Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
23. Fatal ( 1 )


__ADS_3

Hari ini hujan lagi. Yara menunduk memindahkan air dalam bak penampung gayung pergayung. Rival sedang mengurus pengadaan air di lingkungan asrama. Rival sangat cemas memikirkan istrinya tapi bekerja adalah tanggung jawabnya juga.


Yara mengabaikan ucapan Rival yang memintanya agar beristirahat. Jika dirinya tidak memindahkan air itu, maka ia tidak akan punya air untuk kebutuhan mandi dan mencuci hal lainnya.


Yara menahan mual dan pusingnya menguatkan diri, sesekali Yara berhenti, menyandarkan dahinya pada pilar penyangga rumahnya. Nathan melewati rumah Rival dan melihat Yara yang seperti memaksakan diri mengerjakan tugasnya


-------


"Istrimu lelah sekali memindahkan air, kamu jahat sekali ya membiarkan istrimu seperti itu" sinis Nathan


"Kamu mengintai istriku??" nada suara Rival langsung meninggi.


"Tidak juga, sebenarnya aku ingin membantunya, tapi kurasa kamu tidak akan terima kalau aku bantu istrimu" ledek Nathan


"Jangan pernah berani kamu mendekati Yara" ancam Rival.


"Lalu apa denganmu, Kamu merebut Larasati dariku dan menghamilinya. Aku akan membalas sakit hatiku pada istrimu" tatapan menusuk mengarah pada Rival.


"Bisa bisanya kamu menuduhku padahal kamu ayah dari Vena" bentak Rival.


"Aku memang melakukannya, tapi Larasati pacarmu saat itu, tidak mungkin kamu tidak pernah menyentuhnya. Lagipula saat itu Larasati mau saat aku mengajaknya" Nathan tidak terima dengan ucapan Rival.


Rival memejamkan matanya sesaat mencerna ucapan Nathan, tapi saat ini hatinya sudah tidak sesakit dulu. Yara telah mengisi seluruh hati dan jiwanya.


"Percuma bicara dengan orang sepertimu" Rival pergi dari ruangan dan pulang karena terlalu malas bertengkar dengan Nathan.


------


Yara baru memindahkan air pada bak besar. Yara menangis menahan sakitnya, ia menghapus air matanya. Ada tangan mengambil ember yang sedang dibawa Yara. Yara menoleh ke arah pemilik tangan itu.


"Sakit Khan?" Ucap lembut Rival memeluk Yara dari belakang menyandarkan tubuh Yara pada tubuhnya. Yara mengangguk, meringis memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mas melarangmu mengisi air karena mencemaskanmu. Sekarang kamu sakit seperti ini, apa kamu pikir mas nggak sakit melihatmu susah?"


-------


Yara minum susu hangat yang di buatkan Rival sambil meluruskan kakinya dan bersandar pada bantal yang di tata bertumpuk. Rival mengelus perut Yara yang sekarang sudah mengandung usia lima bulan. Lalu meletakkan gelas kosong di meja kecil ruang tengah.


"Jaga anakku dengan baik, kalau kamu lelah dia juga merasa lelah. Kamu tau khan sulitnya kita mendapatkannya" Yara mengangguk memeluk Rival. Rival terus memeluk Yara sambil tangannya memijat punggung Yara hingga Yara tidur pulas.


***


"Jemput di pelabuhan ya mas!!" Yara meminta Rival menjemputnya setelah pulang dari membeli ikan kakap di pasar.


"Iya sayang..tunggu ya! Mas jalan" Rival menyusul Yara dari tempat kerjanya di perusahaan Randy karena mertuanya itu meminta memeriksa laporan.


Yara duduk menunggu di sebuah bangku menghadap lautan luas di ujung pelabuhan.


"Yara..mana suamimu?" tanya Nathan yang tak tau sejak kapan ada disana. Nathan menyapa Yara yang membawa ikan kakap di tangannya.


"Kamu ternyata sedang mengandung anak Rival? Cepat sekali gol kalau masalah anak" Nathan tersenyum kecut.


