
Yara masuk menurut perkataan Rival, sebab jika ia melanggar apa perkataan Rival, bisa bisa taring Rival muncul sekarang juga. Sejak kejadian di kantor waktu itu, Rival sangat menjaga Yara dari segala hal dan Yara tidak bisa bohong pada Rival tentang apapun karena Rival sangat bisa menangkap setiap pergerakan yang terjadi pada Yara.
Rival melirik memastikan Yara sudah masuk dengan aman. Selama kehamilan Yara, Rival menjadi sangat cemas hingga tidur pun terasa tak nyaman baginya.
braaakkk
Suara benda jatuh nyaris membuat jantung Rival serasa lepas dari tempatnya.
"Ada apa dek????" Rival yang mendengar suara benda jatuh tidak menunggu lama langsung saja berlari menuju arah suara hingga ia sendiri terpeleset karena lantai licin.
Rival segera berdiri dengan merasakan pinggangnya sedikit terkilir.
"Mas kenapa lari larian begitu? sudah tau lantai licin" ucap Yara tanpa dosa.
"Mas cari kamu lah, apa yang jatuh tadi??" Rival merasa lega karena melihat Yara yang ternyata sedang mengaduk teh hangat.
"Tidak tau mas, suaranya dari belakang" tunjuk Yara dengan memonyongkan bibirnya. Rival segera melihat arah belakang rumah dan ternyata kandang ayamnya roboh tertiup angin.
"Ayamku sudah makan dek??" tanya Rival
"Belum mas, aku nggak mau kasih makan anak buahmu" kata Yara yang bersungut kesal karena Rival hanya menanyai ayamnya saja.
Rival tersenyum melihat Yara yang sangat kesal.
"Mas khan hanya menanyai kabar ayam itu sekali dalam sehari, tapi menanyakan kabarmu hampir tiap jam. Masa iya istri cantikku ini juga mencemburui ayam??" goda Rival sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Rival.. Rasa rindu kian menggebu, suasana dingin menuntut perasaan lebih dari diri seorang Rival.
haaatttccyyiiiii
Yara bersin tepat di wajah Rival. Rival tersentak kaget melihat ingus Yara meleleh di sela hidung.
"Astaga dek, susah sekali membuat suasana romantis denganmu. Suami mau buat kamu senang kok malah di sembur" gerutu Rival dengan kesal, ia berjalan menuju kamar mandi.
"Maaf mas, aku nggak sengaja" Yara menggigit bibirnya.
"Ini kenapa dari tadi belum juga ganti baju!!!" kesal Rival merembet pada hal lain.
"Sudah donk mas marahnya. Nanti selesai mas tampung air, aku kasih dech" bujuk Yara memeluk manja Rival sambil berjinjit kecil menggoda Rival.
__ADS_1
"Kasih apa sayang??" semangat Rival dengan mata berbinar.
"Kasih kue donat, aku tadi bikin" polos Yara yang seketika mematahkan semangat Rival.
"Donatmu itu hari ini terasa pahit" Rival melepaskan pelukan Yara menuju teras depan. Yara terpaku hingga sesaat mengerti apa yang di inginkan Rival. Ia pun berjalan cepat menyusul Rival.
"Donat cantik untukmu sudah aku siapkan, rasanya manis..mas pasti suka" Rival tersenyum dalam hati masih pura pura marah pada Yara.
"Warna apa donatnya?" ketus Rival.
"Merah jambu" kedip Yara menyebut baju lingerie kesukaan Rival.
"Pakai blink blink hot pink" imbuh Yara lagi. Rival menelan salivanya susah payah berfantasi dengan bibir hot pink Yara.
"Double nggak??"
"Single aja ya mas" Yara memelas.
"Ya sudah, mas nggak mau kalau nggak double..tanggung makannya"
"Iihh..mas, ya sudah double" jawab Yara menghentakan kaki menuju ke kamar sedangkan Rival tertawa dalam hati penuh kemenangan.
