang?
Yara : Belum mas, Satu jam lagi.
45 menit berlalu
-----
"Ra, client kali ini sangat suka minum. Aku lelah membuka botol beer sebanyak itu" Mutia mengeluh setelah selesai semua pekerjaan dan duduk sebentar bersiap pulang.
"Iya, aku juga lelah sekali" jawab Yara. Yara mengedarkan pandangan di ruang istirahat dan melihat ada teko berisi 'teh' dan ia berjalan, menuang teh itu dan segera meminum segelas teh pada gelas besar hingga habis tak bersisa karena kehausan . Tak lama Yara merasa kepalanya pusing dan tubuhnya tidak seimbang.
"Aduh Mutia, ini teh sudah basi. Aku akan lapor pada bagian food and baverage" ucap Yara sambil menunjuk teko berisi teh
"Ya ampun Yaraaaaa.. kenapa kamu minum itu???? Mutia terlonjak kaget lalu menghubungi Zein.
------
"Bang, ada masalah di dalam. Ayo masuk" Ajak Zein pada Rival
"Yara minum teh basi" Zein menekankan kata paling belakang. Rival mengerutkan kening dan berjalan cepat mengikuti Zein.
Sampai di dalam ruang istirahat, Mutia mempersilakan Rival dan Zein masuk, betapa terkejutnya Zein terlebih Rival yang cemas bukan main melihat Yara meracau.
"Masih ada foto Larasati di dompetmu, kamu masih bisa bilang suka padaku. Kamu bohong mas"
"Astagfirullah Yara.. kamu ini benar benar ya" Rival sangat kesal melihat Yara yang sedang meracau tapi ia juga merasa kasihan merasakan Yara yang sedang cemburu pada Larasati. Rival menyadari ketidak beresan disana dan pandangannya tertuju pada teko di atas meja.
"Tolong bawa teko itu kesini" pinta Rival pada Zein. Setelah teko itu di serahkan Zein, Rival langsung tau dari bau dan warnanya.
"Beer!!! Bodoh kamu dek" Rival menggelengkan kepala tak percaya.
__ADS_1
"Heh.. dek, bangun.. apa apaan kamu ini pakai mabuk segala" Rival menepuk pipi Yara.
"Aku nggak mabuk mas, aku kesal sama mas Rival" Yara terus mengoceh
"Kesal apa sayang? bilang sama mas" bujuk Rival berubah lembut
"Kenapa aku hanya jadi pelarianmu dari Larasati?"
"Bangun dulu, nanti mas jelaskan. Kamu pengen mas mati di tembak bapakmu ya!" Rival mengangkat tubuh Yara karena tidak sabaran menyadarkannya.
"Kurasa dia sudah benar jatuh cinta padamu bang" ucapan Zein membuat Rival tersenyum tipis tapi masih bisa terlihat oleh Zein dan Mutia.
***
"Saya bawa tunangan saya, diam kalian semua. Jangan ada yang buka suara. Nanti saya yang tanggung jawab" ucap Rival pada anggota di sekeliling mess.
"Iya bang" jawab adik lettingnya.
Sesampainya di kamar Rival, ia segera menidurkan Yara pada ranjangnya. Zein mengikutinya sambil mengawasi dari belakang. Di lihatnya wajah cantik Yara.
Ya Allah Yara, kenapa kamu buat perasaanku tidak karuan begini. Jangan berbuat yang tidak tidak.. tidak ada lagi tentang Larasati, sungguh!! .
***
"Melihatmu cemburu seperti ini ada baiknya kita segera menikah saja" Rival membuka suara
"Aku nggak mau mas. Aku nggak akan menikah dengan pria yang tidak mencintaiku" Yara menahan tangisnya sambil memegangi kepalanya yang terasa pening dan mual.
"Kamu jangan terbiasa menebak sebelum tau kebenarannya Ra" Zein menengahi.
"Di dompetnya masih ada foto Larasati" Yara menunduk dan akhirnya menghapus air mata yang menetes di pipinya.
__ADS_1
.
.