"Maksud mas Nathan apa?" tanya Yara.


"Apa Rival tidak pernah cerita tentang Larasati dan Vena?" tanya Nathan


"Mas Rival pernah punya hubungan dengan Larasati, Larasati hamil tapi aku tidak tau tentang Vena" Yara menunduk. Hatinya kembali sakit mengingat kisah suaminya dengan Larasati.


"Rival berpacaran dengan Larasati hingga Larasati mengandung anaknya, Hmm..aku juga 'berhubungan' dengan Larasati sich ( Nathan menggaruk kepalanya karena sedikit malu dan canggung ), tapi Larasati malah minta tanggung jawab padaku. Tidak mungkin lah Rival tidak melakukan apapun dengan Rival selama pacaran" cerita Nathan


Yara bagai tersambar petir mendengar cerita itu. Ikan dan hasil belanja di tangannya terlepas begitu saja. Suami yang ia harapkan selalu bisa di percaya malah menyakiti hatinya seperti ini.


"Nathan.. jangan sembarang bicara kamu!! Vena itu memang anakmu" Rival datang dengan emosi yang memuncak.

__ADS_1


"Jangan munafik Val, mana mungkin itu anakku sedangkan kamu ikut menikmatinya. Buktinya saat kelahiran Vena, kamu yang mengantar Larasati ke rumah sakit juga mengadzaninya. Kalau kamu memang yakin aku ayahnya kenapa kamu tidak mencariku!!!!!!" bentak Nathan


"Kamu lupa apa belagak gila. Kemana saat aku mencarimu di barakmu? Ponselmu tidak aktif!! Dan kamu malah pergi saat aku mengajakmu bicara baik baik" Rival menampar wajah Nathan.


"Ponselku hilang di curi orang. Aku kesal padamu dan membuatku mabuk untuk menghilangkan kesalku padamu" Nathan membalas memukul Rival.


Rival mengarahkan Yara agar menjauh darinya tapi Yara sudah tidak dapat memahami situasi yang terjadi. Dalam pikirannya hanya ada keraguan, kecemasan dan sakit hati dengan apa yang tidak dia pahami.


"Alasan..aku mencarimu kemana mana, bahkan saat Larasati akan melahirkan anakmu" Rival menepis tangan Yara dengan kuat.


"Darimana kamu yakin itu anakku hah??" Nathan kembali melayangkan pukulannya.


"Jelas aku yakin karena aku tidak pernah sekalipun melakukannya dengan Larasati" geram Rival. Nathan mematung tapi hatinya terasa sakit dan sedih. Entah menyesal atau apa yang dirasakannya.


Nathan kalap di saat emosinya memuncak, pukulan keras mengarah pada Rival, tapi sialnya Yara yang setelah mendengar ucapan suaminya tidak rela suaminya menjadi bahan kemarahan Nathan. Yara berlari ke arah depan Rival. Nathan menghantam bahu Yara sekuat mungkin. Kakinya yang kekar menendang samping perut Yara tanpa di sadari yang serangnya adalah seorang perempuan, terlebih itu istri Rival yang sedang mengandung. Nathan terhenyak tanpa suara bersimpuh memandang kosong.


"Yaraaaaaaa....."


Yara terlempar kuat di pelabuhan. Rival menggapai Yara tapi tangannya tak sampai. Rival mendapat pukulan keras di dalam perasaanya. Istri yang sangat di cintainya mendapat perlakuan seperti itu di depan matanya.


Rival tidak memikirkan apapun lagi dan segera melompat menyusul Yara ke dalam lautan di pelabuhan.


Tak lama mata Rival melihat Yara yang sudah tidak sadar terombang ambing dalam lautan. Rival secepatnya menarik Yara ke atas.


-------


Beberapa orang membantu Rival menarik Yara ke atas, termasuk Nathan yang menidurkan Yara di pinggir laut.


"Singkirkan tanganmu dari istriku" bentak Rival. Matanya merah menahan amarah yang bersiap meledak.


.

__ADS_1


.


__ADS_2