
"Tapi mas..aku belum punya warna ini" Yara mengkedip kedipkan mata.
"Ya sudah nanti mas belikan" pasrah Rival.
"Terima kasih mas" Yara mencium pipi Rival.
"Jika mas masih sanggup, semua mas kasih buat kamu dan anak kita"
Saat ini yang dirasakan Yara hanyalah bahagia, ia sejenak bisa melupakan hal yang terkadang masih menghantui pikirannya.
"Suamimu ini sudah berusaha menuruti keinginanmu besar dan kecilnya, berat dan ringannya. Mas hanya minta padamu jangan menentangku dan turuti kata kata ku selama masih dalam jalur yang benar"
Yara mengangguk cepat tanda mengerti.
"Ya sudah lah mas mau cukur rambut dulu. Sudah panjang ini. Kamu sudah marah-marah saja lihat rambut mas yang panjang" pamit Rival.
Yara menahan tangan Rival yang akan kembali keluar rumah.
"Cukurnya seperti yang aku suka ya mas" pinta Yara dengan wajah kalem imutnya. Rival tersenyum penuh semangat dalam hati.
"Pasti sayang" Rival mengedipkan mata, mengusap pipi Yara lalu pergi.
***
Menjelang sore hari Yara mendapat orderan pesanan kue sangat banyak. Ia bergegas mengambil Ben di rumah mama Naya.
"Ma..aku dapat orderan kue banyak sekali. Aku mau mengajak Ben bersamaku"
"Kalau begitu Arben jangan kamu bawa lah sayang. Repot kalau harus memilih barang di pasar sambil menggendong Arben" tolak Naya.
"Kalau begitu aku hubungi mas Rival dulu kalau aku mau ke pasar" Yara mengambil ponselnya lalu meminta ijin untuk pergi belanja bahan ke pasar.
--------
--------
--------
"Hati-hati di jalan dek. Maaf mas nggak bisa antar, jam delapan malam baru lepas dinas"
Rival menutup teleponnya, ia tidak tenang karena hari ini harus pulang malam. Ada tugas berlipat yang tidak bisa ia tinggalkan selama tiga bulan kedepan. Dan lagi jarak dari Markas ke rumah lumayan jauh.
***
Yara selesai berbelanja. Ia mampir dulu ke apotek membeli obat-obatan yang sudah habis di rumah. Yara melirik pada apa yang di lihatnya.
__ADS_1
-------
Yara nampak kesulitan sekali mengangkat barangnya. Malam ini entah kenapa taxy, taxy online maupun ojeg dan angkot sulit sekali ia dapatkan.
"Sini saya bantu!!" tegur seseorang
"Tapi mas..." Naya nampak ragu
-------
"Hari sudah pukul tujuh malam. Rival memutuskan untuk pulang meskipun harus mendapat teguran dari atasan. Dalam perjalanan ia melihat dari jauh David sedang membantu Yara menaikan barang ke atas mobil. Meskipun malam hari matanya yang tajam tidak mungkin salah mengenali istrinya.
Perasaan Rival yang semula baik, kini menjadi panas dengan gemuruh rasa sakit dalam hati.
Rival terus mengikuti David dan Yara dengan mobilnya. Rival kesal membayangkan apa yang David dan Yara bicarakan di dalam mobil.
Mobil Yara pun berbelok memasuki asrama dan para penjaga mengijinkan David dan Yara masuk. Tak lama Rival masuk dengan wajah terlihat masam meskipun sudah ia tahan.
Nampak para penjaga bingung kenapa Yara tidak pulang bersama Rival dan malah pulang bersama David. Namun tidak ada yang berani berpikir macam-macam karena Rival adalah atas mereka.
Sesampainya di rumah, Yara menurunkan semua barang. Tak lama Rival pun tiba di rumah dan segera turun dari mobilnya. Ia menahan dengan keras rasa kesalnya.
"Maaf saya jadi merepotkan Abang" tegur Rival menyapa David. Meskipun Rival menegurnya dengan ramah, tapi David bisa merasakan bagaimana kesalnya Rival melihat dirinya berada satu mobil dengan Yara.
