Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
96. Bayar hutang


__ADS_3

Warning guys!!! Agak panas nih. 21+ 🙏🙏🙏


🌹🌹🌹🌹


Melisa tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya merasa malu. Ia mengingat kembali masa SMA dulu yang sangat mengagumi sosok Rival, penabuh bass drum di SMAnya. Lelaki ini sangat dingin terhadap wanita hingga membuatnya sangat penasaran.


"Pasti dia pun bersikap dingin pada istrinya. Sikapnya pada wanita dari dulu tidak pernah berubah" gumamnya dalam hati.


Melisa melihat Sertu Adi lewat di dekatnya.


"Pak Adi, bisa saya minta nomer pak Rival?"


"Waahh..maaf mbak. Lebih baik mbak Mel tanya saja langsung pada pak Rival, sebab beliau sangat menjaga privasi" tolak Sertu Adi.


"Oohh.. iya nggak apa-apa" senyum Melisa. Ia pun pergi dari lokasi itu.


Hari berganti


Minggu terakhir sudah usai. Rival melakukan pendaratan terakhir dengan mulus dan langsung sengaja menghindar dari Melisa. Namun Komandan Pendidikan meminta mereka untuk berfoto bersama dan meminta Rival berdiri di samping Melisa.


"Mbak Mel langsung berdiri di samping Lettu Rivaldi saja"


Cekreeeekk


Melisa menggamit lengan Rival dengan cepat dan Rival tidak bisa menolak pegangan kilat tersebut.


"Maaf..." Rival segera melepas pegangan tangan Melisa dan segera pergi dari sana.


"Dua hari lagi silahkan datang untuk penutupan acara pendidikan. karena siswa akan bubar sore itu juga" ajak pimpinan pada kelompok Melisa.


***


"Mas kenapa nggak bilang kalau penutupan pendidikan bisa di dampingi istri. Aku ingin lihat mas disana" kesal Yara.


"Sayang.. mas ini bukan siswa. Mas termasuk pelatih. Mas tidak mengikuti acara apapun. Hanya upacara saja. Lagipula perutmu sudah besar dek, kehamilan enam bulan sudah terasa sesak kalau perjalanan jauh khan? mas khawatir kamu mabuk laut juga"


"Mas nggak lagi cari alasan Khan?" tanya Yara menyelidik.


"Ya Allah dek, mas hanya memikirkan keadaanmu. Nggak ada pikiran lain"


***


Pukul 07.00


Para anggota mengikuti upacara penutupan pendidikan. Bahagia hari itu juga terpancar dari wajah Rival pasalnya malam nanti sudah bisa di pastikan ia bertemu dengan anak dan istrinya.


------


Para siswa anggota dan para tamu undangan beserta seluruh pelatih sedang makan. Melisa yang dari kejadian tempo hari merasa bersalah, ia ingin meminta maaf pada Rival.


Melihat Rival merokok di luar ruangan, Melisa mendekati Rival.


"Mas...."


"Aaawwww...." pekiknya yang baru menyapa tapi sepatu high heels nya terjepit pada sebuah batu.


Rival refleks menahan pinggang Melisa. Bibir Melisa sampai membentur bahu rival dan tidak sengaja menatapnya.


"Eheemm..maaf" Rival memalingkan wajah sekalian melepas tangannya.


"Saya mau minta maaf atas kejadian belakangan ini"

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa. Lebih baik saya masuk. Tidak enak dengan yang lain" pamit Rival.


Melisa pun memilih pulang.


"Abang.. itu pakaian Abang ada noda" tegur Letda Ucok.


"Astaga.. ini bisa jadi bahan peledak" Rival melepas pakaian upacara dengan hanya meninggalkan hem melekat di badan.


Harus aku cuci sekarang nodanya daripada jadi masalah di rumah.


"Val, pimpinan memanggil ke ruangan" situasi yang mengalihkan perhatian membuat Rival langsung lupa total dengan tujuannya barusan.


***


Rival mengangkat rangsel di punggung. Akhirnya mereka pulang. Di atas kapal senyum bahagia terus menghias wajah.


Pukul 20.00 mereka tiba di Batalyon untuk lapor kedatangan.


------


tok..tok..tok


"Siapa??"


Yara bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu ruang tamu. Saat pintu terbuka di lihatnya sang suami melepas topi lalu melempar senyum ke arahnya.


"Maaaaass.. aku kangen" Yara menghambur memeluk Rival hingga membuat suaminya itu mundur selangkah menahan Yara.


"Hati-hati sayang!! Bisa pelan sedikit tidak. Suamimu nggak akan kabur kemana-mana"


"Kenapa pulang sekarang? katanya besok?" tanya Yara semakin mengeratkan pelukannya. Mengabaikan anak buah Rival yang lalu lalang di sekitar rumahnya.


"Ya sudah mas pulang besok saja. Sepertinya istri mas ini nggak senang suaminya pulang" ledek Rival.


Yara mundur karena Rival mendorong Yara agar masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu nya.