Ya Allah sakitnya pinggangku, tapi bukan Rival namanya kalau aku menyerah untuk mendapatkanmu sayang.
Senyum licik Rival mengembang sempurna
***
Tiga minggu kemudian Rival mengontrol kolam lele yang bibitnya sudah mulai besar. Markas cabang akan mengunjungi Batalyon. Azizah datang menghampiri Rival yang kala itu sedang sendirian.
"Selamat siang pak Rival. Butuh bantuan?"
"Tidak..saya sudah selesai" Rival menghindari Azizah.
"Apa kita tidak bisa berbincang dulu pak? bukankah minggu depan akan ada kunjungan?"
"Nathan yang mengambil alih untuk acara itu, bukan saya" Rival meninggalkan Azizah yang nampak kesal.
__ADS_1
--------
Nathan menjelaskan susunan acara yang akan di adakan Minggu depan tapi Azizah seolah tidak memperhatikan ucapan Nathan. Nathan tau pandangan mata Azizah tidak lepas dari Rival.
"Sertu Azizah.. tolong fokus pada tugasmu! Pakailah matamu untuk melihat dan memikirkan hal ini, juga jangan mengincar pria yang telah beristri" tegas Nathan.
"Bukankah kemarin pak Nathan juga mau memisahkan mereka?" lirih Azizah.
"Iya, sebelum aku menyadari kebodohanku dan membuat kecelakaan fatal. Jangan sampai kamu ganggu rumah tangga mereka atau kamu akan berurusan denganku" tegas Nathan sekali lagi.
***
Para anggota dari markas pusat sudah datang beserta para istri. Yara ikut menyambut walaupun dalam keadaan yang payah. Mata Rival tak lepas memperhatikan istrinya walau harus melirik saat berbicara dengan atasan.
Acara sudah mulai santai, Rival mengambilkan Yara minuman dan aneka camilan agar Yara tidak merasa lapar. Sebenarnya Yara tidak ingin makan apapun tapi Rival yang menyuapi dengan sabar membuatnya harus menghabiskan makanan itu.
"Istrimu sudah hamil berapa bulan?" tanya Komandan pusat.
"Ijin bang.. masuk 4 bulan" jawab Rival tegas. Yara tersenyum malu karena ulah Rival yang membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Pak Rival perhatian sekali. Adem saya lihatnya" ucap ibu ketua.
"Siap bu, istri saya susah sekali makan. Kasihan anak juga kalau mamanya lemas terus" Rival terus menyuapi Yara dengan sabar tanpa boleh ada penolakan.
Azizah yang tengah sibuk melayani para tamu seketika merasa kesal melihat perhatian Rival pada Yara. Hari semakin siang, kantor akan mengadakan dokumentasi untuk acara tersebut. Ibu Ketua sengaja mengajak Yara karena ibu ketua ingin memanjakan istri perwira yang sedang hamil itu. Sosok Yara yang kalem membuat ibu ketua sangat senang.
Yara akan membantu ibu ketua menabur pakan ikan tapi pakan ikan itu kurang dan yang membawa pakan ikan itu saat ini adalah Azizah, mau tidak mau Yara meminta pakan itu dari Azizah.
"Bu Azizah, bisa saya minta lagi pakan ikannya?" tanya Yara. Azizah menyunggingkan senyum palsu sambil berjalan ke arah Yara.
Rival masih berada di sekitar kolam mengobrol dengan Ketua.
"Jangan terlalu dekat dek!!" sesekali Rival mengingatkan agar Yara tidak terlalu dekat dengan kolam lele. Azizah menyelipkan sebatang kecil ranting pada sepatu pantofel Yara saat sedang menabur pakan ikan.
Nathan yang melihat hal itu baru saja akan menegur Azizah tapi Yara sudah bergerak maju dan kakinya seperti terkunci sesuatu seketika oleng tak seimbang. Tangan Nathan tak sanggup menggapai tangan Yara yang akhirnya tercebur masuk ke dalam kolam.
.
__ADS_1
.