"Tidak masalah. Kebetulan saya lewat dan Yara bilang suaminya sedang sibuk sekali. Saya yang minta maaf karena jadi mengantar istrimu" jelas David yang tidak enak.
"Masuk dulu lah bang! Sudah sampai rumah saya" ajak Rival tulus.
"Lain kali saja Val, sebenarnya saya masih ada tugas" tolak David
--------
Di dalam Rumah Rival baru saja selesai mandi. Ia belum menegur Yara sama sekali, ia ingin hatinya lebih lega agar tidak menimbulkan amarah yang akan menyakiti Yara.
"Mas masih marah ya?" tegur Yara lebih dulu karena Rival memang tidak menegurnya.
"Nggak dek. Lain kali cepat hubungi mas, bukannya langsung jalan dengan Davidmu itu" jawab Rival lembut namun penuh penekanan.
"Kenapa mas bilang begitu? Ya sudah mas..aku salah, aku tidak memikirkan perasaanmu waktu memilih pulang bersama mas David tadi" Yara menunduk menyesal.
"Lain kali jangan di ulangi" Rival membelai rambut Yara dan langsung pergi ke belakang rumah.
Yara yang masih terpaku ikut mengejar langkah Rival dan memeluknya dari belakang.
"Maaf mas, jangan marah lagi" Rival melepas pelukan Yara tapi lagi-lagi Yara memeluk Rival.
__ADS_1
"Sudah cukup. Aku nggak marah lagi dek" bentak Rival. Yara pun melepaskan pelukannya dan menahan air matanya yang menggenang.
"Aku hanya sedikit kecewa saja. Orang lain melihat istriku di antar pria lain dan mereka tau siapa yang mengantarmu. Mau di mana kamu letakan harga diri suamimu" kesal Rival sambil membanting pintu belakang rumah.
Yara menunduk dan terisak melihat Rival sibuk dengan burung kakatua yang sudah dua bulan ini di belinya.
( teruuuss sayang )
( lagi mas )
Si Joni berloncatan dan terus mengoceh melihat Rival yang datang. Burung kakatua itu mengikuti suara Rival dan Yara yang pernah di dengarnya. Yara menghapus air matanya dan melotot kaget, ia mendekati Rival.
"Eehh...burung nggak ada akhlak. Kurang ajar kamu dengar apa?? ( jitak Rival pelan di kepala ). Jangan bongkar rahasia tuanmu ya" Rival jadi tertawa dan salah tingkah mendengar si Joni yang meniru yang ia dengar saat ia dan Yara sedang berdua.
"Lain kali tahan suara kita agar dia tidak dengar. Bisa bisa dia ikut mendesah sepertimu.. aahh..eegghh lagi mas, yang lama" tawa Rival tak bisa di tahannya lagi sambil mengikuti gaya bicara Yara. Yara yang mendengarnya menghentakan kaki dan menutup wajahnya karena malu.
Rival memeluk Yara dengan gemas.
"Jaga burung ku baik-baik, suaramu sama seperti dia kalau sedang marah"
"Jangan bicara dekat dengan dia" kesal Yara.
"Iya sayang.." Rival mengecup bibir Yara.
"Maaf ya, mas terlalu cemburu"
***
Pagi hari Rival belum bangun dari tidurnya. Ben juga belum bangun tidur nyenyak dalam boxnya.
"Mas..bangun" Yara menggoyangkan lengan Rival.
"Ada apa dek?" Suara parau Rival melihat jam tangannya masih pukul setengah lima pagi. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Perutku sakit sekali" wajah Yara memercing sakit.
"Mau dapat ya dek? Sudah tanggalnya nih" Rival memijat punggung Yara lembut.
"Harusnya tanggal 2 khan mas. Ini sudah tanggal 12" Seketika Rival melotot.
"Hampir dua Minggu dek. Itu lama sekali telatnya" Yara mengangguk dengan wajah cemas.
"Nanti sore mas ijin pulang cepat. Mas antar periksa ke rumah sakit ya!"
"Iya mas" Yara mengepalkan tangan dengan cemas. Rival menggenggamnya kuat.
__ADS_1
.
.