Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
9. Romansa Yara dan Rival


__ADS_3

Rival mengerti dan menarik dompet dari saku belakang celananya tanpa berdebat lalu mengambil foto Larasati dan menyerahkannya pada Yara.


"Ambilah, terserah mau kamu apakan foto ini. Mas yang salah" Rival pun menyesal karena lupa menyadari untuk menghilangkan foto Larasati dari dompetnya.


"Kalaupun aku memintamu membakarnya pasti tidak akan sanggup mas lakukan" Yara memalingkan wajahnya.


Rival menyambar korek api dari tangan Zein yang hendak menyulut rokok yang sudah tertancap di bibirnya. Rival pun membakar foto Larasati di hadapan Yara. Yara sangat terkejut dan menginjak foto yang sudah terbakar dengan kakinya hingga ia merasakan panas pada kakinya.


"Jangan gila Ra!" Zein mendorong Yara, Rival menangkap tubuh Yara. Zein kesal lalu meninggalkan Rival dan Yara untuk merokok di luar.


"Kamu ini kenapa? Kamu yang minta aku bakar, ya aku bakar. Kenapa di injak?? Sini aku lihat kakimu" Rival menarik Yara dan mendudukannya pada ranjang untuk melihat telapak kakinya.


"Aku hanya meluapkan kesalku mas, tidak berniat membuatmu membakarnya"


"Apa yang mau kamu tau tentangku, Aku akan terbuka agar kehidupan kita nantinya tidak ada masalah" Rival berkata serius.


"Mantan yang tidak bisa mas lupakan" lirih Yara


"Saat kamu belum melupakan Tony, Larasati sudah hilang dalam hatiku" Rival menatap mata Yara dengan lekat.


"Lalu kenapa fotonya masih ada dalam dompetmu?" kesal Yara.


"Maaf, memang mas yang salah. Mas lupa. Dia tidak ada di hadapanku, juga tidak ada di hatiku lagi. Aku tidak hidup dalam masa lalu, dan Aku tidak pernah bermain dengan hatiku" Genggaman erat Rival membuat jantung Yara berdebar kencang.


"Apa mas tidak bohong?" Yara memastikan hatinya sekali lagi.


"Haruskah kamu mencemburui wanita yang sudah tiada?"


"Percayalah padaku bahwa Tuhan sudah membuka hatiku untuk menjadikanmu istriku"

__ADS_1


Tak terasa air mata Yara menetes di pipi, tak menyangka Rival bisa berkata indah.


"Sudah ah. Foto itu tidak penting" tegas Rival


"Lalu apa yang penting????" kesal Yara.


"Kamu mau aku bilang Larasati yang paling penting?" goda Rival. Yara seketika terisak kembali mendengar ucapan Rival


"Sudah donk dek, mas khan hanya bercanda. Ya jelas kamu lah yang paling penting, dalam hatiku..dalam hidupku" Rival memeluk erat kekasih manjanya.


"Eehhmm.. bang, jangan undang setan untuk membuat masalah pada dirimu sendiri" tegur Zein yang baru saja masuk dan melihat Rival memeluk erat kakaknya.


"Jelas disini kamu setannya, kenapa masih berani bicara?" Rival bersungut karena Zein mengganggunya.


ddrrrtt.. ddrrrtttt.. ddrrrttt


Rival mengangkat telepon. Sekilas Yara bisa melihat jelas foto yang menjadi wallpaper ponsel Rival dan itu adalah foto dirinya. Yara semakin merasa bersalah. Tapi sungguh hatinya sekarang menjadi sangat bahagia.


------


"Ya sudah papa masih beberapa hari lagi di jawa. Titip Yara dan hati hati" pesan Randy pada Rival


-------


Zein keluar kamar menghampiri Rival


"Saya antar Yara pulang dulu bang, tidak enak disini"


"Aku ikut"

__ADS_1


Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah Randy.


-------


Rival dan Zein tidur di ruang TV sedangkan Yara tidur di kamarnya. Sekitar pukul 01.45 dini hari Yara bangun dari tidurnya karena perutnya masih terasa tidak enak karena pengaruh minum alkohol.


Rival jadi ikut terbangun mendengar suara langkah kaki Yara dan mengukutinya.


"Kenapa dek? masih pusing ya?" tanya Rival dari luar kamar mandi.


"Iya mas" Yara keluar dari kamar mandi dengan lemas.


"Mas antar ke kamar"


Sesampainya di dalam kamar Rival memandang Yara yang memakai baju babydoll panjang masih lengkap dengan jilbabnya menjadi sangat gelisah, terbersit pikiran nakal. Rival sedikit menutup pintu kamarnya. Gejolaknya sebagai pria dewasa tiba tiba tidak tertahan. Rival mendekatkan wajahnya pada Yara namun Yara menolaknya. Rival mendekap erat Yara dan mencobanya sekali lagi.


"Sebelum kita sah, tidak akan aku apa apakan kamu, tapi bantu aku tenangkan hatiku sedikit " bisik Rival pada telinga Yara memejamkan mata dan memulai lagi


Dekapan erat dan ciuman dari Rival membuat Yara sulit bergerak, bahkan bersuara pun takut. Setelah beberapa lama akhirnya Yara bereaksi, lenguhan kecil terlepas dari bibirnya. Rival sudah sangat luar biasa tergoda dan hampir melampaui batas, ia segera melepaskan diri.


Zein melihat kakaknya berciuman melangkah ingin menegur Rival, tapi di lihatnya Rival sudah menyadari kesalahannya. Asalkan tidak lebih dari itu, dia tidak akan mencampuri urusan Rival dan Yara.


"Mas keluar saja dek, tidurlah. Kalau mas tetap disini bisa bisa anakku lahir lebih cepat" Rival segera keluar kamar.


Yara mengusap perutnya lalu menelungkup dan menangis.


Sejak detik itu Yara selalu terbayang wajah Rival, perlakuan Rival. Ada perasaan yang tidak biasa dalam hatinya. Kadang berdesir kencang saat mengingatnya lalu menghilang.


"Mas Rival, kenapa baru keluar kamar aku sudah rindu" gumam Yara sambil menitikan air mata.

__ADS_1


.


.


__ADS_2