"Kamu nggak nanya seberapa rindunya mas sama kamu? Ini bulan ke tiga mas tahan rindu, mungkin lebih" Rival menciumi seluruh wajah Yara.


"Iya mas..aku tau. Mas nggak makan dulu??"


"Makan kamu dulu ya yank. Si Jalu sudah pengen pulang. Minta di adu. Ya sayang" rayu Rival.


Melihat wajah Rival yang sudah seperti itu membuat Yara tidak tega.


"Di kamar sebelah saja ya mas. Arben lagi tidur. Takut bangun"


"Dimana aja lah yang penting selesai. Disini kalau perlu. Nggak tahan nih" tangan Rival bahkan sudah sibuk melonggarkan sabuk dan pengait celananya.


"Di kamar saja mas" ajak Yara yang tidak ingin melakukannya di ruang tamu.


Tanpa pikir panjang Rival mengangkat tubuh Yara. Bobot Yara pun sampai tidak ia rasakan. Baginya sama saja.. wanitanya tetap indah dalam hatinya. Tak peduli seberapa berat beban tubuh nya.


"Mas, turunkan!! Aku berat"


"Nggak"


"Nanti mas capek"


"Nggak"


"Aku takut jatuh"

__ADS_1


"Nggak akan"


"Maasss!!!!"


"Cerewet sekali sich yank!! Mas nggak mau adu mulut. Mas mau adu si Jalu, lunasin hutang nih.. setengah jam aja dek..please" suara berat Rival membuat Yara diam seribu bahasa dan hanya mengangguk.


"Ya gitu, diam dulu"


_____


_____


Meskipun rasa dalam hati begitu menggebu tak lantas membuat Rival berbuat seenaknya sendiri. Ia tetap berlaku lembut namun tetap sangat nyaman dirasakan.


Saat Rival akan menyelesaikan pekerjaannya, suara desahan Yara membuat Rival tidak dapat menahan miliknya lagi, Rival pun menghentak kuat, memercing sesaat.. menggigit kecil bibir bawahnya. Tak ingin melewatkan segala hal ini, Rival menyambar bibir Yara, lenguhan panjang kuat terdengar hingga ia melepaskan nya. Yara ikut terpejam merasakan kerinduan yang terbalas malam ini.


"Alhamdulillah.." Rival berguling menghindari perut Yara. Yara memeluk Rival yang memejamkan mata memegang dadanya. Nafasnya belum stabil usai mengadu si Jalu. Yara mengusap dada bidang Rival dengan jarinya yang mulai nakal.


"Apa? mau lagi??" tak ada jawaban dari Yara membuat Rival melihat ke arah istrinya. Wajah Yara sudah memerah, tak mengungkapkannya tapi Rival tau Yara masih merindukan saat seperti ini sama seperti dirinya.


"Mau lagi saja malu-malu" Rival tersenyum geli melihat ekspresi Yara. Di sentilnya hidung mancung itu hingga terdengar teriakan kecil Yara yang membuatnya terpancing lagi.


"Kata mas hanya setengah jam?" ledek Yara.


"Lah kamu mau lagi nggak? Wajahmu itu nggak bisa menipu mas.. dek" tawar Rival sekali lagi. Yara hanya diam mengerjai Rival.


"Ya Tuhan.. jual mahal sekali istriku ini. Aahh..sudah, hajar sekali lagi saja"


Yara tertawa geli melihat tingkah Rival. Mereka pun melanjutkannya sekali lagi.


***


"Dek.. bangun mandi dulu!" Rival mengeringkan rambutnya setelah mandi pagi.


"Ngantuk mas, aku capek"


"Sebentar saja. Setelah sholat subuh lanjut tidur lagi" ajak Rival.


"Lima menit lagi mas" Rival membuang kasar napasnya.


"Ayo mas temani mandi" Rival mengangkat paksa badan Yara dan mengajaknya mandi.


"Pegal nih angkat kamu, sudah gemuk ternyata" goda Rival. Yara langsung bangun dan meronta karena kesal.


"Turunkan aku! Aku sudah gendut. Nggak menarik lagi"


Rival mendudukkan Yara di kursi makan yang berada di dapur rumah.


"Begitu saja marah" tangan Rival jahil mencubit pipi Yara.


"Ya marah lah mas. Di luar masih banyak yang sexy. Aku sudah gemuk, tidak cantik lagi" Yara berbicara sangat cepat.


Rival mencakup bibir Yara dengan jarinya agar diam.


"Bebek saja masih punya intonasi. Suaramu itu sudah tidak bernada.. Cepat lagi. Dasar bawel"


Yara melotot semakin kesal, hampir saja ia menangis.


Rival berdiri mendekap Yara di depan perutnya.


"Mas nggak selera lihat perempuan lain, mau dia sexy, bahenol, putih seperti kapas, pantat sebesar melon, dada bikin mata kelilipan. Mas nggak peduli. Karena kamu sudah punya itu semua yang mas butuhkan. Mas sayang sama kamu lahir batin dek"

__ADS_1


.


.


__ADS_2